Minggu, 28 Agustus 2011

PETUALANGAN ADATMU (cerpen)


by. Deodatus D Parera

Loyta pikir ia sudah mati tadi pagi. Tapi itu hanya ilusi semata yang dibuat dalam pikiran tidak sadarnya. Kemudian dengan segera meladeni ritual biasa seperti saat pagi yang lain tiba,  menyiapkan diri mulai dari berdoa, membersihkan ranjang lalu pergi ke kamar mandi disusul nyanyian burung dari ranting pohon sukun. Nyanyian yang juga pernah setiap harinya menemuinya alih-alih dari kamar.
“Kau sudah sepertinya membayangkan mentari yang berganti cerah. Pastilah kau menemukan bahwa seribu satu hari kau tak mengingini hal itu terjadi. Mulai dari perkawinanmu yang dipaksakan, dari belis yang darinya kau seolah dijual murah, dilelang begitu saja, dari semacam istilah lain lagi yang tak kau sendiri tahu untuk apa semua itu. Sebentar-sebentar rumahmu disambangi oleh tetua adat yang kausebut Atoin Amaf yang oleh bundamu, kau harus menghargai dia lebih dari semua orang. Juga kepada tetua adat yang lain. Kau pasti mendengar bagaimana suara ayahmu berpendapat. Semuanya itu harus terjadi. Asalkan saja harga seberapa pun lelaki yang meminang kau  haruslah mampu memenuhinya dengan patuh. Tanpa bicara. Tanpa kata.”
Itulah malam pertama Loyta mendapat berita. Berita petualangan adatnya dari balik gorden yang dikiranya bukan tentang dirinya.
“Kau pasti mendadak gila. Kau baru mengetahui bahwa lelaki yang kausayangi, lelaki selama ini kaucintai itu bukan lain adalah orang yang tak pantas bagi orangtuamu. Ayahmu bersikeras menantang  pendapat bunda yang dengan tenang bicaranya soal satu dua tahun hidupmu nanti. Kau boleh masih bersama mereka kala burat senyum perlahan berubah muram di mata mereka. Kautahu itu karena persis seperti apa yang terjadi dengan dirimu saat itu. Seperti mentari di ufuk barat yang enggan bercerita. Memang tak dapat kausangkal itu harus terjadi. Betapa pun sulit yang kaubayangkan adalah bukan keputusanmu. Kau harus menepatinya. Lalu kau seolah tak percaya akan hal itu. Atau  kau bingung  tentang apa lagi yang mesti kaubuat. Ketika tetua adat itu mengakhiri  kalimat adat mereka dengan kata sepakat: kau sudah dijodohkan. Itu berarti hidupmu sendiri dan masa depannya adalah keputusan mereka. Tetua adat dan ayahmu. Kau  sendiri rela menjalani tapi sulit untuk memahami apa yang terjadi nanti.”
Itulah malam berikut yang kaudengar dari percakapan mereka tentangmu. Kamu bersama  mereka makan dan minum hingga kau telak lupa apa yang kausesalkan.
            “Kau memang sudah mengerti tentang masa depanmu nanti. Lalu lelaki yang dijodohkan untukmu sudah siap untuk berbuat bagimu dalam segala hal sekali pun awalnya keluarga mereka enggan untuk mengatakan sanggup. Kau tahu itulah pilihan dari tekad yang bulat. Kau tak bisa berbuat apa-apa. Kau seorang anak perempuan yang harus taat pada atoin amafmu. Sebab sebagai perempuan kau dilahirkan untuk memenuhi hal semacam itu.”
Itulah sebabnya Loyta tak bisa menyangkal bahwa ia tak sudi menerima semua.
“Kau memang sadar untuk sesuatu lebih dari yang terbaik dari sekedar mutiara di dasar lautan. Berkorban untuk mengarungi lautan tanpa berpikir bahwa ada hambatan. Tapi kekuatanmu hanya separuh saja kalau mau dibandingkan dengan kekuatan seorang lelaki. Kau seolah rapuh di antara suara yang berbisik-bisik yang separuh malam kauhabiskan untuk mendengar dengan cermat keputusan apalagi yang dibuat. Dan berharap-harap keputusan yang tidak kaukehendaki segera dapat dibatalkan. Memang mau dikata kau masih belum mengerti kenapa kau diperlakukan seperti itu. Tapi ukuran seperti itu tidak pernah dikenakan manakala hanya sebatas menyanggupi kemauanmu.”
Saban hari dirasa seperti hari terakhir ia berada bersama orangtua. Sebagai seorang perempuan desa, tinggal bersama di rumah orangtua ketika sudah berumur adalah sesuatu yang kurang biasa. Yang terjadi, biasa, kau adalah gadis sialan di mata tetangga bahkan warga sekampung.
“Kau mengakui bahwa umurmu sudah menjejaki paruh waktu. Tepat kau bisa hidup bersama sebagai seorang istri bagi seorang lelaki. Tapat kau menginginkan buah hati. Tepat kamu bertiga menjalani hari. Atau kalau sudah lewat itu kamu menjadi anggota masyarakat yang diteladani. Kau mengerti bahwa waktu yang dihidupi cukup sudah di antara nasihat orangtua. Kau sudah tak lagi layak harus diasuh seperti pada seorang anak ingusan yang belum mengerti tentang bagaimana berpakaian. Atau seperti seorang anak lugu yang mesti terus diperkenalkan kata-kata atau pun bahasa isyarat yang darinya ia boleh mengerti sosok perempuan akan dipangginya ibu. Atau sosok laki-laki dipanggilnya ayah. Walau untuk mengerti saja ia akan berulangkali bingung dari bola mata lentiknya ia berkata dengan payahnya untuk membedakan sosok perempuan dan lelaki belum lagi dengan cara seperti apa. Atau oleh lelaki yang di sampingmu kau menjadi seorang ibu bagi anak-anak. Dan oleh anak-anakmu yang berada di pelukanmu lelakimu adalah ayahnya. Kau akan menerima, memilih dan menghidupi untuk memiliki. Kau pasti tak akan menyesal untuk semua itu.”

                                                       *********

Loyta, kemanakah kau, aku ingin lekas bersamamu di hari ini.
Suara lelaki yang kaucintai rupanya terus mengunjung ruang hatimu saban malam.  Kau menentukan pilihanmu itu tapi apa daya. Nasipmu sudan diteken oleh keputusan adat yang sesudah itu tak seorang  pun menganggu gugat. Kalau berani, antara dua pilihan. Mati atau gila. Sesungguhnya kau tak mau. Lelaki yang mereka pilih untukmu di setiap kali pertemuan, tidak juga mencintaimu. Ini semua gara-gara warisan yang kaudapatkan nanti. Yang dari ayah mantumu yang kini kau panggil opa. Itu keputusan buta dari atoin amafmu. Ia menginginkan warisannya karena dikatakan bahwa satu dua barang berharga adatmu dimilikinya.
 “Tidak apa-apa terima saja. Aku yakin ada yang istimewa ketika kau bersedia dengan rela,” lelaki yang sudah berbuat banyak karena mencintaimu itu masih di sampingmu ketika kau dipersimpangan.  Di suatu malam. Ia masih mau mendengar dengan rela saat-saat kau harus segera berkemas. Segera meninggalkannya.
“Tapi aku akan sengsara kalau  mencintai adalah peluang  yang dipaksakan. Aku ingin menentukannya sendiri. Sebab yang menjalani aku sendiri dan bukan siapa-siapa,” kau juga memang tidak bermaksud menyakiti dia tapi itu kausadari sebatas dia bersamamu.
“Aku tahu kau tidak rela sebab kau telah memikirkan apa yang ada di depan. Tapi tidak ada jalan keluar lagi. Lusa kau dipinang, bukan?  Nah, jalan keluar yang terbaik adalah bersedia menerimanya. Kau harus berusaha,” ia sepertinya tidak sanggup untuk mengatakan aku mencintaimu Loyta.
“Aku belum bisa memutuskan kesediaanku untuk menerima apalagi dalam waktu yang sudah sangat singkat ini. Ini masa depanku. Tolonglah aku untuk menemukan jalan keluarnya,” kau memohon dengan sangat tapi ia berkata dalam hatinya bahwa waktu telah memahkotaimu dengan ulah yang tidak kamu bayangkan. Ia juga tidak menerima. Tapi ia tak sanggup mengatakannya. Waktu singkat itu telah memperlemah segala dayanya termasuk harus merelakanmu pergi sekali pun.
“Keputusannya sudah sangat jelas,” ia menambahkan lagi.
“Tapi aku belum bisa”.
            “Aku pun tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Menurutku tidak ada jalan keluar lagi”.
            Dan Loyta baru sadar ketika menunggu mau berucap. Mengambil sikap sebagai jalan keluar bagi jalannya adalah sikap yang pernah membuatnya menitikkan air mata . Ia sadar bahwa hari itu akan lama baginya untuk menunggu waktu pernikahan lantaran semua yang sudah ia mulai bersama Armando bukan sebuah kebetulan semata, saja.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar