AMANCHE FRANCK
Kami mempunyai taman. Taman itu di rumah kami. Dan sekuntum mawar telah tumbuh mekar merah merona di taman kami. Mawar itu tidak sulit ditemukan, karena dia tumbuh tepat di tengah jantung taman kami. Setiap hari ketika mentari beranjak, kami selalu menemui mawar kami. Kami sirami mawar itu sambil bertutur tentang perihnya hidup kami. Dan mawar itu akan semakin merah merona ketika tuturan kehidupan kami bertambah pedih dan perih. Mawar kami tidak saja mendengar perih pedih hidup kami. Terkadang kami juga berkisah tentang peristiwa gembira dan mulia yang kami alami dalam hidup kami. Kami pun sering berbagi tentang keajaiban-keajaiban yang menakjubkan dalam hidup ini. Dan terang selalu menaungi kegembiraan, harapan, duka dan kecemasan kami dan mawar kami.
Mawar itu bertambah subur, bukan saja karena kami rajin menyiramnya, lebih dari itu karena mawar kami ini tumbuh tanpa bantuan musim-musim. Ia tumbuh subur di atas cadas taman kami. Akarnya kuat memeluk erat rahim tanah. Dan kuncup kuntumnya selalu menengadah pada siraman sinar matahari. Terkadang kami lalai menyiramnya, ketika kesibukan selalu menjadi penghalang kami untuk datang padanya. Namun herannya, mawar kami tak pernah layu. Bahkan ketika kami datang mengunjunginya, ketika kami penat menjalani karya sepanjang hari, kuntumnya akan mekar menyambut kami. Bagi kami, mawar kami ini adalah sumber kegembiraan dan harapan dalam rumah kami. Kami anak-anak dalam rumah kami suka memperhatikan dengan seksama kuntum mawar kami. Alangkah dahsyatnya ia yang tumbuh di bawah fajar kemerah-merahan.
Mawar itu sebenarnya ditanam oleh Bapa kami. Ibu kamilah yang rajin menyiramnya. Tapi bagi kami, tak penting siapa yang menanam dan siapa yang rajin menyiram. Yang lebih penting adalah DIA yang selalu memberi pertumbuhan pada mawar kami. Kepada Dialah mawar kami berasal. Karena Dialah keindahan yang memancarkan keindahan kuntum pada mawar kami. Kami bahkan tak pernah khawatir, karena ibu kami selalu bilang bahwa bagi kami telah disiapkan belasan pohon mawar yang sarat berkuntum, serta sumber susu dan madu meluap di atas tujuh gunung yang mewah berhiaskan kembang mawar yang mekar merona merah. Ayah kami, seperti ayah-ayah lainnya adalah pekerja keras yang setiap hari berpeluh keringat menghidupi kami. Dan bila penat telah memangsanya di ujung hari, ayah akan duduk dekat mawar kami, dan kami akan duduk menyenandungkan nada kehidupan yang lirih nan dalam. Dari sanalah meluaplimpahlah kesegaran jiwa raga yang bagi kami adalah rezeki setiap hari.
Adik kami yang paling kecil senang sekali menyentuh kuntun mawar itu. Suatu ketika tangannya menyentuh duri mawar itu sebelum tangan yang satu menggapai keindahan kuntum mawar itu. Tangannya berdarah. Merah darahnya semerah merah mawar kami itu. Namun adik kami yang nakal itu tidak menangis. Aku berkata pada adik kami bahwa duri-duri yang melekat pada mawar kami itu adalah bagian tak terpisahkan dari keindahan mawar kami. Justru semakin ia berduri semakin indahlah ia. Duri-duri itu seperti perisai yang menjaga mawar itu, sekaligus menjadi tanda bagi kami bahwa setiap keindahan yang memancar dari kehidupan kami sering dilingkupi duri-duri tajam. Duri mawar kami adalah lambang duka dan kecemasan, serta perihnya hidup. Terkadang bila melihat durinya kami seakan takut akan kejamnya hidup. Kami seakan menyaksikan berlaksa duka yang mengelilingi kami. Bahkan, kami seakan tenggelam dalam merah darah kesengsaraan. Namun ayah dan ibu selalu mengingatkan kami bahwa jangan terus melihat duri itu. Jika kami hanya terpaut pada duri mawar itu, maka kami hanya akan melihat hidup dari sisi derita.
“Lihatlah kuntum yang indah dari mawar itu” begitu kata ayah di suatu senja. Mawar itu berduri, tetapi keindahan kuntumnya akan membuat kami lupa akan duri-durinya yang tajam. Namun ibu kami yang saleh dan bersahaja sering juga mengingatkan kami agar tak boleh terpaku terpana dengan keindahan mawar itu. “Jika kalian hanya melihat keindahan kuntum mawar itu, kalian hanya akan berhenti pada kegembiraan. Kalian lalu lupa akan penderitaan hidup yang perih dan pedih.”
Bagi kami, anak-anak, juga ayah dan ibu kami, mawar itu tetap indah walaupun berduri. Yang terpenting adalah serentak kami tahu dan sadar bahwa ada sisi duri dan keindahan yang melekat pada tubuh mawar kami.
Ibulah yang selalu rajin menyiram mawar itu. Maklumlah kami anak-anak biasanya keluar mengembara mencari makna hidup masing-masing. Saudari kami tak jarang membantu ibu membersihkan taman mawar itu. Biasanya ia menemukan duri-duri mawar itu jatuh. Waktu kami kembali ia akan menunjukkan duri-duri itu. Kami pun bergegas mengamati mawar itu. Yang ada hanya kuntumnya yang tetap mekar merah merona. Kami takjub, mawar kami secara perlahan menanggalkan duri-durinya. Yang tertinggal hanyalah kuntumnya yang telah pecah mekar. Menurut cerita nenek, itu pertanda baik. Mawar itu perlahan mengurangi derita hidup kami. Mungkin karena setiap kali kami duduk bercerita dan mengeluh di sampingnya ia mendengarkan keluhan-keluhan kami, bahkan keluhan-keluhan yang tak terucapkan. Bisa jadi duka dan kecemasan kami disimpan dalam kelopaknya dan kemudian menjelma kuntum mekar bahagia.
Aku masih ingat ketika kami seperti mendaras mohon agar keindahannya menjelma damai dalam hidup kami. Sering pula keluhan kami panjang bagai litani yang bersahut-sahutan diiringi nyanyian sendu pelipur lara. Mawar kami pun menanggalkan duri-duri itu dan yang tertinggal hanyalah kuntum yang indah. Alangkah dahsyatnya mawar kami. Kami pun semakin rajin ke taman kami mengunjungi mawar yang gaib itu. Kadang hanya untuk duduk diam membisu sambil menatap pancaran keindahan dari kuntumnya. Ibu biasanya datang bersarung tenunan terbaik lalu duduk di samping ayah. Adik kami yang nakal biasanya datang terlambat dengan wajah lesu setelah bermain sepuasnya dengan teman-teman bocahnya. Saudari kami yang cantik akan duduk terpekur sambil terus menatap kuntum mawar itu. Dan aku biasanya hanya diam sambil sesekali menatap ayah, ibu, saudari dan adikku. Aku ingat. Kami selalu terhibur karena mawar itu. Dan senja itu ketika tuturan kehidupan ini aku bagikan kepada kalian semua, aku melihat mawar kami tersenyum bahagia. Ku lihat ayah tersenyum. Ibu pun tersenyum. Saudari dan adikku terlihat berseri. Mawar kami pun terus mekar berseri pada kami. Kami bahagia, sekuntum mawar telah tumbuh di taman kami. Dan kuntumnya telah tumbuh mekar merona di taman kami.
Medio Mei, ketika Mawar kami telah menguntum di taman Rumah kami.
KOMUNITAS SASTRA SEMINARI TINGGI SINT MIKHAEL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar