Derry Saba
Dan ia tersenyum,lalu menyuruhku untuk ikut tersenyum. Tapi aku terdiam. Bagaimana mungkin aku tersenyum di saat hatiku menangis. Tapi lalu ku pasang senyum simpul di bibir. Dia bilang, dia suka senyumku. Ya! Hanya senyumku. Bukan hati dan cintaku. Akh….sudahlah! Yang penting aku mencintainya dan selalu berusaha membuat dia cinta padaku. Sulit memang, tapi aku akan terus mencoba.
“ Aku punya pacar baru, “ katanya di suatu malam ketika kepalanya ia sandarkan di bahuku. Mudah sekali kalimat itu ia ucapkan.
“ Baguslah! “ singkatku. Tetapi di dalam sana, hati sedang menguraikan berjuta-juta kata makian padaku dan pada cinta. Hati tak bisa memaki dirinya. Entah mengapa.
“ Kau tidak marah? “ ia mengangkat kepalanya dan menatapku.
“ Tidak.”
“ Kenapa? “
“ Karena menurutku, lebih baik mencintai daripada memarahi. “
Dan ia terdiam. Keteduhan malam menguasaiku dan akupun ikut diam. Aku sempat mengira, ia akan bilang bahwa ia suka diamku. Tapi ternyata tidak. Ia hanya suka senyumku. Tidak diamku. Karena memang dalam diam, ada cinta yang diam namun sebenarnya ia sedang menangis. Dan tiba-tiba saja aku benci pada diriku sendiri dan pada diamku. Ingin aku berteriak sekeras mungkin, biar malam tahu bahwa hatiku lebih pekat daripada kegelapanya. Ingin aku memaki angkasa yang penuh bintang. Ingin ku hujat kenyataan. Tetapi hati berkata : “ Diam saja. Cinta tidak buta. “ Dan aku menurut. Aku diam saja dan menyadari bahwa cinta memang tidak buta. Ia hanya tak bisa melihat. Bukankah itu sama saja? Akh… entahlah. Hanya hati yang paham semua itu.
“ Maafkan aku, “ katanya sesaat setelah mataku ia tatap.
“ Aku tak menyalahkanmu. “
“ Tapi aku salah.” Ku rasa ini kalimat sudah hampir seribu kali ia ucapkan. Sudah terlalu tawar di telingaku. Dan biasanya aku hanya memilih untuk tidak berkomentar karena aku tahu, akan ada lagi berjuta kata penyesalan yang nantinya berhujung pada perseligkuhan…lalu menyesal..dan selingkuh…menyesal lagi….dn selingkuh lagi. Tapi bagaimanapun juga, hati tetap menginginkannya dan jiwa tetap betah di bawah kepakan sayap-sayap kasihnya.
Aku mencintainya sampai aku lupa kalau hatiku ia sakiti. Hati memang sakit tetapi cinta tetap dalam prinsipnya; mencintai sampai terluka. Namun, akankah luka di hati bisa disembuhkan? Aku tidak tahu, namun aku yakin cinta bisa pahami itu. Pikiran sempat protes, tetapi cinta lebih kuat. Cinta yang punya kuasa atas hati. Cinta yang bisa menentukan kapan pikiran boleh ikutcampur urusan hati.
“ Boleh aku bertanya? “sergahnya ketika kata pamitan nyaris ku ucapkan.
“ Boleh,” jawabku sekenanya.
“ Kenapa kamu mencintaiku? “ Matanya berkaca-kaca.
“ Karena tak ada alasan untuk tak mencintaimu. “
Dan ia membisu. Ada isak yang tertahan di bibirnya. Ada sendu yang ingin dia nyanyikan. Tak ingin ku dengar. Aku selalu tak kuat tiap kali melihatnya bersedih. Cukup aku saja yang bersedih; bersedih untuk bahagianya.
Air matanya pun jatuh. Wajahnya basah dan matanya berkaca-kaca. Belum pernah ku lihat matanya seperti ini. Jernih dan lugu. Tapi aku sempat belum yakin bahwa itu tangis kesedihan. Semoga bukan; karena aku tak ingin ia bersedih. Ku layangkan tanganku lalu melabuhkannya di atas kepalanya. Ku tarik kepalanya dan memeluk tubuhnya. Hangat sekali perasaanku. Di kedalaman sana, hati sedang tenang dalam kehangatan. Tapi kehangatan itu tak bertahan lama. Ia mendorong tubuhku untuk berlari dan tenggelam dalam pekat malam setelah sebelumnya ku bisikkan kalimat ini di telinganya; Aku sungguh mencintaimu. Aku salah bicara rupanya. Tapi apakah aku sungguh saalah? Tidak mungkin dia yang salah karena tak pernah dia mau salah. Dan aku biar saja salah, salah untuk mencintai cinta yang mungkin saja salah.
Hari-hari setelah malam itu, ada yang aneh ku lihat darinya. Dia lebih sering meninggalkan kampus hanya untuk menemaniku di bengkel. Dia lebih banyak tenang, menatap kebingunganku. Aku hanya bisa menyimpulkan bahwa dia sungguh telah berubah dan bahwa aku bingung pada perubahan itu. Dia makin sering duduk di sampingku, dan selalu memilih untuk hanya mendengarkan saja ketika aku berbicara. Handphone-nya mulai jarang dipakai; dan itu artinya semua selingkuhannya tidak lagi ia hubungi. Aku bahagia dan akhirnya paham bahwa cinta memang tidak buta. Aku paham bahwa cinta tak mungkin menelantarkan hati yang menyayanginya.
Namun bahagia di hati tak begitu lama ku rasakan.
Suatu malam, di pertengahan November 2005, tragedi hati terjadi. Malam itu, hujan turun ketika aku tiba di kost setelah beberapa jam menikmati senja bersama Tessa. Aku tak langsung makan karena roti cokelat butan mamanya masih mengenyangkan perutku. Ku raih novel, lalu menghempas tubuh ke ranjang untuk mulai membaca. Hujan makin deras tapi tak sedikitpun aku terusik. Baru beberapa halaman novel ku lewati, ketika pintu kamarku di ketuk. Aku tengadah dan melirik jam dinding. Pukul 23.45. Aku bangkit lalu perlahan dekati pintu. Novel ku buang ke belakang, entah kemana jatuhnya. Tanpa banyak ragu, ku raih gagang pintu, menekan sedikit ke bawah hingga ada bunyi klik halus lalu pintu ku buka. Sesosok perempuan berdiri tepat di depanku. Tubuhnya basah kuyub. Itu dia. Itu Tessa, kekasihku.
Aku bingung, dan ketika ku masih dalam kebingungaanku, dia memelukku. Tubuhku ikut basah. Tubuhnya bergetar, entah karena isakannya atau kedinginan.
“ Aku sayang kamu, “ bisiknya dengan suara getarnya yang tenang. Tidak mungkin aku tak mencintaimu, batinku. Tapi aku belum bisa menebak alasan ia menangis. Aku diam saja dan coba selami keanehan dalam dirinya. Yang aku dapat adalah sebuah kejelasan bahwa ia sungguh telah berubah. Perubahan yang aneh.
Ku lepas pelukanku, ketika ia berkata : “ Aku kedinginan. “ Ku raih handuk dan memberikan padanya. Ia menarik halus lalu tanpa suara menuju kamar tidurku. Pintu kamar ia tutup. Aku diam saja di tempat tanpa banyak aksi. Ku biarkan kebingungan menari-nari liar seiring irama detik yang berdetak. Hati biar dalam kegirangannya yang aneh. Jiwa ku biarkan mati dalam kehidupannya yang sempurna. Dan dalam kesempurnaan, ku bisikkan dalam hati; terima kasih cinta.
Gerimis mengakhiri derasnya hujan. Tessa masih belum keluar dari kamar. Suaranya tak ku dengar, dan memang tak ingin ku dengar apapun. Aku hanya ingin memeluknya, menikmati keharumannya. Aku hanya ingin merasakan apa yang sudah lama ingin ku rasakan. Tapi, mengapa lama sekali dia. Beberapa detik setelah aku berdiam, handphone-ku berdering singkat. Aku meraihnya di kantong jeans-ku lalu ku hadapkan ke depan mataku dan membaca isi pesan itu. Kata-kata itu mengerikan : “ Tessa tewas dalam kecelakaan mobil tadi sore. “
Aku tertawa. Lelucon yang tak lucu. Tawaku mengalahkan gerimis malam itu. Aku tertawa meski tiba-tiba ku rasakan ada kekhawatiran di jiwa. Ku tatap pintu kamar. Masih tertutup. Masih tak ku dengar apapun dari dalam sana. Tawaku berhenti tanpa ku perintah.
Langkah tiba-tiba diatur maju mendekati pintu. Ku panggil nama Tessa. Tak ada jawaban. Hanya ada suara dalam hati yang menjawab : “ Tenanglah. “ Ya! Aku harus tenang. Tetapi hati tak bisa diam. Ia menjerit tanpa pikiran tahu apa alasannya. Lalu pikiran ikut menjerit. Tapi tidak jelas. Sedikitpun tidak menarik jeritannya. Ku panggil lagi nama Tessa. Masih tak ada jawaban. Tenanglah! Takkan ada apa-apa. Ku tarik nafas panjang, lalu pintu kamar ku buka. Kosong! Tak ada orang. Tessa tidak ada. Handukku basah kuyub di lantai. Di mana dia? Sudah mati. Benarkah? Dia sudah pergi? Pergi meninggalkanku. Pergi untuk tak kembali. Ia sungguh sudah pergi? Pergi untuk menjadikanku pria kesepian. Pergi untuk menjelaskan pada dunia bahwa cinta memang tidak buta tetapi ia sangat kejam. Ku tenangkan hati…… Tapi aku bahagia. Setidaknya ia sempat mengucapkan sayang padaku sebelum ketiadaannya.
Dan aku terdiam. Lalu dalam diam aku bertanya : “ Bolehkah aku menangis? “ Cinta tidak menjawab tetapi menertawakanku. Akupun ikut tertawa, menertawakan hari itu dan menertawakan cinta yang tertawa.
Hidup memang penuh lelucon karena hidup memang sebuah lelucon. Tetapi lelucon itu hanya untuk ditertawakan dengan kebencian dan air mata. Hidup hanyalah untuk kita sadari bahwa tak akan ada yang selalu tertawa. Akan ada tangis, meski itu tangisan ada dalam tawa. Sejak saat itu, aku lebih senang tertawa bahkan selalu tertawa karena aku mulai mengerti bahwa cinta itu Brengsek!!!
Dan kini, aku duduk di sini, di samping sebuah nisan. Di situ ada satu nama. Nama itu cantik; nama itu tidak hanya ada di situ tetapi ada di nisan hatiku juga; nama yang tiap kali ku ucapkan, ada rindu di hati, tapi juga ada sakit di jiwa yang selalu memaksa untuk menertawakan hidup dan cinta. Nama itu; Tessa, selalu ada di hati……..untuk selamanya………
Tidak ada komentar:
Posting Komentar