Minggu, 06 Februari 2011

Cerek

AKU TAK IKUT MENANGIS
.....Steven amuntoda.......

Tawa dan tangis sudahku lewati dalam ruang sunyi ini. Aku sendiri menatap sang mentari lewat jendela kaca rumahku. Hari-hari yang dulu berawal dengan canda dan tawa, kemeriahan, pesta pora dan kekaguman semua orang akan kesuksesanku merupakan awal kesombongan. Kata-kata ini adalah sebaris kalimat di dalam buku harianku, tepat pada halaman yang ke tiga puluh dua. Buku ini adalah buku harianku yang baru, dibelikan oleh Lia salah seorang sahabat perempuanku. Liaadalah seorang perempuan yang baik dan ramah tetapi yang paling berkesan untukku yaitu perhatiannya kepada kehidupanku. Perasaanku terhadap Lia merupakan perasaan cinta dan tentunya bukan cinta biasa. Nama lia selalu hadir dalam buku harianku. Aku tidak tahu apakah ia mengetahui perasaanku atau tidak dan bagaimana perasaannya? Apakah sama? Aku bingung dan merasa tidak perlu untuk mengungkapkan itu semua, biarlah semua berjalan seperti air yang mengalir dan selalu ada harapan yang baru.
Hari-hariku sangat singkat dilewati dan berakhir juga pada tempat yang sama yaitu pada sebuah kamar kecil, di rumah Ayahku. Aku tidak tinggal di rumah mewah sendirian sepeerti dulu, kini hidupku di tangan orang lain. Aku hanya berbaring di tempat tidur dan tidak dapat berbuat apa-apa selain menulis. Ternyata temanku haanya dua yaitu buku harian dan Lia yang sering datang untuk melihat keadaanku. Ha...ha....ha....tawaku untuk mengusai pikiran. Ya pikiran akan kapan datangnya kematian.
Dalam kamar ini memori ingatan tentang teman dan semua kesusksesanku kembali terulang, sebelum divonis Dokter bahwa aku mengidap kangker dan hidupku tidak lama lagi. Terkadang aku tertawa dan menangis sendiri. Kedua orang tuaku sudah pasrah dan menyerahkan semuanya ketangan dokter. Aku akhirnya dapat dirawat di rumah saja. Hari-hariku terus barjalan dan ada banyak kisah yang tertulis rapi dalam buku harian, tentang perasaan cemas, gelisah, kagum dan harapan. Entah masih ada harapan atau tidak sudah tidak penting lagi. Sembuh bukanlah harapan tetapi kematian adalah jalan akhir dan kapan? Itulah harapanku.
Halaman buku harianku hampir habis tertulis, Cuma sisa dua lembar saja. Maka kutulis dengan rapi apa yang kurasakan sekarang ini.
untuk orang yang aku kasihi:
bapa, mama dan lia sahabatku.
Mungkin aku terlampau sombong untuk mengatakan terimah kasih, aku salah dan terlambat, aku orang yang bodoh dan tidak tahu arti dan makna terimah kasih, tetapi ada satu hal yang kini kutahu dan kusadari bahwa kamu semua adalah orang terbaik yang pernah aku miliki.
Aku ingat jelas ketiika aku tertidur, lilin di depan patung bunda maria selalu bernyala. Aku tahu bapa dan mama berdoa untukku, Aku tahu ketika selimut yang kugunakan terjatuh di lantai dipakaikan kembali oleh mama, aku tahu ibu menangis saat aku tertidur, aku tahu kalian ingin aku kuat menghadapi semua ini, untuk itu air muka kalian seakan berseri supaya aku tidak bersedih. Aku minta maaf dan berterima kasih.
Jujur hidupku hancur saat dokter memvonisku: Tomy Rianto ,,,anda mengidap kanker dan hidupmu tidak lama lagi. Mungkin kata-kata indah untuk semua kesuksesanku telah musnah dan berakhir. Aku yang hebat dan kuat sudah lenyap sama sekali ketika saat mendengar vonis dari dokter. Hidupku sudah berubah, rasanya terlambat untuk marah dan mau mengubah semua inni. Aku hanya terdiam membisu setelah mengetahui bahwa hidupku tidak lama lagi. Ingatanku kembali akan segala kekuasaan dan kesombongan yang kuperbuat ternyata akan segera berakhir. Aku sudah tidak sekuat dulu, aku kini rapuh dan tidak berguna lagi. Buang saja aku karena malu dan itu adalah keinginanku. Tetapi kamu semua membuatku untuk mengatakan bahwa hidup adalah anugerah terindah untuk sesama. Bapa dan mama selalu menemani walau aku tidak suka, egois yang tinggi selalu aku tapakkan di depan wajah kalian tetapi kalian selalu saja mendekat. Aku ucapkan maaf dan terima kasih.
Aku selalu ingat dan terjaga saat ibu memperbaiki bantal kepalaku, mengelus rambutku sambil menangis. Maaf aku tak ikut menangis, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Harus kuat atau pasrah? Aku bingung!!! Ingin menguatkan kalian akan kematianku atau aku harus menasehati diriku sendiri tentang kematian?... Aku mau mengatakan maaf dan terimah kasih sebelumnya tapi rasanya aku belum mati, aku belum ingin mati, aku ingin berlari dan minta untuk dilahirkan kembali.. Ya sudah terlambat,,,ah.ah.ah.ah.ah. aku terkadang meneriaki diriku sendiri untuk menentang hidup. Apakah aku kuat atau nasib yang kuat? Sering kuadakan pertandingan antara hidup atau mati? Aku yang menang atau kematian? Aku sulit percaya ini karya siapa? Tuhan? Hmhm... kalau memang aku kalah berarti aku dan Tuhan seri satu sama. Memang aku kalah dan mati tetapi aku tahu Tuhan kehilangan seorang manusia sepertiku. Aku yakin Tuhan adalah Tuhan akan orang yang hidup.
Bicara tentang Tuhan sulit untuk aku percaya namun sahabatku Lia sudah menyadarkan aku, ketika aku tidak percaya akan adanya Tuhan dan marah pada Tuhan, ketika aku tidak ingin menyebut nama itu lagi. Lia selalu mengatakan kepadaku bahwa di dalam penderitaanku, Tuhan selalu berada di sampingku. Tuhan selalu mengatakan masih ada kesempatan. Ya.. Tuhan masih memberiku sebuah kesempatan untuk mengatakan bahwa Tuhan ada dalam setiap harianku. Dan kamu semua adalah adalah bagian dari Tuhan untuk selalu ada dalam setiap tatapan mataku. Kalian adalah yang terbaik. Ternyata ada yang berubah dalam penderitaanku, sikap sombong main kuasa sudah hilang. Ada sesuatu yang mengubah sesuatu.
Mungkin detik kematianku akan di mulai. Lia selamat menikah hari ini. Maaf aku tidak hadir. Doaku semoga rumah tanggamu selalu sukses. Pasti kau sedang berpesta dan bersenang-senang. Sekarang juga aku sedang berhadapan dengan dewa kematian, Selamat datang kematian. Halaman buku harianku sudah yang terakhir, ternyata aku kalah dengan buku harianku. Aku pikir dapat menyelesaikan buku harianan ini dan dapat membeli yang baru tetapi sayang aku tidak kuat, buku harianku menang.
Semoga buku ini dibaca. Maafkanlah aku. Salam hangat untukmu semua, ucapan maaf dan terima kasihku terus bergema. Aku selau berdoa untuk kalian karena Tuhan memberikan orang-orang terbaik kepadaku.
Tomy Rianto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar