Minggu, 20 Februari 2011

Cerpen Ardy Nailiu, posted DUSUN FLOBAMORA

Kemilau yang Memudar

Orang bilang dia hanyalah seonggok tumpukan bernyawa. Ada dua lengan kurus dengan sepuluh jemari yang melekat padanya, lengkap dengan dua batang kaki. Ada juga sekujur tubuh peyot dan tentu saja sebuah kepala kurus bertengger lekat pada puncak onggokan reyot itu. Tragis, tubuh sekarat itu terkapar tanpa daya di sudut kamar 3X4-nya. Kami sebut dia ayah.
Ayah kami hampir mati dimangsa usia. Kira-kira sudah setengah abad lebih ia mendiami pertiwi ini. Maka tentu, sudah hampir lapuk pula cerita yang ia bangun dari dan untuk dirinya. Memang, kepingan-kepingan cerita itu mulai tampak luntur, usang, berkarat, aus, terlepas. Ada yang bahkan sudah hancur tapi tak musnah, lebur tapi tak lenyap. Ingatan kami yang justru lebih akrab membangun kembali kenangan akan dia. Ayah kami adalah seorang guru, pengabdi bangsa dan Negara. Ia sudah mulai menjadi guru bahkan jauh sebelum kami lahir. Sayangnya, kenyataan ini pula yang akhirnya merenggut ayah dari keluarganya sendiri.
Guru adalah pengajar, dan serentak itu, ia adalah sang nabi. Sabdanya penuh kekuatan dan sangat berpengaruh. Ia dapat menghancurkan kebodohan atau bahkan menerbitkan pencerahan. Lebih dari itu, guru adalah seorang bidan. Kebenaran sudah dikandung dalam rahim pikiran setiap orang dan guru bertugas untuk membantu melahirkannya. Walau benar, bahwa ternyata kebenaran itu kemudian sulit dilahirkan atau malah mati di tangan sang bidan.
Kisah kelabu ayah kami bermula, ketika sang pengajar ulung itu menjadi guru tetap di kampung sebelah. Sebuah tugas berat yang harus ia pikul selain beban kehidupannya sendiri. Kampung itu terletak di balik sebuah bukit tandus. Jaraknya sangat jauh dari rumah kediaman kami. Cerita ayah kami setiap hari akan bermula dengan keberangkatannya setiap pagi menuju tempat tugasnya. Karena jam sekolah pertiwi ini dimulai tepat pukul 7.15. Maka sedari pagi, ketika fajar belum menyingsing, di antara kabut dan tanah basah, sosok itu membelah pekat menuju kampung sebelah demi menunaikan tugasnya.
“Kenapa ayah selalu pergi pagi-pagi?” Pertanyaan itu kulontarkan setelah mengumpulkan seluruh keberaniaan yang kumiliki. Dengan enteng, sang ayah malah menjawab pertanyaan anak sekecilku hanya dengan binar mata penuh kewibawaan. Ayahku suka diam. Ia membiarkan pertanyaan untuk mencari jalannya sendiri, lalu tiba-tiba sudah hadir, dalam pikiran penanya. Sayang, diamnya juga akhirnya menuntun ketidakadilan meraja. Pertanyaanku yang demikian karena disulut api cemburu. Terkadang kami menjadi iri terhadap anak-anak murid ayah kami. Bagaimana tidak? Sejak pagi-pagi buta ia sudah meninggalkan rumah. Rumah yang seharusnya ia isi dengan cintanya ketika mentari kembali menepati janji tuk sinari bumi setiap paginya. Rupanya belum cukup pengorbanan itu. Seharian ia harus berada di kampung orang. Sampai petang, setelah terik yang menyengat di tengah hari baru saja berlalu, ia kembali ke rumah demi manabur cinta bagi kami.
Kami masing-masing hafal benar. Ayah akan tiba di rumah setiap pukul 4 petang. Satu kebiasaan paling lumrah darinya adalah menyapa kami semua. “Selamat Sore semua!” Sapaan seorang guru untuk keluarganya itu akrab di telinga kami. Suaranya berat lalu menggantung di telinga masing-masing kami untuk membiaskan kesannya sendiri-sendiri. Ia akan hadir dengan kulit merah yang baru usai dibakar matahari. Lebih sadis lagi, kemerahan itu lalu dibasahi dengan keringat yang mengalir. Keringat asin itu akan singgah di kulit terbakar, lalu menjalarkan pedih lewat saraf. Inilah pengorbanan besar ayah kami. Tetapi ia pasrah atas siksaan itu demi apa yang disebutnya pengabdian. Terkadang aku mengkhayalkan tetes-tetes keringat ayah itu kemudian membatu. Butir-butirnya berubah menjadi berlian. Berlian itu lalu ia rangkai dengan kasih sayang dan menjadi kalung indah bagi kami. Kalung itu adalah dekapan cinta yang ia lingkarkan pada leher kami, untuk kami masing-masing. Sedangkan liontin dari kalung berlian itu adalah hatinya sendiri, yang mengingatkan kami akan ketulusan sebagai penerang hidup.
Suatu hari, di suatu waktu, ayah tak kunjung pulang. Sang penabur cinta itu tiba-tiba lenyap. Betapa galau hati kami. Jiwa kami sontak berontak. Ada kehilangan besar yang dirasakan atas terenggutnya si penjamin dan pelindung. Kecemasan kemudian merasuk dalam diri kami. Pencarian pun kami lakukan sembari membuang informasi untuk dunia. Kami menangis untuk memulangkan ayah kami. Namun ternyata apa yang kami dapat? Adakah rasa kasihan lahir dari rahim kebenaran yang dihidupkan ayah kami? Adakah iba untuk kami karena terenggutnya cinta yang dicuri dari rumah kami? Atau sia-siakah pengorbanan atas nama pengabdian?
Setelah lewat banyak waktu, ayah akhirnya pulang dengan wajah lusuh. Lusuh bukan karena dibakar matahari setiap hari. Tenyata hati sumber cinta itu pun telah dibakar kebencian dan dendam membara. Ayah kelihatan sangat lelah. Ia terlihat letih memanggul beban baru. Terlampau berat, mungkin!
Belakangan kami tahu, kehidupan ayah diterjang bencana hebat. Ayah ditangkap, disekap dan dibuang. Ia dikucilkan dari masyarakat, terutama warga dari kampung sebelah. Ia adalah korban dari sebuah pertarungan politik. Seorang guru yang berusaha netral di tengah perhelatan politik sesaat sebelum pemilihan kades berlangsung. Ternyata kenetralannya itu menuai fitnah yang tidak pernah disangkanya. Kami belajar, bahwa terkadang pilihan mesti dijatuhkan, apakah itu kemudian berkonsekuensi sangat berat sekalipun. Karena nyatanya bungkam malah selalu berbicara lebih banyak. Guru itu mengambil sikap netral terhadap dua kubu yang akan bertarung. Kubu dari penguasa lama yang ingin lagi memerintah, melawan kubu baru yang menawarkan pembaharuan. Jalan diam ia ambil sebagai pilihan mutlak demi sebuah kebenaran agung. Pilihan ini diartikan secara salah oleh salah satu pihak. Kades yang berkuasa menghasut rakyat, dan karena kuasanya, ia bermain konspirasi untuk menjatuhkan sang pemilik kebenaran. Kebenaran itu kalah. Ayahku “mati” memeluk kebenaran.
Kematian ayahku dimulai sejak saat itu. Ia punya raga yang tak bergerak. Ia melihat dengan tatapan kosong. Sampai kini, hanya kamar berukuran 3X4 itulah yang masih menampungnya. Jiwa kami tertampar setiap kali melihat tubuh reyot itu. Hanya dua tangannya, namun tidak sesedikit itu cinta yang telah ia berikan kami. Hanya sepuluh jemarinya, tapi lebih besar karyanya untuk kami dan kehidupan. Walau ayah sudah mati, Kebenaran itu tetap ada dalam pelukannya, dan benihnya sudah mulai tumbuh dalam diri kami masing-masing.
Penulis adalah anggota Kelompok Sastra Penfui, Mahasiswa FFA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar