Rabu, 02 Februari 2011

WANITA SEPOTONG KEPALA


Cerpen : Januario Gonzaga*

Kau membawa beberapa potongan dirimu yang belum dikuburkan. Lambat-lambat kau menemui pemuda yang sedang mengerang dari balik semak. Di sana kau menyerahkan kunci yang dulu dipakai pemuda itu untuk mengunci potongan tubuhmu.
“Cepat keluarkan kepalaku yang sudah busuk itu”. Kau berbicara pelan seperti ingin berdamai sebelum berkah berubah musibah. Tetapi apa yang terjadi, erangan pemuda itu melolong seperti anjing bilamana ingin kawin.
“Cepat ambil kunci ini dan keluarkan kepalaku” Sekali lagi kau ngos-ngosan memanjangkan lenganmu. Kali ini pemuda itu berhenti setelah puas menggenjot tubuhnya. Ia mengambil handuk basah dan mengibaskannya pada sedahan kayu pendek. Kau mundur sejengkal ketika aroma itu menyentuh hidungmu. Kau kenal betul bau pesing milik lelaki yang disebut pemuda.
“Pengkhianat, cepat ambil kuncinya aku ingin pergi”. Kau masih malu-malu untuk mengeras suaramu. Dari tadi hanya pelan dan seakan kau tertahan oleh sesuatu di dadamu. Kau lalu bergemuruh melihat pemuda itu mengibak-nyibakkan badannya yang kotor di atas ranting daun-daun. Ia pergi setelah didahului seorang gadis berwajah Mandarin. Kau berteriak lagi dengan suara tertahan. Dadamu berdentum keras tetapi gumpalan rasa menyesak kerongkonganmu. Kau mendahuluinya di muka tikungan yang membelah hutan kecil. Kau memalang-malang jalannya sampai kulit pemuda itu bangkit merinding.
“Rita tunggu aku…” kau terus menghalangi pemuda yang memanggil gadis bernama Rita. Teriakannya kau tangkup keras-keras dengan bau bokongmu. Tangisan gadis di ujung sana semakin mengeras-ngerasi teriakan pemuda itu. Itu tangisan yang serupa ketika kau merasa telah berdosa pada dirimu dan masa depanmu sendiri  Kau merasa telah menjadi duri bagi orang tua. Hanya seketika tetesan dendam mengalir saat wanita semakin keras menangis.
“Cepat aku bilang. Ambil kunci ini dan keluarkan kepalaku” kau semakin keras berteriak sambil mengibas-ngibas bau bunga sedap malam di muka pemuda itu. Namun ia tidak juga berhenti. Air matamu menuang pelan-pelan hingga kau menjilatnya cepat-cepat biar tak tersentuh tanah garang. Rita menangis dan menancap gas dalam-dalam pada pedal mobil Hard-Topnya. Malam menurunkan panas seperti asap api. Alam seakan dibakar lipatan-lipatan merah dari dedaunan kopi dan cengkeh. Rita mengerem di depan wajah pemuda itu kemudian menancap lagi gasnya sambil tersedu sedan pergi sendirian.
“Rita tunggu…”Pemuda itu berteriak dengan mengibas-ngibas handuk putih penuh darah Hidungmu tak sengaja menyentuh lagi bau amis manusia yang sangat menyiksa indera penciumanmu. Darah yang sama pernah kau ludahi dengan rasa sesal. Dan kau sedih.
“Tolong bawakan kunci ini…”Pemuda itu merinding karena kau memperdengarkan suaramu yang memelas. Kali ini bau-bau asma dan ulat-ulat busuk dari perutmu mengalir dan tumpah keluar. Ari-ari buah janin muntah berdahak-dahak dan menumpahkan bau yang sengat-menyengat. Pemuda itu menelinga dan tertawa cengar-cengir sekedar menutupi ketakutannya. Kau semakin menggila dengan rasa sayang yang tak tertahan. Ingin kau peluk lagi dirinya merasakan orgasme kesekian kali. Tetapi pemuda itu menyingkir dan menjauh dengan arah kaki ke belakang. Kau berteriak kali ini. Karena tak tahan lalu kau berpaling ke depan mengambil tenaga menunjukkan rupamu.. Ia kaget tetapi tidak berlari. Ia mengira kau ingin kembali dengan trik-trik bercinta yang kau pelajari dari negeri Uzbekiztan. Ia tak berlari. Tiada desah nafas.
* * *
Kalian mendekap karena memang begitu yang dimau. Kalian pergi entah ke mana dengan kasih sayang orang tua yang merestui. Kalian memeluk sambil mengira-ngira seberapa besar sayang kalian. Kalian sendirian, hingga dunia kalian cerca kolot tak tahu perkembangan. Lalu kalian kutuki mereka sebab mereka mengganggu kalian.
“Ayo!” Begitulah kalian biasa mengajak kalau motor-motor sudah berpasang-pasang manusia. Lebih lagi dengan segala tontonan yang kemarin kalian lihat dari mendownload situs you tube di internet. Orang tua kalian tak ubahnya dengan mesin pencetak uang. Terserah mau diedarkan dan dipakai siapa. Mereka mengizinkan anak-anaknya sejak usia berapa pun. Maka kalian pergi ke warnet-warnet. Kalian menyapu bersih sisa-sisa air laut dengan air liur yang panjang pendek. Mereka tak peduli bila kalian akan pulang tengah malam ataupun dini hari, entah dengan busa alkohol di sela-sela mulut, entah dengan air mata atau dengan tubuh tanpa busana.
“Alya. Kita jalani saja” Kalian merajuk mesra menyerupai tontonan di televisi yang alurnya dijelaskan orang tua kalian. Kau mengernyit jawab sampai dia terus menguras habis pikiranmu. Dia mengisinya dengan kata-kata yang hanya kau temukan di lokasi-lokasi perjudian.
“Jangan. Saya takut dengan orang tua. Kita boleh, tetapi jangan terlalu” kalian merajuk dengan bara api yang ber-grafik di muka. Sementara kau tenang karena ibumu pernah bercerita kalau ayahmu itu terlalu cepat mengambil keputusan. Sampai-sampai ayahmu yang serabutan kerjanya tak pernah mengerti makna cinta. Dia hanyalah pekerja kasar yang datang dengan mulut seperti orang pasar. Bertonton-ton kata disuap di mulut mamamu sampai kenyang betul. Lalu mamamu bergerinding menemukan ayahmu telah berparas delima merah. Dan kau lahir dengan gejolak cinta yang tidak dimengerti sebab-musababnya.
“Nanti kita dibilang ketinggalan zaman. Masa itu saja tidak bisa. Malu kan!”. Masih terus kalian berdialog. Dan kau tak kalah ngototnya untuk bersikap seperti saran mamamu. Tetapi memang. Kau seperti melihat buah pengetahuan dari balik nafas pemuda itu. Ranum buahnya dan ingin kau kulum seperti menikmati buah apel tanpa larangan.
“Okelah. Tapi kamu janji. Kita harus sama-sama bertanggung jawab”
“Itu sih gampang. Apakah kau ragu dengan cintaku ini?”
“Tidak. Tapi saya tidak bisa” kau ragu-ragu karena imanmu sudah menebal, mungkin.
“Ayolah. Kita kan masih muda. Lihat mereka yang lain”. Kalian pergi juga setelah bercengkerama selayaknya tawar-menawar di loket. Kalian meluncur dari tempat yang satu ke tempat yang lain karena ramai. Di pantai sudah terisi semua kursi. Bahkan pangkuan pemuda-pemuda menjadi kursi buat gadis-gadis belia. Lalu lipatan-lipatan kaki gadis-gadis menjadi bantalan pemuda-pemuda. Kalian kembali menyusuri jalan-jalan sambil yang pemuda menancap gas seperti menancap darah di pembuluh aortanya. Kau duduk manis dengan tangan menyila di kedua paha pemuda itu.
“Jangan pergi. Kita harus sama-sama bertanggung jawab” kalian sudah tiba di tempat yang baru dilegalkan pemerintah. Lalu kau menangis sebab lengkungan senja sebentar lagi tak hanya menurunkan asap malam, tapi juga ratap kelam. Sementara kalian belum bosan bertengkar dengan ketakutan seperti bocah kecil menyeruput baygon benaran.
* * *
Kau telah pergi ketika pemuda itu sadar. Orang-orang kampung mereka-reka sebuah komplotan telah merampoknya. Tubuh tanpa pakaian. Wajahnya memerah kayak ditusuk lipstik. Benjolan di sana-sini. Dia sekarat dengan tubuh lunglai. Tetapi kau telah pergi. Kau pergi tanpa membawa pulang kunci yang berserakan di semak-semak rumput. Orang-orang datang membangunkan pemuda itu. Kau tak tahu lagi cerita apa kemudian. Hanya nanti pemuda itu memungut kunci yang merasuknya tadi.
“Bawa dia. Dia sudah dikeroyok” beberapa petugas ronda malam membawa si pemuda.
“Dia anak pak camat. Mungkin lawan poltik ayahnya yang melakukan ini” beberapa orang ikut membenarkan. Dia baru bangun ketika kau menjamah ingatannya. Kau sungguh piawai membuatnya ketakutan pada sisa hidupnya. Mungkin sudah kau tanamkan racun jenis apa di tubuhnya. Mungkin juga nafasmu yang bau karbon itu sudah berbaur di urat nadinya saat kau gigit bibirya. Pemuda itu berjalan lurus menuju sebuah rawa. Di sana dia pernah memerawanimu ketika mulutmu sudah tersumbat kata-kata. Lalu kau pergi dengan tangisanmu yang berhenti karena capai mengeluarkan darah. Darah dari perutmu yang berbenih manusia. Dia senang dan diam dengan rahimmu yang melongok kosong.
“Tolong…jangan. Kau pembohong. Kau yang merayuku” rupanya dia terinspirasi teriakanmu yang membangkitkan nafsu mutilasinya. Kau berhenti berteriak saat pisaunya menyentuh batang lehermu. Rasa dingin di sekujur tubuhmu ia saksikan dengan tangan gemetar. Kau pergi sektika ke orang tuamu tanpa busana. Jiwamu melayang ke dapur yang tak mungkin lagi kau sentuh periuknya. Matamu terpaku di meja belajarmu dengan air mata membuncah. Hidungmu tersumbat bau masakan mamamu. Kau berteriak dengan suara parau di sekitar rumah berpagar besi. Tidak ada yang tersisa selain sepimu.
Pemuda itu berlari dengan tawa yang sakit. Dan hari ini ia kembali merayumu di dalam koper itu. Pada sebuah malam yang dingin dengan kaki bergetar ia memanjat rimbunan pohon, bebatuan kali, hingga tiba pada selangkangan ngarai dalam. Kau kerasan menunggunya di sana. Kau panggil lagi dia dengan suara dengkurmu. Tapi kali ini pemuda itu telah berani menghadapi segala risiko. Ia tak mau menamatkan hidupnya tanpa maaf darimu. Diambilnya kunci pemberianmu dan mencocokan ke dalam lubangnya. Koper terbuka. Kau tertawa sebab dia akan tidur bersamamu lagi, katanya.

*Penulis Tinggal di Kupang-NTT
Komunitas Sastra Seminari Tinggi St. Mikhael-Penfui Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar