BERNARD NAILIU*
Sinar mentari jatuh tepat di pelupuk mataku. Hangat belaiannya segera menyontak tidur pulasku. Serentak bersama keterjagaanku, kesadaranku pun mulai bekerja. Matahari yang telah meninggi, menebarkan cahaya dan menempa setiap sudut, lalu mengusir gulita yang telah semalam suntuk mendiami kamar kecil ini. Aku terbangun dan mendapati terang yang sudah berkuasa di dalam kamar. Lalu kulihat dia yang masih tergolek di sisiku, pada ranjang sumpek ini. Seonggok tubuh halus yang terkesan rapuh. Rambutnya yang panjang terurai berserak di atas bantal. Kain kecilku masih menyelimuti tubuh itu yang setengah telanjang. Ia disebut perempuan, yang muncul dari tulang rusuk laki-laki. Memukau sekaligus membingungkan. Lucu namun serentak siap menampar jiwa. Seorang perempuan ada dalam kamarku, pemilik tulang rusuknya. Apakah dia istriku?
Pertanyaan itu langsung menjajah pikiranku. Untaian kata itu yang lalu menggaung dalam kelam nubariku. Apakah dia itu istriku? Pertanyaan yang sama menggema. Dan selalu, pertanyaan ini muncul setiap kali aku terbangun ketika matahari menguasai siang. Aku bosan. Aku muak. Aku sudah mulai lelah. Jiwaku rapuh seperti sebentang pantai resah, yang rusuh diterjang gelombang karena dibekap badai kekal. Aku tidak pernah tenang, apa lagi tenteram.
Binar matanya membahasakan dirinya yang tak berdaya dalam sayu lembut pancarannya. Ia pun turut terjaga setelah aku lama terpaku di sudut ranjang, bertualang bersama diriku sendiri. Makhluk itu mulai bergiat.
“Di... sudah bangun dari tadi ya?” suaranya lembut memecah keheningan atas bungkamku yang sepi.
“Sudah jam berapa sekarang? Kuliahnya jam berapa? Belum terlambat?” Rentetan pertanyaan ini muncul, mengalir dari mulut manisnya. Sayangnya, pertanyaan itu yang selalu rutin diulang setiap pagi ketika bangun tidur. Hal ini makin mempertebal rasa jengkelku dari kobosanan terhadapnya.
“Eh, mandi, lalu sarapan sana! Jangan diam terus.” Lanjutnya.
Aku masih membisu. Tetap duduk di ranjang, tepat berada di sisinya. Laki-laki memang egois. Ia lebih asyik dengan dirinya sendiri. Ia justru lebih senang memikirkan dirinya dan bergulat dengan pikirannya, tanpa peduli bahkan dengan orang yang hanya berada beberapa inci jauhnya daripadanya.
“Di, dengar tidak?” perempuan itu terus mengoceh. Terus. Lagi. Lalu
“Plak!!!” suara itu lalu menciptakan sunyi yang agung. Tanpa sadar, dengan spontan, tanganku terayun dan tepat mendarat di wajahnya. Aku menamparnya pada pagi secerah itu. Aku menampar dengan tangan yang dibalut rasa bosan.
Penyesalan mendalam kemudian merambati jiwaku. Perempuan itu terkulai lemas. Kesegaran yang dicurinya dari malam ketika beristirahat tadi lalu hilang lenyap ditelan diam agung yang tercipta itu. Isaknya penuh kesedihan lalu mengiringi air matanya yang menetes dari pelupuk indah matanya. Tidak seharusnya aku bersikap demikian. Namun benar. Tubuhku ini hanya menerima isyarat nurani yang keras berontak. Aku bosan terhadapnya, karena ketika kesegaran sepagi itu sementara kunikmati, ia lalu serta-merta membebaniku dengan kata-kata manis yang sebenarnya menyobek hatiku. Pedih dan sakit. Aku sementara muak sedang cerah lalu menenteramkanku. Ia muncul dan memicu kejenuhanku lagi. Tangan ini sigap dan lancang menampar. Pipinya kemudian terlanjur merona. Sakit hati langsung saja menganga terbuka. Persetan!
* * *
Memang terlalu dini hubungan yang kami rajut. Setelah berkenalan, kami langsung berpacaran. Seminggu kemudian, kami sudah tinggal serumah. Kami memang tidak peduli pada dunia. Apalagi terhadap kata dunia. Yang ada pada kami hayalah cinta. Dan dengan kepunyaan kami itu, kami akan hidup. Atas nama cinta itu kami nekat hidup bersama. Walaupun aku harus masih menuntaskan belajarku yang sudah sebelas semester, sementara perempuanku bersedia melepaskan studinya. Hari-hari kami lalui bersama. Kesempatan yang ada kami pakai bersama. Hanya kami berdua. Dalam ruang seluas 3x4 meter itu. Perabotan memang minim, namun kebahagian adalah milik kami berdua. Kami bebas melakukan apa saja. Kami senang dan bangga hidup atas nama cinta. Tidak perlu ada justifikasi atau pun legalisasi dari hubungan yang kami rajut. Terserah apa kata orang. Kempul kebo, tidak tahu malu, mau hidup dengan apa, dikucilkan? Untuk apa juga hukum perkawinan. Toh muara akhirnya akan tertuju pada kami. Kami yang memulai dan kami yang akan merasakan. Omong kosong dengan ritus perkawian dan mohon restu dari orang lain. Karena ternyata kami yang memikul beban hidup kami. Aku dan perempuanku. Persetan dengan semua norma dan aturan. Aku hanya mau hidup, hidup dengan perempuanku… Sekiranya itu yang aku pikirkan dulu!
Lama-kelamaan kebosanan datang menghampiriku. Kejenuhan pun tak luput hinggap atas diriku. Ternyata hidup tanpa ikatan itu sulit. Banyak hubungan bisa kandas hanya karena diikat kebahagiaan semu seperti ini. Omelan dunia yang selalu aku hindari, justeru akhirnya mampan meremas jiwaku sendiri. Sungguh rumit hidup di luar sosialitas. Sungguh ruwet hidup berseberangan dengan norma. Aku muak hidup sendiri. Aku capek hidup menyimpang. Litani penderitaan itu pun tercipta dan mulai mendera kelanjutan hidupku. Yang memuncak di pagi ini. Ketika kesegaran seharusnya merambati jiwaku. Ketika fajar selalu menjadi pertanda hidup bahagia bagi kebanyakan orang. Malah ternyata berganti kekalutan yang mengobarkan amarah lalu rasa belas kasih hangus. Dan tangan itu terayun cepat. Lebih cepat dari matahari yang sebentar lagi akan meninggi.
Penyesalan selalu datang kemudian. Karena kalau pada awal kejadian, namanya adalah kesadaran. Kedatangan penyesalan biasanya beriringan dengan khilaf. Demikianlah, semua telah terjadi. Hidup tanpa berkat akan berujung duka. Sungguh mengerikan kumpul kebo. Karena setiap kesegaran dan kecerahan pagi adalah kabut yang kelabu untuk dihidupi.
*di ruang imajinasi G24
Anggota Komunitas Sastra Penfui
Tidak ada komentar:
Posting Komentar