Minggu, 28 Agustus 2011

PANTUN: KESELARASAN EMOSI DAN RATIO (Esai)



by. Gino Tukan


Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian

Semua orang pasti tidak merasa asing dengan pantun di atas. Sebuah keindahan sastra yang mengandung di dalamnya nilai pendidikan yang luar biasa. Sebuah pengajaran yang lugas namun mendalam. Sebuah seni mengungkapkan realitas yang mengagumkan. Tidak seperti teori-teori ilmu pengetahuan yang berat dan rumit, namun gaungnya tetap besar sepanjang masa.
Bangsa Indonesia (baca: semua etnis di Indonesia), punya ikatan erat dengan jenis sastra ini. Doa-doa adat serta nyanyian-nyanyiannya sarat dengan model sastra ini. Suatu konsepsi yang membutuhkan penelitian. Namun yang mau saya ungkapkan di sini adalah nilai harmoni yang terkandung di dalam jenis sastra ini. Ada sebuah bahaya Jaman modern yang terus mengekang dan menekan sastra ini ke tingkat paling bawah dalam proses pendidikan sosial. Bahaya tersebut adalah pendewaan ratio. Ratio dianggap sebagai sebuah ukuran yang paling benar dalam menilai dan menjalankan kehidupan. Padahal, manusia tak melulu rationya, ia juga adalah makluk beremosi. Ia punya perasaan. Pendewaan terhadap satu aspek yang berlebihan bisa membawa manusia kepada satu ketimpangan. Individualitas, egoisme menjadi ciri utama ketimpangan ini.

Sebuah Gambaran tentang Pantun
                Pantun sering dinyanyikan bersahutan. Pantun juga biasa diucapkan untuk menggambarkan suatu maksud tertentu. Menurut Suprapto, S.Pd, Pantun adalah puisi asli Indonesia. Pantun merupakan karya sastra budaya melayu. Pantun bisa juga disebut puisi lama karena ia memiliki ciri yang hampir sama dengan puisi. Jadi kita dapat mengatakan bahwa pantun adalah puisi lama yang terdiri dari empat baris dalam satu bait. Setiap baitnya terdri dari sampiran dan isi. Dari defenisi ini, kita dapat mengelompokkan pantun sebagai bagian dari puisi.
                Pantun dapat dibagi atau dikelompokkan menurut isinya. Ada pantun anak-anak, yang terdiri dari pantun suka cita dan duka cita. Ada juga pantun orang muda yang terdiri dari pantun nasib, perkenalan, belas kasihan, perpisahan, jenaka, dan teka-teki. Dan juga pantun orang tua yang terdiri dari pantun adat, agama, dan nasehat. Ada pun bentuk pantun bermacam-macam yakni pantun biasa, kilat (karmina), rantai (seloka), genap empat baris (talibun) dan pantun modern.
                Pantun biasa adalah syair empat seuntai yang baris pertama dan keduanya adalah sampiran sedangkan dua baris terakhir adalah isinya. Karmina adalah pantun yang memiliki baris-baris sangat singkat, yakni dua atau tiga kata saja. Contoh:
                                                Ujung bandul dalam semak
                                                Kerbau mandul banyak lemak
Seloka adalah pantun yang saling kait-mengkait antara satu bait dengan bait berikutnya. Hubungan keterkaitan ini terlihat pada baris kedua dan keempat dalam bait pertama akan menjadi baris pertama dan ketiga bait berikutnya. Contoh:
                                Dituai bersama dibawa pulang
                                Dijemur kering di halaman (2)
                                Dibuat bekal hidup sekarang
                                Dibuat bekal menghadap Tuhan (4)

                Dijemur kering di halaman (2`)
                Disimpan rapat ditali kuat
                Dibuat bekal menghadap Tuhan (4`)
                Agar selamat dunia akhir
               
                Talibun adalah pantun yang baitnya lebih dari empat baris dan selalu genap. Biasanya separuh bait pertama adalah sampirannya dan yang lainnya adalah isinya. Pantun ini punya irama tertentu. Misalkan talibun enam memiliki baris irama abc-abc, dst. Pantun modern adalah pantun yang memiliki empat baris dalam satu bait dan tak punya sampiran. Pantun ini berirama a b a b.
                Pantun juga memiliki kekhasan yakni rimanya. Rima adalah persamaan bunyi yang membuat pantun tersebut indah dan menarik waktu dinyanyikan atau diucapkan. Rima sangat mendukung keindahan satu pantun. Rima dapat diumpamakan sebagai baju yang menghiasi isi pantun agar terlihat (didengar) menarik.
               
Pantun: Sebuah Keselarasan Ratio dan Emosi
                Kita telah menyimak gambaran singkat di atas, saatnya kita mengungkapkan keselarasan atau harmoni yang terkandung dalam pantun. Pantun mengandung sebuah keseimbangan yang sempurna. perpaduan antara emosi dan ratio. Mengapa demikian? Sampiran yang biasanya berisikan kiasan untuk suatu isi menuntut kecemerlangan seseorang penutur pantun untuk memilih kata dan kalimat yang bermakna mendalam. Yang lebih menariknya adalah, isi yang bermakna ini, harus dirangkai dengan pola tertentu dan rima yang indah.  Dengan kata lain, sebuah pantun harus melibatkan unsur otak kiri dan kanan. Sebuah pantun harus logis namun juga indah.
                Kita tentu tahu bahwa dua bagian tersebut (Ratio dan Rasa) adalah unsur hakiki manusia yang membentuk manusia menjadi seorang yang integral. Fakta telah membuktikan bahwa kicerdasan ratio saja tak bisa dijadikan senjata untuk hidup secara sempurna. Dalam pembentukan manusia yang integral dua unsur ini harus dilibatkan. Pantun sebenarnya mengantar kita untuk bisa membentuk diri kita menjadi pribadi yang integral.
                Tidak sampai di situ saja. Pantun juga dapat membawa pesan moral dan pendidikan yang luwes, ringan namun mendalam. Pantun dapat menyederhanakan sebuah pesan kehidupan. Pantun juga menyajikan keindahan yang bermakna. Dengannya kita mampu membentuk manusia, entahkah itu anak-anak, orang muda atau orang tua. Dalam tradisi kita dahulu kala, pantun dijadikan sarana untuk menyampaikan nasehat atau pesan, atau pun sarana mencari jodoh. Pantun dapat disejajarkan dengan operanya orang barat di abad pertengahan. Atau Illiadnya Yunani. Sarana pembentukan karakter.

                Arus globalisasi yang semakin deras telah mengaburkan warisan-warisan leluhur yang berfaedah. Kebiasaan berpantun ria telah hilang dikikis teknolgi elektronik yang semakin maju. Akibatnya generasi kita dibentuk menjadi generasi konsumtif dengan nilai rasa egois yang tinggi. Daya cipta dan kreasi serta sosialisasinya dibendung dan dipenjarakan oleh kemajuan teknologi. Kita memang tak dapat mengelak laju teknologi, namun kita dapat membangkitkan warisan-warisan berharga yang dapat dihidupi dalam dunia yang semakin modern. Salah-satunya pantun dan berpantun ria.

PETUALANGAN ADATMU (cerpen)


by. Deodatus D Parera

Loyta pikir ia sudah mati tadi pagi. Tapi itu hanya ilusi semata yang dibuat dalam pikiran tidak sadarnya. Kemudian dengan segera meladeni ritual biasa seperti saat pagi yang lain tiba,  menyiapkan diri mulai dari berdoa, membersihkan ranjang lalu pergi ke kamar mandi disusul nyanyian burung dari ranting pohon sukun. Nyanyian yang juga pernah setiap harinya menemuinya alih-alih dari kamar.
“Kau sudah sepertinya membayangkan mentari yang berganti cerah. Pastilah kau menemukan bahwa seribu satu hari kau tak mengingini hal itu terjadi. Mulai dari perkawinanmu yang dipaksakan, dari belis yang darinya kau seolah dijual murah, dilelang begitu saja, dari semacam istilah lain lagi yang tak kau sendiri tahu untuk apa semua itu. Sebentar-sebentar rumahmu disambangi oleh tetua adat yang kausebut Atoin Amaf yang oleh bundamu, kau harus menghargai dia lebih dari semua orang. Juga kepada tetua adat yang lain. Kau pasti mendengar bagaimana suara ayahmu berpendapat. Semuanya itu harus terjadi. Asalkan saja harga seberapa pun lelaki yang meminang kau  haruslah mampu memenuhinya dengan patuh. Tanpa bicara. Tanpa kata.”
Itulah malam pertama Loyta mendapat berita. Berita petualangan adatnya dari balik gorden yang dikiranya bukan tentang dirinya.
“Kau pasti mendadak gila. Kau baru mengetahui bahwa lelaki yang kausayangi, lelaki selama ini kaucintai itu bukan lain adalah orang yang tak pantas bagi orangtuamu. Ayahmu bersikeras menantang  pendapat bunda yang dengan tenang bicaranya soal satu dua tahun hidupmu nanti. Kau boleh masih bersama mereka kala burat senyum perlahan berubah muram di mata mereka. Kautahu itu karena persis seperti apa yang terjadi dengan dirimu saat itu. Seperti mentari di ufuk barat yang enggan bercerita. Memang tak dapat kausangkal itu harus terjadi. Betapa pun sulit yang kaubayangkan adalah bukan keputusanmu. Kau harus menepatinya. Lalu kau seolah tak percaya akan hal itu. Atau  kau bingung  tentang apa lagi yang mesti kaubuat. Ketika tetua adat itu mengakhiri  kalimat adat mereka dengan kata sepakat: kau sudah dijodohkan. Itu berarti hidupmu sendiri dan masa depannya adalah keputusan mereka. Tetua adat dan ayahmu. Kau  sendiri rela menjalani tapi sulit untuk memahami apa yang terjadi nanti.”
Itulah malam berikut yang kaudengar dari percakapan mereka tentangmu. Kamu bersama  mereka makan dan minum hingga kau telak lupa apa yang kausesalkan.
            “Kau memang sudah mengerti tentang masa depanmu nanti. Lalu lelaki yang dijodohkan untukmu sudah siap untuk berbuat bagimu dalam segala hal sekali pun awalnya keluarga mereka enggan untuk mengatakan sanggup. Kau tahu itulah pilihan dari tekad yang bulat. Kau tak bisa berbuat apa-apa. Kau seorang anak perempuan yang harus taat pada atoin amafmu. Sebab sebagai perempuan kau dilahirkan untuk memenuhi hal semacam itu.”
Itulah sebabnya Loyta tak bisa menyangkal bahwa ia tak sudi menerima semua.
“Kau memang sadar untuk sesuatu lebih dari yang terbaik dari sekedar mutiara di dasar lautan. Berkorban untuk mengarungi lautan tanpa berpikir bahwa ada hambatan. Tapi kekuatanmu hanya separuh saja kalau mau dibandingkan dengan kekuatan seorang lelaki. Kau seolah rapuh di antara suara yang berbisik-bisik yang separuh malam kauhabiskan untuk mendengar dengan cermat keputusan apalagi yang dibuat. Dan berharap-harap keputusan yang tidak kaukehendaki segera dapat dibatalkan. Memang mau dikata kau masih belum mengerti kenapa kau diperlakukan seperti itu. Tapi ukuran seperti itu tidak pernah dikenakan manakala hanya sebatas menyanggupi kemauanmu.”
Saban hari dirasa seperti hari terakhir ia berada bersama orangtua. Sebagai seorang perempuan desa, tinggal bersama di rumah orangtua ketika sudah berumur adalah sesuatu yang kurang biasa. Yang terjadi, biasa, kau adalah gadis sialan di mata tetangga bahkan warga sekampung.
“Kau mengakui bahwa umurmu sudah menjejaki paruh waktu. Tepat kau bisa hidup bersama sebagai seorang istri bagi seorang lelaki. Tapat kau menginginkan buah hati. Tepat kamu bertiga menjalani hari. Atau kalau sudah lewat itu kamu menjadi anggota masyarakat yang diteladani. Kau mengerti bahwa waktu yang dihidupi cukup sudah di antara nasihat orangtua. Kau sudah tak lagi layak harus diasuh seperti pada seorang anak ingusan yang belum mengerti tentang bagaimana berpakaian. Atau seperti seorang anak lugu yang mesti terus diperkenalkan kata-kata atau pun bahasa isyarat yang darinya ia boleh mengerti sosok perempuan akan dipangginya ibu. Atau sosok laki-laki dipanggilnya ayah. Walau untuk mengerti saja ia akan berulangkali bingung dari bola mata lentiknya ia berkata dengan payahnya untuk membedakan sosok perempuan dan lelaki belum lagi dengan cara seperti apa. Atau oleh lelaki yang di sampingmu kau menjadi seorang ibu bagi anak-anak. Dan oleh anak-anakmu yang berada di pelukanmu lelakimu adalah ayahnya. Kau akan menerima, memilih dan menghidupi untuk memiliki. Kau pasti tak akan menyesal untuk semua itu.”

                                                       *********

Loyta, kemanakah kau, aku ingin lekas bersamamu di hari ini.
Suara lelaki yang kaucintai rupanya terus mengunjung ruang hatimu saban malam.  Kau menentukan pilihanmu itu tapi apa daya. Nasipmu sudan diteken oleh keputusan adat yang sesudah itu tak seorang  pun menganggu gugat. Kalau berani, antara dua pilihan. Mati atau gila. Sesungguhnya kau tak mau. Lelaki yang mereka pilih untukmu di setiap kali pertemuan, tidak juga mencintaimu. Ini semua gara-gara warisan yang kaudapatkan nanti. Yang dari ayah mantumu yang kini kau panggil opa. Itu keputusan buta dari atoin amafmu. Ia menginginkan warisannya karena dikatakan bahwa satu dua barang berharga adatmu dimilikinya.
 “Tidak apa-apa terima saja. Aku yakin ada yang istimewa ketika kau bersedia dengan rela,” lelaki yang sudah berbuat banyak karena mencintaimu itu masih di sampingmu ketika kau dipersimpangan.  Di suatu malam. Ia masih mau mendengar dengan rela saat-saat kau harus segera berkemas. Segera meninggalkannya.
“Tapi aku akan sengsara kalau  mencintai adalah peluang  yang dipaksakan. Aku ingin menentukannya sendiri. Sebab yang menjalani aku sendiri dan bukan siapa-siapa,” kau juga memang tidak bermaksud menyakiti dia tapi itu kausadari sebatas dia bersamamu.
“Aku tahu kau tidak rela sebab kau telah memikirkan apa yang ada di depan. Tapi tidak ada jalan keluar lagi. Lusa kau dipinang, bukan?  Nah, jalan keluar yang terbaik adalah bersedia menerimanya. Kau harus berusaha,” ia sepertinya tidak sanggup untuk mengatakan aku mencintaimu Loyta.
“Aku belum bisa memutuskan kesediaanku untuk menerima apalagi dalam waktu yang sudah sangat singkat ini. Ini masa depanku. Tolonglah aku untuk menemukan jalan keluarnya,” kau memohon dengan sangat tapi ia berkata dalam hatinya bahwa waktu telah memahkotaimu dengan ulah yang tidak kamu bayangkan. Ia juga tidak menerima. Tapi ia tak sanggup mengatakannya. Waktu singkat itu telah memperlemah segala dayanya termasuk harus merelakanmu pergi sekali pun.
“Keputusannya sudah sangat jelas,” ia menambahkan lagi.
“Tapi aku belum bisa”.
            “Aku pun tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Menurutku tidak ada jalan keluar lagi”.
            Dan Loyta baru sadar ketika menunggu mau berucap. Mengambil sikap sebagai jalan keluar bagi jalannya adalah sikap yang pernah membuatnya menitikkan air mata . Ia sadar bahwa hari itu akan lama baginya untuk menunggu waktu pernikahan lantaran semua yang sudah ia mulai bersama Armando bukan sebuah kebetulan semata, saja.*

ULAR-ULAR PENUNGGU HUTAN (cerpen)



by. Ino Sengkoen

            Sekelompok ular berwarna hitam. Besarnya sebanding paha anak kelas enam sekolah dasar di kampung. Gerakannya gesit menerobos dedaunan menuju mangsa. Bunyi desing tipis mengiringi kedatangan mereka. Sasaran harus segera lari jika tak ingin mati terpagut. Namun, memang tidak pernah ada yang lolos dari sergapan ular-ular itu, jika mereka sudah datang. Sebab, mereka tidak sembarang menampakkan diri. Selebihnya mereka hanya bayangan, roh penunggu hutan keramat.
            Konon, mereka punya kerajaan sendiri. Pusat kerajaan ular ini ada di tengah hutan, di bawah sebuah pohon beringin besar, yang di pangkal pohonnya terdapat mata air yang selalu bening. Seluruh hutan adalah wilayah kawanan ular itu. Mereka punya seekor raja, yang katanya berbadan lebih besar dengan paras yang begitu sangar. Matanya memerah saga. Membara. Raja kawanan ular ini dihormati sebagai tuan tanah. Setiap bulan purnama, para tetua adat harus masuk ke dalam hutan, menuju ke pohon beringi besar itu, untuk mempersembahkan korban. Biasanya ternak peliharaan, mulai dari ayam sampai sapi. Sebuah altar dari kayu bercabang, dengan selempeng batu besar diantara cabang-cabang kayu itu jadi tempat persembahan korban. Persembahan itu diberikan, tentunya setelah sebuah ritus adat mendahuluinya. Persembahan itu wajib diberikan, jika tak ingin warga kampung hilang saat melintasi tepi hutan.
            Pernah terjadi, seorang pria warga kampung hilang, tepat saat fajar menyingsing setelah malam purnama lewat. Menurut beberapa saksi mata, pria itu dibawa pergi oleh sekelompok ular hitam penunggu hutan. Kata mereka, sebelumnya angin kencang menerpa dari dalam hutan. Seiring itu kedengaran pula desing tipis tajam dari dalam hutan mendekat ke tepinya. Dedaunan yang kekuningan beterbangan tak teratur. Segesit kilat pria itu pun dililiti sekelompok ular hitam yang tiba-tiba muncul. Lalu ular-ular itu menarik pria malang itu ke dalam hutan. Dan beberapa saat kemudian, angin kencang menerbangkan pulang pakaian dan peralatan kebun pria itu. Itulah kelalaian pertama dan terakhir dari para tetua adat yang berujung malapetaka, lantaran tidak mempersembahkan korban kepada raja ular.
            Ada juga kisah lain. Kisah seorang pendatang yang begitu tolol menurut warga kampung. Masih seorang pria. Dia datang dari kota, tinggal di kampung ini untuk sebuah penelitian. Setelah menemukan potensi-potensi kekayaan di kampung itu, dia tidak mau pulang ke kota. Dia malah mengajak teman-temannya dari kota. Mereka menjarah kekayaan alam, terutama bebatuan hitam yang bernama mangan itu. Dengan alat kerjanya yang modern, mereka memang mendulang sukses. Hampir seluruh bukit mereka jelajahi, meninggalkan longsor-longsor kecil yang melenyapkan pondok-pondok ladang warga di tepi-tepi bukit. Surat izin pemerintah memberi mereka jaminan.
            Setelah semua wilayah mereka sisir, kini mereka melirik hutan wilayah kerajaan ular-ular. Akhirnya suatu saat mereka masuk ke hutan itu, tanpa peduli larangan para tetua adat. Dan kisah yang sama terulang lagi. Ketika tiba di tepi hutan, mereka disambut gemuruh dan riuh angin deras dari dalam hutan. Lalu muncul pula bunyi desing tipis tajam, dan dedaunan yang beterbangan tak beraturan. Dan tiba-tiba, sekelompok ular muncul di hadapan pria pendatang tadi, lalu meliliti tubuhnya serta menarikya ke dalam hutan. Lalu angin kencang menerbangkan pulang pakaian pria itu. Mereka yang lain lari ketakutan meninggalkan hutan. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mengganggu hutan itu.
***
“Hiiii, ngeri.”
Mega yang sedari tadi serius mendengar langsung menyambung akhir kisah ama En. Sejak dari kampung hingga hampir di ujung perjalanan ini memang tidak sedikitpun perhatiannya ditujukan padaku. Sebenarnya aku agak cemburu. Namun biarlah dia tahu keadaan di kampung kami, sebelum nanti menjadi pendamping hidupku.
            “Orang kampung sangat takut terhadap ular-ular itu. Setiap saat bulan purnama, mereka tidak pernah lalai memberi persembahan. Kultus adatnya pun harus cermat. Salah sedikit saja bisa bisa sengsara, bahkan bisa sampai mati.”
Ama En menambah lagi. Menceritakan keseganan warga kampung terhadap ular-ular pemilik hutan itu. Ular-ular yang tidak pernah tahu kompromi. Pokoknya hanya berlaku satu prinsip baku ini, taat berarti damai, aman dan sejahtera, dan lalai artinya mati. Dan warga kampung kami takut mati. Maka syarat ini selalu mereka tepati betul. Pokoknya tanpa kompromi.
            Ayunan kaki semakin lama semakin jauh menuju tujuan. Tepi hutan sudah mampu tertangkap mata. Suatu hamparan pepohonan besar dengan daun lebat. Hutan itu tampak gelap. Dari dalamnya timbul kabut tebal, barangkali hasil penguapan. Burung-burung hutan ramai berkicau, sambung menyambung. Namun mereka tak kelihatan. Hanya lengkingannya yang terdengar jelas.
            Di belakang kami, masyarakat kampung berbondong-bondong. Pagi ini, memang pusat perhatian kampung akan kembali pindah ke hutan ini. Memang aneh. Biasanya hutan ini hanya didatangi saat purnama, jika beramai-ramai begini. Namun pagi ini lain. Rupanya sebuah sejarah akan tertoreh lagi, saat orang mengingat hutan lebat ini.
Tibalah kami di batas yang sudah digariskan. Langkah kaki kami harus terhenti. Kami tak boleh lewat lagi.
            “Di mana lelaki perut buncit itu?”
Pertanyaan Mega ibarat perintah untuk kedua bola mataku, mencari gerangan yang dimaksud calon istriku itu. Tak berapa lama mataku menagkap lelaki perut buncit itu. Tanpa kata kuarahkan tangan menunjuk lelaki yang sudah tiba di tepi hutan itu. Dan perhatian mega dan ama En beralih ke lelaki perut buncit yang maju sendirian semakin rapat menuju tepi hutan.
            Suasana sunyi. Suara burung-burung dari dalam hutan jelas terdegar. Semua mata warga kampung terarah pasti ke lelaki perut buncit itu. Mengenakan baju kameja yang dibalut jas coklat dan celana kain serta sepatu hitam yang kilapannya dipudarkan abu tanah, lelaki perut buncit itu sungguh mewakili manusia-manusia modern. Kosombongan nampak dari perutnya yang membengkak dan kumis tebalnya yang meninggi lantaran senyuman bibirnya. Kata ama En, lelaki perut buncit itu seorang doktor lulusan luar negri beberapa tahun lalu. Dia yang berjalan perlahan sambil tertawa menuju tepi hutan.
            “Hahaha... Hei ular-ular hutan. Kalau berani tunjukkan dirimu. Aku mau membuktikan kepada masyarakat kampung yang bodoh ini. Biar mereka tahu, di zaman modern seperti ini mitos-mitos murahan itu tidak ada lagi. Ayo tunjukkan dirimu, kalau kamu memang berani. Hahaha....”
Suara lelaki perut buncit itu menggelegar, ditambah tawanya yang meremehkan. Sunyi semakin mencekam. Hanya gema tawa sombong lelaki perut buncit itu yang seakan terpantul lagi dari dalam hutan. Semuan hening dalam penantian.
            “Hahaha hei ular-ular bodoh.... Ayo keluar. Tunjukkan kekuatanmu kepada warga kampung yang sama bodohnya dengan tua-tua adatnya yang buta ini. Hahaha...”
            Dia berteriak lagi. Tawanya semakin keras berkepanjangan. Kupandangi wajah ama En yang memerah darah. Dan kulihat mulutnya komat kamit. Entah apa yang diucapkannya. Terdengar juga suara kecil-kecil dari mulut warga kampung dewasa yang komat-kamit tak jelas. Semakin lama, semakin komat-kamit. Bulu kudukku sedikit merinding, sebab pelahan aku mendengar kata-kata yang mereka ucapkan. Aku tahu kata-kata itu tidak sembarangan diucapkan, karena mengundang bahaya di baliknya.
            “Hahaha hey orang kampung bodoh. Ular-ular itu tidak ada kan? Sudah kubilang, di zaman modern ini percuma kalian percaya mitos. Kamu memang sebodoh ular-ular....”
Belum sempat lelaki perut buncit itu menghabiskan kalimatnya, angin deras tiba-tiba datang dari tengah hutan, mengalihkan perhatian lelaki perut buncit itu. Seiring itu, bunyi desing tipis tajam ikut menepi. Dedaunan yang melengketi tanah terbang tak beraturan. Dan tiba-tiba lelaki perut buncit itu ditarik ke dalam hutan, entah oleh apa atau siapa. Yang tedengar hanya hentakan suara kagetnya. Lelaki perut buncit itu menghilang bersama suara hentakannya. Awan-awan di langit seolah berderu berkejaran. Dedaunan pepohonan rimbun di dalam hutan sana bergerak ke sana kemari tak karuan ditiup angin kencang yang tiba-tiba melanda tadi. Burung-burung di dalam hutan menjerit dan beterbangan. Kacau. Ngeri. Aku menganga, antara takut dan heran.
            Tak lama berselang, sebuah angin kencang berhembus dari dalam hutan. Bahkan nafas kebanyakan orang yang berderu belum sempat ditenangkan kembali. Mata-mata kami yang masih melotot di hadapan kejadaian sadis tadi menjadi semakin terpana. Apa gerangan yang terjadi lagi? Angin itu ternyata membawa pulang pakaian lelaki perut buncit tadi. Celana, baju dan sepatu dan yang lainnya, kecuali tubuhnya.
            Hening yang mencekam beberapa menit terakhir tadi akhirnya pecah.
Palateee....auuuuuu....Palateee....auuuuuu.....”
Terdengar sorak para tetua ada. Mereka saling bersahut sambil tertawa dan menggenggam tangan. Gigi mereka yang putih kusam itu nampak bersinar di antara kedua bibir mereka yang memerah kunyahan sirih pinang. Seluruh warga kampung pun tak ketinggalan ikut menyambung. Anak-anak kecil meloncat-loncat, ikut bersorak pula. Sorakan kegirangan seperti kemenangan para nenek moyang dan pejuang di zaman lampau.
Palateee....auuuuuu....Palateee....auuuuuu.....
“Erik, aku takut.”
Mega berbisik setengah merengek minta perlindungan sambil memeluk tubuhku. Wajah manisnya disembunyikan di antara dua bidang dadaku. Satu dua helai rambutnya yang lurus halus nyasar menempel di daguku. Aku mengerti. Tentu ini pengalaman yang cukup mengerikan baginya. Kejadian seperti ini sungguh asing dalam masyarakat mereka yang modern dan canggih. Mungkin hanya dia sendiri yang tergerak hati dan percaya pada kejadian yang berbau mitis seperti ini. Bule Eropa yang kujumpai saat kuliah di pulau Dewata, yang akan jadi pendamping hidupku.
“Jangan ganggu mereka. Mereka hanya ingin dihormati...” Bisikku pelan sambil balas mendekap Mega. Kubenamkan wajahnya ke tubuhku, mencoba memberi kehangatan. Ama En hanya tersenyum melihat kami, sementara warga lainnya ramai tertawa puas sambil bersorak Palate. ***

(Ama: Sebutan untuk orang Dawan dewasa/// Palate: Bunyi teriakan yang mengungkapkan kegembiraan orang Dawan. Palate adalah gabungan dua kata bahasa Dawan, Pal: dapat, miliki dan Teij: tahi. Harafiahnya, dapat tahi. Ungkapan ini adalah ungkapan ejekan bagi musuh yang kalah dalam perang. Dalam ungkapan familiar yang lebih modern, “Tahi lu...”)