Minggu, 06 Februari 2011

PRIBUMI


cerpen christo ngasi
Diam!!!  Jangan bersuara, itu tidaklah penting bagiku. Kamu harus sadar bahwa setiap ucapan dan kata-katamu syarat dengan kemunafikan dan keuntungan. Maklum kamu seorang pebisnis yang dapat membuat sejarah keturunanku terpecah dengan alasan pembangunan metropolis. Banyak yang bekerja dengan ego pribadi tanpa memikirkan orang lain dan ini adalah gambaran dirimu yang terkadang penuh dengan keserakahan. Aku tahu kamu orang pribumi bergaya dasi dengan penawaran untuk  mata-mata sipit. Mereka sebenarnya tidak sepertimu. Inilah pertama kali ungkapanku keluar dengan begitu keras dan akibatnya PHK yang kuterima. Alur waktu bisa mengubah segalanya jika punya kemauan yang kokoh seperti bakau yang mampu menghalang terjangan ombak pesisir.
            “ Aduh…!!! Sudah aku katakana jangan lagi berbicara. Tidak puaskah kamu melihat tangisan anak-anak mereka yang sudah kamu tipu dengan ratusan juta rupiah”
“ Maaf…, kalau kata-kataku menyinggung kamu saudara. Kita bisa duduk bersama untuk membicarakan namun keadaan belum baik karena kamu masih emosional. Jika butuh aku, ini kartunama dan nomor handphoneku”. Carly berlalu dengan kijang inova miliknya
            “ Untuk apa menyimpan kartu nama ini hanya membuat harapan dan ketergantungan. Sretttttt…… seketika kartu nama itu kurobek.” aku mengambil pacul dan lansung menuju areal persawahan yang berada tidak jauh dari belakang rumah.
            Cuaca tahun ini tidaklah begitu mendukung kehidupan kami sebagai kaum petani. Mengharapkan air dari bendungan namun sayang, dana ratusan juta untuk pembangunan bendungan toh setelah lewat masa uji coba jebol di terjang banjir. Mungkin konstruksinya asal bangun jadinya rakyat korbannya. Bukan saja kami yang mengalami. Umar  temanku yang hidup sebagai nelayan juga merasakan cuaca yang buruk sehingga ikan yang didapat hanya cukup untuk makan keluarga. Ditambah lagi kapal nelayan bantuan Pemda tersangkut kasus korupsi. Sudah dua minggu aku tidak melihat Umar lewat dengan sepedanya menjaual ikan. Biasanya pagi-pagi ketika pegawai pergi bekerja di kantor ia sudah menjual ikan. Jika sampai dirumahku selalu terjadi barter. Aku biasa memberinya padi dan Umar memberikan ikan. Barter membuat aku dan Umar menjadi seperti saudara.
            Lagi-lagi ketika ayam pejantan bersuara dan betina mencari sarang untuk bertelur, kijang inova sudah berada di depan rumahku. Ayahku selalu saja mempersilahkan mereka masuk. Bagi ayah filosofi hidupnya selalu dengan ungkapan “tamu adalah berkat, layanilah sebagai raja”. Itu pembelaan diri ayah yang selalu tunduk pada konglomerat berdasi. Aku selalu tidak sependapat untuk hal ini. Ibuku juga selalu terbawa perasaan ibah atas sujud sang Yudas Yudas berdasi, mungkin karena perempuan selalu lemah lembut. Aku  memasang telingahku dari kisi-kisi gedek rumah. Pembicaraan hanya seputar tanah dan harga kalaupun ada pembicaraan lain hanyalah mengelabui. Intinya kembali pada penawaran tanah. Tak sabar aku mendengar ketika yang berbicara banyak justeru pribumi yang mencari keuntungan dari penawarannya.
            “ Hai Yudas!!! Teriakku mengarah kepadanya.
“ namaku bukan Yudas sambungnya dengan percaya diri sambil menyodorkan tangan, perkenalkan namaku Jack. Seketika tangan serta raut wajahnya turun ketika mataku masih memandangnya dengan tajam.”
            “ Tino coba sapalah tamu dengan baik. Ayahku menyambung dengan kewibawaannya di depan tamu.”
“ Maaf Ayah untuk tamu seperti mereka ini cukup sekali dihargai. Jangan terlalu memberi hati kepada mereka. Maaf kalau aku kasar!!! Ingat kalian pernah memberikan kartu nama dengan maksud jika aku butuhkan dapat menghubungi kalian namun aku sama sekali tidak membutuhkan jadi untuk apa kalian datang kemari???” tanyaku dengan tetap berdiri.
            “ Begini adik…Jack seketika menjelaskan. Aku tidak ingin kamu bicara karena bagiku sudah tidak ada lagi kepercayaan untukmu.” Aku memotong pembicaraan Jack. Ayah… masih ingat ketika terjadi kasus pembunuhan antara kakak dan adik di kampung sebelah karena masalah tanah??? Itu semua ulah dari dia!!! Tanganku menunjuk Jack. Dialah yang melakukan bujuk rayu dan penawaran kepada keluarga pak Willy bersama pengusaha Surabaya. Coba Ayah lihat kehidupan pak Willy hidup sudah sangat susah padahal tanahnya dijual dengan harga ratusan juta. Di mana uangnya, kalau mau dibilang  untuk biaya sekolahkan anak kayaknya tidaklah mungkin karena hanya Marni yang serjana S1 kebidanan sedangkan yang tiga putranya tidak tamat SMA. Jadinya baku bunuh masalah tanah. Bukan itu saja Ayah. Lihat saja  Ayu anak perempuan dari Mas Joko yang ditinggalkan suaminya dengan anak semata wayang. Ayah tahu!!! Jack inilah yang membujuk mas Joko supaya dia dijadikan juru bicara dalam tikar adat. Ia mematok harga belis yang tinggi bekerja sama dengan Pak Tono yang juga juru bicara pihak laki-laki. Akhirnya kedunya sepakat namun pihak laki-laki tidak menyetujui dan lari meninggalkan Ayu.” Aku menjelaskan ke Ayah. Seketika Carly pengusaha kaya raya itu beranjak dari kursinya dan tanpa satu kata pergi menuju mobilnya dan berlalu. Sementara Jack masih duduk dan menikmati kopi buatan Ibu. Tak lama berselang iapun bangkit dan berjalan.
            Bagiku tanah adalah segalanya. Jangan mengaburkan sejarah dengan menjual tanah pemberian pendahulu. Anti pribumi yang menjual sesama itulah pandanganku. Apalagi ketika melihat para TKI yang karena ulah pribumi menelantarkan mereka. Ada benarnya kata guruku hanya tiga persoalan terbesar di NTT sampai terjadi perkelahian bahkan pembunuhan. Tanah, nama baik dan perempuan.
            Ayah mulai perlahan menyadari kesalahan selama ini. Dipenghujung hari Ayah memandang kobaran api dan berbagi kisah dengaku tentang tanah yang saat ini kami huni dan diami. Tanah pemberian leluhur yang harus dijaga. Nasib tidak bisa diubah hanya dengan menjual tanah. Ada banyak jalan untuk mengubah nasib. Tiga bulan lagi aku akan meminang  Maria seorang perempuan dari keluarga yang sangat terpandang. Hubungan kami sedikit terhalang karena masalah status. Aku dipandang oleh ayahnya sebagai seorang yang tidak bersekolah tanpa bertanya. Aku sudah meyakinkan Maria tentang hidupku tetapi ayahnya masih mempertahankan anaknya karena sudah menyandang gelar sarjana ekonomi. Dari tanpang aku memang seperti anak tak berpendidikan namun kenyataan gelar  S2 teknik arsitek telah aku raih di kota Jogjakarta. Ayah maria mulai yakin ketika teman kuliahku dari Ambon berbincang dengan ayah Maria saat berada di pesawat menuju Jakarta.  Aku tahu faktor inilah yang membuat ayahku harus mempersiapkan segala sesuatu demi nama baik keluarga dan tanah adalah alternatif terakhir. Namun ayah keliru.
            Perjalanan Cintaku dan Maria hanya dua setengah tahun. Kami punya kenyakinan dan saling terbuka serta percaya satu sama lain. Kami menyadari segalanya akan bisa diatasi jika tidak ada dusta diantara aku dan Maria. Menjadi manusia yang utuh sangat sulit tapi perjuangan membentukku. Cinta dapat mengubah segalanya jika berani untuk berlangkah maju dan aku telah melakukanya bersama Maria isteriku tercinta. Orang pribumi janganlah sekali-kali menjual sesama pribumi demi ago semata. Inilah yang aku jelaskan kepada putraku Satria. Musimpun berlalu dan berganti, pepohonan kian bertukar kisah antara dedaunan hijau dan kering, kupu-kupu bercerita kembali masa perjuangannya bersama kepompong dan aku bersurat untukmu sahabat pribumi. Bahwa uang bukan segalanya.
Akhir desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar