Minggu, 06 Februari 2011

Essay
BERANI UNTUK MELEPAS:
BELAJAR DARI The Alchemist-NYA PAULO COELHO
Johannes Tnomel
Mungkin dimata para pencinta Paulo Coelho saya terkategori sebagai orang yang ketinggalan kereta karena baru membaca di Tahun 2011, apalagi jika saya secara jujur mengatakan edisi yang saya baca ialah edisi bahasa Indonesia cetakan ke-9. Jelas sangat terlambat, karena Alkhemist sudah diterbitkan sejak tahun 1988. Tapi untuk saya, ini bukan menjadi problem, yang terpenting ialah pemaknaan terhadap Novel dan terutama aplikasinya untuk hidup.

Pengantar
Saya sendiri sudah mendengar Paulo Coelho ketika duduk di bangku sekolah menengah. Saat itu terjadi boomimng novel Dealova, teman saya justru bercerita tentang novel hebat yang dikarang oleh penulis Brasil. Teman saya menyarankan supaya saya membelinya, namun karena tidak memiliki obsesi yang kuat serta kondisi kantong yang kurang mendukung saya tidak sempat memiliki inovel tersebut.
Baru pada tahun-tahun terakhir masa kuliah, saya mendapat novel-novel karangan Paulo Coelho, makanya saya mendapat banyak kesempatan untuk membaca karya-karya Paulo Coelho.
Sampai saat ini saya telah membaca beberapa novel antara lain Fifth Mountain, novel yang membuat saya harus membongkar-bangkir Alkitab terutama kisah nabi Elia dan dan yang berikutnya Di Tepi Sungai Piedra, yang terakhir ini memang sangat bersentuhan langsung dengan status hidupku sebagai calon imam.
Pencinta Paulo Coelho pasti sepakat bahwa saat yang tepat untuk membaca Novel-novelnya ialah saat hening, ketika suasana dalam keadaan tenang. Tanpa keheningan, rasanya sulit sekali memahami atau terutama menangkap makna dari apa yang diceritakan. Saya membaca Paulo Coelho saat sedang mengikuti retret tahunan. Novel Alkhemist menjadi novel yang saya pilih menemani ret-ret saya lantaran kekuatan refleksi yang melekat dalam kata, kalimat juga keseluruhan alur novel ini. Tulisan ini merupakan buah refleksi yang lahir dari masa silentium magnum tersebut.
Pelepasan
Dalam Alkhemist, Paulo Coelho bercerita tentang seorang bocah bernama Santiago yang melakukan perjalanan mencari harta karunnya. Harta karun itu bermula dari mimpi yang kemudian membawa Santiago pada peziarahan yang panjang hingga mempertemukan dia dengan sang Alkhemist.
Paulo Coelho menggambarkan Alkhemist dalam tiga latar. Berbeda. Latar pertama saat Santiago masih menjadi seorang gembala domba di padang Andalusia, latar kedua saat Santiago berada di Tangear sebuah daerah di Tanah Afrika dan yang terakhir ialah saat di Santiago berada di padang gurun menuju Mesir tempat di mana Piramid serta harta karun itu berada berada. Tiga latar disatukan oleh satu yang khas yakni pelepasasan oleh Santiago. Pelepasan selalu muncul tatkala Santiago memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya.
Pelepasan pertama dilakukan oleh Santiago saat ia bertekad mengikuti mimpi untuk mencari harta karun. Santiago memilih untuk menjual semua domba-dombanya dan memulai perjalanannnya. Pelepasan ini membuat Santiago tentu tidak saja kehilangan domba tapi juga kehilangan kebahagiaan, rutinitas bahkan mimpinya. Santiago berkata bahwa ia mengalami mimpinya setiap hari bersama domba-dombanya.
Pelepasan kedua dibuat oleh Santiago ketika ia telah menjadi pedagang Kristal yang kaya di Tanah Tangier, Afrika. Santiago tentu bisa saja memilih tinggal terus di Tangier dan meninggalkan mimpinya untuk menemukan harta karun. Tapi ini justru tidak dipilih Santiago, Santiago memilih melepaskan semuanya dan melanjutkan perjalanannya mencari harta karun. Pada saat ini sebenarnya Santiago telah memilih untuk meninggalkan kemapananan karena keadaanya sebagai seorang pedagang Kristal jauh melebiihi keadaannya sebagai penggembala domba.
Pelepasan yang paling berharga dilakukan Santiago ketika ia meninggalkan Fatima, gadis yang dikenalnya di padang gurun yang telah mengikat hatinya. Sama seperti saat ia berstatus sebagai seorang pedagang Kristal, Santiago bisa saja dapat tinggal tetap bersama Fatima karena ia sudah dianggap layak oleh anggota suku, apalagi dengan keajaiban yang dibuatnya. Tapi Santiago memilih lain. Ia mengikuti Alkhemist mencari Harta karun yang hadir dalam mimpinya.
Apakah akhirnya Santiago menemukan harta karunnya?
Ya Ia menemukannya tapi bukan di Mesir, ia justru menemukannnya di desanya sendiri, di sebuah Gereja kecil yang di dalamnya terdapat pohon Sycamore. Gereja ini berada di padang Andalusia, tempat Santiago menggembalakan domba-dombanya. Lalu apakah ia menyesal? Ternyata tidak, justru Santiago bersyukur telah melakukan perjalanan tersebut. Santiago menemukan bahwa Harta karun yang jauh lebih berharga daripada itu ialah perjalanannya mencari harta karun tersebut. Perjalanan itu telah mempertemukannya dengan banyak orang, dengan banyak situasi, dan dengan banyak pilihan hidup.
Seandainya Santiago memilih untuk tidak mencari Harta karun tersebut pasti ia tidak akan pernah menjadi seorang pedang Kristal atau bertemu dengan Fatima gadis yang membuatnya tergila-gila juga dengan Alkhemist sahabat yang membuatnya mengerti tentang hidup. Semuanya jauh lebih penting dari pada keping-keping uang emas, topeng-topeng emas berhiaskan bulu-bulu merah dan putih, serta patung-patung bertatahkan permata yang ditemukannya di dalam gereja tua itu. Tentu saja sesuatu yang terpenting juga bahwa semuanya hanya mungkin ketika bocah Santiago berani untuk melepaskan dan mengejar apa yang diimpikannya.
Siapa Berani?
Alkhemist mengajak setiap orang agar berani untuk melepaskan segala hal demi sesuatu yang lebih tinggi. Pertanyaan mendasar ialah beranikah kita untuk melepas?
Kekayaan sangat sulit dilepas, hawa nafsu sangat sulit ditinggalkan, hobi pun demikian dan masih banyak hal lain yang mengikat kita mulai dari tanah sampai langit, dari bangun pagi sampai tidur malam, dari lahir sampai menjelang mati.
Dunia memang membentuk kita dengan ikatan-ikatan yang sukar untuk dilepaskan, apalagi bila ikatan tersebut membawa kenikmatan. Alkhemist memberikan satu cara pandang baru bahwa hidup yang berkualitas adalah hidup dengan berani melepaskan untuk mendapatkan satu hal tertinggi, sesuatu yang memberikan jaminan untuk hidup saya kini dan kelak. Apakah sesuatu itu? Kita bisa menjawabnya sendiri-sendiri yang jelas pesan sang Alkhemist “ketika kita mau untuk melakukan sesuatu termasuk mengejar yang tertingi itu seluruh jagat raya akan membantu kita. So beranikah kita untuk melepas?
Di penghujung ret-ret, Januari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar