Rabu, 02 Februari 2011

Senja Di Makam


Cerpen Deodatus D. Parera

            Tapakku terhenti. Di sini. Untuk kali ini. Aku tahu kapan terakhir aku di sini. Kali yang lain  waktu yang sama. Bagaimanapun aku harus kembali. Untuk kali ini aku baru menyadari bahwa kepergiannya telah membuatku berharap hanya pada diri yang lain.
            Dia seorang yang berguna bagiku. Ya, sangat. Aku tahu banyak hal. Yang memang tak mungkin aku lupakan begitu saja tanpa alasan. Apa pun  itu. Kembali aku ingin mengupas apa yang telah tersulam. Yang aku inginkan demikian. Walau separuhnya. Tak apalah. Sudah biasa.
            Ayahku. Ayah yang mencintaiku. Cintanya tiada banding dengan lainnya. Biar cintaku terukur semuanya tapi tak ada bandingan ketimbang dia padaku. Juga bagi yang lainnya. Aku menyadari kehilangan nampak dalam keseharianku kini. Apalah begitu. Sepertinya aku tak mau menerima kepergiannya. Semuanya itu nampak dalam kesendirianku. Aku tak mau berbohong jelas bahwa aku merindukannya.
            Langit di sana agaknya jingga. Cakrawala nampak semakin murung. Rerintik menambah derunya. Barusan hujan mengairi bumi. Tetesnya menyegarkan tadi. Aku sendiri yang telah dari tadinya di sini masih terbuai akan tangisan rerintiknya. Aku tak mau pergi. Bukankah sementara ini hujan. Pikirku singkat. Ketika suhu tubuh tak terlalu memungkinkan, air hujan yang kuterima akan membuatku ngilu sakitlah sudah aku. Masuk akal. Pikirku seperti menjelaskan sebuah temuan.
            Rerintik semakin keras. Akankah hujan lagi. Yuk, cepat. Aku berlari sempoyongan. Terbirit-birit. Aku takut sakit karena tetesnya. Suhu tubuhku tak terlalu memungkinkan. Kalau mengenaiku berarti sakitlah sudah. Aku takut sakit. Aku tak biasa sakit saat hujan begini. Sejak masa di mana masih ada ayahku.
`           Hujan kali ini bagiku ceritanya agak lain. Aku ketinggalan satu langkah bagi perjalanan selanjutnya. Perjalanan kali ini tanpa seorang teman. Teman yang menemani separuh perjalananku. Ziarahku belum usai. Tapi waktu telah lebih dahulu mengakhiri tapak ini. Aku tak tahu kenapa mesti begini. Apa lagi terhadap orang yang memang sangat aku butuhkan. Ziarahnya usai lebih dahulu. Seolah dedaunan kering yang gugur tanpa banyak alasan. Gugur, ya gugur. Begitulah adanya, seharusnya. Semestinya.
            Hari semakin menepi. Bulan pun sama. Tahun akan berakhir. Namun, langkahku tak akan berlanjut. Akhirkah ini. Aku boleh bertanya sendirian tanpa sebuah jawaban pasti. Siapa lagi yang akan membantuku untuk menjawabnya. Siapakah dia selain seorang yang telah pergi itu. Bukannya aku tak mampu tapi aku belum bisa. Bisa karena sebuah kekuatan, harapan dan cinta, juga karena kelemahan. Atau yang  biasa, sederhana. Dia sangat sederhana bagiku. Aku tak mau mengukur kekuatan yang ia miliki. Boleh juga tapi kan hal yang persis aku tak bisa mengubahnya, ia mencintaiku. Sangat.
            “Bu, ayah mau kemana? ”
            “Urusan kantoran. Begitu Ayah bilang”
            “Masa’, Bu tak tahu pasti?”
“Ayah cuma bilang begitu, Vian”
Ibu tak tahu pasti kepergian ayah. Mungkin karena urusan masing-masing membuat mereka berdua kurang berkomunikasi. Bertemu di rumah cuma satu dua jam. Bicara cuma dua kata. Berpapasan cuma dari satu lorong kamar ke lainnya. Senyum seadanya lalu berlalu. Ketika pergi, tanpa alasan yang begitu masing-masing tahu jelas. Ya, sudahlah yang penting kami bahagia.  
Ayah semangat hari ini. Ia telah bersiap. Berpakaian rapi. Selalu. Ketika ia mau keluar atau mau kemana saja ia selalu berpenampilan rapi. Apa yang perlu telah ia siapkan lebih dahulu tanpa dikontrol ibu. Aku hanya melihatnya dari jauh. Takut kalau-kalau kesibukannya diganggu tak bisa menemukan jalan keluar yang bagus. Nantinya aku salah.
Ketika ia berlalu dari hadapanku bunda mengajakku untuk jaga rumah. Sendirian. Bunda juga ingin pergi. Ada keperluan keluarga. Aku sendiri yang di rumah. Malam pun tiba. Ada sesuatu yang tidak baik malam ini, gumanku. Apa pun aku yakin kedua orangtuaku akan kembali dengan selamat.
Beberapa saat kemudian aku mendapat kabar buruk. Ayah, ayahku kecelakaan. Aku menangis sesunggukan. Bagaimana mungkin. Tidak. Tidak mungkin. Ayah…. Aku masih ingin ayah tiba kembali dengan selamat. Di sini. Ibu… Malamku kini meredam panjang. Aku merasa tiba di tepi waktu yang hendak memaksaku untuk menerima kenyataan. Bagaimana pun juga. Tidak…
Aku di sini untuk sebuah jawaban. Menulis cerita dimana akhirnya ia adalah inspirasiku. Dan ketika aku ingin memulainya, aku kalut. Diam untuk sesaat lamanya. Ternyata cerita yang kutulis ini tak mungkin aku akhiri. Aku tak lagi ingin memulainya. Hingga kini. Sampai aku sendiri memulai sesuatu yang baru, yang lain.
Kepergian ayah menaruh ajang sepakan panjang. Dengan lilin di tangan sembari ucapkan doa, kutitipkan perjalanan kami di sisi ayah. Mudah-mudahan ia menjadikan kepada kami malaikat dalam jejak kami selanjutnya. Senja menenamiku ketika berpaling sembari ucap “Selamat ayah. Kau pemenang. Aku dan bunda masih ingin berlangkah lagi. Yang panjang. Temani kami. Baik cerita, baik tawa, ayah ada dan menghibur. Ibu tadi bilang ia menyayangi ayah. Natal tahun lalu kita bersama di rumah. Tapi kali ini kami harus ke sini. Kita tetap bersama. Ayah…”. Gumanku mencoba mengalih ragaku. Aku ingin menangis. Tapi aku berhasil.
Aku kagum pada ayah. Ia yang terbaik bagi kami, bunda dan aku. Ketika itu, aku pamit dan pergi tapi hujan kali ini diam-diam tak bersuara. Di sisi makamnya. Aku mengangkat muka, kudapati bintang di cakrawala.



Bagi sahabat yang melewatinya
Penfui, Desember 2010
Anggota Komunitas sastra Sint. Mikhael




Tidak ada komentar:

Posting Komentar