Minggu, 28 Agustus 2011

PENYESALAN (cerpen)


by. Arky M



SAAT kelopak mataku terkatup erat, sayup sapa menghampiriku. Lemah nafas mengeja kata “Jesen.!! masih ingat aku?”.
Lengking jauh teriakan jengkrik beradu suara yang menyapa namaku menerobos gendang telingaku. Lolongan anjingpun menghardik pergi sayu bisikan itu saat kuterjaga. Pelan-pelan kuangkat kedua kelopak mataku yang tertindih berat rasa kantukku. Radar telingaku mencari mulut pemilik suara yang kukenal itu. Fokus retinaku menangkap gerakan bayangan yang sedang menempel pada kaca jendela rumah dinding itu. Samar terlihat sepotong bayangan mirip bayangan manusia. Bayangan itu beku menatapku. Aku bisa melihatnya saat secercah binar rembulan malam menyisip tirai jendela yang telah sobek..
aku tercengang saat mataku memelototi lambaian tangan bayangan hitam itu. Lambaian yang sulit ditaksir. Tanya bergejolak di kepalaku, entakah lambaian itu pertanda perjumpaan ataukah perpisahan. Gejolak rasa kembali merebak dalam batinku saat tangan itu melambai. Memori laluku kembali hadir membawaku kembali kepada luka lama yang pernah kuciptakan dulu. Kini luka itu kembali ternganga. Luka duka malam ini bercampur rasa takut yang memenjarakan keberanianku.
Badanku merinding mendengar lolongan anjing yang mungkin mencium aroma hadir bayangan itu. Bayangan yang kukenal walau dalam gelita malam.
Apakah aku sedang bermimpi?”
Kugigit daging tanganku untuk memastikannya.
“Ahkkk....”
gigi taringku mencabik sepotong kulit tanganku.
“Ini kenyataan, bukanlah bunga tidur”,
tensi denyut jantungku melonjak.
“Mengapa bayangan itu datang menggangguku?”
batinku mengadu.
“Apakah karena aku membayangkan wajahnya kala aku membaringkan kepalaku tadi?”
Smirna gadis blasteran Thionghoa-Timor yang telah mengisi hatiku enam tahun lalu. Ia hadir dalam memoriku senja tadi. Entah mengapa aku kembali memutar episode demi episode kisah lalu. Wajahnya tidak pernah terhapus dari benakku. Aku masih mengingat secara rinci gurat-gurat wajahnya. Lesung pipinya kala ia tersenyum. Bias aura kecantikannya saat terburai rambut ikalnya. Keceriaannya tak mengenal duka. Semangat hidupnya. Semua kelebihannya itu telah mengurung aku dalam rasa cintaku padanya. Cinta yang membuat aku sulit melupakannya. Tetapi juga cinta yang pada tepiannya menjelma menjadi dukalara. Kehangatan rasa yang dulunya membakar jiwa berujung pada kematian jiwa.
Ia datang malam ini hanya dalam rupa bayangan. Mungkin ia hanya mengirimkan bayangannya untuk menyampaikan pesan kepadaku. Atau mungkin juga ia tak sudih menampakkan wajah aslinya yang bersembunyi di balik tiarai itu.
Bayangannya itu membangkitkan lagi kenangan masa silam. Membongkar kembali kisah duka yang mulai mengering. Mulut-mulut luka kembali ternganga. Ingatan kisah pedih mengeruak dari tumpukan hiburan kosong yang coba menguburnya.
Episode duka kembali berputar, membangkitkan amukan hati yang terpendam. Hati yang berusaha bertahun-tahun belajar untuk melupakannya. Pigura wajahnya yang sengaja kutelungkupkan sekedar  mempercepat lupaku, dibaliknya lagi pada dinding yang mulai jenuh menyaksikan deritaku.
 “Smirnaaaaa………..!!!”
Kuteriaki namanya sekuat tenaga untuk memuntahkan rasa takutku. Terasa seluruh energi dan rasa penyesalanku terhempas ke luar. Suaraku malam itu mengagetkan se-isi kampungku. Anjing-anjing yang lagi pulas tertidur pun terkejut setentak melolong menyambar teriakanku.
Ku merengek agar bayangan itu jangan lekas lenyap, bak anak kecil yang minta disusui ibunya. Aku hendak bersujud dibawah telapaknya seraya memohon ampunnya. Kuteriaki namanya berulang kali, namun bayangannya pergi sebelum lenyap gaung suaraku. Entah ia takut padaku atau sekedar mau menakut-nakutiku. Kepergian bayangannya itu meninggalkan aroma parfum cazablanca dan bau amis yang masih tercium.
Aku masih dapat mengenal bau amis itu. Bau amis darah yang menempel ditubuh Smirna ketika terjadi tabrakan maut di depan sebuah Kapel yang sering kami kunjungi enam tahun lalu. Kapel yang menjadi tempat awal rasa kami saling terpaut. Tempat dimana gejolak rasa terungkap dan jalin cinta kami berpadu. Tempat dimana kami betekuk lutut memohon restu Sang Khalik.
Kapel itu juga yang menjadi saksi kematian tragisnya. Smirna dan motor legendanya digilas sebuah mikrolet. Entah mengapa terjadi kecelakaan itu. Aku masih mengingat sejam sebelum kecelakaan itu terjadi pertengkaran aku dan dia di senja itu.
Kala itu ia menghampiriku dan ia berkata lirih,
Sayang aku hamil
Aku terkejut bagai disambar halilintar di siang bolong kala mendengarnya.
“kamu harus bertanggungjawab. Kita harus segera menyampaikannya kepada kedua orang tuaku dan orang tuamu. Sesegera mungkin juga kita mengurus pertunangan dan pernikahan kita” katanya lirih.
“aku belum siap…!” tukasku.
“Mengapa belum siap? Aku tidak mau tahu. Kamu dan aku harus menerima semua konsekuensi dari hubungan kita selama ini”
Ia memegang erat tanganku sambil terus menghujani telingaku dengan pertanyaan yang sama. Bahuku  diguncang-guncangnya. Aku menepis kedua tangannya. Badanku mulai gemetaran. Dentuman jantungku mengencang. Urat-urat nadiku mengembang. Kepalaku terasa pening. Kesadaranku mulai surut. Emosiku memuncak dan tak terasa tanganku mendarat di wajahnya,
Prakkk…
“segera gugurkan anak itu, aku tidak mau tahu”.
“gugurkannnn…..!!!!”,
Teriakanku melengking sambil bunyi keras bantingan pintu menutup pertengkaran kami. Aku keluar meninggalkannya sendiri yang masih terisak-isak mendengar kata-kataku.
Kini aroma parfum dan darah itu hadir, menggores lagi rasa bersalahku. Ia tidak akan pergi jika aku tidak bersihkeras menyuruhnya menggugurkan janin hasil paduan nafsu kami. Nafsu yang tak bernutrisi cintaku. Semua ini salahku. Itu bukan sebuah kecelakaan murni. Akulah penyebab kematiannya. Ia mengalami tekanan antara nurani keibuannya dan vonis kehidupan yang bakal mencaci-maki dirinya sebagai perempuan jalang.  Mungkin ia ke Kapel itu hendak memohon ampun pada Tuhan atas dosaku. Atau pula ia memilih tewas di depan rumah Tuhan untuk mengaduh nasipnya lantaran tak sudih menanggung derita. Derita ulah laki-laki keparat seperti aku yang telah menidurinya lantas tak siap menikahinya.
Akulah penyebab kematiannya. Ia mati karena nuraniku telah mendahului kematian ragaku. Mungkin ia datang kembali malam ini untuk menuntut pertanggungjawabanku.
Setelah kepergiannya baru kusadari kalau sebagian jiwaku telah mati. Menghirup nafas kehidupan tak ada gairah rasanya. Setiap tarikan nafas bak menelan racun. Setiap sentakan detik jam dinding terdengar bagaikan palu vonis sang hakim.
Luka salah itu telah membekas di dalam sejarah yang tak bisa kuhapus. Sempat memori masa silam itu ingin kulenyapkan. Namun disaat aku berusaha melenyapkannya, justru memoriku semakin tajam mengingatnya. Tak sedikitpun kisahku dan dia dapat kuusir. Kenangan itu terus hadir, seolah kembali terulang. Bayangan kematiannya terus mencabik-cabik rasa sesalku. Aku laksana terjebak dalam lingkaran waktu. Waktu yang tak memberi ruang agar aku dapat menebus kesalahanku. Kini aku terpenjara dalam ruang penyesalan.

TAU BETA TOW (Humor)


 by. Yansen Koi



Arao Lesek yang baru berumur tiga tahun sangat dimanjakan oleh ba’inya, Ba’i Baba . apa saja yang yang dimintanya selalu diberikan kepadanya.
Pada suatu kesempatan Arao Lesek bertanya kepada ba’inya.
Arao Lesek : “Ba’i…..! satu tambah satu hasilnya berapa?”. (Tanya Arao penuh rasa ingin tahu)
Ba’i Baba :  “ow… dulu waktu ba’i dong sekolah, satu tambah satu hasilnya dua. Tapi sekarang ba’i kurang tahu. Mungkin satu tambah satu hasilnya su tiga atau sekitar empat dong.”
Arao Lesek : “weeee….., ternyata ba’i pintar ju ew.!”
Ba’i Baba : “ Tau beta tow….. ko beta na.!”

HATI-HATI DI JALAN (humor)


by. Yansen Koi

Suatu hari Pak Tinus jalan-jalan di sekitar kampung Batas Babatu Mangan. Ia merasa heran karena hari itu tak seorangpun yang ada di kampung itu. Tiba-tiba ia bertemu dengan Pak Talo yang baru pulang dari tempat gali batu mangan. Keduanya saling bertegur sapa, namun keduanya sama-sama mengalami gangguan pendengaran (tuli telak), percakapanpun dimulai;
Pak Tino : “lu mau pimana brow??” (disertai gerakkan tangannya)
Pak Tinus : karena mengerti maksud gerak tangannya ia menjawab “saya mau jalan-jalan dow brow. Trus brow mau pi mana?” (tanpa ada gerak tubuh).
Pak Tino : aiiiiii…….. saya malas, brow.!!
Pak Tinus : “okey brow. Hati-hati di jalan.” 







Semoga Bisa Datang Pagi (puisi)


by. Umbu Tibu


Kidung ini hadir, tatkala gerimis baru saja redah
Sepoi berhembus mengusap ranting patah
Dedaunan tua luruh membelai bumi yang basah
Senyap melambai sisakan gerimis yang indah

Iapun hadir saat kalbu lagi kau miliki
Menerawang diatas hamparan rumput teki
Saat kau melintasi zaman kepedihan
Pada ranting pohon kau beri salam
Berharap dedaunan jangan terus berguguran
Agar keteduhan tak segera kalam

Kau memang putera bangsa
Tapi terusir dari kedamaian jiwa tanpa harapan
Bola mata letih memandang sabana
Yang nyaris tak kenal kasihan

Hidupmu kini hanya mengernyitkan dahi
Rencana besar di kepala menguap
Kembang adat engkau raup
Moga malam hari hidupmu cepat membawamu pergi
Semoga bisa datang pagi

FLORENSIA (puisi)


 by. Ino Sengkoen


Kusebut namamu Eny Florensia
Dalam doaku tadi malam
Dengan untaian mawar di tangan
Kupasrahkan kisahmu
Dalam katupan Siti Mawar
Saat kau melayang mengudara
Di dalam perut Merpati
Tinggalkan kesunyian bagi rumah kita di kota Sari
Dan setumpuk harapan sukses sesanak keluarga
Kejarlah mimpimu ke negeri Pedagang
Sampai harum dirimu sedap tercium
Mekar merona
Seperti Florensia yang jadi namamu

(untuk saudari semata wayangku yang terbang melintas pulau
 dan lautan demi sebuah mimpi yang ia sebut cita-citanya)










AINA LIKO (puisi)


by. Ino Sengkoen


Aina Liko
Lenggokan terus tubuhmu
Lekukkan
pancarkan gemulai
dengan sepotong selendang merentang sepanjang kedua tanganmu
membuatmu jadi bak induk elang yang kepakkan sayap
Tak  usah peduli amis peluh yang berderai
Yang rintiknya perlahan basahi Nusa Cendana
dengan sedikit amis alami
Tanah ini pertiwi kita
Nanti kitapun kembali ke sana
Seperti Bonet  yang kau mainkan
Dengan haru berlapis sukacita
Menghantar Meo kembali pulang
Pelukan pertiwi rindu menanti

(Aina Liko: Istilah Dawan untuk menyebut adik perempuan kandung dari ayah atau ibu/// Bonet: tarian yang dimainkan untuk saat kematian para tetua adat atau orang yang dihargai dalam sistem adat suku orang Dawan. Tarian ini biasanya dibawakan oleh kaum perempuan/// Meo: sebutan untuk  pejuang atau prajurit kerajaan)






FIKSI MINI (by. Ino Sengkoen)


Seranjang Dengan Mayat
            Malam persis di ujung batas menuju dini hari berikutnya. Anto yang kehausan begitu senangnya mendapat sebuah kelapa yang tinggal tipis-tipis serabutnya, membalut tempurung dan isinya. Kebetulan ada sebuah batu berwarna putih kusam yang dijangkau tangan kanannya. Maka batu itu pun diambilnya dan tempurung kelapa tadi dipecahkannya. Tempiasan air kelapa itu menyentuh tangan dan wajah Anto. Anto hanya senyum kecil, lalu berlalu meninggalkan kelapa yang telah pecah itu. Lonceng pertama dari gereja berdentang membangunkan Anto dari tidurnya. Betapa dia kaget bukan main. Serpihan asbak putihnya berceceran di tempat tidurnya, sedang darah segar masih mengalir menetes dari kepala istrinya yang sudah jadi almarhuma, di sampingnya.
Mimpi
            Mata anak itu selalu menerawang polos. Wajahnya kalem, senyumannya hambar. Hari ini dia ulangi lagi keanehannya, saat aku sedang mengajar. Ketika aku bertanya tentang mimpi akan masa depan, teman-temannya ramai minta bicara. Ada yang bermimpi jadi bupati, penyair, rohaniwan, guru, polisi dan masih banyak yang lain lagi. Namun dia duduk beku di ujung belakang deretan, seperti biasanya. Aku putuskan untuk bertanya tentang mimpinya. Begini jawabannya, “Saya bermimpi bahwa suatu saat nanti saya bisa punya sebuah mimpi”. Aku terkejut.
Lengkap
            Mereka adalah mahasiswa yang tinggal seasrama kos-kosan. Perjalanan ke kampus di hari-hari kemarin mereka tempuh dengan menghitung tapak-tapak kakinya. Leng punya sebuah motor, namun tanpa bensin. Maka motornya itu dibiarkannya menganggur, hingga jadi sarang laba-laba. Kap yang ibunya penjual bensin eceran punya berliter bensin. Namun itu tidak terlalu berati baginya, selain cadangan untuk tambahan uang saku saat BBM langka. Begitulah hari-hari kemarin. Namun hari ini mereka berdua menunggang motor Leng yang tangkinya telah diisi bensin Kap. Badan jalan raya yang mulus akhirnya mereka nikmati di atas roda motor yang berputar. Orang-orang yang mengenal mereka mengacungkan jempol sambil tersenyum melihat mereka berdua. Orang-orang itu meneriakan pula nama mereka berdua, yang disambung jadi satu, “Lengkap.....” Mereka berdua tersenyum.
Buta
            Di terminal bus itu kau buat penantianku jadi tidak nyaman. Kau selalu tersenyum padaku. Gugusan gigimu yang nampak seperti susunan biji mentimun yang rapi itu berkilau. Padahal seingatku kita belum pernah bertemu apalagi saling kenal. Aneh memang, saat aku balas senyummu atau mengabaikannya kau tidak peduli. Kau terus saja tersenyum. Bahkan, saat kutunjukkan kepalan tangan dengan muka geram padamu pun kau tetap saja tersenyum. Aku mulai muak. Akhirnya aku mendekatimu. “Hey, kenapa dari tadi terus tersenyum padaku?!” Aku bertanya dengan hentakan suara yang menantang. Saat mendengar suaraku, kedua tanganmu itu meraba-raba mencari, sebab matamu hanya bisa melihat gelap.