CERPEN CHRISTO NGASI
Inilah warisan yang tak dapat sirna bertaut waktu hidup sang anak manusia. Warisan yang terus dan senantiasa berjalan bersama jalur air hingga tak bermuara. Warisan itulah yang kini turun dalam darah dan jiwa ayah dan kakak pertamaku. Warisan itu adalah seni bagi ayahku namun bagi kakakku warisan itu adalah jiwa dari generasi terdahulu untuk saudara terakhir di jaman moderen ini. Warisan itulah yang kini terpenuhi, warisan yang bermula dari setitik air dari pohon lontar yang terus menetes hingga memenuhi ruas bambu yang telah jamah hingga mampu menampung.
“jadikanlah dirimu generasi yang masih hidup untuk Zaman ini. Jangan memikirkan apa kata orang, jangan takut akan mereka yang ingin menghentikan dan jangan takut untuk menjadi seorang anak kampung“ itulah ungkapan Ndala seorang yang dipandang paling berpengaruh di kampungku. Aku mendengar jelas ungkapannya yang tertuju kepada kakakku. Seketika matanya memandangiku yang sedang mengintipnya dari kisi dinding rumah adat kami.
“Agustinus...jangan bersembunyi. Bau badanmu telah aku cium dari tadi. Kesini nak...panggilnya kepadaku. Berlangkah dengan ketakutan hingga mata tak mampu menatapnya.“Ia Ndala“ jawabku. Ditariknya tanganku, dipangkunya aku dan dibelai rambutku. Sudah merupakan takdir bahwa kamu adalah warisan leluhur yang akan menjadi manusia yang berguna. Ungkap Ndala kepadaku. Aku tersenyum kecil. Sebenarnya ayahmu adalah orang besar namun ia harus menjadi ahli waris dari kampung Asa ini jadi ia tidak bisa meninggalkan kampung ini. Coba Kakek kamu mewariskan dua orang putra seperti kalian sekarang mungkin ayah kamu tidak di kampung ini sebagai raja yang juga berkebun dan berternak. Ndala adalah seorang imam dikampungku yang tidak memiliki istri. Ia hidup selibat dan sungguh menghayati ritual dan tatacara adat kami namun ia juga adalah seorang Katolik yang sangat rajin termasuk juga kami semua di kampung Asa. Ndala menurunkan aku dari panggkuannya dan memberikan berkat dengan air ludahnya di dahiku.“Kamu akan menjadi orang sukses“
Keharuman cengkeh sudah tercium sejak dua minggu ini. Aromanya bahkan sampai ke hidung orang Eropa. Banyak yang berdatangan untuk membeli namun tidak diijinkan sebelum upacara adat dimulai. Keharuman cengkeh emnggambarkan kehidupan kampungku yang penuh sukacita, damai namun perang saudara tetap dijalani bagai lakon dalam komedi kolosal. Domi adalah kakakku. Ia adalah kehidupanku, aktifitasnya setiap hari adalah mengiris buah lontar untuk dijadikan minuman tradisional yang biasa digunakan untuk ritual adat dan juga minuman harian suku Asa. Kami sering menyebutnya “MOKE“. Aku harus berkata jujur bahwa aku bisa bersekolah karena dipaksa oleh Domi kakaku yang harus berhenti dibangku SLTP. Sebenarnya ia ingin melanjutkan sekolahnya namun karena kehidupan kampung kami mendorongnya untuk ikut terlibat dengan adat, hingga pada akhirnya diusianya yang baru remaja ia sudah dijodohkan oleh ayahku dengan seorang gadis perawan dari kampung tetangga. Namun Domi belum mau untuk menikah sekalipun ia menyetujui perjodohan itu. Aku akan menikah jika saudarku sudah selesai sekolah. Ungkap Domi kepada Ndala. Pernikahan dikampungku adalah pesta paling akbar setelah pesta adat yakni pesta panen hasil tanam. Pernikahan di kampungku adalah pernikahan yang sungguh suci karena hubungan yang hanya dipisahkan oleh kematian. Keperawanan bagi perempuan dan keperjakaan bagi laki-laki adalah kunci keutuhan suatu rumah tangga bagaikan pohon cengkeh yang kokoh di lereng bukit.
Ndala merupakan sosok yang paling disegani dikampungku. Sekalipun ayahku adalah seorang anak raja namun ayahku menganggap bahwa kekuasaan bukan padanya. Ia hanya mewarisi nama raja tapi kerajaan tidak ia miliki. Ayahku memiliki filosofi dalam hidupnya yakni ” Jika ingin menjadi penguasa, budak adalah hal pertama yang harus dijalani” prinsip inilah yang ia tanamkan kepada kami.
Kini harum cengkeh itu sudah menjadi uang. Menabung adalah hal yang paling baik ungkap ayahku namun menabung di kampung berbeda dengan orang kota. Bagi kami dikampung menabung berarti meminjamkan uang kepada orang lain dan kelak akn diminta dengan bunga yang cukup besar.
***
Tak terasa Bunga kopi mulai muncul, sebagian pohon sudah menghasilkan buah, kelelawar banyak berterbangan. Hasil tangkapan musangpun banyak didapat. Ah… sungguh indah hidup dikampung. Aku sungguh merasakan alam yang suci tanpa jamahan teknologi. Aku sungguh merasakan dingin yang menyengat kulit. Aku sungguh merasakan minuman tanpa pengawet yang berbahan kimia. Aku rindu untuk minum Moke hasil buatan kakakku Domi. Sungguh waktupun berubah tanpa kesadaranku. Kini aku telah menjadi seorang Mahasiswa pada perguruan tinggi negeri di kota karang ini. Kembali dalam pembaringanku di kost yang berukuran 3X4 aku merenungkan bagaimana jerihpayah orang tuaku dan kakakku Domi yang senantiasa mengirimkan uang bulanan padaku. Airmataku seketika menetas. Aku baru merasakan bagaimana hidup sendiri di kota. Memang disini ada keluarga dari Ibu yang sudah sekian lama hidup di kota karang ini. Namun aku tidak diijinkan olehnya untuk tinggal menumpang, pasalnya kehidupan mereka sekeluarga sangat sengsara. Aku mengerti akan hal itu. Aku putuskan untuk tinggal di kost. Aku tahu banyak orang mengatakan bahwa hidup di kost tidaklah baik namun tidak buat aku. Semua tergantung pada kita. Seketika aku teringat saat musim hujan di bulan januari, aku sering bersama Domi membersihkan kebun dan kemudian membakar pisang dan minum moke bersama. Kami berdua pulang selalu membawa ikan atau udang kali yang kami tangkap untuk dimasak Ibu di rumah namun kini tinggal kenagan. Ibuku telah meninggal delapan tahun lalu karena terserang penyakit yang oleh orang kampung dikatakan kena Leu-leu. Jeripayah Domi dan Perjuanganku di bangku pendidikan sungguh berbeda. Domi mengandalkan tenaga sekalipun otaknya juga lumayan pandai, namun aku mengandalkan otak dengan sedikit tenaga.
“ Mat Pagi Agus. Apa kamu tidak balik ke kampung? Tanya seorang kawanku yang bersebelah kost denganku.“tidak“ jawabku.“Kenapa“ ia bertanya ulang. “Kebutulan aku bulan Februari sudah ujian skripsi jadi sekalian aja setelah wisuda maret baru balik“ jawabku. „Ah yang benar saja...selama ini saya pikir kamu kuliah main-main, padahal su mau ujian skripsi. Selamat ya kawan. Saya kemungkinan besok balik ke Flores, kalau mau titip surat silahkan, maaf eh dikampungkan belum ada sinyal.“ Oke..oke...“ jawabkau sambil tertawa lebar.
Memang hidup ini butuh perjuagan itu kata Khairil Anwar yang menjadi inspirasiku. Teringatlah aku pada bulan februari adalah pernikahan Domi kakakku. Tapi aku sudah memiliki prinsip untuk tidak mengikuti, bukan karena biaya tapi aku ingin fokus pada persiapan ujian yang sehari lebih duluan dari acara pernikahan. Aku ingin memberikan hadiah dengan nilai yang bagus.
22 Februari 2005 aku mempertangungjawabkan hasil penelitianku di depan ketiga dosen penguji. Sungguh perjuanganku tidaklah sia-sia. Nilai A yang menjadi targetku terpenuhi. Ini hadiah untuk kakakku Domi yang menikah besok. Sebulan setelah ujian yakni pada tanggal 26 maret 2005 saya di wisudahkan sebagai seorang serjana Teknik Informatika. Aku sungguh bahagia. Aku membuka surat yang di tulis oleh kakakku yang mengungkapkan isi hatinya. Satu hal yang menarik bagiku yang boleh aku berbagi adalah....isi surat itu.
Adik Agus yang kakak Domi Cinta.
Kami di kampung baik-baik saja, Bapa baik, kakek Ndala juga baik. Hanya Mange yang meninggal karena ditabrak ojek. Kamu juga baik kan???
Adik Agus kakak senang kamu sudah serjana. Kini kakak harus membiayai kamu dan istri kakak Magdalena. Kami susah payah cari uang untuk kamu. Kami harap kamu sekolah yang baik. Kamu perlu tahu bahwa uang kuliah kamu adalah hasil penjualan moke. Adik agus sampai disini dulu. Tolong doa buat bapa yang sudah sakit-sakit.
Dari
Dominikus
Itulah kutipan surat yang sangat sederhana namun kejujuran adalah jiwa dari suara kampung kakakku Domi. Aku putuskan untuk pulang sambil menungguh waktu pemberesan administrasi. Aku kembali dengan kerinduan yang kupendam. Suku Asa jiwaku aku bertemu untuk mengisahkan hidupku. Mereka tak tahu bahwa aku akan kembali. Wajah kampungku sudah dipenuhi dengan rumah permanen dan semi permanen namun rumah yang menjadi ikon tetap berdiri kokoh melebihi kekuatan usia Ndala yang ke 107 tahun. Tak ada orang seperti dulunya. Hanya sebagian remaja dan anak kecil berseragam sekolah. Tampak juga nenek-nenek yang sedang mengunyah sipih pinang. Aku membuka pintu rumahku. Kudapati ayah sedang berbaring, “Selamat siang Ayah” seketika ayah bangun dan memelukku. Ia mencium dan merangkul aku rapat-rapat ia tidak ingin aku pisah darinya. Aku sadar ia sangat merindukanku. Ayahku tampak segar kembali. Ia maju dengan kekuatannya dan memukul gong yang berada di depan rumah suku Asa. Seketika ia kembali memintahku untuk memeluknya sekali lagi.
“Agus kamu tunggu sebentar. Bapak ke kebun untuk mengambil ayam untuk makan malam. Aku ikut...Ayah tersenyum, memberikan aku parang dan ayah memikul bambu tempat ia biasa mengisi moke. Sebelum tiba di kebun Aku bertemu Magdalena istri kakaku. Iapun berlari menjauh dariku memanggil suaminya. Kakak datang dengan kekuatan jiwa menemuiku. Ayah seketika menangkap ayam. Domi datang memelukku dan menciumku. Kami balik menuju rumah, Aku sempat membersihkan kubur Ibu sebelum masuk ke rumah untuk kedua kalinya.
Aku kembali mengalami masa-masaku dulu bersama keluargaku. Aku sungguh gembira. Ndala masih mengigatku. Sekalipun matanya kabur namun bau badanku masih ia cium, bahkan saat aku masih berada di bandara Waioti maumere ia sudah mengetahui bahwa aku datang. Aku percaya akan hal itu. Ndala memberikanku sebuah gelang dari akar tanaman laut. Warnanya putih menyerupai gading. Kata Ndala gelang ini melindungimu selalu. Aku merasa Heran kenapa tanaman laut bisa ada padanya padahal kampungku berada di gunung jauh dari laut. Ndala langsung berucap ini adalah rahasia dari jamanku untukmu. Sadis juga kata-kata adatnya.
Tak terasa waktu berjalan, aku kembali untuk melanjutkan studyku. Aku bersyukur berkat yang di berikan kepadaku terwujud. Aku mendapat behasiswa untuk melanjutkan study S2ku di Irlandia. Waktu memaksakanku untuk segera mengikuti kursus bahasa inggris di Jakarta selama enam bulan. Aku hanya bisa mengirim surat meminta restu dari ayah kakak dan semua orang di kampung Asa termasuk Ndala. Aku mungkin akan menjawab apa yang dikatakan Ndala tentangku.“Kamu akan menjadi orang berhasil“. Namun sampai aku study di Irlandia dan melanjutkan program Doktoralku hanya satu kabar yang aku dapatkan dari temanku seorang Larantuka yang mengungkapkan bahwa kakakku Domi sudah memiliki seorang putri namanya Laura. Aku sangat senang. Namun Mayorga salah satu temanku mengungkapkan bahwa kampungku juga telah menghasilkan banyak anggota dewan namun penduduk masih mengemis listrik sama dengan kampungku. Aku tersenyum dan berucap “ini tugas kita untuk memenuhi“ Aku menyadari bahwa aku disekolahkan karena hasil penjualan moke. Namun moke adalah jiwa dari suku Asa yang tak akan pernah untuk musnah. Moke akan berakhir jika jiwa manusia juga berakhir.
***
Diakhir kisahku ini. Hanya satu hal yang aku ingin katakan. Aku bisa begini karena moke. Aku harapkan pemerintah bisa melihat ini semua sebagai kearifan lokal yang perlu ditonjolkan dari nusa bunga Flores. Moke harus dijadikan minuman yang berlabel. Itu harus!!! supaya nyata apa yang dicanankan. ungkapku dalam satu seminar baru-baru ini.
Kampung Asa adalah kampung yang terletak di perbukitan Nangapanda menuju pantai utara Maukaro. Kampung yang sudah musna namun manusianya sudah menghuni di sekitar jalan Negara.
Kelompok sastra
seminari tinggi santo Mikhael.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar