by. Gino Tukan
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian
Semua orang pasti tidak merasa asing dengan pantun di atas. Sebuah keindahan sastra yang mengandung di dalamnya nilai pendidikan yang luar biasa. Sebuah pengajaran yang lugas namun mendalam. Sebuah seni mengungkapkan realitas yang mengagumkan. Tidak seperti teori-teori ilmu pengetahuan yang berat dan rumit, namun gaungnya tetap besar sepanjang masa.
Bangsa Indonesia (baca: semua etnis di Indonesia), punya ikatan erat dengan jenis sastra ini. Doa-doa adat serta nyanyian-nyanyiannya sarat dengan model sastra ini. Suatu konsepsi yang membutuhkan penelitian. Namun yang mau saya ungkapkan di sini adalah nilai harmoni yang terkandung di dalam jenis sastra ini. Ada sebuah bahaya Jaman modern yang terus mengekang dan menekan sastra ini ke tingkat paling bawah dalam proses pendidikan sosial. Bahaya tersebut adalah pendewaan ratio. Ratio dianggap sebagai sebuah ukuran yang paling benar dalam menilai dan menjalankan kehidupan. Padahal, manusia tak melulu rationya, ia juga adalah makluk beremosi. Ia punya perasaan. Pendewaan terhadap satu aspek yang berlebihan bisa membawa manusia kepada satu ketimpangan. Individualitas, egoisme menjadi ciri utama ketimpangan ini.
Sebuah Gambaran tentang Pantun
Pantun sering dinyanyikan bersahutan. Pantun juga biasa diucapkan untuk menggambarkan suatu maksud tertentu. Menurut Suprapto, S.Pd, Pantun adalah puisi asli Indonesia. Pantun merupakan karya sastra budaya melayu. Pantun bisa juga disebut puisi lama karena ia memiliki ciri yang hampir sama dengan puisi. Jadi kita dapat mengatakan bahwa pantun adalah puisi lama yang terdiri dari empat baris dalam satu bait. Setiap baitnya terdri dari sampiran dan isi. Dari defenisi ini, kita dapat mengelompokkan pantun sebagai bagian dari puisi.
Pantun dapat dibagi atau dikelompokkan menurut isinya. Ada pantun anak-anak, yang terdiri dari pantun suka cita dan duka cita. Ada juga pantun orang muda yang terdiri dari pantun nasib, perkenalan, belas kasihan, perpisahan, jenaka, dan teka-teki. Dan juga pantun orang tua yang terdiri dari pantun adat, agama, dan nasehat. Ada pun bentuk pantun bermacam-macam yakni pantun biasa, kilat (karmina), rantai (seloka), genap empat baris (talibun) dan pantun modern.
Pantun biasa adalah syair empat seuntai yang baris pertama dan keduanya adalah sampiran sedangkan dua baris terakhir adalah isinya. Karmina adalah pantun yang memiliki baris-baris sangat singkat, yakni dua atau tiga kata saja. Contoh:
Ujung bandul dalam semak
Kerbau mandul banyak lemak
Seloka adalah pantun yang saling kait-mengkait antara satu bait dengan bait berikutnya. Hubungan keterkaitan ini terlihat pada baris kedua dan keempat dalam bait pertama akan menjadi baris pertama dan ketiga bait berikutnya. Contoh:
Dituai bersama dibawa pulang
Dijemur kering di halaman (2)
Dibuat bekal hidup sekarang
Dibuat bekal menghadap Tuhan (4)
Dijemur kering di halaman (2`)
Disimpan rapat ditali kuat
Dibuat bekal menghadap Tuhan (4`)
Agar selamat dunia akhir
Talibun adalah pantun yang baitnya lebih dari empat baris dan selalu genap. Biasanya separuh bait pertama adalah sampirannya dan yang lainnya adalah isinya. Pantun ini punya irama tertentu. Misalkan talibun enam memiliki baris irama abc-abc, dst. Pantun modern adalah pantun yang memiliki empat baris dalam satu bait dan tak punya sampiran. Pantun ini berirama a b a b.
Pantun juga memiliki kekhasan yakni rimanya. Rima adalah persamaan bunyi yang membuat pantun tersebut indah dan menarik waktu dinyanyikan atau diucapkan. Rima sangat mendukung keindahan satu pantun. Rima dapat diumpamakan sebagai baju yang menghiasi isi pantun agar terlihat (didengar) menarik.
Pantun: Sebuah Keselarasan Ratio dan Emosi
Kita telah menyimak gambaran singkat di atas, saatnya kita mengungkapkan keselarasan atau harmoni yang terkandung dalam pantun. Pantun mengandung sebuah keseimbangan yang sempurna. perpaduan antara emosi dan ratio. Mengapa demikian? Sampiran yang biasanya berisikan kiasan untuk suatu isi menuntut kecemerlangan seseorang penutur pantun untuk memilih kata dan kalimat yang bermakna mendalam. Yang lebih menariknya adalah, isi yang bermakna ini, harus dirangkai dengan pola tertentu dan rima yang indah. Dengan kata lain, sebuah pantun harus melibatkan unsur otak kiri dan kanan. Sebuah pantun harus logis namun juga indah.
Kita tentu tahu bahwa dua bagian tersebut (Ratio dan Rasa) adalah unsur hakiki manusia yang membentuk manusia menjadi seorang yang integral. Fakta telah membuktikan bahwa kicerdasan ratio saja tak bisa dijadikan senjata untuk hidup secara sempurna. Dalam pembentukan manusia yang integral dua unsur ini harus dilibatkan. Pantun sebenarnya mengantar kita untuk bisa membentuk diri kita menjadi pribadi yang integral.
Tidak sampai di situ saja. Pantun juga dapat membawa pesan moral dan pendidikan yang luwes, ringan namun mendalam. Pantun dapat menyederhanakan sebuah pesan kehidupan. Pantun juga menyajikan keindahan yang bermakna. Dengannya kita mampu membentuk manusia, entahkah itu anak-anak, orang muda atau orang tua. Dalam tradisi kita dahulu kala, pantun dijadikan sarana untuk menyampaikan nasehat atau pesan, atau pun sarana mencari jodoh. Pantun dapat disejajarkan dengan operanya orang barat di abad pertengahan. Atau Illiadnya Yunani. Sarana pembentukan karakter.
Arus globalisasi yang semakin deras telah mengaburkan warisan-warisan leluhur yang berfaedah. Kebiasaan berpantun ria telah hilang dikikis teknolgi elektronik yang semakin maju. Akibatnya generasi kita dibentuk menjadi generasi konsumtif dengan nilai rasa egois yang tinggi. Daya cipta dan kreasi serta sosialisasinya dibendung dan dipenjarakan oleh kemajuan teknologi. Kita memang tak dapat mengelak laju teknologi, namun kita dapat membangkitkan warisan-warisan berharga yang dapat dihidupi dalam dunia yang semakin modern. Salah-satunya pantun dan berpantun ria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar