Minggu, 06 Februari 2011

SURAT UNTUK NATILIA

Cerpen CHRISTO NGASI

Sebelum matahari muncul dari belakang fajar, bunyi lonceng pertanda bahwa aku harus beranjak dari tidurku dibunyikan oleh seorang yang dipercayakan untuk mengawasi kami para tahanan. Aku menyempatkan diriku untuk memandang sebuah salib yang kupasang pada tembok berukuran 2x3 meter. Dari salib itulah aku mendapat kekuatan baru. Meskipun dalam penjara, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk dapat bertemu fajar pagi nan indah.
Bersama kedua temanku Aris dan Jack yang juga mendekam dalam tahanan ini, aku bergegas membereskan tempat tidurku dan mengenakan seragam penjara berwarnah hijau dengan tulisan tertera pada dada kiriku bernomor 135A. Nomor ini adalah nomor ganjil yang dikenakan kepadaku yang adalah nomor dengan tingkatan kejahatan. Sangat wajarlah bagiku untuk menempati ruangan pada blok A. Kalau saja ada yang pernah mendekam ditahanan yang sama pasti mengetahui para tahanan blok A. Aku juga melihat banyak pejabat yang mendekam di lembaga yang sama hanya berbeda blok denganku bahkan ada juga orang yang di dalam masyarakat dikenal sebagai panutan justru masuk dalam lembaga permasyarakatan ini dengan kasus pencabulan anak dibawah umur. Sungguh menyedihkan.
Aku bersama teman yang lainnya keluar dari sel tahanan itu. Tanpa alas kaki, kami melewati rerumputan yang berembun. Sungguh rasanya dingin menyegat kulit kakiku yang masih lemah termakan tidur. Kami semua harus berbaris dalam keadaan rapi meskipun kami masih mengantuk tapi itulah seorang tahanan.
“Semuanya sudah siap?” tanya seorang petugas
“Sudah siap pak” serentak kami menjawab dengan suara tenggelam
“kenapa suara kalian tidak ada yang keluar. Apa ada yang sumbat... Babi semua!!! Semuanya sudah siap! Kembali ia mengulang pertanyaannya.
“Sudah Pak”suara keras keluar bercampur emosi atas perkataanya kapada kami.
Kami disuruh berhitung secara bergiliran. Sala seorang tahanan tidak mengikuti barisan. Aku disuruh untuk mencari tahu dan ternyata benar seorang tahanan yang bersebelahan kamar denganku yakni Pak Yono tidak ikut berbaris karena sakit. Pak Yono adalah tahanan dari blok B yang dipindahkan ke Blok A dikarenakan blok B telah penuh dengan para tahanan dalam kasus yang sama yakni Korupsi. Salah seorang petugas menyusul mengikutiku dan melihat keadaan Pak Yono.
“Hoe kamu sakit apa ha???”tanya dengan suara keras
“sakit kepala”Jawab pak Yono dengan kesakitan
“Oh sakit kepala??? Semua tahanan diluar sana juga sakit kepala. Tidak ada yang istimewa disini. “Cepat bangun dan ikut barisan.”
Pagi itu kami diabsen satu persatu sesuai blok yang kami tempati. Sambil menunggu makan pagi kami membersihkan taman di tengah LAPAS itu. aku memandang mawar merah yang baru bermekaran. Aku dekati dan mencium keharuman mawar itu. Teringatlah aku akna rumahku dimana mawar merah berjejer di taman. Keharuman mawar yang sama dengan harum parfum milik istriku Elma. Apalagi puteriku Natalia yang adalah puteri satu satunya yang Tuhan anugerahkan padaku. Orang pasti bertanya mengapa aku harus masuk penjara. Aku sadari ini adalah masalah dalam rumah tanggaku yang berujung pada perceraian. Masalahnya cukup sepele tapi menjurus pada perselingkuhan yang aku sendiri baru ketahui ketika membaca SMS yang tertulis pada hand phone milik isteriku. Hubungan yang tertutup dan tersusun rapi hingga enam bulan berlalu dan aku baru tahu. Sebenarnya aku tidak sampai hati untuk memukul isteriku ketika ia meminta aku untuk segera menceraikannya tetapi sebagai seorang suami aku terlalu marah dan akibatnya harus mendekam di jeruji besi. Ini adalah kisahku yang hampir mirip dengan Aris dan Jack. Aris dinyatakan bersalah karena menghamili isteri seorang pejabat, sedangkan Jack karena kasus pengedaran narkoba.
Keharuman mawar itu terus mengingatkan aku akan memori lama yang masih tersimpan rapi dalam album pernikahan.
Malam datang menyelimuti tidurku. Aku sadar dan mengambil foto nikahku. Saat itu Natalia belum hadir ditengah aku dan Elma isteriku. Aku memandang foto Natalia, gadis kecilku yang hanya mendapat separuh kasih sayang dariku. Meskipun tertunda aku berjanji untuk senantiasa membahagiakannya.

* * *

Tiga tahun sudah aku mendekam di lembaga ini. Sebentar lagi tahun berganti dan menyisahkan waktu setahun untuk aku menghirup udara segar. Selama aku mendekam di penjara ini baru tetangga, orang tua serta kawan-kawanku yang menjenguk aku. Sedangkan Elma dan Natalia anakku tak kunjung datang. Aku terus merindukan mereka untuk terus ada bersamaku walau hanya semenit, tapi itu waktu yang terlalu lama juga untukku. Aku ingin mengucapakan selamat ulang tahun dan selamat hari Natal kepada mereka berdua. Tetapi ucapanku tertunda untuk sementara waktu.
Aku membayangkan kalau mereka yang diluar sana bisa merasakan seperti yang aku rasakan di dalam penjara. Betapa sakit kalau aku katakan, tapi apalah mereka hanyalah manusia biasa yang kurang peka terhadap orang semacam kami yang harus merasakan hukuman yang setimpal akibat kesalahan. Tapi aku senantiasa berkata kepada Aris dan Jack bahwa kelak kita akan menerima surga abadi akibat salah kita ini. Hanya sekedar motivasi supaya mereka kuat dalam cobaan ini. Hanya tangis penyesalan yang dapat menggambarkan hati mereka untuk bertobat kembali kepada Tuhan. Mereka sungguh menyesal dan ingin bangkit dari kesalahan untuk mengubahnaya di hari esok. Namun satu ungkapan yang begitu bermakna yang aku petik dari ungkapan Aris. “Apakah kita sadar ketika kita berada disini?” Ungkapan ini terus aku refleksikan selama dalam tahan.

* * *

Sekitar tiga tahanan telah dibebas dari penjara. Rasanya ingin cepat keluar, namun harus bertahan dengan sisa waktu. Terdengar di telingaku di balik tembok kamar penjaraku. Suara nyanyian yang bersumber dari tape recorder milik seorang penjaga penjara. Nyanyian Natal yang memecahkan kesunyian malam. Aku kembali berbaring dan mebayangkan Natalia puteri semata wayang yang lahir di bulan Desember tahun 2000. Aku meneteskan air mata dan merasa sedih karena aku sungguh terasing seakan berada di padang belantara. Aku serasa tak ada kekuatan lagi, pupus ditelan sang dosa. Hatiku hancur merasa memiliki tanggung jawab ketika suara tajam seorang gadis kecil membacakan puisi si tengah lirik lagu Natal itu. Puisi ungkapan hati rindu akan kampung halaman dan keluarga. Sungguh sakit.
Aku menghadirkan suasana Natal dalam kamarku. Sebatang lilin sudahlah cukup sebagai penerang hatiku. Aku berdoa dan mengucapkan syukur atas kasih Tuhan kepadaku. Aku mengambil sehelai kertas putih tak bernoda dan menuliskan ungkapan selamat hari Natal buat gadisku Natalia Anastasia. Dengan satu harapan aku pun menulis ucapan selamat buat anak tercinta Natalia. Nantikan ayah setahun lagi ayah akan mendapatkan kamu di usia yang ketujuh. Dalam kartu Natal itu aku berjanji bahwa aku akan hadir dalam acara ulang tahunnya. Tahun pun berganti tak sadar bahwa aku akan segera dibebaskan dari penjara akibat kekerasan dalam rumah tangga. Aku dipanggil petugas bersama kelima tahanan lainnya yang salah satunya adalah Aris. Wajah kami berseri-seri, merasa senang karena tinggal sebulan lagi kami akan menghirup udara segar tepat pada tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan RI kami pun dibebaskan. Dari kelima tahan itu hanya aku yang tidak dijemput oleh keluarga. Aku tahu bahwa keluarga hari ini tak mengetahui kalau aku dibebaskan dari penjara.
Aku kembali sedang Ibu serta Ayahku sedang menantiku di depan teras rumah. Aku tak menyangka mereka tahu bahwa hari ini aku dibebaskan. Aku sadari bahwa keluargaku pasti malu memiliki anak sepertiku yang mengotorkan nama baik keluarga. Aku bahagia dapat kembali berkumpul bersama keluargaku namun betapa sedihnya aku ketika mengetahui istriku Elma dan anakku Natalia telah pergi tanpa diketahui kemana arah mereka.
Aku bebas tapi tak sebebas sepenuhnya. Kerinduanku untuk bertemu Istri dan Anakku menjadi kenangan yang mungkin akan terjawab setelah mereka kembali nanti. Bulan berlalu dan aku tetap menanti mereka. Satu keputusan salah telah aku ambil dengan menjual rumah yang pernah aku bangun untuk keluargaku. Harapanku pupus. Menanti dan menanti tanpa ada satu berita yang memberiku harapan. Aku ingin mencari namun tak tahu harus dimana. Aku mencoba menghubungi nomor hand phone milik Elma namun tak pernah tersambungkan. Aku ingat bahwa aku pernah mengirimkan kartu natal buat Natalia dan aku yakin mereka telah membacanya karena saat Elma dan putriku Natalia masih menghuni rumah tempat dimana kami membina rumah tangga kami. Aku ingin melupakan tapi tak bisa akhirnya dengan kekuatan tersisa aku mengambil album kenangan saat pesta pernikahanku. Aku membalik dan menemukan satu bait puisi yang ditulis oleh Elma istriku yang berbunyi;
Diamlah hatiku tetaplah diam sampai pagi.
Siapa yang menanti pagi dengan kesabaran
Akan menemukan pagi dengan keceriaan.
Diamlah hatiku aku ingin bicara.
Maafkan atas kesalahanku.
Istrimu Elma.
Mengapa aku harus menemukan kata ini. Aku serasa ingin mati ditelan cobaan ini. Aku mengambil secarik kertas dan menulis buat anakku Natalia “ Maafkan Ayah Natalia anakku karena ayah tak dapat bersamamu saat kebahagianamu dihari natal dan saat usiamu bertambah. Maafkan Ayah”. Kartu itupun kulanyangkan bersama arus lautan dibulan Oktober. Aku tetap menantikanmu istri dan Anakku.

Saint Michael December 2007
Untuk yang menanti tulisan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar