Minggu, 28 Agustus 2011

AKU DAN KISAHKU (Cerpen )


By. Luciano Tibu


KIPRAH diriku menyatu dalam heningnya senja itu. Sepi. Kelam. Sepoi-sepoi kering menyindir keringnya batin. Getaran bulu kuduk seakan mewakili ketersunyian hati. Ekspresi tanpa kata. Diam. Percikan perasaan terkadang menghanyutkanku. Namun masih ada cela di hati, ujung yang melahirkan seribu tanya. Kembali arogansiku di cela dan digugat. Siapakah aku ini? Manakah jalanku? Mengapa? Apa? Kemana? Arah pertanyaan-pertanyaan itu menggugat sosok diriku diatas kemapanan palsuku.

            Aku menghela nafas. Tak pernah aku merasakan segarnya udara senja ini. Sepertinya aku terdesak dan terhimpit pada pikiran picik yang selalu merongrongku. Kini aku diperhadapkan dengan skenario batin yang tak berujung dan tak bertepi. Aras batin mendepakku pada seribu satu jalan kemungkinan. Semuanya tak pasti. Aku bingung. Aku takut. Aku ragu akan apa yang kuhadapi. Kini aku terhimpit disudut suram nan seram. Gelap. Tak secercah cahaya kudapatkan. Sebegitu mencekam. Hampir luntur semua bulu romaku.

            Aku terlarut dalam keheningan. Kisruh batin terus bergejolak. Tak ada ujung. Tak ada akhir. Aku berkelana tanpa arah. Kutatap sosok rapuhku. Bak jejak tak bernyawa. Kusut dan layu. Tak berdaya dalam ketiadaan makna. Tak ada kata keluar dari mulutku. Hanya sesimpul senyum sinis yang nampak menyindir jiwa. Tak jarang aku menatap awan-awan. Namun semuanya hampa. Kosong tanpa harapan. Malah menambah ketidakjelasanku dalam tanya-tanya yang menjebakku tadi. Membuat aku makin terjatuh dalam kemungkinan tak pasti. Aku bungkam dalam kebisuan. Hingga seperti kehilangan nahkoda dalam menentukan arah kemana aku berlayar. Horizon mata tak membantu apa-apa. Sayap-sayap senja membutakan hati. Mengombang-ambingkan ziarah batinku. Aku mencoba berdiri, merias diriku dalam ketakberdayaan dan bangkit keperaduanku.

***
            Aku tak tahu kapan kisah ini mulai. Kisah cinta antara aku dan dia. Tidak juga melalui adagium klasik itu. Cinta bersemi pada pandangan pertama. Namun satu yang pasti bahwa aku betemu dia dilantai tiga sebuah apartemen, ketika hendak mendengar ocehan para pemuka kota ini. Tidak ada yang istimewa dari pertemuan itu. Hanya kekakuan suasana karena keasingan. Kami akhirnya saling kenal. Sebatas nama, alamat dan asal. Usai perjumpaan di apartemen itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Liburan musim panas selama sebulan membuat aku lupa kalau aku pernah bertemu dengannya. Aku menikmati liburanku. Mumpung, waktu yang pas untuk bersandiwara bersama keluarga dan kolega sebelum memulai rutinitasku.

            Ketika kembali dari liburan musim panas, untuk kedua kalinya aku bertemu dia di Halte. Saat itu aku hendak ke Kampus buat membereskan administrasi perkualiahanku. Semenjak pertemuan kedua ini, perkenalan kami sedikit lebih jauh. Ada rasa mulai tumbuh diantara kami. Rasa memerlukan dan menjadikan satu sama lain. Rasa yang membuat saya tidak mengelak kalau dia orang yang istimewa. Rasa itu mengalir bersama dengannya. Mencoba menjalani. Walau jalur dan alur hidup berbeda dan hampir tak pasti waktu untuk bertemu. Sejak saat itu aku tak senyenyak dulu lagi. Seperti malam-malam sebelumnya.    
   
 Sungguh sebuah kisah yang melemparkan aku pada elegi rindu yang menghiasi imajinasiku disaat senggang ataupun sibuk, di siang maupun malam hari hidupku. Hingga rasa ini menghantarku pada jejak-jejak kenangan yang tak mudah terkubur waktu. Kenangan akan senyumnya yang tak bisa kuhitung entah sudah berapa kali ia sunggingkan untukku. Kenangan akan canda dan tawa dari mulutnya yang membahana. Akan nyanyian yang ia alunkan dikesunyian malam ketika rasa penat tiba. Sungguh, ada rasa yang selalu melegenda ketika aku terbanyang sosoknya. Sosok sejuta makna. Sosok yang menghadirkan seribu satu macam ilusi dan inspirasi untuk kembali bangkit dan bergairah dengan hidup.

            Dua tahun telah berlalu dalam menjalani samudera kasih bersamanya. Tak jarang aku berpikir bahwa dirinya adalah orang terakhirku, yang tak akan pergi meninggalkan aku lagi. Mungkin aku kelewat percaya diri. Tapi bagaimana aku tak percaya diri kalau seluruh hidupnya mengajarkan aku tentang cinta yang sesungguhnya, tentang makna perhatian, tentang hikayat hidup yang harus dimulai dari sebuah perjuangan bersimbah peluh demi sebuah hasil, tentang menjadi orang yang memberi pelangi bagi hidup banyak orang, yang merendah dan bukan ditinggikan karena kesombongan. Aku makin percaya diri ketika disebuah suratnya dia pernah menulis tentang Kasih yang sejatinya harus lemah lembut, murah hati, tidak sombong dan tidak menyimpan dendam. Hal ini makin menambah rasa optimismeku pada dirinya sebagai tumpuan terakhirku.

***
            Tanggal tua di bulan April itu aku berulang tahun. Ulang tahun kehidupan. Selain bersyukur kepada Allah karena ia masih mempertahankan adaku, aku turut berterima kasih padanya. Dengannya, aku telah menemukan setengah makna hidup ini. Darinya, aku lebih menilai hidup ini sebagai sebuah rahmat. Bersamanya, aku lebih bergairah menjalani semua adaku. Ditanggal tua itu aku genap berumur dua puluh tahun. Aku sadar masa firdaus anak-anak mulai pudar, sambil terus menjemput alam kedewasaan. Ketika itu, Langit sepi dari kedipan Bintang-bintang, malam seakan membuat Bumi tak berotasi karena Bulan tak menerangi jalannya. Cakrawala seperti alpa berparodi dari satu sketsa ke sketsa yang lain. Hanya derapan hujan yang tak henti-hentinya mengguyur Bumi sejak sore tadi. Sebelum mata terpukau keperaduan, aku masih mengoptimalkan panca indera dan menulis dalam diari harianku tentang perasaanku.

            “Aku sadar bahwa aku masih melangkah dalam kekalutan, bernyanyi tanpa irama, menari tanpa genderang, berdiri tak terlalu tegak dan akhirnya terbaring dalam lelapnya tidur malam tanpa mimpi.  Kusadar bahwa perjalanan hidup ini amat singkat, sesingkat embun yang bertengger didahan kering. Namun, dari perjalanan yang singkat itu, Tuhan masih memperkenankan aku mengenalmu, lebih dekat dan erat. Jujur, aku bukan penipu. Untuk menipu, kalau aku sungguh mencintaimu. Bukan pilihan bijak jika aku menyangkal diri dan bersembunyi di balik perasaan ini. Jika tidak, aku akan tersiksa dan menyengsarakan diri dengan perasaan yang terpendam. Dan hal itu berarti, hidup hanya untuk menyiksa diri dan bukan demi sebuah kebahagiaan. 

            Di sisi lain yang membuat aku skeptis dengan perasaan ini, bahwa jalanku bukanlah jalanmu. Kau tak mungkin berjalan pada dua jalur sekaligus. Dan untuk itu aku akan menghargai pilihan bebasmu. Aku akan mendukung segala keputusan yang akan kau ambil, karena saya percaya kamu sudah mengenalinya. Aku yakin itu yang terbaik dan terindah untuk dirimu. Aku harus dewasa menerima itu kendati harus terluka. Aku berjanji pada diriku, aku akan turut berbahagia dengan keputusanmu”. Kututup kata hati ini dengan kalimat “Aku sungguh sayang kamu”.

***
            Seminggu kemudian, ia datang membawa sebuah kado ulang tahun buat aku. Kado yang berisi mawar putih kesukaanku. Boneka blue bear yang kemudian menjadi penghias tempat tidurku. Tak lupa, ia juga menitipkan sepucuk surat tulisan tangannya yang berisi mutiara-mutiara kebijaksanaan buat aku. Dalam hati aku berujar “Aku ingin hidup lebih lama lagi buat kamu”.

















(Sebuah PANTUN) by. Steven Amuntoda


SEPOTONG daging dibuat kua
Paling enak pakai santan
Salam sejahtera untukmu semua
Beta menyapa dengan berpantun

Ada nenek bergigi kawat
Kalau tersenyum wah cantiknya
Berbahagialah yang tak melihat
Namun teguh tetap percaya

Hatimu putih seperti kapas
Kataku Cuma ingin memuji
Hati orang selalu was-was
Takut nanti pungkiri janji

Nona lia naik sepeda
Berhenti di lampu merah
Frater lewat salib di dada
Lihat frater bercahaya

Sarapan pagi dengan bubur
Buburnya dibuat opa
Para frater berbudi luhur
Manis pula tegur dan sapa

Frater toni makan kiri-kiri
Kalau bisa bagi sedikit
Kalau mau masuk seminari
Harus siap makan sendiri


Adik mudika pandai menari
Kakak melihat mata melirih
Kalau mau masuk seminari
Jangan takut tidur sendiri

Buah belimbing buah kedondong
Paling enak buat rujak
AdA Laru dan topi miring
Bisa buat kita rusak

Maksud hati memeluk gunung
Apa daya tangan tak sampai
Hanya ini sedikit kenangan
Jumpa kita sampai di sini

Pantun Anak Muda


by. Wardy Kedy

SALAM kenal salam jumpa
Dengan semangat berjiwa muda
Kini kami datang menyapa
Membawa suara anak-anak muda

Bangun tidur lalu mandi
Tak lupa pula sarapan pagi
Belajarlah terus pemuda-pemudi
Agar kita tidak dikemudi

Nyong Tinus salam nona Elda
Sonde dapat respon, Tinus maen paksa
Kita ini kaula muda
Yang adalah generasi bangsa

Mampir di Borneo beli roti cokelat
Tak ketinggalan beli roti kelapa
Kaula muda harus selalu kuat
Dan bersemangat menggapai cita-cita

Masak bubur didalam dapur
Berasnya dibeli di kios depan
Berjuang terus pantang mundur
Atur srtategi bangun masa depan

Ke pasar Impres hanya beli beras
Lanjut ke oeba beli juga ubi tatas
Anak muda janganlah miras
Karena miras matikan kreativitas

Potong tali, talinya putus
Sambung lagi di ujung sana
Kalau sudah capek di kampus
Mampirlah dulu di lasiana

Hujan di Sikumana turun deras
Buat udara dingin terasa
Anak muda janganlah malas
Semangatmu adalah nafas bangsa


Pesiar di Mall lupa bawa uang
Keliling sembarang sonde ada guna
Kalau sejak muda tak berjuang
Sudah tua takkan berguna

Datang penfui terus ke Matani
Salah masuk gang terus ke Mesgia
Anak muda harus berani
Unjuk diri dan tampil prima

Duduk di Eltari makan kelapa muda
Paling enak kalau badan lagi gerah
Belajar yang giat selagi masih muda
Agar kelak hidup tidak dijajah

Tanah kering patut diolah
Kalau mengolah jangan main-main
Pergi belajar, ya pergi sekolah
Jangan pesiar ke tempat lain

Uang banyak dompet tebal
Beli buku yang tebal-tebal
Karena dunia semakin global
Pikiran kita pun harus global

Habis kuliah langsung Libur
Hati bersuka berbagi canda
Anak muda janglah tertidur
Dengan persoalan yang lagi melanda

Anak kecil main jungkat-jungkit
Hati gembira senang tak tertahan
Anak muda harus bangkit
Membuka suara membawa perubahan

Masa depan harus di tanam
Masa lalu biarlah berlalu
Pemuda NTT jangan tinggal diam
Bangunlah daerah dengan pemikiran baru

Setiap sore latihan Band
Untuk ikut audisi di Penfui
Anak muda tidak perlu ikut trand
Jadilah selalu diri sendiri

Anton pesiar dengan Maitua
Mejeng di depan apotik Sumber Sehat
Belajarlah dari mereka yang tua
Apa saja yang sudah dibuat

Kalau Mery lagi pesiar
Itu tanda hati lagi senang
Kalau sejak muda kita rajin belajar
Masa depan sudah pasti terang

Beli novel di Gramedia
Beli beras di toko Hikmat
Masa depan ada di tangan kita
Marilah kita raih selagi masih kuat

Makan ubi di rumah Rita
Lebih enak kalo dibagi-bagi
Sampai disini dulu jumpa kita
Nanti baru disambung lagi