Minggu, 06 Februari 2011

RESENSI BUKU

Lukisan Menawan Peri Eskatologi
 Judul Buku: Kau Memanggilku Malaikat
 Penulis: Arswendo Atmowiloto
 Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2008
 Tebal: vi+272 halaman
 ISBN: 978-979-22-4093-1

Novel karya Arswendo ini dengan indah melukiskan saat terakhir manusia menjelang kematian. Novel ini layaknya seperti katekese eskatologis-kehidupan akhirat manusia. Kematian memang harus dihadapi oleh siapa saja. Logikanya apa saja yang hidup pasti akan mati, hanya berbeda waktu, tempat, dan cara bagi setiap invidu. Adanya manusia yang “terlempar” ke bumi dengan segala ketertentuannya sesungguhnya berjalan menuju kematian. Kita ada menuju kematian. Semua yang “ada” disebabkan oleh apa yang disebut sebagai “daya hidup”. Daya hidup adalah kekuatan yang menggerakkan seluruh kehidupan di muka bumi, ia ditandai dengan raga, tubuh, tidak abadi tapi daya hidup abadi ada di luar penilaian baik dan buruk. Satu hal penting adalah adanya daya hidup sebagai sebab ada segala sesuatu. Pada mulanya adalah daya hidup. Ia ada dalam kehidupan dan menandai keberadaan melalui raga, melalui tubuh manusia atau apa saja. Daya hidup mulai dengan tidak merasa, merasa sedikit, saat dalam kandungan, lalu mulai mengerti dan merasa, saat mulai dewasa dan tua, sampai akhirnya mati. Raga mati. Daya hidup tetap ada.
Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama tokoh utama “Aku” adalah “Malaikat”. Malaikat tak butuh waktu, ia ada di berbagai tempat dalam waktu yang bersamaan- “Saya bisa di berbagai tempat seketika, karena tak ada batasan waktu bagi saya.” Memang begitulah hakekat malaikat yang berbeda dengan makluk lain yang mengenakan raga. Ketika Sang malaikat menangkap sinyal-sinyal saat terakhir getaran kematian ia mulai mendekat. Malaikat menghibur setia mendengarkan curahan hati mereka yang hendak menemui ajal. Ia menjemput dan menunggu dengan sabar dalam detik-detik kematian yang mendebarkan bagi yang mau beranjak atau yang menyaksikan. Ia tidak memedulikan entah yang dijemput itu orang baik atau jahat, berdosa atau suci. Semua manusia diperlakukan sama baiknya , dihibur, diteguhkan menerima kematiannya. Sebab hal menarik yang ditampilkan adalah adanya pengampunan dan kesempatan yang sama mengulangi lagi apa yang dilakukan seperti yang kita maui, namun berbeda. Bedanya adalah tanpa raga fisis tapi tubuh rohani, kehidupan tanpa raga tapi tetap berhubungan dengan manusia. Pada dasarnya, keadaan tanpa raga ditandai dengan tiadanya ketertikatan akan waktu, juga tempat dan suasana. Karena tiada proses itu, segala sesuatu harus dipahami dengan cara baru. Misalnya masih bisa mengerti tapi tidak bisa merasakan. Singkatnya segala sifat manusia seperti dendam, benci, sudah ditanggalkan bersama raga.
Novel penuh kajian metafisis tentang potret kehidupan akhir manusia setelah beralih dari kehidupan di dunia ini. Kehidupan akhir-situasi eskatologis yang menyenangkan. Membaca novel ini mereka yang sedang takut akan kematian akan menjadi optimis menanti saat kematian menjemput. Kematian itu dialami manusia kapan saja, entah itu mereka yang sudah tua seperti Ibu Tesarini, yang masih muda-muda seperti Ife, atau anak kecil yang masih lugu sekalipun seperti Di. Malaikat hanya menjemput dan menghibur mereka yang akan menemui ajal namun tidak bisa membatalkan kematian. Tapi apa itu kematian sehingga tak ada satu kekuatanpun yang bisa membatalkannya? Siapa yang menentukan saatnya? Sesungguhnya ada satu kekuatan yang berkuasa mengatur kehidupan dan kematian segala makhluk. Kekuatan yang memberi hidup dan merenggutnya kembali. Namun Arswendo tidak sempat menyentil hal ini dan tidak memberi jawaban atasnya seolah kematian diterima begitu saja.
Terelepas dari pertanyaan di atas, ternyata lukisannya novel ini tetap menarik dan sangat mengejutkan. Bahwasannya situasi tanpa raga ternyata indah dan menyenangkan. Walau demikian bukan berarti Arswendo memandang kematian sebagai opsi yang tepat untuk mencapai kenyamanan. Arswendo tidak memenganggap kehidupan di dunia itu buruk dan penuh penderitaan sehingga mendorong orang untuk cepat-cepat mengakhiri hidupnya agar terbebas dari air mata. Kehidupan di dunia yang dihiasi dengan mimpi, perjuanga, tawa, dan air mata juga penuh pesona. Hal ini menunjukkan bahwa segala ciptaan itu baik adanya. Malaikat juga sempat tergoda akan indahnya kehidupan di dunia.
Herman Bau Rua

Tidak ada komentar:

Posting Komentar