MEMOAR PENGGALI MANGAN
HERMAN BAU RUA’
Kampungku terkurung batu berbentuk ceruk tubuh, semacam lekuk pinggang perempuan tujuhbelasan, tentunya perempuan batu. Lekuk tubuh itu kini sudah penuh borok dan coreng sana-sini. Karena di situlah kami menghujani linggis, mengayun palu, mempertaruhkan urusan perut, rokok, garam, dan uang sekolah anak walau harus mencederai kemolekan tubuh alam kami. Tebing yang tegak menantang menggerakkan kami seisi kampung untuk tegak bergulat sebagai si penantang-meski tak pernah memberi pendapatan yang cukup. Maklumlah kami hanya pekerja, meski pula batu-batu itu kami yang punya namun untuk membuatnya laku kami butuh juragan batu dari kota. Soal harga entalah. Kami tak terlalu tahu, mungkin tak peduli, kalau pun peduli tak cukup berguna, hanya menambah kecewa dan sakit hati. Di kota pasti harganya melipat empat kali ketimbang di sini.
Tapi kami mesti berpasrah diri, sebagaimana kami memasrahkan lekung punggung kami dan isteri kami terbakar sinar matahari, tangan kapalan tak pernah berhenti meruntuh dan memalu. Dan tangan-tangan kami pun kasar-kasar, kulit kami keras seperti hidup ini yang memang begitu keras, keras seperti batu. Bahkan perempuan-perempuan kami juga teramat tahan menghadapi kerasnya batu. Setiap batu yang runtuh, mereka pecah menjadi kerikil-kerikil kecil hingga bak truk terbuka berderak-derak mengangkutnya ke kota, meninggalkan lenguh debu di jalan tanah berbatu.
Seperti yang ku katakan tadi. Hidup kami begitu keras, seperti batu ini, batu mangan yang katanya batu yang paling keras dari sekian banyak batu di muka bumi, batu yang menjadi cikal-bakal biji besi dan baja. Sudah begitu kami lantaran dicap masyarakat miskin maka harta bergelimang mungkin bukan dunia kami. Dari lahir sampai dalam liang kubur pun cap ini tak pudar-pudar. Padahal kalau mau dibilang alam kami kaya dan indah. Banyak barang mentah, kayu, marmer, jagung, padi, dan terkahir ini mangan. Kini akan ku ceritakan kepadamu kenapa hidup kami tak kenal lembut. Kenapa kami terus dicakar jemari kasar kemiskinan.
Pertama-tama aku hendak katakan kami ini kaya, hanya kami tak tahu urus harta, maka kami diperbodoh dan harta bumi kami terus digerus tanpa apa-apa yang kami dapat. Yah bahasa kasarnya kami dirampok. Walaupun tahu, kami hanya bungkam karena lidah kami telah kelu bagaimana cara merangkai bahasa hukum, bisnis, apalagi politis. Kadang dengan kelelahan yang luar biasa tapi tidak diutarakan, tidak dikeluhkan. Kami terbiasa diam. Hal yang paling penting harus bekerja. Sebab kalau tidak kami miskin, kalau miskin kami diperlakukan bukan sebagai manusia. Bahwa setelah bekerja pun tetap miskin, tak apa-apa, kita mengisi hari-hari dengan berbuat sesuatu.
***
Dulu kami tak kenal mangan. Kalaupun kenal itu hanyalah batu yang paling tak berarti. Batu-batu itu berserakan begitu saja tanpa seorangpun peduli. Kami mulai kenal mangan berkat jasa seorang juragan. Waktu itu hari masih buta. Sebuah pick-up berwarna hitam memasuki halaman kampung kami. Gembala memapah ternak ke padang. Ibu-ibu sibuk menimba air untuk masak makan, biasanya ubi, jagung, dan beras kalau masih ada raskin-beras miskin. Aku duduk menanti siapa yang turun dari balik pintu mobil itu. Ternyata seorang juragan, bercelana pendek yang digantung saja di bawah perutnya yang buncit besar.
“Bapak!!” kata sang bos sambil menunjuk sampel sebongkah batu mangan. Lanjutnya, “selama ini kalian tak tahu ternyata batu ini bisa menghasilkan uang. Di kampung ini banyak kandungan mangan. Ayo sekarang kalian mengumpulkan mangan dan saya yang membelinya.“ Tak sampai siang datang seorang lagi. Kali ini dengan sebuah truk besar. “Kalian akan kubayar dengan harga lebih tinggi.“ Truk itu berlalu dan datang lagi seorang juragan lain. Begitulah kira-kira sampai lima calon pembeli dengan potongan harga dan janji yang berbeda. Ini persaingan kapitalis. Tandanya kampung kami cukup potensial soal mangan, ibarat bunga bersari madu yang menarik banyak lebah berdatangan.
Masyarakat kami termakan umpan. Bukan termakan tapi begitulah seharusnya kami, setiap ada kesmpatan kerja yang mendatangkan duit kami ladeni. Menggali mangan ibarat tak lagi menabur, menyiangi, tapi langsung menuai. Kepincut mendapat rupiah, berhari-hari kami mencari mangan. Kami beralih profesi dari petani musiman menjadi penambang. Ini lahan kerja menjanjikan. Kami menghujam linggis di dada bumi kami berpijak, hingga sedalam kubangan besar. Memburu mangan di mana saja terselib di tanah penuh gairah. Sekilo kami dapatkan setelah memeras keringat berulang kali. Dari hasil penjualan kami membeli kebutuhan dasar, garam dan sedikit ikan kering.
Berhari-hari dari matahari terbit sampai terbenam kami bekerja keras, jemari kami terus saja mengais-ngais seperti induk ayam mencari makan. Kalau pulang ke rumah itu hanya untuk istrahat malam. Isteri-isteri yang seharusnya di rumah memasak, dan mengurus anak tak kalah ngototnya seperti suami-suami mereka sehingga otot-otot mereka yang sejatinya lembut dan ranum ikut membatu. Kalau pulang malam, mungkin suami dan isteri tak tahu lagi bercinta. Apa daya hasrat, sekujur tubuh lelah, sakit, memar, nanar. Gairah telah kami tumpah untuk pecahkan batu. Kami ini penggali mangan. Hamparan bukit yang seharusnya indah kami corengi, luka oleh hujaman besi penggali. Perut bumi kami tak kosong-kosong seakan ia muak akan tingkah kami sehingga tak habisnya memuntahkan mangan. Kami senang tanah kami kaya. Untuk kesejahteraan kamilah bumi ini tercipta. Tanah kami pijaki ini pasti menangis ditikam, digerogoti, namun syukur ia tetap dermawan.
Mangan tak lebih dari bencana bagi kami. Alih-alih mengurangi kemiskinan, kami malah semakin terjerabab dalam kubangan maut yang kami gali dengan sepuluh jari kami sendiri. Kami buat kubur sendiri, dengan tangan sendiri. Hingga akhirnya banyak nyawa laki-laki dan perempuan terenggang lemas oleh himpitan reruntuhan tanah dan batu. Setiap hari selalu ada korban, sekurang-kurang luka atau memar di otot. Tak ada obat, paling banter kami memamah daun lamtoro, kunyit dan beras mentah mereda nyeri. Hidup kami keras, keras seperti batu tapi tak pernah mengalah, kami lawan dengan otot kami sendiri. Biarpun darah kami tumpah, urat-urat putus dan terlepas, tulang-tulang kami remuk, kami tetap berotot melawan. Kami memar tapi tak pernah mekar.
Bertahun-tahun kami mengali mangan. Berton-ton terjual tapi kami tak pernah terbit sejahtera. Lalu kami bekerja untuk siapa? Perut bumi kami semakin tak berisi seperti perut kami yang tetap keroncong, ternak-ternak kamipun mengurus, hanya anak-anak kami yang buncit, mungkin busung lapar. Sory tak cukup makanan untuk tubuh mereka karena telah dirampas cacing-cacing dalam perut. Di perut siapakah mangan-mangan itu termakan. Lalu cacing macam apakah ini yang tak tahu kenyang menghisap sari-sari tubuh kami dengan serakah?
Kemarin masih saja ada nyawa yang melayang Lala dan Moy-Suami dan isteri sekaligus. Kasihan anak mereka hanya menangis meratap ayah dan ibu ditelan bumi sendiri dengan darah yang merembes dari balik permukaan tanah. Tragis! Banyak yang sudah menjadi martir, yah martir mangan. Bukankah demikian? Urat nadi kami pecah dan darah kami harus tumpah barang menyejukkan hati oranglain? Tapi apa ada manusia yang haus darah. Akhh mereka itu bukan manusia, mereka dracula, mereka vampir dalam kisah klasik film-film holywood, atau paling tidak mereka seperti suster ngesot yang terus meminta tumbal.
Hidup kami akan tetap keras bila terus begini. Sampai orang sekampung ini matipun darah mereka tak bisa melunakkan hidup ini. Kami terpaksa menengak realitas bertuba ini sampai liang lahat. Maaf kami jangan terus diperbudak. Kami sudah muak. Kami tidak sudi lagi. Tolong dengarkan suara rintihan kami yang berseru dari hamparan ladang-ladang kering, suara kami yang nyaris lenyap di alur-alur terowongan penggalian. Kalau kalian masih bertelinga. Kenapa diam saja? Ataukah hati kalian juga telah membatu, membatu seperti mangan-mangan ini?
Akhirnya kusadari hidup kami akan terus keras, keras seperti mangan-mangan ini. Bila dihantam besi sekalipun hanya pecah, menyisahkan kerikil terlepas dan deru debu hitam yang menelusup ke dalam paru-paru. Mustahil bermimpi jadi lunak apalagi encer. Kami para penggali mangan hanya menyerukan nadar ini, “ami foti netik liman” (Kami hanya mengangkat tangan), dan “kaliuk ami atu tanis hodi tutur liman, ami mos hatene, ami atu hamara ami kan lun du’uk” (Jika suatu waktu kami terpaksa menangis sambil menjunjung tangan di kepala, kami pun tahu bahwa kami akan mengeringkan air mata kami sendiri).* Ini nadar yang telah kami patri di putih tulang-tulang kami dari nenek moyang mungkin sampai anak-cucu.
*Kata-kata adat Belu, disadur dari Cerpen Gerhana Cinta di Besak Manis karya Rosindus Tae dalam Mendaur Badai Menepis Resah. Yogyakarta: Pustaka Nusatama. 2006. hal. 60.
Komunitas Sastra St. Mikhael Penfui –Kupang
(Unit Gloria)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar