DILEMA NARAPIDANA
(Sebuah Drama Tragedi)
Fr. Januario Gonzaga
Prolog:
Di penjara Korintus yang terkenal keji terdapat empat orang narapidana (napi) yang pada sebuah malam dingin dihasut untuk melarikan diri. Mereka ini dikurung oleh karena mencuri, berkelahi, memfitnah dan mabuk. Alasan-alasan itu lambat laun membentuk pikiran mereka tentang apa itu penjara. Bagi Paulus, penjara merupakan tempat paling baik yang pernah disinggahinya. Sebab di penjara itulah dia menemukan orang-orang yang lebih mencintainya dibandingkan dengan yang selalu membencinya di luar sana. Penjara juga disukai oleh Petrus karena di luar sana lebih berat biaya hidup. Katanya, di penjara biarpun makanan tidak bergizi, ia tetap mendapat jatah tiga kali sehari ditambah lagi dengan bebas memasak. Orang ketiga bernama Filipus melihat penjara sebagai tempat yang baik untuk menghindari cemoohan dan cap buruk dari orang di luar sana. Menurutnya, kalaupun ia mau menyogok sipir penjara, ia sudah lama keluar. Namun sama saja sampai di sana masyarakat bahkan keluarganya sendiri tidak pernah melupakan kesalahannya dulu. Orang keempat bernama Andreas, menilai penjara sebagai tempat yang tepat untuk menciptakan efek jera bagi perilakunya yang kurang ajar. Sering di dalam penjara ia berdoa bahkan bersyukur atas situasi ini yang akan membuatnya bertobat dari kekurangajarannya. Jadi, keempat narapidana tersebut berbeda dalam memahami penjara. Namun sekalipun berbeda, mereka umumnya menyukai penjara dan merasa nyaman menetap di Korintus. Karena perbedaan inilah yang kerapkali membuat rencana Yudas menjadi gagal terus-menerus. Yudas telah matang-matang ingin menghasut keempat temannya itu untuk kabur dari Korintus. Alasan paling ekstrim dari Yudas ialah penjara itu sebuah tempat paling tidak manusiawi bagi orang-orang seperti mereka. Mereka harus dibebaskan dari penjara ini sebab kesalahan mereka tidak sebanding dengan hukuman dan metode hukuman ini. Penjara Korintus menerapkan siksaan orientasi bagi napi yang baru masuk. Setelah beberapa bukan siksaan berlanjut lagi, kali ini dilakukan oleh para sipir penjara. Kengerian paling besar yang dirasakan oleh Yudas ialah hukuman yang tidak adil antara seorang pencuri dan seorang koruptor. Ditambah kengerian yang tak kalah besarnya ialah siksaan di ruang isolasi. Nah, bagi keempat napi yang menjadi sasaran penghasutan Yudas ini, kejelekan Penjara Korintus tidak sekali-dua kali mereka alami, tetapi hamper setiap hari. Karena itu, Yudas dengan segala kepintarannya mematangkan rencana dan strategi ini. Untuk keempat napi ini sudah sangat baik dikenal oleh Yudas. Mereka itu pemberani.
Korintus lambat laun membuat para napinya merasa betah dan tidak mempunyai kebebasan untuk mengatakan bahwa mereka harus keluar dari tempat ini. Di sini solidaritas telah terbina dengan baik dan segala siksaan, kungkungan, ruang isolasi, makanan basi, perkelahian, justru dirasa bagus untuk kebersamaan mereka. Berbarengan dengan itu, cap dan konsep dari luar terali penjara Korintus makin hari makin membuat mereka takut untuk kembali kepada kehidupan yang normal. Dan terciptalah konsep ini bahwa penjara adalah tempat orang-orang waras menjadi gila dan orang-orang gila menjadi waras.
BABAK I
Adegan I
Setting: Ruang Makan di Penjara Korintus
(Layar dibuka. Menampilkan tujuh orang pelakon dan sepuluh figuran: Sipir 1, Sipir2, Sipir 3, Petrus, Kanis, Dami dan Lukas. Suasana penjara Korintus saat makan siang. Sepuluh napi antri dalam barisan panjang dengan percakapan dan gerakan yang ganjil-ganjil. Kecuali salah seorang yang diam-diam memegang piringnya lalu menuju ke Sipir pembagi makanan yang terus meneriaki dengan kasar nomor urut dan nomor sel tiap-tiap napi).
Sipir 1: “Semuanya tetap dalam barisan. Kurang ajar!” (Seorang Sipir yang lain berjalan sambil memukul para napi yang tidak teratur di barisan)
Seorang napi yang berbadan besar memicingkan matanya yang merah pada sipir. Dia ini napi besar dan paling lama di penjara sehingga dijuluki Na’o alias Napi Opa. Dia juga dikenal sebagai tukang pukul dengan bobot fisik paling besar dan ditakuti oleh banyak napi lain. Anggotanya ada tiga orang. Kelompok mereka dikenal dengan nama Geng Armagedon. Ketiga anggotanya dengan sinis ikut menertawai sipir yang memukuli mereka
Sipir 2: “Hei kalian tuli ya. Cepat masuk dalam barisan” (sipir terus mencambuki mereka dengan rotan berlapis karet hitam)
Sebuah kelompok yang lain yang juga tidak tertib seenaknya mengobrol di luar barisan sambil saling sikut-menyikut. Pimpinan mereka namanya Petrus. Geng mereka terdiri dari tiga orang anggota dengan julukan Geng Pekadalu, nama yang diambil dari huruf pertama dan kedua masing-masing mereka; Petrus, Kanis, Dami dan Lukas.
Petrus: “Rupanya kita akan lebih kenyang dengan maki-makian” (gaya meyakinkan)
Kanis: “Terserah saja. Asalkan sup katak dan nasi jagung bisa masuk ke dalam mulutku”.
Dami: “Kau sama seperti babi rakus saja. Tidak punya harga diri sama sekali”. (menyindir)
Kanis: “Apa? Kau bilang saya tidak punya harga diri? Kau sendiri di penjara karena mencuri uang mertuamu itu. Lalu masih kau bilang aku tidak punya harga diri. Dasar pencuri kau. Kau yang tidak punya harga diri. Memalukan sekali” (tertawa kecil seperti mengejek)
Lukas: “Jangan sembarangan kau mengatai dia kawan. Dia itu orang yang disegani di sini, bukan seperti kau yang suka membuat onar dan dibenci petugas”. (menunjuk pada Kanis)
Kanis: “Alaaaah…kalian sama saja. Di sini bukan tempat kita menunjukkan wibawa dan sok suci. Kita sama-sama najis. Najis. Noda. Dosa” (berbicara dengan membalikkan badan)
Dami: “Rupanya kau masih ingat dengan dosa juga ya”. (menatap punggung Kanis)
Kanis: “Aku tidak ingat dosa. Dosa itu milik kalian yang menjadi teladan di penjara buruk ini”.
Petrus: “Kau menuduh aku juga?” (menunjuk Kanis dengan berangnya sambil menyikut Kanis)
Kanis: “Memang kita semua” (terjadilah perkelahian antara Petrus dengan Kanis. Sebagai anak buah, Kanis pastilah kalah. Tetapi untuk napi, kekalahan tidak serta merta tanpa perkelahian. Perkelahian itu pemandangan yang wajar dan sewajarnya apabila seseorang akan kalah atau akan menang. Jadi jalannya, ya melalui perkelahian. Kali ini Kanis tak berdaya sebab semua teman yang merasa jengkel ikut menggebuknya)
Sipir 3: “Hei tolol!. Berhenti! Lagi-lagi kalian. Memang dasar bodoh! (sambil menghantamkan cambuk ke badan mereka). Kalian akan saya bawa ke ruang isolasi. Dasar pembuat onar. Untuk siang ini kalian tidak boleh mendapat jatah makan. Kalian hanya akan diberi minum segelas air pada jam tiga nanti. Dan pada jam lima baru kalian mendapatkan sepotong roti. Itu saja. (Sipir setengah berteriak dengan muka berang. Mereka digiring menuju ruang isolasi)
Kegilaan itu ditatap dengan syahdu oleh Yudas, si napi berpenampilan keren yang lebih banyak berdiam diri dan karena ulah laku itulah sering timbul syak prasangka di antara napi-napi yang lain perihal gerangan orang ini.
(layar ditutup)
Adegan II
Setting: Ruang Isolasi.
(Layar dibuka. Lampu dipadamkan. Menampilkan lima orang pelakon: Lukas, Dami, Kanis, Sipir 4 dan Petrus. Suasana ruang isolasi gelap, hening dan di sana-sini bunyi kecoak beserta bau tikus mati. Semua mereka diam. Kanis tertunduk sambil mengomel-ngomel tak jelas. Yang lainnya dengan mata benci menatap dia samar-samar. Sedangkan Petrus berjalan lalu lalang tidak menentu di dalam kamar isolasi yang hanya ditembusi seberkas cahaya matahari dari arah lubang seng persis di sudut kiri).
Lukas: “Sudah jam berapa sekarang?”
Dami : “Dasar bodoh. Tebak sendiri jam berapa sekarang”.
Sipir 4: “Ini makanan kalian” (Sipir melemparkan roti ke dalam ruang isolasi. Mereka memungutnya. Ada yang jatuh di atas air. Ada yang sudah busuk. Tapi tetap harus dimakan).
Kanis: “Demi hidup kita harus makan" (setelah memegang roti dan mencium aroma roti yang bau lalu mulai makan)
Dami: “Bodoh kalau kau mengatakan roti ini demi hidup. Di sini tidak ada roti demi hidup. Tetapi demi mati. Kita diberi makan untuk mati bukan untuk hidup”.
Petrus: “Kalian berdua sama bodohnya. Kita tidak makan untuk memilih hidup atau mati. Kecuali orang-orang di luar sana yang karena kebodohannya berpikir bahwa mereka makan untuk hidup? Justru semakin banyak mereka mengatakan demikian, semakin cepat kereta kematian menjemput mereka. Sementara kita? Kita sudah terbiasa dengan makanan ini. Dan mungkin kematian sudah bosan mengunjungi kita. Maka itu makanlah tanpa berpikir apapun.
Lukas: “Ayo kita makan sebelum tikus-tikus merampasnya” (mereka melahap tanpa bicara)
(layar ditutup)
Adegan III
Setting: Kamar Sel 003.
(Layar dibuka. Menampilkan tujuh orang pelakon dan sepuluh figuran: Yudas, Paulus, Petrus, Lukas, Kanis, Ansel dan Sipir 4. Suasana di kamar sel lengkap dengan perabotnya, antara lain, tikar, meja kayu, kamar mandi, termos air, handuk dan beberapa gayung di dalam ember hitam)
Yudas: “Katanya kasusmu akan segera disidangkan”.
Paulus: “Saya tidak memikirkan semua itu lagi. Saya tidak berminat pada persidangan”.
Yudas: “Kenapa kau tidak bersyukur kalau ada pengacara hebat yang menangani kasusmu”.
Paulus: “Di luar sana kehebatan bukan karena mereka manusia tetapi karena mereka mampu bertindak seperti binatang buas yang suka menerkam. Itu yang dikatakan hebat”.
Yudas: “Tapi paling kurang kau bisa kembali kepada keluargamu setelah dua puluh dua tahun meninggalkan mereka. Mereka sudah sangat merindukanmu”.
Paulus: “Apa? Keluarga? Itu ide gila. Keluargaku di sini. Tidak ada orang di luar sana yang masih ingat padaku. Kau lihat sendiri, berapa kali mereka mengunjungiku? Mereka sudah bosan. Biarkan saja mereka. Saya juga sudah lupa”.
Yudas: “Kau berkeluarga dengan sesama napi yang berperkara mulai dari pemerkosaan hingga mencuri ayam? (Ekspresi tak percaya)
Paulus: “Jangan kau remehkan mereka”. (sambil mengacungkan jari telunjuknya)
Petrus: “Hahaha…kau lagi. (sontak Petrus menghampiri mereka dan ikut berbincang dengan nada sindir). Kau ini seperti bandit bodoh yang dibungkus dalam peti kayu. Ide gilamu itu takkan kami terima. Sudah bosan kami pada nasihat orang tentang hidup yang bebas di luar sana. Di sini lebih baik. Rumah kami sendiri. Jadi ingat kau! Ini sel bukan meja perundingan”. (nada mengancam sambil memukul permukaan meja)
Lukas: “Kau rupanya tidak ingin bersahabat dengan orang-orang di sini ya”
Kanis: “Seharusnya kita berikan orientasi yang lebih tinggi levelnya supaya dia tahu aturan kita” (sambil menganggukan kepala Kanis seperti berunding dengan bosnya, Petrus)
Yudas: “Saya tidak perlu aturan dari kalian. Sudah cukup aturan di sini membuat saya muak dan jijik”. (menjawab dengan lantang dan membuat napi-napi yang lain terbahak-bahak).
Petrus: “Rupanya kau orang yang selalu membacakan Injil saat upacara kebaktian di aula itu. Kawan, kau menelanjangi dirimu sendiri di hadapan Tuhanmu”. (sambil menepuk bahu Yudas)
Yudas: “Kalian akan selamanya menjadi orang gila kalau berpikir begini terus”. (Yudas bersitegang dengan muka serius)
Paulus: “Jadi kau anggap dirimu waras? (tertawa sekeras-kerasnya disambut napi-napi lain). Uhmmm…(sedang berpikir dan sekonyong semua sudah kebali hening). Hari minggu kemarin kalau tidak salah, kau membaca tentang tahun rahmat Tuhan telah tiba dan pembebasan bagi para tawanan, bukan? Pastu itu dia inspirasimu untuk meluluskan ide gila itu? Kau membacakannya persisi di penjara yang umatnya adalah para tawanan? Ajaib!” (tepuk tangan)
Yudas: “Itu bukan ide gila kawan. Aturan di sini sungguh tidak manusiawi. Jangan anggap rumah ini nyaman untuk kita. Kita harus bergegas keluar dari sini sebelum mati perlahan-lahan”
Paulus: “Lihat teman-teman. Dia bilang kita akan mati. Kau bodoh!” (tangan Paulus menyikut Yudas serupa hendak berkelahi)
Napi: “Mainkan dia…” (napi-napi berteriak memanas-manasi sambil memukul meja dan tembok)
Sipir 4: “Hei berhenti bangsat! Ayo semua menuju tempat kerja. Di sini tidak ada wartawan yang tertarik pada cerita bodoh kalian”. (Sipir masuk dan memukul-mukul tiang tempat tidur dan menimbulkan irama pada telinga)
Paulus: “Cepat ambilkan minum”. (Perintah Paulus pada Ansel, anak buahnya)
Petrus: “Kalian masih punya barang itu. Bagi sedikit untuk kami. (Petrus berserta teman-temannya mendapat beberapa butir pil berwarna hitam) Ayo diminum! (mencampurkan pil ke dalam sejenis minuman arak dan bersulang)
(layar ditutup)
….bersambung…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar