Rabu, 02 Februari 2011

“UANG LAGI…UANG LAGI”


(CERPEN Januario Gonzaga)
Jumlah uang itu hanya Rp. 20.000. Sekalipun jumlahnya besar untuk seorang tukang ojek sekali putaran, tetapi bagiku jumlah itu masih mencemaskan untuk bertahan selama seminggu lagi. Kalau dihitung-hitung mulai senin sampai minggu depan bisa pakai Rp. 3000 setiap harinya. Tapi kalau dijumlahkan seperti itu tentu akan tekor Rp. 1000 pada hari minggu nanti, sehingga pas hari itu cukup makan nasi dengan lauk seadanya. Namun juga belum tentu selama hari-hari itu harga lauknya tetap Rp. 3000. Apalagi harga sembako ibarat kemarau panjang yang tak tentu kapan hujannya, sekalipun uang minyak sudah mulai diangsur. Ditambah lagi aku harus makan tiga kali sehari. Belum lagi maagku kambuh selama hari-hari itu. Mungkin juga aku akan mengemis lagi karena bahan fotokopian yang diberikan dosen lebih mahal dari buku aslinya. Lebih parah lagi kalau ada teman yang kehabisan beras  lalu minta pinjaman padaku yang sudah dikenal bermurah hati ini. Susah benar masa-masa kuliah begini. Pertama karena harus jauh dari kampung halaman. Jauh dari rumah dan orang tua. Lebih lagi harus tinggal di tempat baru yang namanya ‘Kost Kartini’. Kalau di kampung ada buah-buahan yang matang di atas pohon bisa langsung dipetik. Tapi kalau di kota, pohonnya pun tidak ada, yang ada cuma bangunan-bangunan yang tak teratur dengan orang-orangnya yang kegendutan karena kebanyakan makan makanan kaleng dan plastik. Sebenarnya pertama kali melihat bangunan sesak ini hatiku luluh untuk melanjutkan studi. Kamarnya yang lebih tepat untuk ukuran seorang bayi terpaksa harus kutempati agar aku kelak bisa pulang dengan gelar sarjana. Namun lebih dari itu adalah memang impianku untuk bersekolah, meskipun setiap hari hanya kutemui sayur kangkung dan ikan nipi yang beruncing itu. Itupun masih beruntung dapat lauk, jika lagi malang lebih parah lagi. Ketika para nelayan ketakutan melaut karena angin kencang, ataupun para pedagang sayur dan tempe lagi mogok kerja karena para pemungut liar – orang Kupang mengenalnya PUNGLI - ramai di pasar. Wah, bisa-bisa nasi putih hanya tambah garam putih di sekitar mulut piring yang juga berwarna putih diakhiri lagi dengan air putih. Jadinya makan serba putih seperti di restoran, padahal hanya di Kost Kartini yang kerek, kresekan, kukus-kukusan, dan kuah-kuahan.
Siang ini aku kelabakan dengan seorang tukang sayur. Tubuhnya kurus tak terawatt juga rambutnya. Aroma ikan menguap amis dari balik badanya. Rasanya sudah sebulan ia belum menyentuh sabun mandi. Siapapun yang melihatnya pasti ibah tapi juga jijik. Setelah lama kukenal baru akhir ini ulahnya sedikit ‘batingkah’. Ia semakin menjadi-jadi, rupanya. Pernah saya ditawarkan sayur dan ikan gratis. Bahkan tidak perlu dirayu seperti penjual-penjual lainnya. Cukup bilang “Boleh kurang sedikit ko?” Maka jawabnya “Bukan hanya dikurang nona, boleh ambil saja ko”. Mungkin benar juga kata Vin, orang baik itu jangan cepat dipercaya. Makanya pertama kali aku sedikit nervous dan blak-blakan juga. Tapi lama kelamaan aku jadi akrab juga dengan barang gratisan itu. “Bukan sisa ikan Vin, tapi lu liat, ini ikan masih segar-segar, kalau katong beli bisa Rp. 20.000” Aku menunjukkan ikan yang masih segar itu pada Vin. “Pasti dia ada maksud jahat. Mungkin sa dia sakit jiwa, ato dia su bosan jadi orang kaya. Atau dia mau…” Vin tidak melanjutkan kata-katanya yang menggantung saja di benakku. Mungkin itu benar tapi kata mama, jangan cepat-cepat kita menuduh orang sebelum tingkahnya seronok. Itu dosa. Apalagi sejauh ini justeru penjual sayur itu sopan dan sangat baik, bahkan enak diajak ngobrol.
“Atau dia itu politikus yang mau menyuarakan suara anak-anak kos yang sering ditelantarkan oleh pemerintah?” Aku membidik kata-kata spontan pada kerumunan anak-anak kos yang masih apatis itu. “Ah, mana ada juga politikus yang prihatin sama kos-kosan? Lihat saja deretan kos di sini. Tata bangunnya saja lebih tepat disebut gudang beras atau dolog. Lebih enak urus partai apalagi proyek bartender” Sambung Wiwi dengan logatnya yang kental orang-orang Marapu di Sumba. “Iya memang, pak RT aja bingung mana yang kos mana yang kontrakan, mana yang rumah”. Saya sedikit guyong berteriak melihat pak RT melewati gang depan kos.
Udara panas digelayut polusi kota yang sumpek dibarengi asap mobil dan motor bubut memperparah penciumanku. Aku menarik sebuah kursi plastik berkarat tepat dipangkal tembok. Novel Laskar Pelangi kembali kubuka setelah seminggu lebih tergelatak di rak buku. Memang selama seminggu ini pikiranku kacau. Bukan hanya uang makan dan penjual sayur itu, tetapi lebih dari itu datang berita dari rumah bahwa kakak pertamaku menghilang. Namanya Dion. Kami beda empat tahun. Di atasnya ada tiga orang kakaku yang sudah berkeluarga. Sedangkan aku yang bungsu. Hanya kami berdua yang masih sekolah. Namun karena biaya maka kakaku sering tertunda kelasnya. Maka kami hanya selisih setahun saat tamat SMA. Pikranku rumit untuk dipahami lagi. Bersekolah dan berhenti sering numpang dalam benakku. Kalau putus sekolah saat ini tidak hanya orang tua yang akan menanggung banyak risiko, tetapi aku juga, malu. Bahkan cibiran orang di kampung lebih tajam dari pisau belati. Dan sejak kecil sekolah adalah cita-citaku. Mungkin di SD akulah orang yang selalu ditertawakan karena tidak menyebutkan cita-cita apapun saat ditanyai guru. Aku hanya bercita-cita untuk terus bersekolah, entah sampai kapanpun. Aku tak memikirkan untuk menjadi dokter, insinyur, ataupun guru. Yang penting bagiku adalah bersekolah. Dan mungkin karena itulah kakaku memprotes tekadku yang terlalu keras hingga dia sendiri merelakan keputusan ayah empat setengah tahun lalu.
* * *
Sore itu semilir angin  barat menyapu dinding rumah kami yang masih gemuruh dengan teriakan aku, ayah dan Dion. Tak habis-habisnya bapak mengomeli kakak. Aku menangis sejadinya agar akulah yang dipilih ayah untuk melanjutkan sekolah.. “Baik pa…biar Rini yang sekolah duluan”. Kakak Dion hanya menjawab sepotong kalimat.  “Sementara itu saya mau cari uang dulu buat Rini, kalau lebih baru saya lanjut kuliah”. Aku seperti bisa membayangkan hati kakakku saat itu. Tersayat pilu. Ayah memang tidak membalas kata-kata Dion tadi. Namun dari raut wajahnya ayah seolah menyalahi ketidakmampuannya untuk menyekolahkan aku dan kakak.  Ia terdiam serjenak sebelum mengajak kami mulai makan malam. Hatiku bahagia kala itu. Aku bisa bersekolah dan tidak ketinggalan. Tapi kasihan kakak. Malam itu tergambar baginya samudera luas yang hanya bisa diubah oleh sebuah keajaiban. Keajaiban yang semasa itu bagaikan malaikat penyelamat yang bisa diharapkan datang dari dana BOS, ataupun dari dana buat fakir miskin. Akan tetapi nihil. BOS hanya sampai di kecamatan tetangga. Sedangkan dana GNOTA sudah lama tidak berjalan, katanya administrasi harus dilengkapai dulu. Inilah birokratisasi yang akhirnya tidak hanya menunda kakak melanjutkan kuliah, tetapi telah membuat kakak hilang tanpa jejak.  Saat masa kuliahku tiba, kakaklah yang mengurus semuanya. Mulai dari mencari kos, hingga membelikan aku celana botol (saat itu lagi gandrung mati sama celana trendy ini). Sempat kakak memperbaiki kamarku yang kurang rapi. Aku terdiam lama saat kakak membungkus barang-barangnya, ia akan langsung pulang ke kampung. Aku yakin tangisanku saat itu akan lebih bergemuruh dari tangisan kemarin di rumah. Kakak akan pulang dan aku sendirian di kota yang baru beberapa jam kusentuh ini. Kakak menitipkan beberapa catatannya yang akhirnya akan kubacakan pada hari wisudaku nanti. Kami berpisah. Aku menatap lama pada wajahnya. Ronanya amat tegar. Aku dapat memetik sesuatu dari sana, bahwa hidup di kota lebih keras dari hidup di kampung. Kebiasaanku yang cengeng tidak boleh dipertahankan di kota. Aku pasti akan kalah bila terus berkompromi saja dengan keadaan sekitar. Memang inilah filosofi orang kota. Hidup itu mengalir. Jangan pernah menghilangkan setiap menit. Lazimnya Time is Money, sungguh-sungguh mengalahkan tradisi di kampung yang kental dengan filosofinya Waktu Adalah Kebersamaan.
* * *
Aku tak selesai menuntaskan bacaan tentang kejeniusan Lintang dalam novel Laskar Pelangi tadi. Hanya tatapan dalam tanpa makna. “Esok hari minggu, kenapa masih melamun?” Aku tersadar dengan teriakan Vin. Aku kembali menghitung jumlah uang, masih Rp. 15.000. Aku pantas terhenyak dengan kebaikan tukang jual keliling itu. Sepertinya dia itu malaikat yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan sisa uangku seminggu ini. Hari senin nanti keluarga dari kampung akan datang menghadiri hari wisudaku. Pasti kantongku akan manclok lagi dan tacu-tacu akan mulai hitam, itu tandanya masih ada kehidupan di kos ini. Ketika hari-H-nya tiba aku cemas memikirkan arah hidupku selanjutnya. Setidaknya aku harus menemukan pekerjaan agar kakak Dion bisa cepat kuliah. Mungkin cita-citaku untuk terus bersekolah harus sampai di sini. Aku tidak boleh menelantarkan harapan kakak Dion. Ia ingin bersekolah juga. Itu yang adil.
Semua keluarga sudah berkumpul di kostku yang kecil, sebagiannya numpang di rumah seorang tetangga dari kampung. Mama dan kakak pertamaku mendampingi aku. Mereka ingin menguatkan hatiku agar aku tak sibuk memikirkan kak Dion di hari wisuda ini. Hari ini aku sungguh menjadi manusia, paling kurang untuk harapan ayah, mama dan kakak-kakaku. Aku keluar sebagai wisudawati terbaik dengan IP 3,96. Setiap dosen memberi aku selamat. Sungguh, mereka paham arti IP selangit itu. Aku sadar kalau seandainya kak Dion ada pasti dia yang akan merasakan apa artinya mendapatkan IP mendekati sempurna itu. Sebab tidak demikian buat orang-orangku dari kampong ini. Bahkan angka itu tidak mereka ketahui apa maksudnya. Yang mereka tahu hanyalah bilamana aku mendapat pekerjaan nantinya, menjadi orang terpandang, mengenakan baju bermotif, duduk di kantor dan punya sepeda motor. Acara resepsi aku cicil dengan uang beasiswa yang lumayan mencukupi untuk semua keluarga dan tamu. Ayah terlihat ceria walau hanya berdiri di ujung yang jauh di ruangan pesta. Aku yakin kehilangan kak Dion telah membuatnya hancur sekalipun aku telah mengobatinya dengan gelar sarjana Ekonomi ini.
“Selamat Rini” Semua orang beriringan menyalamiku. “Terima kasih” Dua kata ini terlontar spontan saja saat aku menengadah pada siapa yang menyalamiku ketika itu. Dia bukan satu dari keluargaku, juga bukan tamu yang hadir, bukan pula adik-adik semester, bukan kenalanku, apalagi teman dekatku sekost. Dia bukan orang yang pantas memasuki pesta semewah ini. Pakaiananya lebih tepat untuk mengikuti acara panen di kampung. Bau amis beterbangan. Lusuh dan kayuh benar penampilannya. Sekalipun begitu romannya terlihat berseri, mungkin karena sebentar lagi dia akan menambah dua piring nasi atu membungkus daging sisa untuk makanan esok pagi. Tapi yang kulihat, ia hanya seorang penjual keliling. Seseorang yang murah hati. Namanya belum sempat kukenal. Tapi spontan suara ayah meledak “Dionnnn” Buluh kudukku berdiri. Aku terperangah antara percaya dan ragu mendengar teriakan ayah yang disambung oleh mama.
“Akulah kakak kamu Rin…Aku Dion” Suaranya berat membuatku belum seutuhnya percaya bahwa itu Dion. Aku hanya menunjuk dan terus melangkah mendekatinya. Aroma ikan asin semakin tajam seperti ditiup angin dan hinggap di  rongga hidungku. “Tidak mungkin” Aku pantas tidak percaya dengan kakak Dion yang telah berubah sedemikian drastis.  
“Rin, Ayah, mama, aku tahu perbuatanku salah. Waktu itu aku sempat membaca surat dari Rin. Aku terpukul dengan keluhan Rin tentang biaya hidup yang menghimpitnya di kota. Tak sampai hati aku memutuskan untuk berbuat sesuatu. Aku kabur ke kota dengan bekal seadanya. Demi menyambung hidup dan mencari uang buat Rini, aku menjadi penjual buat anak-anak kost. Demi semua rahasia ini aku sengaja menyamar menjadi penjual keliling. Dan itulah alasannya Rin mengapa aku memberi gratis sayur dan ikan untuk kamu. Aku belum punya uang cukup, tapi hanya itu yang bisa kuperbuat.”
Kata-kata ini sekonyong-konyong mengubah suasana pesta menjadi tangisan haru tak tertahankan. Hanya aku yang terus memaksa otakku memutar ulang rekaman wajah kakak Dion saat dia dibentak oleh anak-anak kost, saat aku mencurigainya, saat aku mencium aroma tak sedap dari tubuhnya, hingga kami harus berangkulan begitu erat hingga aku tak sadar pesta telah usai. Dia ingin bersekolah, hanya saja uang tak cukup. Cita-citanya tinggi dan dia ingin mengejarnya. Kini pekerjaan sedang menanti aku. Aku harus berbuat sesuatu. Kakak Dion betapa mencintaiku.
*Komunitas Sastra Filokali  Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui-Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar