Carlos Conceicao
Pulang
Ia berjuang merakit nasib ibarat manusia ditawan dalam gua. “kau tak pantas mendapat warisan orang tua”. Begitu balasan suratnya yang diterima dari balik rasa cemasnya. Pilihannya untuk merantau , terlampau disesali keluarga.
“Huh….!!!! Aku akan membuktikan, kalau aku anak mereka”. Niatnya; “Aku akan pulang”.
Rintihan Pohon
Cendana yang saban hari menaruh dahan-dahannya untuk dihinggapi burung pipit seketika menangis tersedu-sedu. Batang-batangnya yang meranggas menunjukkan air mata yang tak henti mengalir. Lalu burung pipit turun dan bertanya “kenapa kau menangis?” Cendana masih malu-malu mengakui perasaannya pada sahabatnya ini. Ia lalu menitipkan pesan itu pada karang yang selalu menatapnya. Ketika karang itu dihinggapi burung Pipit, karang itu berbisik, “Cendana menginginkan kau pergi saja”.
Benteng Diri
“Namanya Dody? Kasihan bagaikan manusia tak memiliki Tuhan”. Ya. Hidupnya tak bermoral. Begitu ia diolok-olok masyarakat sekampung. Keras musik di kamar kosnya mengelabui perhatian setiap orang. Pratanda bahwa ia ada. Namanya selalu disebut-sebut “buaya darat yang ganas”. Suka keluyuran malam hari mencari mangsa. “setiap orang tak kan pernah merasa puas dengan prinsipku”. Akunya. “burung tak pernah menanam, tetapi bisa menuai”. Tetapi hidup dari kemurahan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar