Rabu, 02 Februari 2011

cerpen: TAPE RECORDER DI KAMPUNG KAMI


AMANCHE FRANCK

          Sebuah tape recorder telah menghebohkan kampung kami. Ya, sebuah tape recorder. Hanya satu, tapi menggegerkan satu kampung. Dari satu tape recorder itu kemudian beranak-pinaklah banyak tape recorder di kampung kecil kami. Tape recorder itu melahirkan banyak tape recorder. Jadilah kampung kami, kampung tape recorder. Beranak cucu dan berkembanglah tape recorder-tape recorder dan penuhlah isi kampung kami dengan tape recorder.
 Ini berasal mula dari Pak Yonas. Dia datang ke Kupang. Dia datang sehari saja ke Kupang. Ketika pulang dari Kupang itulah, dia membawa tape recorder itu. Tak seberapa besar tape itu. Tak lebih besar dari tubuh Pak Yonas pemiliknya yang memang tak terlalu tinggi. Hitam pula warna tape itu, tapi tentu tape itu lebih hitam dari pemiliknya. Tape itu berbentuk bulat panjang. Maksudnya, panjangnya memang tak seberapa, tapi seperti ada sebuah gundukan besar sebesar buah pepaya di belakang bodi tape itu.  Sebenarnya tape itu tak bermasalah. Sebagai sebuah barang, apalagi barang baru, tape itu tak bersalah dalam dirinya. Yang menjadi soal adalah pemilik tape itu, terutama si Eudes anak Pak Yonas. Eudes memang agak berubah ketika tape recorder itu ada di rumahnya. Harap maklum, di kampung kami Pak Yonaslah orang pertama yang memiliki tape recorder. Alasan inilah yang dipakai Si Eudes yang jebolan SMA itu, untuk membangun sikap gengsi-gengsian dan mau menang sendiri.
Sebenarnya juga tak menjadi soal, bila tape recorder itu difungsikan sebagaimana mestinya, pada tempat dan pada waktunya. Yang menjadi soal adalah volume suara tape itu yang terlalu tinggi. Maka soalnya ada dua, yakni Si Eudes dan volume tinggi tape recorder itu. Eudes akan menyetel volume tinggi, apabila seisi kampung baru bangun tidur. Seluruh isi kampung akan mendengar lagu Elele Elela dari tape recorder itu. Tak ada lagi kesunyian yang menghinggapi kampung kami.  Bahkan tak ada lagi kicau burung di pagi hari. Semuanya sudah diganti dengan nyanyian Elele Elela Adistumtum…. Adistumtum… dari tape recorder Pak Yonas.  Terkadang Eudes akan mengoperasikan  tape recorder itu sampai siang terik. Rumah Pak Yonas juga akan berubah layaknya sebuah diskotik full music. Anehnya, lagu yang diputar dari tape recorder itu adalah lagu yang itu-itu saja. Lagu lokal kami Elele Elela. Aneh bin ajaib pula, lama-kelamaan orang-orang seisi kampung seperti terhibur, terhipnotis, dan terninabobo dengan nyanyian dari tape recorder Pak Yonas. Pada pagi hari banyak orang akan duduk di depan rumah untuk mendengarkan nyanyian dari tape recorder itu. Dengan satu kali putaran, kampung kami itu berubah menjadi arena diskotik. Di sudut-sudut kampung para pemuda mulai bergoyang ria. Bapak-bapak manggut-mangut berirama. Ibu-ibu pun mulai berpatah pinggang layaknya orang menari. Keadaan itu sudah berlangsung sekitar sebulan, terhitung sejak tape Pak Yonas mulai mengudara di kampung kami.
            Persoalan bertambah pelik sejak si Eudes anak Pak Yonas mulai ogah-ogahan untuk memutar musik dari tape recorder itu. Pernah suatu kali sekelompok anak muda sudah duduk di bawah beringin rimbun di sudut kampung untuk siap mendengarkan musik dari tape Pak Yonas. Tapi sampai hari beranjak senja, tak satupun irama berkumandang dari  tape recorder Pak Yonas. Pemuda-pemuda itu pun kesal. Kekesalan bukan hanya dialami para pemuda tadi. Beberapa bapak dan ibu di desa kamipun kesal. Kenapa Eudes mulai bertingkah dalam urusan musik ini?? Tak tahukah ia bahwa seisi kampung tengah menanti musik Elele Elela Adistumtum Adistumtum. Karena kekesalan itu, maka beberapa bapak mulai berinisiatif untuk memiliki tape recorder sendiri. Pak Yarid adalah orang pertama yang berinisiatif membeli tape recorder sebagai protes kepada Pak Yonas.
            “Mengapa kita mesti tergantung pada tape recorder Pak Yonas?? Padahal hasil penjualan panen tomatku lebih dari cukup untuk membeli sebuah tape recorder. Pak Yonas bisa kenapa kita tidak??” begitulah Pak Yarid memprovokasi para tetangga.
            Maka Pak Yaridpun mengutus anaknya Ajay untuk pergi membeli tape recorder di kota Kupang. Tanta Anche yang sudah menjanda pun tak mau kalah. Dia pun  ingin memiliki tape recorder sendiri. Maklumlah, ketika masih muda dulu, Tanta Anche adalah tukang dansa keliling kampung.
            “Mereka pikir saya tak mampu membeli tape recorder. Susah-susah begini tak pernah mengemis” begitulah Tanta Anche mulai menunjukkan gengsi sosialnya.
              Untuk urusan membeli tape recorder, Tanta Anche mengutus kedua putranya Dami dan Arnold.
            “Beli yang terbaik, yang volumenya bisa didengar satu kecamatan” begitulah peringatan Tanta Anche untuk kedua putra tercintanya.
            Kalau Tanta Anche yang janda saja bisa membeli tape recorder, apalagi yang lain. Maka tak heran Pak Patris, Pak John, Pak Andy, Pak Remi,  dan Pak Vinsen  bersepakat untuk pergi membeli tape recorder untuk rumah masing-masing.
            “Kita hancurkan ambisi Pak Yonas untuk menguasai blantika musik di kampung kita” kata salah seorang dari mereka begitu ambisius.
             Maka pergilah mereka ke kota Kupang dengan satu misi. Membeli tape recorder.
              Banyak di antara mereka yang memilih untuk membeli tape recorder yang berbeda jenisnya dengan tape recorder perintis milik Pak Yonas. Pak Patris yang pengusaha kios di kampung kami itu memilih tape recorder dua pintu dengan ketinggian nyaris satu meter. Bahkan untuk memikulnya, Pak Patris menyewa sebuah mobil pick up untuk mengantar tape recorder kepunyaanya sampai rumahnya di kampung kami. Pak John guru SD Inpres yang anak-anaknya masih kecil, lebih memilih tape recorder mini kompo. Alasannya sederhana, mess guru sempit. Yang lebih penting punya tape, kilah Pak John. Lain Pak John, lain pula Pak Andi. Pak Andi membeli sebuah tape yang nyaris sama dengan tape recorder milik Pak Yonas. Tapi bedanya warna tape recorder Pak Andy putih. Maklum, Pak Andy juga diperhitungkan di dunia politik kampung kami. Dia adalah Sekretaris Desa. Sekarang dia malah mau merambah dunia musik yang sedang dimonopoli tunggal oleh Pak Yonas. Pak Remi yang petani, dan Pak Vinsen yang pengusaha babi memilih untuk membeli tape-radio. Alasan mereka berdua juga sangat sederhana. Kalau lagi bosan mendengar tape, mereka bisa menyetel gelombang untuk mendengar radio. Dengan alasan yang berbeda, maka berbeda pula jenis tape recorder di kampung kami. Kini tape recorder milik Pak Yonas tidak sendirian. Tape recorder ini telah melahirkan tape recorder-tape recorder yang memenuhi kampung kecil kami. Tape recorder-tape recorder ini lahir dari rahim kompetisi gengsi sosial kampung kami.  
            Kini, nyaris seperempat kampung kami sudah memiliki tape recorder. Pada mulanya semua tape recorder beroperasi pada waktunya. Persoalan makin pelik  karena sekarang semua pemilik tape recorder memilih jam putar tape yang sama yakni pada pagi dan sore. Persolan ini ditambah pula dengan volume tinggi dari semua tape recorder. Pak Yarid yang rumahnya persis di samping Pak Yonas tak mau kalah bersaing tatkala tape Pak Yonas mulai mengudara. Ajay, anak Pak Yarid akan cepat bergegas menaikkan volume ketika Si Eudes anak Pak Yonas mulai beraksi dalam rumahnya. Mendengar itu Dami dan Arnold, dua anak Tanta Anche pun segera menghidupkan tape baru mereka. Rumah Tanta Anche memang tergolong kecil, tapi posisinya strategis di atas bukit kampung kami. Pak John di mess guru juga akan segera mulai mengoperasikan tape recorder mini komponya, sambil duduk berpangku kaki membaca koran Pos Kupang. Serentak pula tape recorder-tape recorder akan bernyanyi bersahutan laksana sambung-menyambung menjadi satu. Pak Patris, Pak Vinsen, Pak Remi, dan Pak Andi bersama istri dan anak-anak mulai menyetel musik dari rumah mereka. Pada saat itu, penuhlah isi kampung kami dengan musik dari tape recorder-tape recorder ini. Seluruh alam desa kami ikut bernyanyi, bergoyang, bahkan berjingkrak-jingkrak. Bila semua tape recorder itu mulai beraksi, tak ada lagi yang kami kerjakan, selain duduk, dan mendengar, sambil menghentakkan kaki, dan mengoyang-goyang badan kami, mengikuti irama dari tape-tape itu.
            Peristiwa pertunjukkan musik di kampung kami itu berjalan sekitar dua bulan. Persoalan menjadi lebih pelik dan berbelit-belit lagi ketika semua pemilik tape recorder tadi memilih untuk memutar satu jenis musik saja. Jenis musik itu adalah lagu daerah kampung kami, sama seperti lagu dari tape recorder Pak Yonas. Itu terjadi pada sore hari ketika semua memilih untuk duduk diam mendengarkan irama-irama dari tape recorder. Entah selera apa yang mempersatukan para pemilik tape recorder ini, sehingga tanpa kesepakatan mereka memilih lagu daerah ini, sebagai lagu pilihan utama di sore hari. Padahal selera musik setiap individu di kampung kami berbeda. Orang-orang kampung akhirnya bosan.
            Untuk mengatasi persoalan di blantika musik kampung kami, Pak Kepala Desa kami pun turun tangan. Kebijaksanaan putusan Pak Kades sangat penting dalam situasi genting ini. Banyak yang mulai protes. Anak-anak saja protes, apalagi para pemuda, pun bapak-bapak dan ibu-ibu.
                                                **************
            Beberapa hari kemudian setelah terjadi gelombang protes besar-besaran dari segenap warga, maka keluarlah maklumat Pak Kades kami yang ditempelkan di semua sudut desa, di jalan dan rumah-rumah. Bunyinya:
Mohon perhatian untuk segenap warga desa. Untuk menjaga keamanan desa dan demi kebaikan bersama, maka mulai sekarang jam putar tape recorder hanya akan diizinkan pada sore hari  pada pukul 16.00-17.00. Volume tape recorder pun hanya berkisar radius 5 meter dari sumber bunyi. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi yang telah diatur. Sekian dan terima kasih. Harap maklum. Salam hormat. Kepala desamu.
            Kami pun merenungkan perintah dan maklumat kepala desa kami ini, baik waktu  duduk di rumah, bergegas di jalan, waktu mau tidur, atau hendak bangun. Selanjutnya tak perlu lagi kami ceritakan bagaimana keadaan desa kami kepada anda.

*Elele Elela Adistumtum Adistumtum: Sebuah lagu daerah Dawan.

KOMUNITAS SASTRA SEMINARI TINGGI SINT MIKHAEL PENFUI
             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar