Giovanni Arum
“Ia masih menggenggam cawan berisi air matanya. Dengan tangan bergetar ia hendak meminum air mata beracun itu. Tiba-tiba Zefiros datang bersama angin dan menghempas cawan itu dari tangannya. Air mata itu tumpah-ruah ke atas bumi. Sejak saat itu kesedihan pun lahir di bumi. Maka sejak awal manusia menghirup nafas pertama di bumi, ia buka dengan episode air mata…”
Ibu masih saja menceritakan dongeng yang sama. Dongeng tentang putri Tristitia yang lahir dari air mata Zeus. Ia selalu mengisahkannya kepadaku dan adikku. Hal ini sudah menjadi suatu habitus khusus sebelum episode tidur kami. Ya, dongeng yang telah menjadi ritual khusus ibu ini terus-menerus diceritakannya layaknya ikan asin yang selalu menjadi menu sarapan kami. Aku bahkan telah menghafal cerita wajib itu kata demi kata. Terkadang kami bosan. Tapi, tetap saja kami menaruh perhatian seolah-olah mendengarnya karena ibu selalu menceritakan kisah ini dengan mata sembab. Ya, tiap jeda cerita itu selalu tumbuh setitik air bening dari pelupuk mata ibu.
Terkadang aku mendiskusikan ritual aneh ini dengan adikku. Mengapa selalu saja ibu menangis manakala menceritakan kisah ini. Namun adikku lebih tertarik mendiskusikan mainan barunya. Entah mengapa? Aku bahkan pernah bertanya pada ibu. Tapi Ia selalu menggelengkan kepalanya. Senyum khas dan belaian kasih darinya selalu ampuh menutup tabir kebingunganku tanpa jawab. Namun, aku baru tahu dari cerita ibu setelah adegan serupa perang dunia kedua di kamar. Ya, adegan perang di mana ayah dengan nafsu angkara terus saja menghujani ibu dengan pukulannya. Pukulan itu seakan menghentak diam setiap omelan ibu perihal kepulangan ayah yang terlampau larut, aroma alkohol yang memuakkan, atau perihal gadis bergincu yang mengantarnya pulang dengan sempoyongan. Itulah hal aneh yang selalu saja dilakukan ayah sejak di-PHK sebagai seorang buruh di sebuah pabrik. Adegan itu terlalu nyata untuk sebuah film laga. Pada awalnya, aku tak begitu mikirkannya. Toh, aku juga tak begitu dekat dengan ayah. Tapi, wajah ibu. Aku tak tahan melihat wajah ibu yang berubah sembab dan berair mata. Aku benci dengan pukulan-pukulan pada sekujur tubuh ibu. Tubuh yang sering merangkulku dengan pelukan hangat. Bibir yang selalu mengecupku. Ayah bengis yang seolah mengulang kembali drama pembunuhan Tuhan Yesus di Salib. Ya, itu semua yang membuat aku begitu membenci ayah.
Malam itu seperti biasanya kami makan bertiga mengitari meja makan yang mulai lapuk, Tentu saja tanpa ayah. Kulihat ibu begitu gelisah mencuri pandang pada jam dinding. Sesekali ia menengok ke luar jendela. Aku tahu, ibu sedang menunggu ayah. Aku bertanya dalam hati, mengapa ibu selalu mencemaskan pria bengis itu. Layaknya peramal, aku sudah dapat menebak akhir cerita malam ini. Seolah tanpa ada bahaya aku dan adikku masih saja bersenda gurau di sela-sela kecemasan ibu. Kuharap ayah malam ini lupa pulang.
“Hei…. Anjing, cepat buka pintunya!” suara itu menggelegar bak anak petir. Tanpa banyak waktu, kulihat ibu bergegas mengambil kunci pintu dan dengan tangan gemetar ibu lekas membukanya.
“Hei! Apa kau tuli?” belum sempat ibu berujar, tangan ayah telah mendarat di pipinya. Ibu menangis. Dari celah pintu kulihat seorang perempuan seksi pergi dengan senyum kemenangan. Aku lantas menarik adikku ke kamar. Aku tak mau kepala kami menjadi sasaran granat-granat gelas atau piring yang selalu dilempar ayah. Maka seperti biasa adegan film laga ini diputar kembali. Bahkan lebih cocok disebut film horror. Ayah menjelma setan yang haus darah dan air mata. Setiap kali ibu berteriak, ayah menikmati ekstase yang tak terperi.
Di celah pintu kamarku aku terisak. Aku sudah tak tahan lagi. Tanganku mengepal bergetar mengikuti laju darahku yang kian memacu. Ayah baru saja menghentikan penganiayaannya. Mungkin tenaganya sudah terlampau lelah bercinta dengan selingkuhannya atau mungkin karena kantuknya. Itu semua tidaklah penting bagiku. Tapi, ibu. Kulihat ibuku terkapar di lantai. Lalu, dengan mengesot bersimbah darah, ibu masuk ke kamarnya. Sambil menatap salib itu, ibu lekas mengambil sebuah gelas berisi air dari lemari kaca. Kemudian air matanya luruh deras dan bermuara dalam gelas kaca itu. Akhirnya aku tahu, bahwa ibu selalu mengumpulkan air matanya dalam gelas. Mengumpulkan air mata dalam gelas. Ku teringat cerita Kitab Mazmur tentang Tuhan yang mengumpulkan air mata dalam botol-Nya. Ibu mempercayai cerita ritual itu? Tanyaku membatin. Dan aku pun meniru ritual aneh itu. Ya, sejak saat itu aku pun mengumpulkan air mataku pada sebuah gelas. Aku tak tahu apa tujuannya, tapi air mata dalam gelas inilah yang kelak membawa suatu kisah ganjil dalam hidupku. Dalam hidup kami.
Hari demi hari berganti, dan drama tragis itu masih saja berjalan. Drama yang layaknya sinetron tanpa ending itu. Tak terasa gelas-gelas air mata pun hampir penuh. Punyaku dan juga punya ibuku. Aku selalu menyimpannya rapat-rapat pada lemariku. Dan kutahu juga tempat persembunyian gelas air mata milik ibu. Ritual ini terus saja dilakukan olehku dan oleh ibu, tanpa sepengetahuan ibu. Sampai pada suatu waktu, kebengisan ayah sudah tak terbendung lagi olehku. Ia semakin haus darah dan air mata ibu, layaknya anjing kelapran melihat seonggok tulang. Melihat kebengisan itu, muncul suatu bisikan ganjil dalam batinku. “Bunuh ayah dengan air mata ini!”
Seperti kerasukan setan, aku mengiyakan bisikan ganjil itu. “Ya, kesedihan hanya dapat dihentikan dengan membunuh si pembawa kesedihan. Ayah!”.Teringat kembali cuplikan cerita tentang putri Tristitia, aku menggumam: Ya bunuh ayah dengan air mata ini. Keinginan ini begitu memicu, sampai-sampai semua pengetahuan agama maupun kesusilaan yang kutahu tak mampu membendungnya. Hanya ada satu kata. Bunuh.
Tanpa kata, aku lekas mengambil racun tikus di kamar ibu dan kucampurkan dalam gelas berisi air mataku. “Ayah… air mata ini lahir dari darahmu dan ibu. Aku ingin membunuh kesedihan dalam dirimu dengan darahmu sendiri. Ya dengan air mataku, bukankah air mata itu berasal dari darah? sebab kesedihan hanya mampu dilenyapkan dengan membunuh kesedihan itu. Dan engkaulah kesedihan itu. Engkaulah dia, Ayahku.”
Sebagai mana kebiasaan ayah, setelah lelah melampilaskan lapar asusilanya, ia selalu membentakku untuk membawakannya segelas air. Ia selalu meneguk segelas air setelah keringatnya berdehidrasi lewat pukulan-pukulannya. Aku tahu kebiasaan ayah ini. Dan inilah kesempatan bagiku. Ayah akan mati dengan segelas air mata beracun yang sementara ku genggam ini. Jantungku mulai berdetak tak beraturan.
“Nia! Cepat bawakan air! Apakah kau juga ingin menerima pukulanku?. Cepat! Dasar lamban. Aku tak sudih punya anak yang lamban seperti ibumu. Cepat, anjing!”. Aku sudah tak tahan lagi. Ku lihat ibu sedang terisak dan berdarah di lantai kamar. “Selamat tinggal kesedihan. Selamat tinggal ayah!”
Dengan berlari kubawakan segalas air mata untuk ayah. “Ayo… lekaslah ayah!”aku membatin. Ia kemudian menatapku tajam. “Tataplah sepuasnya, sebab itu tatapan terakhirmu padaku dan pada dunia.” Ia lekas mengambilnya dariku. Ia menatapku dengan senyuman setannya. Menyeringai. Lantas, ayah mengangkatnya hampir dekat pada mulutnya. Tapi aneh. Ia terus mengangkatnya. Dan sambil tertawa ia mencuci mukanya dengan air mata beracun itu. Ayah tidak meminumnya… Akankah episode ini berakhir?
“Kesedihan akan selalu ada saat manusia masih ada di bumi ini”
“Engkau memberi mereka makan roti cucuran air mata, Engkau memberi mereka minum air mata berlimpah-limpah “(Mzm. 80:6)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar