by. Ino Sengkoen
Sekelompok ular berwarna hitam. Besarnya sebanding paha anak kelas enam sekolah dasar di kampung. Gerakannya gesit menerobos dedaunan menuju mangsa. Bunyi desing tipis mengiringi kedatangan mereka. Sasaran harus segera lari jika tak ingin mati terpagut. Namun, memang tidak pernah ada yang lolos dari sergapan ular-ular itu, jika mereka sudah datang. Sebab, mereka tidak sembarang menampakkan diri. Selebihnya mereka hanya bayangan, roh penunggu hutan keramat.
Konon, mereka punya kerajaan sendiri. Pusat kerajaan ular ini ada di tengah hutan, di bawah sebuah pohon beringin besar, yang di pangkal pohonnya terdapat mata air yang selalu bening. Seluruh hutan adalah wilayah kawanan ular itu. Mereka punya seekor raja, yang katanya berbadan lebih besar dengan paras yang begitu sangar. Matanya memerah saga. Membara. Raja kawanan ular ini dihormati sebagai tuan tanah. Setiap bulan purnama, para tetua adat harus masuk ke dalam hutan, menuju ke pohon beringi besar itu, untuk mempersembahkan korban. Biasanya ternak peliharaan, mulai dari ayam sampai sapi. Sebuah altar dari kayu bercabang, dengan selempeng batu besar diantara cabang-cabang kayu itu jadi tempat persembahan korban. Persembahan itu diberikan, tentunya setelah sebuah ritus adat mendahuluinya. Persembahan itu wajib diberikan, jika tak ingin warga kampung hilang saat melintasi tepi hutan.
Pernah terjadi, seorang pria warga kampung hilang, tepat saat fajar menyingsing setelah malam purnama lewat. Menurut beberapa saksi mata, pria itu dibawa pergi oleh sekelompok ular hitam penunggu hutan. Kata mereka, sebelumnya angin kencang menerpa dari dalam hutan. Seiring itu kedengaran pula desing tipis tajam dari dalam hutan mendekat ke tepinya. Dedaunan yang kekuningan beterbangan tak teratur. Segesit kilat pria itu pun dililiti sekelompok ular hitam yang tiba-tiba muncul. Lalu ular-ular itu menarik pria malang itu ke dalam hutan. Dan beberapa saat kemudian, angin kencang menerbangkan pulang pakaian dan peralatan kebun pria itu. Itulah kelalaian pertama dan terakhir dari para tetua adat yang berujung malapetaka, lantaran tidak mempersembahkan korban kepada raja ular.
Ada juga kisah lain. Kisah seorang pendatang yang begitu tolol menurut warga kampung. Masih seorang pria. Dia datang dari kota, tinggal di kampung ini untuk sebuah penelitian. Setelah menemukan potensi-potensi kekayaan di kampung itu, dia tidak mau pulang ke kota. Dia malah mengajak teman-temannya dari kota. Mereka menjarah kekayaan alam, terutama bebatuan hitam yang bernama mangan itu. Dengan alat kerjanya yang modern, mereka memang mendulang sukses. Hampir seluruh bukit mereka jelajahi, meninggalkan longsor-longsor kecil yang melenyapkan pondok-pondok ladang warga di tepi-tepi bukit. Surat izin pemerintah memberi mereka jaminan.
Setelah semua wilayah mereka sisir, kini mereka melirik hutan wilayah kerajaan ular-ular. Akhirnya suatu saat mereka masuk ke hutan itu, tanpa peduli larangan para tetua adat. Dan kisah yang sama terulang lagi. Ketika tiba di tepi hutan, mereka disambut gemuruh dan riuh angin deras dari dalam hutan. Lalu muncul pula bunyi desing tipis tajam, dan dedaunan yang beterbangan tak beraturan. Dan tiba-tiba, sekelompok ular muncul di hadapan pria pendatang tadi, lalu meliliti tubuhnya serta menarikya ke dalam hutan. Lalu angin kencang menerbangkan pulang pakaian pria itu. Mereka yang lain lari ketakutan meninggalkan hutan. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mengganggu hutan itu.
***
“Hiiii, ngeri.”
Mega yang sedari tadi serius mendengar langsung menyambung akhir kisah ama En. Sejak dari kampung hingga hampir di ujung perjalanan ini memang tidak sedikitpun perhatiannya ditujukan padaku. Sebenarnya aku agak cemburu. Namun biarlah dia tahu keadaan di kampung kami, sebelum nanti menjadi pendamping hidupku.
“Orang kampung sangat takut terhadap ular-ular itu. Setiap saat bulan purnama, mereka tidak pernah lalai memberi persembahan. Kultus adatnya pun harus cermat. Salah sedikit saja bisa bisa sengsara, bahkan bisa sampai mati.”
Ama En menambah lagi. Menceritakan keseganan warga kampung terhadap ular-ular pemilik hutan itu. Ular-ular yang tidak pernah tahu kompromi. Pokoknya hanya berlaku satu prinsip baku ini, taat berarti damai, aman dan sejahtera, dan lalai artinya mati. Dan warga kampung kami takut mati. Maka syarat ini selalu mereka tepati betul. Pokoknya tanpa kompromi.
Ayunan kaki semakin lama semakin jauh menuju tujuan. Tepi hutan sudah mampu tertangkap mata. Suatu hamparan pepohonan besar dengan daun lebat. Hutan itu tampak gelap. Dari dalamnya timbul kabut tebal, barangkali hasil penguapan. Burung-burung hutan ramai berkicau, sambung menyambung. Namun mereka tak kelihatan. Hanya lengkingannya yang terdengar jelas.
Di belakang kami, masyarakat kampung berbondong-bondong. Pagi ini, memang pusat perhatian kampung akan kembali pindah ke hutan ini. Memang aneh. Biasanya hutan ini hanya didatangi saat purnama, jika beramai-ramai begini. Namun pagi ini lain. Rupanya sebuah sejarah akan tertoreh lagi, saat orang mengingat hutan lebat ini.
Tibalah kami di batas yang sudah digariskan. Langkah kaki kami harus terhenti. Kami tak boleh lewat lagi.
“Di mana lelaki perut buncit itu?”
Pertanyaan Mega ibarat perintah untuk kedua bola mataku, mencari gerangan yang dimaksud calon istriku itu. Tak berapa lama mataku menagkap lelaki perut buncit itu. Tanpa kata kuarahkan tangan menunjuk lelaki yang sudah tiba di tepi hutan itu. Dan perhatian mega dan ama En beralih ke lelaki perut buncit yang maju sendirian semakin rapat menuju tepi hutan.
Suasana sunyi. Suara burung-burung dari dalam hutan jelas terdegar. Semua mata warga kampung terarah pasti ke lelaki perut buncit itu. Mengenakan baju kameja yang dibalut jas coklat dan celana kain serta sepatu hitam yang kilapannya dipudarkan abu tanah, lelaki perut buncit itu sungguh mewakili manusia-manusia modern. Kosombongan nampak dari perutnya yang membengkak dan kumis tebalnya yang meninggi lantaran senyuman bibirnya. Kata ama En, lelaki perut buncit itu seorang doktor lulusan luar negri beberapa tahun lalu. Dia yang berjalan perlahan sambil tertawa menuju tepi hutan.
“Hahaha... Hei ular-ular hutan. Kalau berani tunjukkan dirimu. Aku mau membuktikan kepada masyarakat kampung yang bodoh ini. Biar mereka tahu, di zaman modern seperti ini mitos-mitos murahan itu tidak ada lagi. Ayo tunjukkan dirimu, kalau kamu memang berani. Hahaha....”
Suara lelaki perut buncit itu menggelegar, ditambah tawanya yang meremehkan. Sunyi semakin mencekam. Hanya gema tawa sombong lelaki perut buncit itu yang seakan terpantul lagi dari dalam hutan. Semuan hening dalam penantian.
“Hahaha hei ular-ular bodoh.... Ayo keluar. Tunjukkan kekuatanmu kepada warga kampung yang sama bodohnya dengan tua-tua adatnya yang buta ini. Hahaha...”
Dia berteriak lagi. Tawanya semakin keras berkepanjangan. Kupandangi wajah ama En yang memerah darah. Dan kulihat mulutnya komat kamit. Entah apa yang diucapkannya. Terdengar juga suara kecil-kecil dari mulut warga kampung dewasa yang komat-kamit tak jelas. Semakin lama, semakin komat-kamit. Bulu kudukku sedikit merinding, sebab pelahan aku mendengar kata-kata yang mereka ucapkan. Aku tahu kata-kata itu tidak sembarangan diucapkan, karena mengundang bahaya di baliknya.
“Hahaha hey orang kampung bodoh. Ular-ular itu tidak ada kan? Sudah kubilang, di zaman modern ini percuma kalian percaya mitos. Kamu memang sebodoh ular-ular....”
Belum sempat lelaki perut buncit itu menghabiskan kalimatnya, angin deras tiba-tiba datang dari tengah hutan, mengalihkan perhatian lelaki perut buncit itu. Seiring itu, bunyi desing tipis tajam ikut menepi. Dedaunan yang melengketi tanah terbang tak beraturan. Dan tiba-tiba lelaki perut buncit itu ditarik ke dalam hutan, entah oleh apa atau siapa. Yang tedengar hanya hentakan suara kagetnya. Lelaki perut buncit itu menghilang bersama suara hentakannya. Awan-awan di langit seolah berderu berkejaran. Dedaunan pepohonan rimbun di dalam hutan sana bergerak ke sana kemari tak karuan ditiup angin kencang yang tiba-tiba melanda tadi. Burung-burung di dalam hutan menjerit dan beterbangan. Kacau. Ngeri. Aku menganga, antara takut dan heran.
Tak lama berselang, sebuah angin kencang berhembus dari dalam hutan. Bahkan nafas kebanyakan orang yang berderu belum sempat ditenangkan kembali. Mata-mata kami yang masih melotot di hadapan kejadaian sadis tadi menjadi semakin terpana. Apa gerangan yang terjadi lagi? Angin itu ternyata membawa pulang pakaian lelaki perut buncit tadi. Celana, baju dan sepatu dan yang lainnya, kecuali tubuhnya.
Hening yang mencekam beberapa menit terakhir tadi akhirnya pecah.
“Palateee....auuuuuu....Palateee....auuuuuu.....”
Terdengar sorak para tetua ada. Mereka saling bersahut sambil tertawa dan menggenggam tangan. Gigi mereka yang putih kusam itu nampak bersinar di antara kedua bibir mereka yang memerah kunyahan sirih pinang. Seluruh warga kampung pun tak ketinggalan ikut menyambung. Anak-anak kecil meloncat-loncat, ikut bersorak pula. Sorakan kegirangan seperti kemenangan para nenek moyang dan pejuang di zaman lampau.
“Palateee....auuuuuu....Palateee....auuuuuu.....”
“Erik, aku takut.”
Mega berbisik setengah merengek minta perlindungan sambil memeluk tubuhku. Wajah manisnya disembunyikan di antara dua bidang dadaku. Satu dua helai rambutnya yang lurus halus nyasar menempel di daguku. Aku mengerti. Tentu ini pengalaman yang cukup mengerikan baginya. Kejadian seperti ini sungguh asing dalam masyarakat mereka yang modern dan canggih. Mungkin hanya dia sendiri yang tergerak hati dan percaya pada kejadian yang berbau mitis seperti ini. Bule Eropa yang kujumpai saat kuliah di pulau Dewata, yang akan jadi pendamping hidupku.
“Jangan ganggu mereka. Mereka hanya ingin dihormati...” Bisikku pelan sambil balas mendekap Mega. Kubenamkan wajahnya ke tubuhku, mencoba memberi kehangatan. Ama En hanya tersenyum melihat kami, sementara warga lainnya ramai tertawa puas sambil bersorak Palate. ***
(Ama: Sebutan untuk orang Dawan dewasa/// Palate: Bunyi teriakan yang mengungkapkan kegembiraan orang Dawan. Palate adalah gabungan dua kata bahasa Dawan, Pal: dapat, miliki dan Teij: tahi. Harafiahnya, dapat tahi. Ungkapan ini adalah ungkapan ejekan bagi musuh yang kalah dalam perang. Dalam ungkapan familiar yang lebih modern, “Tahi lu...”)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar