Rabu, 02 Februari 2011

“JANGAN TAKUT, TUHAN BERSAMAMU” KISAH PERAYAAN TAHBISAN DIAKON DI SEMINARI TINGGI SANTO MIKHAEL PENFUI KUPANG

Oleh:
AMANCHE FRANCK OE NINU & JANUARIO GONZAGA*

31 Mei 2010, ketika Umat Katolik merayakan pesta iman Bunda Maria mengunjungi Elisabeth saudaranya, sebuah perayaan agung terselenggara meriah di Kapela Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang. Perayaan tahbisan Diakon. 19 Frater dari tiga keuskupan berlangkah pasti menuju altar Tuhan untuk menjawab YA pada tugas pelayanan diakonat.
Perayaan tahbisan Senin 31 Mei 2010 ini dimulai sejak pukul 09.00. Perayaan tahunan ini memang telah disiapkan jauh-jauh hari oleh seluruh anggota Komunitas Seminari Tinggi St. Mikhael. Maka tak mengherankan ketika ratusan  umat hadir dengan kekaguman yang tak terbahasakan. Detik-detik tahbisan mulai dekat, ketika para imam konselebran mulai mengenakan kasula dan stola. Sedangkan Uskup pentahbis dengan pakaian kebesaran, mitra dan tongkat.
Sambutan tarian Woleka dari Sumba langsung membuka perarakan panjang para ajuda, Imam, calon Diakon dan Uskup pentahbis. Bunyi gong, dan teriakan penari menghentak langkah. Semua umat berpaling melihat tarian khas daerah Sumba ini. Tarian dengan sorakkan-sorakkan khas ini serasa ikut menguatkan langkah ke-19 Frater yang akan ditahbiskan menjadi Diakon.
Perarakan panjang itu berjalan sekitar dua puluh menit sebelum tiba di pintu masuk Kapela Seminari Mikhael. Di sana, para penari cilik yang diringi oleh nyanyian koor Frater Seminari Mikhael langsung menyambut dengan mulianya. Lagu ‘Alangkah Agung’ menghantar langkah pasti para calon Diakon menuju depan altar.
Upacara tahbisan dimulai saat Imam pendamping memanggil nama para calon diakon. Dengan tegar para calon diakon berdiri dari bangku dan langsung menjawab “Saya hadir”. Dengan jawaban ini para calon Diakon telah menandaskan tanda kesetujuan total atas panggilan Allah. Panggilan yang telah diperjuangkan selama kurang lebih 13 tahun ini, dan hari ini harus disanggupi.
Setelah para calon menyatakan persetujuannya tibalah saat uskup pentahbis menanyakan kelayakan para calon Diakon kepada imam pembantu. “Apakah mereka ini layak untuk ditahbiskan menjadi Diakon?” Imam pendamping menjawab dengan memberikan kepastian bahwa saudara-saudara ini layak.
Dalam homilinya Uskup Pentahbis menekankan perlunya Maria sebagai figur keteladanan. Maria adalah Ratu para Imam. Kunjungannya kepada Elisabeth merupakan sebuah kunjungan kegembiraan. Dan seyogyanya para diakon juga kelak dalam pelayanannya perlu menampakkan kegembiraan di tengah dunia. Pelayanan ini merupakan sebuah amanat suci yang sudah sejak zaman para rasul dipercayakan kepada mereka. Dan para diakon, sebagaimana juga para rasul yang dipilih untuk tugas khusus ini selalu mendapat penyertaan Allah. Maka tepat bila dikatakan bahwa tugas yang mulia ini mau memberikan juga jaminan bahwa para Diakon ”Jangan Takut, sebab Tuhan Bersama mereka”
Sesudah homili, perayaan dilanjutkan dengan upacara pentahbisan.  Para calon Diakon diambil janji ketaatannya untuk setia pada hidup selibat, pada tugas diakonat, dan taat pada uskupnya. Salah satu pertanyaan uskup adalah “Maukah saudara-saudara tetap hidup selibat untuk selamanya demi Kerajaan Allah?” dan para  calon Diakon akan menjawab “Dengan bantuan Allah, Saya mau”. Setelah berjanji setia dan taat untuk mengemban tugas diakonat para calon Diakon berbaring tiarap tanda ketidakberdayaan di hadapan Allah. Umat menyanyikan litani para kudus mohon doa para orang kudus untuk para calon Diakon. Sebagai manusia lemah mereka membutuhkan kekuatan Allah, doa para kudus dan umat sekalian.
 Saat yang paling penting dan menentukan terjadi saat setiap calon diakon maju menghadap uskup. Mereka berlutut di hadapan uskup untuk menerima tumpangan tangan. Uskup pentahbis menumpangkan tangan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Inilah saat pencurahan Roh Kudus. Keheningan dan kekhusyukan mengiringi saat-saat berahmat ini. Setelah itu para  calon Diakon mengambil sikap tidur meniarap sebagai tanda ketidakberdayaan di hadapan Allah.
Doa tahbisan yang luar biasa diucapkan oleh Uskup bagi setiap diakon setelah mereka mengenakan Stola dan Dalmatik. Kedua pakaian ini merupakan lambang pelayanan  para diakon dalam karya mereka. Selanjutnya uskup memberikan Injil sembari berujar  “Kini saudara telah menjadi Diakon. Terimalah injil Yesus Kristus ini. Dan berusahalah supaya apa yang anda bacakan, anda percaya, yang anda percaya, anda ajarkan, dan yang anda ajarkan, anda laksanakan”.
Spontan ke-19 pria yang tadinya masih frater disambut tepuk tangan meriah dari umat. Uskup dengan resmi mengumumkan ke- 19 Diakon untuk tiga keuskupan, yakni, Keuskupan Agung Kupang: Diakon  Fransiskus Kopong Mamu, Diakon Januarius Leba Kado, Diakon Philipus Philip, Diakon Frederikus Tamelab dan Diakon Julius Bonlay. Untuk Keuskupan Atambua: Diakon Agus Seran Berek, Diakon Emanuel Nautu, Diakon Yohanes Meak, Diakon Marianus Halek, Diakon Ignasius Kabosu, Diakon Kornelis Bau Subani, Diakon Flavianus Kuftalan, Diakon Yasintus Nesi dan Diakon Inosensius Nahak Berek. Untuk Keuskupan Weetebula: Diakon Primus Raban, Diakon Benyamin Leti Gali, Diakon Yohanes Lezo, Diakon Eduardus Sabatudung dan Diakon Mikhael No Nage.  
Perayaan meriah ini meninggalkan kesan yang mendalam. Dalam kata sambutan wakil diakon, Diakon Inosensius Nahak Berek, mengungkapkan bahwa pengalaman ini sungguh luar biasa. Mereka telah menjalani masa pendidikan yang begitu lama. Dan detik ini mereka telah mendapat predikat Diakon. Namun menurutnya, predikat ini masih harus dibuktikan dalam pelayanan kemudian. Mereka mengucapkan banyak terima kasih kepada para Uskup, para Pendidik, dan Pembina, orang tua, lembaga pendidikan calon Imam, para suster, karyawan-karyawati, dan umat sekalian.
Praeses Seminari Tinggi Santo Mikhael, Rm Ande Duli Kabelen Pr mengingatkan para Diakon untuk tetap setia pada pelayanannya. Dengan penuh keharuan beliau mengucapkan terima kasih atas niat baik para diakon untuk menjalani hidup sebagai kaum tertahbis. Kepala Rumah Seminari Tinggi St. Mikhael ini juga berpesan agar para diakon tetap mengenang almamater tercinta. “Kalau ada waktu bolehlah singgah. Kami selalu menanti cerita-ceritamu dari medan pastoral” begitu kata beliau.
Uskup pentahbis, Mgr. Dominikus Saku, Pr dalam sambutannya menandaskan bahwa pendidikan formal dalam tangga imamat memang telah berakhir. Namun, pendidikan hidup harus tetap berlangsung sampai selama-lamanya. Beliau menambahkan bagaimana seharusnya para kaum tertahbis menjalankan kehidupan nyata di tempat pastoral. Di sana para gembala umat dan umatnya harus bekerja sama. Kerja sama itu dimulai dari lingkungan pastoran. Para diakon dan imam sebagai rekan sekerja harus bahu-membahu dalam memberdayakan umat. “Belajarlah seni hidup bersama sebagai kaum tertahbis” demikian tandas Uskup Dominikus
Perayaan agung yang berlangsung selama tiga jam ini ditutup dengan berkat meriah dari tangan uskup pentahbis. Hentakan kaki para penari cilik dengan iringan koor yang dipimpin Fr. Yunus Bouk menutup dengan indah perayaan rahmat ini.
Di pintu kapela, keenam putri dan kedua putera penari Woleka telah menunggu dengan tarian khas bumi pasola. Perayaan agung dan meriah ini telah menghantar ke-19  Putra Gereja ini ke dalam pelayanan Diakonat. Proficiat untuk para Diakon. Kami menanti berita tahbisan Imamatmu nanti. 

                       

* Kedua penulis adalah Ketua dan Wakil ketua Kelompok Menulis di Koran, Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar