Oleh:
Fr Amanche Franck OE Ninu , Fr Archadius Arky Manek, & Fr Januario Gonzaga
Di tepi sungai Noelmina
Beta duduk sambil menangis
Beta pung hati semakin teriris
Ketika melihat korban bencana
Masa adventus kita menanti
Mari kenakan senjata cahaya
Mari menolong korban bencana
Jangan duduk berpangku kaki
Pentas Seni Untuk Kemanusiaan
Kedua pantun di atas terlantun pada acara malam amal untuk korban bencana alam, Minggu 5 Desember 2010 lalu, di aula Paroki Santa Maria Assumpta Kupang. Pantun berantai ini merupakan salah satu mata acara malam amal itu. Tak hanya pantun, malam itu para Frater calon Imam projo Seminari Tinggi Santu Mikhael Penfui Kupang menggugah ratusan umat yang hadir dengan penampilan koor, musik ansambel, drama pantomimik, puisi, dan acara talk show kreatif Buka Mata. Puisi Sophronia yang dibawakan Fr Izack Sonlay pada awal acara menggetarkan seluruh semesta Assumpta. Kesedihan memancar dari sang penyair muda ini mengenang reruntuhan puing-puing bencana. Lagu perahu retak milik Frangky Sahilatua menyambung kenangan luka bencana itu. Lagu yang dibawakan penuh semangat ini menceritakan keretakan bangsa kita yang dihantam tragedi kemanusiaan dan bencana alam. Aku heran….aku heran…. Satu kenyang, sribu kelaparan, aku heran, aku heran, keserakahan diagungkan. Demikian lagu ini syahdu namun menggelitik menggambarkan ironi negara dan bangsa ini. Di tengah tragedi bangsa ini masih terdengar pula anak-anak bangsa terus berpesta pora dalam kemabukan dan keserakahan tak berprikemanusiaan. Malam itu para pemuda calon Imam juga menunjukkan kenyataan ketidakpedulian di tengah bencana oleh segelintir oknum serakah lewat drama pantomimik. Oknum-oknum ini disebut sebagai mereka yang tak mampu menanggalkan perbuatan-perbuatan yang tak tahan cahaya. Mereka bahkan lupa mengenakan senjata terang. Drama pantomimik ini juga menghadirkan sepasang suami istri dan anaknya yang dalam kesederhanaan dan kerendahan hati pergi membantu para korban bencana alam. Keluarga sederhana ini sungguh-sungguh mengamalkan apa yang dikatakan Yesus: “Ketika aku lapar kamu memberi aku makan, ketika aku haus kamu memberi aku minum”
Kritik sosial tampil secara halus dan menggelitik dalam acara talk show Buka Mata yang dipandu Frater Kristo Ngasi. Acara yang merupakan perpaduan kreatif acara talk show Bukan Empat Matanya Tukul Arwana dan Kick Andy ini dikemas menarik dan kreatif. Frater Kristo yang malam itu merubah namanya menjadi Andy Arwana tampil jenaka namun elegan. Calon Imam Keuskupan Weetebula ini menghadirkan seorang koruptor kakap bernama Gayus Timbunuang(Fr Ejo Ati), Mr Jessen, seorang pesepakbola asal Belanda(Fr Kiur Tamelab) juga Presiden Indonesia dan Presiden Amerika Serikat yang masing-masing diperankan Fr Fredy Sianturi dan Fr Ento Tnomel. Fr Ngasi bahkan secara tegas berpesan pada para pemirsa: “Persembahan sepeser uang dari seorang janda miskin masih jauh lebih mulia daripada ratusan miliar bahkan triliunan uang hasil korupsi” Acara talk show para frater ini bahkan tak main-main dalam permainan mereka. Di penghujung talk show, redaksi Buka Mata mendatangkan bintang tamu sungguhan, seorang musisi Jazz Indonesia kelahiran Boawae Flores NTT, Ivan Nestorman. Ivan yang malam itu disapa juga sebagai frater oleh Bung Andy Arwana Ngasi, tampil menghibur dengan lagu daerah Dawan Es Kaubele dengan iringan ala jazz. Buka Matanya para calon Imam ini menampilkan ironi kemanusiaan dan sikap paradoksal manusia di tengah pentas kehidupan ini. Manusia layaknya pengembara yang mengais-ngais di antara luka sesama, bahkan ada yang hidup serakah di atas penderitaan sesama. Padahal manusia pengembara sejatinya harus membangun kemah di antara penderitaan sesama sambil memberi makan pada mereka yang lapar, memberi minum untuk mereka yang haus, walau ia sendiri adalah pengembara yang terkadang merasa lapar dan dahaga. Lengkap sudah semalam di Assumpta dengan kisah tragedi dan komedi kemanusiaan.
Pentas seni para calon Imam ini sekedar contoh perbuatan amal kecil untuk para korban bencana alam. Kita bisa menyaksikan ataupun mendengar tentang betapa pedihnya penderitaan sesama di tengah bencana maha dahsyat. Wasior Papua, Mentawai, Merapi dan juga Skinu di depan pelupuk mata membutuhkan cinta dan perhatian kita. Mungkin kita tak punya materi berlimpah untuk para korban. Tapi hati dan tangan kita mestinya tergugah dan tergerak di tengah penderitaan ini. Cerita Injil tentang seorang janda miskin yang memberi persembahan dari kekurangan seharusnya menjadi spirit kita dalam membantu para korban. Sesungguhnya, tindakan memberi pertama-tama tidak keluar dari kelimpahan materi. Kasih pemberian terutama bagi mereka yang berkesusahan, sepantasnya lahir dari keseluruhan diri dan keutuhan cinta. Disinilah terletak kelimpahan sejati.
Memori kita masih segar dengan begitu banyak tragedi dan bencana kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita. Cerita tentang puluhan nyawa yang melayang akibat tertimbun di lubang penggalian mangan di tanah Timor ini sungguh amat miris dan pedis. Bahkan kita menyaksikan kekerasan yang sudah sangat banal di sekitar kita. Pemerkosaan, perampokan, pencurian, korupsi, kecelakan lalu lintas, dan bunuh diri bahkan telah menjadi semacam agenda tetap dalam hidup harian kita. Di atas semuanya ini, ada satu bencana yang justru selama ini lewat dari hati dan budi kita yakni bencana ketidakpedulian terhadap sesama. Bencana terbesar sesungguhnya adalah ketika kita tidak peduli dengan sesama yang menderita, miskin dan berkekurangan. Banyak di antara kita kehilangan hati, ketika menyaksikan tragedi kemanusiaan yang terjadi di sekitar kita. Bartimeus anak Timeus, orang buta dalam kisah Injil yang minta disembuhkan oleh Yesus, mempunyai seruan doa yang indah. “Rabuni(Guru) semoga aku dapat melihat” Kita sebenarnya buta. Hati kita buta. Dan bersama Bartimeus kita seharusnya berdoa agar kita tak lagi buta hati untuk dapat melihat penderitaan sesama kita.
ADVENTUS DAN REALITAS BENCANA
Adventus, sebuah masa dalam lingkaran tahun liturgi orang Katolik dimaksudkan untuk mempersiapkan pesta kelahiran Yesus Kristus, Sang Penebus umat manusia. Lebih jauh dari itu, adventus juga adalah persiapan bagi kedatangan Yesus pada parousia(akhir zaman). Seorang Kristen yang baik dan benar tidak saja sibuk mempersiapkan pesta natal, dia serentak pula harus mempersiapkan diri untuk masuk dalam pesta perjamuan abadi pada akhir zaman. Dia tidak saja berpesta kini, tapi juga nanti. Ia seharusnya bahagia di sini tapi juga nanti, saat Tuhan datang melihatnya sudah layak dalam pakaian pesta. Itulah adven sejati. Dan tentang ini, Santo Agustinus seorang teolog dan filsuf Kristen berujar: “Jangan kita tolak kedatangan yang pertama, supaya kita pun layak menerima kedatangan-Nya yang kedua”
Adventus yang dirayakan tahun ini didahului dengan tragedi bencana alam yang menghantam Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dari Mentawai, Merapi, Skinu Timor, dan Wasior-Papua kemanusiaan diporak-porandakan. Realitas bencana ini layaknya adalah lanskap kemanusiaan bagi masa adven yang kita rayakan tahun ini. Kaum beriman Kristiani sedang merayakan adven di tengah tragedi kemanusiaan yang masih meninggalkan luka dan kepedihan mendalam. Adventus sebagai penantian kelahiran Yesus Kristus tidak boleh dilepaspisahkan dari tragedi bencana ini. Adventus kita, sejatinya adalah adventus yang berbelarasa, berempati, dan berdimensi kemanusiaan. Perayaan iman adventus adalah sebuah perayaan kemanusiaan pula. Justru iman adventus sungguh menjadi nyata ketika dapat menyatu dalam realitas bencana alam ini. Masa adven yang dirayakan dalam Gereja bukanlah sebuah permainan kudus yang menghantar kita pada nostalgia masa lampau. Masa penantian ini sesungguhnya adalah perayaan Hic Et Nunc, di sini dan kini. Paus Benedictus XVI dalam tiga renungannya untuk masa adven mengajak kaum beriman untuk melihat kenyataan dunia dewasa ini. Beliau bahkan prihatin akan kenyataan bahwa orang tidak lagi melihat kenyataan-kenyataan negatif saat ini. Orang bahkan hidup dengan lampu padam karena takut imannya tidak bisa bertahan bila melihat dengan terang dan jelas kenyataan dunia dewasa ini. Manusia lantas menutup diri terhadap sejumlah kenyataan hidupnya sendiri.
Bila kita mau mendalami keprihatinan Paus Benedictus XVI, kita seharusnya jujur bahwa sering kita lari dari kenyataan-kenyataan negatif dan minus dalam hidup. Kita menutup mata terhadap berbagai tragedi dan bencana kemanusian. Kita bahkan menciptakan rasa aman yang palsu dan tinggal di dalam puri-puri kemapanan yang rapuh. Masa adven kali ini mengajak kita untuk terus berbenah dan serentak pula bergegas membantu sesama kita. Sambil menanti kedatangan Sang Juru Selamat, kita diajak untuk bergegas menata kembali puing-puing bencana. Kita membangun kembali hidup yang sering ditimpa bencana ketidakpedulian pada sesama. Dengan demikian tak ada lagi Si Beta yang duduk menangis di tepi Noelmina ketika melihat derita korban bencana, juga perahu negeri kita tak lagi retak seperti diprihatinkan Frangky Sahilatua. Nah, mari menanti Tuhan…….
* Trio penulis adalah Pengurus Kelompok Menulis di Koran dan anggota Komunitas Sastra Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui Kupang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar