Cerpen Deodatus D Parera
Aku masih saja berdiri di antara pepohonan cemara. Walaupun tubuhku terselimut dingin, aku masih saja tetap dalam pendirianku. Semestinya aku harus mencari rerimbunan pohon yang pantas karena rindangnya pohon cemara tidak terlalu menyelamatkan tubuhku dari hawa. Aku masih diselimuti hujan dan hawa masih menusuk tubuhku karena aku dan pepohonan cemara seakan pasrah menerima apa saja sehingga hujan dan hawa terus menusuk tubuhku seakan tak mengerti tentang diriku. Dan perlahan, aku mulai urungkan niatku bahwa semestinya tetap bertahan karena rindangan apalagi hujan masih tetap saja menyelimuti perkampungan bahkan perjalanan tak sempat terlihat karena kabut pun tak menipis membubuhi perkampungan. Suasana perkampungan terutama kampungku tak seperti yang biasa pada hari ini.
Perkampungan sebelah pun terselimut kabut dan hujan. Masih dalam taraf melebihi normal. Namun, aku masih terkungkung di bawahnya cemara hingga tak pelak waktu mengantarku pada senja.
Temaram sang surya terselubung di antara kabut dan hujan sore ini. Cemara masih tergiur dengan rayuan hujan. Lebih dari itu, ia membising seakan-akan berterima kasih pada hujan. Kini, aku telah letih. Aku duduk sambil kedua tanganku merangkul tubuhku. Sepertinya aku dirangkul oleh hujan. Walaupun hujan tak reda, aku sedikit mendapatkan kehangatan dengan kedua tanganku itu.
Senja seakan-akan tak mampu meredam hujan dan kabut. Hingga kian bertambahnya hujan, ia terbawa menemui malam. Alam pekat dan kabut pun tak terlihat. Aku ingin memaksa diriku untuk pergi. Namun, tak bisa karena hujan tak berhenti.
Aku ingin keluar dari hawa ini untuk menghangatkan diri namun tetap saja hujan seakan tak memberikanku peluang. Masih saja terkungkung di bawah rindangnya cemara, dalam rayuan hujan dan tertusuk hawa. Dengan terpaksa aku beranikan diri untuk pergi. Karena rumahku agak jauh, aku memutuskan untuk berlari saja. Itulah yang terbaik agar jangan sampai tubuhku lelah dan membawaku sakit. Aku ingin bertemu dengan si jago merah sehingga aku hanya pasrah dan tetap berlari. Aku ingin bertemu keluargaku sehingga walaupun aku basah kuyup, aku harus tetap berlari. Aku ingin pembungkus tubuhku yang basah ini tergantikan sehingga walaupun rumahku jauh, aku tetap mencoba untuk berlari sambil termakan hujan dan hari yang hampir padam.
Hingga kian mendekati rumah, aku seakan-akan gembira laksana pencarianku tentang surga telah usai. Yang nantinya semua harapku ini terbayar. Yang nantinya semua bebanku usia. Yang nantinya semua impianku tercapai. Yang nantinya semua bilangan yang terasa mengasah ditanggalkan. Yang nantinya semua hambatan pudar. Yang nantinya aku akan bebas sebebas-bebasnya.
Dan semua itu usai. Aku telah berada di rumah menemui keluargaku. Ibu dan ayahku belum juga pulang. Hanya kedua adikku yang sementara itu masih berdiam di depan tungku. Aku bertanya tentang kedua orang tuaku , mereka menjawab masih di ladang. Aku ingin bertanya kembali tapi tetap saja jawaban yang nanti didapat ialah masih di ladang. Niatku untuk bertanya yang lebih kuurungkan. Aku lebih memilih untuk mengurus diriku. Seperti kedua adikku, aku juga berdiang di tungku berhadapan dengan mereka. Mereka tak seperti hari-hari yang lalu. Banyak bertanya, bergembira. Namun, hari ini tampaknya keduanya sedih. Entah tentang apa ataupun siapa. Aku kembali bertanya namun bukan tentang ayah dan ibu melainkan tentang keadaan mereka sendiri. Mulut mereka seakan tak terbuka apalagi bibir mereka. Mereka tampaknya bisu. Hanya mata yang melotot laksana jawaban diri, itulah bahasa mereka. Aku tak mengerti mengapa keduanya tak bisa berbicara. Aku kembali mengurat keningku pertanda ingin kubuka pikirku agar tahu dan mengerti apa arti dan maksud bahasa mereka. Namun, tetap saja pertanda bahasa mereka seakan tak membuka diri untuk terlihat. Tetap tertutup dan setitik terang di gelap malam pun seakan tak tercipta.
Aku kemudian bangun duduk di samping mereka. Tetap saja mereka diam. Entah dalam diam, apa yang mereka katakan. Entah dalam diam, apa yang mereka percakapkan. Entah dalam diam, apa yang mereka tanya jawabkan. Itulah titik awal jalan keluarku untuk menanyakan mereka.
“Kok diam melulu dari tadi. Memangnya apa yang terjadi?” Aku mencoba membuka mulut mereka dengan menanti jawaban.
“Hai, kok tidak jawab?” godaku kembali menanti jawaban. Tetap saja mereka dalam diam tapi bukan bisu. Aku mencoba memeluk kedua tubuh adikku namun nampaknya keduanya tak ingin menampakkan perlindungan. Seperti selimut di tanganku melindungi mereka namun kembali mereka menolak pasrahku untuk merangkul mereka. Kubertanya kembali untuk mengawalai jawaban pasti alasan diam dari tadi dari keduanya.
“Dik, kenapa sih? Emangnya apa yang terjadi? Beritahu kakak! Pasti ada jalan keluarnya. Kok tidak mau berbicara dari tadi? Kakak bertanya lagi untuk terakhir kalinya, apa yang sementara terjadi?” Dengan nada agak kuat, aku bertanya pada mereka.
“Ehm... Maaf, Kak. Tapi....” Kata itu muncul sebagai perwakilan dari mereka. Dikatakan oleh adikku yang sementara di sampingku.
“Tapi, apa?” aku tampaknya emosi. Dengan nada ini, aku mencoba untuk mendorong lidah dan bibir mereka, agar apa yang di pikiran, mereka keluarkan sebagai bahasa jiwa yang keluar dari mulut mereka.
“Bapak dan mama.” Sedari itu, keduanya menangis. Menangis sekuat-kuatnya. Sepertinya, itulah kemampuan mereka untuk melawan panasnya api dan dinginnya hawa. Seperti itulah jawaban mereka dalam diam tadi. Aku telah tahu dan itu baru-baru bahwa. Jiwa keduanya masih sangat merindukan kedua jiwa orangtuaku. Sepertinya jiwa kedua orang tuaku sementara terbaur bersama panas dan dingin sehingga kala itu mereka merasakan sentuhan yang terjawab ketika menangis dan menangis. Sepertinya itulah awal dari diam mereka setelah saat wajah dari kedua orangtua terbayang dalam panas dan hawa yang terasa lewat diam. Seperti itulah jawaban pasti dalam diam mereka.
Aku mencoba untuk menghibur mereka. Aku mencoba membantu mencari jawaban pasti untuk menggatikan bahasa tangisan. Aku mencoba menasehati mereka untuk selalu untuk mengantar jiwa kedua orang tua hanya dengan doa. Aku mencoba menjawabi bahasa airmata mereka dengan memeluk mereka seerat-eratnya. Aku mencoba mengantar kepergian tangisan mereka dengan memberikan kekuatan, harapan dan nasehat. Seperti itulah kemampuanku untuk mendampingi dan menyelamatkan mereka. Namun, tetap saja mereka menangis seperti ketika tadi kubertanya.
Hanya diam sebagai jawaban. Sepertinya, diam adalah jawaban yang kutunggu. Sepertinya, diam adalah pintu yang hendak kumasuki agar tahu ruangan hati dan isi dari mereka. Sepertinya, diam adalah titik terang yang hendak menyinariku dalam kegelapan jawaban ini. Sepertinya, diam adalah bahasa jiwa mereka yang hendak kujawabi dalam diam pula. Aku mencoba untuk memberikan yang terbaik namun, sepertinya, diam adalah hadiah mereka sebagai penghargaan terhadap perhatianku yang terbaik dari mereka pula. Dan sepertinya, diam adalah bahasa kalbu yang seharusnya dimengerti bahkan diterima karena mengandung jawaban pasti.
Aku kembali duduk menyendiri menghadap mereka. Mata mereka terus melihatku namun sesekali menganggukkan kepala mengenai lutut mereka. Aku memutuskan untuk pergi dari mereka agar tak terkurung dalam diam yang tak mampu untuk kuartikan itu.
Lebih baik pergi karena itulah satu dari seribu jawaban atas seribu pertanyaan yang senantiasa mengguncang pikiran dan naluriku. Karena, kalau aku harus tetap berdiam di antara mereka, apa yang nantinya berguna bagiku. Karena, kalau aku harus terpaksa menanyakan mereka namun tetap saja diam adalah jawaban, apa yang nanti kudapat. Karena, kalau aku masih mencari jawaban, aku hanya tersiksa dengan diam yang adalah jawaban mereka. Dan, karena, walaupun tetap aku tak pergi, apa yang nantinya meredakan rasa ingin tahu ini.
Kini, aku memang pergi dari mereka tetapi tak jauh. Aku memang berlalu dari tatapan mereka tapi tak sampai menghilang. Aku memang tak mendekati mereka tapi tak juga menjauh dari mereka, karena aku hanya ingin sendiri di ruang tamu. Dalam kesendirianku itu, aku pun diam tak berbahasa seakan diam yang tadinya menyelimuti mereka telah pergi untuk datang menggodaku dalam kesendirian. Seakan diam yang tadinya adalah sahabat mereka telah pergi untuk datang berkawan denganku. Dan, memang, diam itu mampu bersahabat denganku, bisa saja dengan siapa saja, tapi kala itu hanya aku dan kedua adikku.
Mataku kuarahkan pada dinding seakan kuingin mendengar sesuatu. Dan, memang, jawaban itu terletak pasti di dinding. Selembar foto kedua orang tuaku. Aku sudah tahu bahwa mengapa diam itu terlalu terasa mengasah tapi tak sampai terluka. Mengapa diam itu menyelimuti jiwa dan ragaku kala itu. Dan, tentang diam itu, maka selembar foto itu adalah akhir dari awal alasan dan jawaban. Aku mencoba untuk menghibur diri. Karena dari awal kulihat wajah dalam foto itu, dengan tidak sadar airmata adalah bahasa jiwaku.
Aku mencoba untuk memberi alasan untuk berlari dari kenangan itu, namun tetap saja airmata adalah lembaran buram di antara tulisan tangan tentang perasaanku. Aku berusaha lari dari masa silamku bersama mereka tapi tetap saja airmata seakan mengejarku. Aku berusaha agar menenangkan pikiran dan perasaanku namun tetap saja senantiasa airmata adalah bahasa duka dalam kebahagiaan mereka. Aku mencoba untuk berteriak namun seakan airmata dengan linangnya menutupi mulutku. Aku pun tak kuat lagi menahan rasa rindu sehingga kubaktikan diri untuk tak lagi memikirkan hal itu.
Kumenatapi, dalam diam, pada foto itu yang masih menyimpan berjuta kenangan walaupun dalamnya terselip duka dan derita juga berjuta harapan terukir indah dan bahagia dan semuanya sama-sama terpampang abadi untuk selamanya. Kenangan masa silam seakan-akan telah dirayu. Olehnya, kembali kutemukan jalan dalam perjalanan keluargaku, walaupun kelanjutannya sekarang ini haruslah aku terima kenyataan bahwa tiada lagi pendamping dan pengasuh. Dan, dari itu, ialah bagaimana kemampuanku sendiri dilatih dan dilatih.
Foto itu menyimpan banyak rahasia. Rahasia itu akan selalu ada layaknya foto itu. Dari foto itu, aku temukan awal keberadaanku dan dari foto itulah aku akan menjumpai akhir keberadaanku itu. Dari foto itu, aku telah diajarkan untuk mencintai. Dari foto itu, aku pun telah diajarkan untuk meninggalkan sifat iri dalam diriku. Dari foto itu, aku membaca nasibku dan darinya pula aku tahu akhir kematianku. Karena, walaupun kematian menjemput mereka, tetapi, kenangan yang terukir, tidak ada yang mampu merenggutnya. Kenangan masa silam telah terbaca seakan foto itu, yang dalam diamnya mengajarkanku suatu bahasa yang tak mampu dimengerti oleh siapa pun kecuali aku sendiri. Dan, dari foto itulah, seribu rahasia, yang dalam diam, antara aku dan kedua adikku terjawab.
Aku kaget seketika saat kedua adikku memelukku. Aku pun merangkul mereka selayaknya kerinduan dan kecintaan seorang ayah pada anaknya. Penuh erat dalam rangkulanku. Mereka menangis dan menunjuk foto itu. Mereka hanya mampu berkata seakan memanggil nama kedua orang tuaku. Hanyalah airmata yang menjadi pengganti atas kerinduan mereka itu. Mereka menanyakan tentang orang-orang pada foto itu, tapi aku hanya mampu menjawab mereka dengan berusaha seakan menangis bersama mereka. Mereka pun seakan mengerti jawabanku. Aku kembali merangkul mereka, dan dalam diam, ketiga hati kami memaknai suatu tujuan. Aku dan kedua adikku mengantar jiwa kedua orang tua kami ke alam keabadian. Dalam diam, kami berusaha meluruskan jalan bagi mereka dan dalam diam pula memohon restu agar mereka mendoakan perjalanan kami di dunia ini.
***
Komunitas Sastra Seminari Oepoi
Januari 2009
Untuk kedua orang tuaku di tanah kelahiranku, Oepoli
Tidak ada komentar:
Posting Komentar