Seranjang Dengan Mayat
Malam persis di ujung batas menuju dini hari berikutnya. Anto yang kehausan begitu senangnya mendapat sebuah kelapa yang tinggal tipis-tipis serabutnya, membalut tempurung dan isinya. Kebetulan ada sebuah batu berwarna putih kusam yang dijangkau tangan kanannya. Maka batu itu pun diambilnya dan tempurung kelapa tadi dipecahkannya. Tempiasan air kelapa itu menyentuh tangan dan wajah Anto. Anto hanya senyum kecil, lalu berlalu meninggalkan kelapa yang telah pecah itu. Lonceng pertama dari gereja berdentang membangunkan Anto dari tidurnya. Betapa dia kaget bukan main. Serpihan asbak putihnya berceceran di tempat tidurnya, sedang darah segar masih mengalir menetes dari kepala istrinya yang sudah jadi almarhuma, di sampingnya.
Mimpi
Mata anak itu selalu menerawang polos. Wajahnya kalem, senyumannya hambar. Hari ini dia ulangi lagi keanehannya, saat aku sedang mengajar. Ketika aku bertanya tentang mimpi akan masa depan, teman-temannya ramai minta bicara. Ada yang bermimpi jadi bupati, penyair, rohaniwan, guru, polisi dan masih banyak yang lain lagi. Namun dia duduk beku di ujung belakang deretan, seperti biasanya. Aku putuskan untuk bertanya tentang mimpinya. Begini jawabannya, “Saya bermimpi bahwa suatu saat nanti saya bisa punya sebuah mimpi”. Aku terkejut.
Lengkap
Mereka adalah mahasiswa yang tinggal seasrama kos-kosan. Perjalanan ke kampus di hari-hari kemarin mereka tempuh dengan menghitung tapak-tapak kakinya. Leng punya sebuah motor, namun tanpa bensin. Maka motornya itu dibiarkannya menganggur, hingga jadi sarang laba-laba. Kap yang ibunya penjual bensin eceran punya berliter bensin. Namun itu tidak terlalu berati baginya, selain cadangan untuk tambahan uang saku saat BBM langka. Begitulah hari-hari kemarin. Namun hari ini mereka berdua menunggang motor Leng yang tangkinya telah diisi bensin Kap. Badan jalan raya yang mulus akhirnya mereka nikmati di atas roda motor yang berputar. Orang-orang yang mengenal mereka mengacungkan jempol sambil tersenyum melihat mereka berdua. Orang-orang itu meneriakan pula nama mereka berdua, yang disambung jadi satu, “Lengkap.....” Mereka berdua tersenyum.
Buta
Di terminal bus itu kau buat penantianku jadi tidak nyaman. Kau selalu tersenyum padaku. Gugusan gigimu yang nampak seperti susunan biji mentimun yang rapi itu berkilau. Padahal seingatku kita belum pernah bertemu apalagi saling kenal. Aneh memang, saat aku balas senyummu atau mengabaikannya kau tidak peduli. Kau terus saja tersenyum. Bahkan, saat kutunjukkan kepalan tangan dengan muka geram padamu pun kau tetap saja tersenyum. Aku mulai muak. Akhirnya aku mendekatimu. “Hey, kenapa dari tadi terus tersenyum padaku?!” Aku bertanya dengan hentakan suara yang menantang. Saat mendengar suaraku, kedua tanganmu itu meraba-raba mencari, sebab matamu hanya bisa melihat gelap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar