PELATIHAN BINA IMAN ANAK DI SEMINARI TINGGI ST. MIKHAEL PENFUI
BIARKANLAH ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-KU…
Oleh:
Fr Arky Manek & Fr Amanche Franck Oe Ninu
Pagi gerimis, Kamis 20 Januari 2011. Cuaca pagi ini tak menghalangi suasana hati kami, frater-frater teologan Seminari Tinggi St. Mikhael untuk tetap bergembira ria. Kami bergembira dalam nada dan gerak saat mengikuti pelatihan Bina Iman Anak (BIA) oleh Tim utusan Sekolah Bina Iman Shekinah dan Pembaharuan Karismatik Keuskupan Agung Jakarta di Aula Seminarii Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang.
Romo Subroto Widjojo,SJ, ibu Rosa Untadi, kakak Lia Susanti dan kakak Sinta Soerio. Inilah nama-nama manis tim pendamping yang kami kenal di awal perjumpaan. Mereka memiliki semangat juang yang tinggi sebagai pewarta.
Lautan nan luas mereka sebrangi dan deretan pulau-pulau mereka lintasi. Mereka meninggalkan kota Jakarta menuju kota karang ini guna meningkatkan semangat, kreativitas dan kualitas kami sebagai pewarta sabda Tuhan kepada anak-anak.
Usai perkenalan, kami buka kegiatan ini dengan perayaan ekaristi. Romo Subroto yang memimpin perayaan ini. Di usia senjanya, Romo Subroto tetap semangat ketika memimpin perayaan ini. Semangatnya turut merasuki kami semua hingga kami tak menghiraukan aksi protes perut kami yang berkeluh-kesah karena rasa lapar.
Sore, pukul 16.30. Setelah beristirahat sejenak, kami semua kembali berkumpul di Aula untuk memulai kegiatan pelatihan.
Lima, empat, tiga, dua, satu. Terdengar suara manis kak Lia mengisyaratkan semua peserta harus sudah berada di tempat duduknya masing-masing.
Inilah hitungan yang terus kami dengar setiap kali, ketika hendak mulainya kegiatan guna menghindari korupsi waktu (Jam karet) yang sudah menjadi kebiasaan buruk kita yang turut menghambat kemajuan negeri ini.
Dalam hitungan detik beberapa teman yang masih mengayun lamban langkah kakinya sudah berada di kursinya dengan nafas yang ngos-ngosan. Kegiatan pelatihan sore itu pun dimulaii hingga malam hari.
Selama hampir seminggu kami tenggelam dalam dinamika kegiatan ini dari pukul 08.00 pagi hingga malam pukul 21.30. Banyak materi yang kami dapatkan, permainan dan lagu yang kami pelajari dari keempat pendamping kami.
Romo Subroto mengajarkan kami akan pentingnya pastoral anak, bagaimana mengenall potensi diri, bagaimana mengenal perkembangan jiwa anak dan kitab suci sebagai sumber bina iman anak. Kak Lia mengajarkan kami akan motivasi dan spiritualitas pembina, teknik bercerita, serta bagaimana mengelolah bina iman yang baik. Kak Sinta memberi penjelasan tentang tanggung jawab seorang pembina, gerak dan lagu, serta praktek membuat permainan. Oma Rossa mengajarkan kami tentang alat peraga dan praktek pembuatannya, bagaimana memimpin permainan serta cara membuat program yang kreatif dan inovativ.
Banyaknya materi yang diberikan ini tidak membuat kami jenuh. Hujan yang terus mengguyur selama seminggu dengan lebatnya siang dan malam pun tak menjadi halangan bagi kami. Sebab selain materi-materi yang sarat nilai ini kegiatan selalu diselingi dengan yel-yel, aneka macam tepukan, permainan, lagu-lagu dan pantun.
Ada yel-yel hoe kaka hoe adik, senyum do, penting ko ala flobamora. Ada tepuk diam, tepuk ubi kayu bakar, tepuk sate, tepuk salut, tepuk cinta, tepuk taat, tepuk anak domba, tepuk kesaksian. Ada permainan susun huruf dan gambar, menulis bahasa cinta, cahaya Kristus, mengusung balon, dan estafet karet tangan. Ada pula lagu-lagu dan pantuan hasil kreativitas kami untuk anak-anak.
Enam hari ini pun menjadi istimewa bagi kami anak-anak Seminari Tinggi St. Mikhael. Kami bermain, bernyanyi, dan menari layaknya anak-anak. Animasi-animasi ini membuat kami semua tertawa ria bercampur rasa lucu. Ada yang tertawa geli ketika bernyanyi seperti anak-anak. Ada juga yang terlihat kaku ketika meniru suara dan gerak-gerik anak-anak.
Seorang teman kami di penghujung kegiatan ini sempat berceloteh
“Sulit ya menjadi pembina anak-anak. Kita harus seperti anak-anak walau bukan kekanak-kanakan seperti kata kak Sinta. Saya pun spontan menjawabnya,
“Sulit su ma. Tapi jang lupa, tadi katong su ucap janji setia ko mau jadi pelayan yang paduli sama anak-anak”.
Celoteh teman kami ini ada benarnya. Banyak orang tua, pendamping, ataupun pengasuh kesulitan untuk membina-anak-anak mereka. Sulit karena tidak mampu memahamii dunia anak-anak.
Memang gampang-gampang sulit menjadi pembina atau pengasuh anak-anak. Dunia mereka harus dikenal, psikis dan phisik mereka harus dipelajari. Agar kita bisa tahu apa maunya mereka. Dengan cara ini kita terbantu untuk mengenal dunia mereka, masuk lewat pintu mereka dan membawa mereka keluar lewat pintu kita.
Kami bergembira karena selama hari-hari ini kami dilatih untuk mampu masuk melalui pintu anak-anak dan mengeluarkan anak-anak lewat pintu pewartaan kita.
Kami teringat kotbah Romo Subroto pada perayaan ekaristi pembuka. Anak-anak adalah pilar masa depan Gereja dan bangsa. Anak-anak harus diajarkan dan dihantar sejak dini untuk mengenal Tuhan.
Perkataan Romo ini mengingatkan saya akan amanah Injil; “Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKu, jangan menghalangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah” (Mrk. 10:14).
Sayangnya kenyataan kadang bersaksi lain. Banyak anak yang tidak diarahkan kepada Tuhan sejak dini. Mereka terhalang oleh hiburan-hiburan duniawi, ada yang tersesat karena barang-barang teknologi hasil pemberian orang tuanya. Ada pula anak-anak yang diterlantarkan orang tuanya tanpa rasa iba, ada yang dibunuh tanpa disesali sejak masih dalam rahim ibunya, ada yang menjadi korban traffiking lantaran tekanan ekonomi, ada yang menjadi korban kekerasan di rumah oleh orang tuanya, ada pula yang dihajar di sekolah oleh gurunya yang sering diekspose surat kabar.
Masa anak menjadi kelabu lantaran dirusakan oleh hasil teknologi yang salah digunakan serta berbagai tindak kekerasan yang dialaminya. Masa indah hidupnya sekarang dan kelak sirnah ulah tangan-tangan yang tak bertanggung jawab.
Anak-anak butuh pertolongan orang tuanya, pembinanya, gurunya dan kita semua. Sudah menjadi tugas kita untuk sejak dini menghantar mereka mengenal Tuhan. Kita-kitalah yang ditugaskan Tuhan untuk menjalankan misi keselamatan Tuhan bagi anak-anak.
Waktu terus berjalan, anak-anak akan terus bertumbuh. Ke arah mana pertumbuhan iman mereka ada di tangan kita. Kita punya andil besar untuk menjadikan siapa diri mereka di masa depan. Anak-anak adalah pemilki masa depan sabagaimana masa depan adalah milik mereka. Kita tak boleh sedikitpun lupa akan anak-anak, seperti bunyi sebait pantun kami;
Anak SEKAMI di Gereja kami
Suka Bernyanyi lagu Bapa kami
Ingat Selalu anak SEKAMI
Harapan Gereja dan bangsa kami
Tidak ada komentar:
Posting Komentar