Rabu, 02 Februari 2011

Seks di Ujung Pena Ayu Utami



Januario Gonzaga
Ketika Novel Sebelas Menit-nya Paulo Coelho dibaca bukan sebagai seorang feminis maka akan terasa getar keberanian untuk menikmati seks sebagai mesin pencari kenikmatan layaknya mesin Google mencari data dalam hitungan detik. Seks itu nikmat dan nikmatnya membayangi sastra selama ribuan tahun untuk bergulat dan bersuara. Adegan-adegan Calligula dan filosofi seks-nya Plato, mungkin representase membingungkan dari zaman lalu antara mana keindahan ber-seks dan antara mana kenikmatan ber-seks. Beda apa memanggil seks itu indah sedang di sampingnya bersahut pula seks itu nikmat.
Rentang antara indah dan nikmat ber-seks lambat laun menyimpulkan kesendirian entitas mereka di luar manusia sebagai yang memiliki (having). Dan manusia yang paling menderita atas ulah keterpisahan ini ialah manusia yang berjenis kelamin perempuan. Kalau Genesis yang ditulis Ratih Kumala mencitrakan tokoh Sawitri yang memilih sikap tegas - bebas “Seketika aku jadi jijik pada segala hal yangt berbau suamiku dan seks” (Genesis 39), sama halnya dalam ungkapan yang berbeda, Ayu Utami mengakui keunggulan keperempuanannya di dalam kungkungan tragedi booming seks.
Ayu Utami, hemat saya adalah simbol kontradiksi klaim keseksualitas-an. Implisitas seks dalam gambaran Ayu serupa intisari yang ditulis Nawal el-Saadawi dalam bukunya “Wajah Telanjang Perempuan”. Bahwa ternyata struktur masyarakat kita ikut ambil bagian dalam menghilangkan apa yang oleh Paulo Coelho disebut “kenikmatan sebagai syukur yang abadi”. Perempuan dalam novel Saman dibela Ayu dengan mengutarakan keberatannya atas orang/budaya/sistem yang menganggap perempuan seperti Porselin Cina,”Aku ini ternyata sebuah porselin Cina”(Saman, 124).
Ayu membela kaum perempuan dengan menempatkan dirinya sebagai narator laki-laki di dalam Novel Bilangan Fu, “Kita kaum Adam, adalah alat si moluska tolol. Kita lebih beruntung dari perempuan karena monster tolol pada kita itu bisa kita lihat. Ya karena dia tolol maka dia tak bisa disembunyikan”(Bilangan Fu 31). Seks dalam novel ini menjadi sakral oleh karena dihadapkan pada kenyataan bahwa di selangkangan manusia ada apa yang dinamakan kelamin. Kelamin ini sekalipun dengan analogi disetarakan sebagai proses mengebor gunung oleh tokoh Yuda bagi kegiatan pemanjatan tebing tapi tampak bahwa sistem nafsu mendahului rasio sebagaimana yang dinomorsatukan oleh tokoh Parang Jati (Novel Manjali dan Cakrabirawa)
Ayu Utama dijuluki lagi sebagai wanita eksploitatif di bidang seks. Keperawanan sebagai salah satu kajiannya membuktikan bahwa ternyata kita (perempuan sebagai kaum) masih mendiami keberanian yang sumbernya dari ketakutan. Banyak perempuan masih merasa tak berarti manakala tidak lagi perawan. Dan lagi karena itu keperawanan dengan berani dijaga mati-matian. Maka benar bahwa keberanian itu sumbernya dari ketakutan yang seharusnya dilawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar