Minggu, 06 Februari 2011

Penjilat
Cerpen Ino Sengkoen

Bagaimanapun keadaannya, sampai sekarang aku bangga dengan ayahku. Bagiku, dia tipe pahlawan sejati. Dia ibarat matahari, matahariku. Cahayanya membawa terang yang membantuku menghalau kegelapan yang membentang di hadapanku. Cahayanya memberi kehidupan bagiku, berhadapan dengan masa depan yang masih misteri. Walau matahariku memeram misteri. Kuharap akan terpecahkan.
Malam itu. Di bawah pohon ketapang aku duduk. Di atas kursi bambu kupetikkan gitar, mengiringi alunan suara manis mamaku. Angin malam yang sepoi menampar halus di wajahku. Begitu juga mamaku. Kami gembira dalah kolabarasi, bemusik dan bernyanyi. Seperti di malam-malam sebelumnya, ketika ayah belum pulang dari kerja, sementara kawanan ayam kami sudah nyaman bertengger di atas pohon.
Bunyi motor GL Pro tua menembus mencapai telinggaku. Ayah sudah pulang, batinku. Tak lama lampu motor ayah menyenter aku dan mamaku di bawah pohon ketapang, di atas kursi bambu. Beberapa menit kemudian ayah sudah datang menuju kami. Aku berikan senyuman termanis yang selalu kupersiapkan untuk matahariku ini.
“Hay Panji Kejujuran, serukan kalimat sandi kita...”
Aku dan mama menyambung, kami bertiga sama-sama berseru
“Everythings gonna be alright...”
Begitulah kebiasaan kami. Itulah ungkapan-ungkapan yang familiar bagiku, tanpa kutahu jelas maksudnya. Panji kejujuran. Everythings gonna be alright. Ah persetan.
Kutinggalkan gitarku. Kuraih tangan ayah dan mama, kutuntun mereka menuju ruang makan. Seperti biasa, kami bersantap. Aku, ayah dan mamaku. Hanya kami bertiga di rumah yang lumayan besar ini. aku anak semata wayang mereka. maklumlah kalau aku diperlakukan lebih istimewa.
Kami makan sambil berkelakar. Saling serang dengan ejekan-ejekan kecil mengundang tawa.
Kami masih asyik mengumpat dan tertawa ketika sebuah sms yang baru masuk di hand phone ayah membubarkan semuanya.
“Maaf, rupanya ayah harus absen lagi, ada panggilan mendesak dari bos. Ayah pergi.”
Gesit diraihnya kunci motor. Dalam hitungan detik ayah sudah menghilang. Menembus pekatnya malam dan dinginnya udara. Aku dan mama hanya saling tatap. Kami lanjutkan makan kami.
Ya, kejadian seperti ini sudah biasa kami alami. Bahkan terkadang ketika mata kami sudah terpejam dan jiwa sudah melalang buana di alam mimpi pun ayah tiba-tiba bangun dan pergi meninggalkan kami. Yang pasti, sebelumnya sebuah sms membunyikan hand phone ayah. Sms memang selalu mengganggu ketenangan dan kehangatan. Demikian ungkapku kala pesimis mendera, lantaran sms melahirkan misteri.
Ayah melarang kami untuk menanyakan terlalu jauh tentang dirinya. Pekerjaannya yang selalu menuntut lembur, keadaan dirinya yang terkadang pulang larut malam, dengan memar-memar kecil di wajahnya. Kami tidak boleh bertanya teralu jauh. Jika tidak, matahari itu akan berubah dari penerang menjadi pembakar yang menghanguskan. Aku dan mama tak mau itu terjadi. Biarlah kami nikmati saja kekaburan ini. Matahariku memeram misteri. Kuharap akan terpecahkan.
***
Kisah mimpiku hampir mencapai akhir ketika mama menggoncang tubuhku. Gelap malam mencengkram bumi meninggalkan kesan kelam mendalam. Suara jangkrik beradu dengan lolongan anjing di kejauhan. Angin malam lebih kencang daripada senja tadi. Aku bangun dari tidur. Aku terpaksa. Kulihat wajah mama menampakkan kegelisahan. Garis-garis cemas terukir jelas di gurat wajahnya.
Tanpa banyak kata mama menyodorkan handphonenya padaku. Rupanya ada sms yang perlu kubaca. Yaa, lagi-lagi sms mengganggu, pikirku. Sms ini dari ayah. Isinya begitu hemat. ‘Jl Sudirman no 11’.
Kutatap wajah mama, berusaha mencari tanggapannya. Kupandangi matanya mendalam. Bening. Hening. Kuraih tangan mama setelah kutemukan keyakinan di balik matanya. Kami berdua berlari keluar rumah, bergegas menuju alamat yang sempat ayah sampaikan lewat sms tadi.
Hanya butuh beberapa menit. Kami akhirnya sampai di alamat yang dipesan ayah tadi. Jl Sudirman no 11. Sebuah rumah mewah tanpa pagar apalagi satpam. Aku dan mama bergegas menuju ke dalam rumah, ketika terdengar suara manusia dengan ekspresi berbeda. Yang satu tertawa, yang lain minta belas kasihan.
Mama menarik tanganku. Kami mengintip dari balik jendela kaca rumah itu. aku dapati, adegan yang melahirkan suara-suara ekspresi tadi terjadi di ruang tamu rumah itu. Para tokoh seputar kejadian itu tidak asing bagiku. Bos ayahku dan ayahku sendiri. Bos ayahku yang tertawa, ayahku yang minta belas kasihan. Dan skenarionya, ayahku dihajar bosnya, ibarat saset yang dihajar petinju dalam latihannya.
Aku menatap penuh emosi. Tak terasa air mataku berderai membasahi pipi mungilku, menyusul mama yang sedari tadi sudah lebih dahulu menangis. Aku sadar tak bisa melawan. Usiaku baru 14 tahun, kerangka tubuhku pun masih banyak tersusun dari tulang-tulang rawan. Aku takan bisa melawan. Ayahku saja tampak tidak berdaya, apalagi aku. Sementara mama hanya bisa menagis. Dia terlalu feminin untuk melawan. Berkata kasar saja dia tidak mampu, apalagi bertindak kasar. Jadilah kami berdua penotonton adegan sadis yang membuat hati pedis.
Bos ayahku tampak sedang mabuk miras. Sempoyongan, namun ganas menghajar. Dengan beringas, antara ketidakseimbangan dan tawa bangga dia menghajar ayah. Menendang. Memukul. Meludahi wajah ayah. Menyiram tubuh ayah dengan sisa-sisa miras di botol yang tersimpan di atas meja. Sesekali dengan makian dan cemooh merendahkan. Dia bilang ayahku anjing. Dan anjing patut menerima tendangan, pukulan, makian sebagai balas dari tulang-tulang yang dagingnya telah dilahap rakus oleh tuannya. Entah kenapa. Aku tak tahu.
Aku tersentak ketika ternyata mataku beradu pandang dengan mata ayah. Air mataku semakin deras mengalir mengungkapkan kepedihan. Sementara ayah, di matanya terpancar kepasrahan. Kami saling tatap beberapa detik. Ayah lalu mengayunkan lehernya. Aku dan mama disuruh pulang. Entah kenapa. Aku tak tahu. Namun aku dan mama tetap mengiyakan. Kami pulang ke rumah membawa kepedihan sekaligus kegelisahan, dan misteri yang semakin mendalam. Matahariku memeram misteri. Kuharap akan segera terpecahkan.
***
Ayah akhirnya kembali. Di saat dini untuk hari berikutnya. Aku dan mama berlari menyambutnya di depan rumah. Dia bergegas turun dari motor, berlari menuju aku dan mama. Kami saling mendekap. Tangisan menjadi iringan dekapan kami itu. aku merasakan kehangatan. Persatuan kami melahirkan kehangatan. Barangkali kehangatan inilah bahasa ayah sebagai jawaban implisit ketika aku dan mama bertanya tentang pekerjaannya, keadaannya. Barangkali kehangatan ini yang menguatkan aku dan mama untuk selalu percaya pada misteri ayah.
Ayah merunduk lalu duduk di depanku. Kulihat jelas lembam di wajahnya.
“Kau lihat sendiri apa yang sudah terjadi tadi. Kelak, jangan pernah kau menjadi penjilat. Nanti kau diperlakukan seenaknya oleh tuanmu. Mengerti?”
Aku mengangguk walau aku belum tahu pasti maksud ayah. Yang kutahu hanya sedikit, aku tak boleh jadi penjilat.
Malam ini aku beranikan diri untuk bertanya. Bertanya dalam kepolosan dan keingintahuanku. Berharap semua misteri terpecahkan malam itu.
“Ayah, Panji Kejujuran, Everythings gonna be alright. Apa maksudnya?”
Ayah menatap mataku dalam. Ia berusaha meneropong jiwaku lewat mata mungilku.
“Jangan pakai topeng kemunafikan jika kau tak ingin diperlakukan seperti ayah. Kau harus jadi panji kejujuran. Jangan menipu diri sendiri dan orang lain.”
Ayah lalu memegang kedua bahuku. Menepuk-nepuk dengan tenang.
“Hidup ini keras. Lihat keadaan ayah. Jangan gentar anakku, everythings gonna be alrigth. Jadilah panji kejujuran dan semuanya akan menjadi baik. Masa depan cerah menantimu.”
Aku mengangguk pasti. Sebuah senyum kupancarkan dari wajahku. Ayah dan mama membalas. Ayah lalu mengajak kami masuk ke dalam rumah. Aku raih tangan ayah dan mama. Kami berjalan perlahan. Masing-masing dengan pikirannya.
Bagiku, misteri matahariku telah terpecahkan. Ternyata ayahku seorang penjilat. Ternyata lembam di wajahnya selama ini akibat ulah semena-mena bosnya. Ternyata ayahku tak ingin aku mengikuti jejaknya, dengan mengataiku Panji Kejujuran. Ternyata ayahku ingin aku selalu optimis.
Sampai sekarang aku bangga terhadap ayahku. Matahariku sungguh mengagumkan. Lebih membanggakan lagi, sejak saat itu ayah memutuskan hubungannya dengan bosnya itu.
Ketika matahari mulai menyingsing kembali, ayahku memastikan niatnya mencari pekerjaan baru. Ketika matahari mulai menyingsing kembali, aku janjikan pada ayah dan mama, aku tak mau jadi penjilat!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar