Minggu, 06 Februari 2011

Puisi-puisi Mario F. Lawi

Laron

Aku telah menemukan cahaya
Sebuah kemuliaan bagi hidupku
Terlalu lama aku bersembunyi di balik pekat
Maka mati di bawah siraman cahaya
Menjadikanku martir bagi diriku sendiri
Kelelawar hanya dapat terbang dalam gelap
Menyusuri malam sebelum matahari menghapus semua mimpi
Sementara arti sebuah perjalanan
Hanya dapat dipahami dalam terang
Sebab keabadian sebuah kehidupan
Dimulai dari perjalanan menuju cahaya

Aku telah menemukan cahaya
Maka aku tak akan melepaskannya
Walaupun karenanya aku harus mati
Cahaya mengajarkanku arti pengorbanan
Aku harus terus menggenggamnya
Meski sengat panasnya mendera tubuhku
Inilah arti yang tak diajarkan hujan padaku
Hujan hanya mengajariku memandang cahaya
Ketika kemilau tetes pertamanya menyapa bumi
Agar aku tahu
Bahwa perjalanan menuju cahaya telah dimulai

Aku telah menemukan cahaya
Dan belajar mencintainya dengan sepenuh hati
Dengan sayap-sayapku yang rapuh ini
Agar setiap hembus napasku yang terenggut
Dapat kurelakan dengan penuh keikhlasan
Sebagaimana kurelakan setiap kefanaan gelap
Untuk merengkuh segenggam keabadian cahaya

Aku telah mencintai cahaya
Ketika tirai kegelapan tersingkap
Lalu terbukalah lembar baru kehidupanku
Hingga sayap-sayap ini meninggalkan pundakku
Dan aku tahu bahwa kematian akan menjemput

Aku akan tetap mencintai cahaya
Dengan segenap kekuatan dan kelemahanku
Bahkan jauh sesudah kematianku
Karena arti pengorbanan dalam hidup
Telah aku temukan dalam cahaya

(Oepoi, November 2008)


Hujan

Kemarahan petir…
Buat langit menangis
Hembusan angin…
Tiadakan awan
Bianglala…
Akhir indahnya

(Oepoi, November 2008)

Menanti Senja

Senja belum menghiasi kaki langit
Matahari masih sama, garang dan terik
Tapi kami percaya
Kerelaan matahari untuk terbenam
Akan memberikan senja yang sangat indah
Dan kami akan berlari
Menyusuri pasir putih dan riak-riak pantai
Menelusuri senja yang terbit dari kerelaan matahari
Dan sebelum senja terbit
Kami ingin menikmati garang dan teriknya matahari
Sebab senja indah yang memancarkan lembayung itu
Tumbuh dari garang dan teriknya matahari ini

(Lasiana, November 2008)


Hujan dan Lautan

Apakah yang dapat dikenang dari hujan
selain rintik dan gerimis?
Apakah yang dapat mengingatkanmu pada lautan
selain riak dan gelombang?

Karena itu, ingatlah aku
Sebagaimana rintik dan gerimis
mengingatkanmu pada hujan
Kenanglah aku
Sebagaimana riak dan gelombang
mengantarkanmu pada lautan

Sebab akulah hujan dan lautan itu

(Oepoi, November 2008)



*MARIO F. LAWI, mahasiswa semester II FISIP jurusan ilmu komunikasi UNDANA Kupang. Alumnus Seminari Oepoi ini sering menghiasi wajah rubrik Imajinasi harian umum Pos Kupang dengan cerpen-cerpen surealisnya. Mario pernah menjadi juara II lomba menulis cerpen se Kota Kupang yang diselenggarakan oleh Sabhara Polresta KUpang pada Mei 2009 lalu. Sewaktu menjadi calon imam di Oepoi, bersama rekan-rekannya, ia mendirikan Komunitas Sastra Seminari Oepoi.Terima kasih Mario. Salam FILOKALIA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar