Rabu, 02 Februari 2011

CERPEN SURAT BUAT NOVARUM…



...By. Ishak Sonlay

Dear novarum,
Kenapa suratmu yang terakhir sepertinya begitu memojokkan kemanusiaan? Tanpa bermaksud menempatkanmu di kursi pesakitan, aku hanya ingin agar kau mengenali pikiran dan idealismemu sendiri. Bahwa, rasionalisasi tanpa dasar bak ayam betina yang hendak berlomba terbang bersama elang. Kenalilah egoismemu dan basuhlah gersang tanah bebatuanmu itu. Kuingin suatu hari nanti jika aku kembali ke rumah, kudapati tanah kita tidak semerana yang dahulu, ketika debu- debu kering beterbangan menghantarku pergi darimu.
Apakah kamu masih sibuk dengan perbandingan- perbandinganmu mengenai mawar atau pohon beringin, dan atau tiang listrik? Baiklah. Sekarang aku menyerah. Aku ini tiang listrik. Tetapi kamu juga harus solider. Jangan pernah mengatakan bahwa kamu adalah mawar, serentak menyingkirkan begitu saja elemen pohon beringin dari triangle perbandinganmu.
Kamu boleh menyebut dirimu bunga mawar, dan memangkas begitu saja hadiah replika pohon beringin yang kuberikan saat ulang tahunmu yang lalu.Tetapi nov,..belum pernah kutemukan mawar yang tulus. Memang kuntumnya selalu sumrigah secerah fajar. Tetapi mawar itu banyak duri. Itu cuman buat kaum elite yang tak mau kantongnya dibuka- buka. Mawar itu seperti Kantong Semar yang membuka diri mengundang banyak serangga datang hinggap. Dan setelah mereka terbuai oleh aromanya, baru sekalian kantong itu tertutup. Dan tamatlah riwayat serangga- serangga naas itu. Nov, mawar itu seperti Jan pieterzon coen, seperti Daendels, mungkin juga seorang pembantai seperti Westerling. Mawar bukan vegetarian. Dia herbivora. Pemakan daging. Karena durinya selalu merindukan darah- darah segar. Kalau vegetarian, tentu kita tidak akan terluka menyentuh durinya.hhmmmm…seperti  Raja salomon yah..hidup penuh kemewahan. Terserah Nova, boleh- boleh saja jadi mawar. Kata Salomo..itu Tuhan yang beri. Anugerah. Tetapi saya akan protes pada Tuhan seandainya para penguasa yang serakah itu dilindungi oleh Tuhan. Dan saya akan terus berdoa, semoga pada Reinkarnasi berikut, semua mawar yang haus darah tidak ada di bumi ini lagi. Damai rasanya, kalau air bah datang lagi dan mengangkut semua yang suka memangsa darah. Dasar Drakula. Mawar. Vampire..
Novarum…, saya tidak akan marah kalau kamu memanggil saya tiang listrik. Paling tidak selama masa liburan, selama sakit, selama saya berbobot 30 kilogram pada umur 22 tahun, saat itu saya turut merasakan bagaimana penderitaan para kaum yahudi yang lapar di kamp- kamp konsentrasi waktu  Nazi berkuasa di jerman. Saat itu saya merasa seolah saya juga merupakan bagian dari mereka yang kelaparan di pinggiran Etiopia, di Nairobi dan banyak belahan kerontang lain yang tentunya berharap bisa kejatuhan bintang di siang bolong.
Nov, tiang listrik itu bahan non hitungan. Katakan saja, kalau Menteri Energi dan Sumber Daya berkunjung untuk melihat pembangkit listrik tenaga uap di Matalaoko. Percaya saja, perhatian Bapak Menteri tak akan sedikit pun tercurah tentang berapa jumlah tiang listrik yang dibutuhkan. Bapak Menteri tidak tau itu. Kalau besok- besok kamu  jadi peneliti dan  pingin tau berapa jumlah tiang listrik di seluruh Mataloko, jangan tanya sama Bapak Menteri  ya?  Tetapi tanyakan sama para pekerja, tukang , dan buruh kasar yang dikontrak secara masal oleh kontraktor. Merekalah  yang tau berapa jumlahnya. Orang- orang itu bisanya dikontrak secara masal, katakan saja ada 25 orang yang bekerja, namun upah yang diterima itu sekian rupiah. Berebutlah mereka atas berapa rupiah tadi. Sudah capai kerja, capai lagi buat berebut upah. Malang. Sudah jatuh, tertimpa tangga.
Novarum…, saya tidak pernah marah disebut tiang listrik. Malah saya menikmatinya sebagai sebuah penjelajahan amal. Karena setiap kali menyebut tiang listrik, saya teringat akan 2 orang kakak beradik yang membagi sebongkah roti dibawah jembatan untuk makan malam mereka. Saya juga tidak tau, dari mana roti itu berasal. Roti sekarang sudah pada mahal. Ada yang harganya menembus jutaan rupiah. Jadi, untuk membeli, saya pikir mereka tidak mampu.Hanya ada dua kemungkinan lain : mencuri di pasar, atau…memungut potongan- potongan yang terbuang di tong sampah. Mudah- mudahan tong ampahnya masih bersih dan steril seperti di restoran- restoran megah, biar kualitas roti santapan mereka tetap bersih dan menambah umur panjang.
Novarum…, seandainya kamu pernah merasakan betapa pilu seseorang  bila penyakit yang dideritanya kian menggerogoti. Tak akan ada hal lain yang ditakuti selain Tuhan. Ketika berat badan terus berkurang sepersekian Kg tiap hari, tak ada yang lebih Mulia selain  Allah Elohim. Saya turut merasakan bagaimana rasanya sakit dalam sum- sum tulang. Masam. Saya bersukur, pernah mengalami getirnya hidup. Saya bersukur pernah merintih seperti pada penderita kanker, pemderita HIV/ AIDS, mereka yang disingkirkan dari masyarakat karena penyakit dan kutuk. Saya terlebih bersyukur karena saat itu mereka turut mengajari saya bagaimana seharusnya berdoa sebagai penderita. Sekarang saya sudah tau bagaimana mereka berdoa mace. Saya senang sekali turut melafalkan doa- doa mereka dalam setiap getir- getir kemalangan.  Doanya  sederhana, rindukanlah Tuhan Yesus, rasakan bagaiman Bunda Maria memelukmu..dan nyanyikanlah “Ave Maria Siti Bitauni” di tempat tidurmu. Jika mulut tak mampu bergumam lagi..alunkanlah simponi itu dalam relung jiwa..biarkan ia mengalir dalam kemesraan Bersama Tuhan dan Bunda yang tak pernah melepaskanmu sendirian. Dan kosmos begitu tak berarti di hadapannya,  saat itu aku menyesal berulang kali seperti Simone de Beauvior  “…pernah aku menyangkali Dia dalam hidupku..dan kini di tempat tidurku, aku menangis sendirian..”, ..saya menangis tersedu- sedu melafalkan Salam Maria yang tak putus terhalau isak tersendat di rongga dada..sesak sekali..saya menangis sendirian, tetapi Bunda tak pergi meninggalkan saya..Dia memeluk saya lebih erat..
Nov, kenapa kamu harus gerah dipanggil pohon beringin? Apakah beringin terlampau menakutkan? Saya pikir tidak. Beringin itu lambang kemakmuran. Dahulu, ketika  Soeharto tampil sebagai satu- satunya penguasa tunggal, dia bernaung dibawah partai Golkar yang berlambang pohon beringin. Bukan karena Soehartonya otak bercabang, jadi beringinnya juga jelek. Tidak begitu. Kalau ada tikus dalam rumah, cukup tikusnya saja yang di basmi, jangan  rumahnya dibakar sekalian.Nov, beringin itu meneduhkan. Tiada sesuatu yang lebih benilai saat kita kepanasan di jalan selain mimpi untuk berteduh sejuk dibawah naungan beringin. Beringin itu bulat. Dermawan. Tidak lain dibibir lain di hati. Di tidak mengundang orang berteduh untuk menarik keuntungan. Tidak seperti kantong semar. Beringin itu Tulus dan tanpa pamrih. Tidak mengeluh ketika kita menggundulinya. Sebuah spiritualitas pelayanan yang paling nyata. Beringin itu berpihak pada masyarakat pedalaman. Ketika semua bahan pangan diangkut dari desa menuju kota untuk perdagangan, maka pucuk beringin adalah satu- satunya sayuran yang tertinggal sebagai pilihan..Saya pernah menyantap sayur pucuk beringin dan mamamia…tak kalah dengan sayur hijau lain. 
Nov, seantero dunia mengenali kamu sebagai pribadi yang riang, tenang bagai riak- riak kecil sungai Mahakam yang terpercik sebentar ditabrak sampan nelayan pribumi. Dalam pantulan kasih Allah, seperi sarang madu lebah yang dijaga Tuhan dari hanyut embun pagi. Biar kelak dititetesi hujan, madu yang bergelantungan akan tetap natural, manis, semanis fajar yang ranum di pergelangan hari. Novarum bagi dunia, adalah malaikat yang berjalan tanpa jejak. Seperti putri yang terus berendam dalam besutan Roh Tuhan. Seperti putri Srikandi yang polos tertawa ceplos, karena kupu- kupu surgawi yang didekatinya tak beranjak terbang juga. Memang, kebahagiaan seperti kuku- kupu. Diamlah, maka mereka akan datang menyemarakkan harimu, bahkan ada yang hinggap di ubun- ubun mahkotamu. Dan Novarum sudah tau bagaimana rahasia kebahagiaan. Nov tau bahwa tenang di dalam Tuhan adalah gerbang yerusalem surgawi, tempat diadakan perjamuan bersama Allah.
Terakhir sudah ew..Ini tidak perlu dimuat di Pos Kupang, atau di facebook ew ..hehehe..cukup nov saja yang baca.Kemudian tempelkan pada dinding kamarmu biar orang lain juga membacanya. Kalo memang ada sesuatu yang bisa dipetik, silahkan dipetik, tapi ntar panenanya dibagi- bagi ya. Jangan makan sendiri. Kalo tidak cukup kasi untuk saya yang sudah tanam capai- capai ini, cukup kasi sah buat tetangga- tetangga yang mungkin tidak ada makan siang…
Ow iyah, saya tutup surat ini dengan sebuah kutipan puisi dari St. Yohanes Salib….(maaf, terlalu rohani,hehehehe)…...
”di sana cinta menyakitiku,
dan mengambil hatiku.
Aku mematikan diri demi engkau,
dan bagi engkau aku akan hidup kembali.
Aku melepaskan dan melupakan diriku,
membenamkan wajahku dalam Tuhan kekasihku.
Segalanya terhenti,
aku keluar dari diriku,
meninggalkan segala perhatianku,
dan terlupakan di antara bunga- bunga bakung”..

Salamku,
Rerum


Tidak ada komentar:

Posting Komentar