Rabu, 02 Februari 2011

Opini: VALENTINE FOR THE EARTH



Johannes A. Tnomel
Valentine Days  dikenal sebagai hari untuk mengungkapkan atau menyatakan cinta kepada orang yang dikasihi.  Bagi para pasangan kekasih biasanya Hari ini menjadi kesempatan buat mereka untuk menunjukan komitmen cinta yang tulus kepada pasanganya masing-masing.  Sedang bagi khaylak ramai hari inipun juga menjadi kesampatan yang tepat untuk menyatakan cinta kita terhadap semua orang yang dikasihi .Tentu itu tak terbatas pada pacar atau kekasih saja bisa juga pernyataan cinta itu kita berikan buat orang tua,saudara/I sahabat kenalan atau pun guru, dosen dan lain sebagainya. Intinya bahwa pernyataan cinta valentine itu itu tidak berciri ekslusif, terbatas bagi para kelompok tertentu saja,  walaupun memang dalam prakteknya para pasangan kekasih seakan-akan menganggap mereka actor paling utama dalam hari valentine ini.  Perayaan valentine itu biasanya diisi dengan beragam kegiatan ,semuanya tentu bernuansa cinta, pemberian kado yang special, mengimkan kartu valentine, coklat, misalnya adalah hal yang berlaku umum saaat perayaan valentin days,  selain itu ada juga pemilhan king and Queen of valentine Days dan beragam kegitan lainnya.  kegiatan –kegiatan seperti ini sudah menjadi agenda tahunan saat  perayaan valentine days. Tapi yang dibuat oleh Rm. Petrus Nugruho Agung, Pr, bersama anak muda dari Youth center kids keuskupan agung semarang dalam mengisi hari valentine  terbilang unik. Perayaan hari valentine mereka bukan diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bertradisi valentine kegiatan valentine mereka ditujukan buat lingkungan, Valentine for the earth itulah tema kegiatan mereka. Keprihatinan terhadap lingkungan telah menggerakkan hati anak-anak muda ini untuk melakukan satu tindakan penyelamatan lingkungan. Valentine for the earth ini  diwujudkan dengan menanam pohon di salah satu lahan gunung berapi.
                Lingkungan kita sementara merangas. Antroposentrisme telah membuat manusia tak ragu untuk menguras kekayaan sebanyak-banyaknya dari bumi. Dominasi manusia atas alam bahkan boleh dikatakan sudah menjadi trend yang sulit dihilangkan. Maka bukan lagi eksploitasi yang dilakukan manusia tapi over eksploitasi. Menurut peneliti Sains Kimia pada national oceanic and atmospheric administration badan kelautan dan atmosfer Dr. David fahey, kerusakan lapisan ozon Global kian mengkhawatirkan. Pengunaan efek rumah kaca pada system-sistem teknologi pertanian,  pengunaan gas emisi serta penggunanaan zat kimia adalah penyebab utama dari kerusakan lapisan ozon ini. Akibat nya adalah global warning (pemanasan global) yang dalam  decade ini semakin santer dibicarkan. Pemanasan global inilah yang ditenggarai sebagai penyebab ketidakseimbangan iklim. Gejalanya adalah disatu tempat terjadi bencana kekeringan sedangkan ditempat lain tejadi bencana banjir. Selain itu persolan global warning terkait erat pula dengan penebangan hutan secara illegal (illegal logging) dan pembakaran hutan ( Majalah veritas edisi II tahun 2008).
 Berkaitan dengan kelestarian hutan ini, secara nasional Indonesia sendiri mengalami masalah yan cukup serius. Dokumentasi SAGKI tahun 2005 menulis bahwa tahun 1950 Indonesia tergolong masih memilki hutan yang lebat. Namun dalam waktu lima puluh tahun luas hutan Indonesia telah berkurang mencapai 40% dari luas sebelumnya. Pada tahun 1980-an laju kehilangan hutan Indonesia rata-rata satu juta ha per-tahun, lalu meningkat menjadi 1,7 ha per-tahun 1990-an, namun sejak tahun 1996 angka deforestrasi ini makin meningkat menjadi 2 juta pertahun.
 Biosentrisme maupun ekosentrisme memang telah  digalang namun rasanya sulit untuk menghadirkan kembali lingkungan yang hijau. Belum lagi sistem ekonomi kapitalis yang mengamini pelaksaan overeksploitasi ini. Ditengah ganasnya isu pengrusakan lingkungan ini kita pantas  bersyukur karena perlahan-lahan manusia semakin menyadari perlunya perhatian terhadap lingkungan, setidaknya ancaman-ancaman kerusakan lingkungan sendiri menjadi ketakutan tersendiri yang menyebabkan Ia semakin peduli terhadap lingkungan. Kita berharap bahwa kepedulian ini lingkungan ini bukan terbatas pada ketakutan sebagai akibat langsung dari kerusakan lingkungan, melainkan didasarkan kecintaan terhadap alam sebagai bagian dalam ekosistem  yang  memang perlu mendapat perhatian.
                Secara lokal Nusa Tenggara Timur-pun turut mengalami dampak kerusakan lingkungan. Curah hujan yang semakin menurun tiap tahun ,abrasi pada beberapa daerah pantai, tanah longsor, banjir adalah bencana tahunan yang dialami Nusa tercinta in. Dan busung lapar, kelaparan akibat gagal panen, penyakit-penyakiit menular yang berkembang adalah dampak  langsung dari krisis lingkungan ini. Mental Antroposentrisme cukup banyak dianut masyarakat kita, kepedulian terhadap lingkungan belum menjadi isu primer dibandingkan dengan masalah ekonomi. Tanah kita memang telah menyediakn banyak kekayaan yang membuat kita tak ragu untuk mengeruknya , namun melihat ancaman kerusakan lingkuangan yang semakin meningkat ini kita perlu merubah cara pandang,   kita tak boleh serakah, menghabiskan kekayaan alam yang ada itu terbatas pada generasi kita tanpa menyisakan buat generasi-generasi berikutnya. Kerusakan lingkungan akan terus membayangi Nusa tercinta bila kebiasaaan kebiasaan negatif terhadap lingkungan  terus berlanjut.
                kita kita pantas meneladani para leluhur kita. Mereka telah menunjukan bagaimana menjaga relasi yang harmonis dengan alam. Untuk itu tidak menjadi sesuatu yang asing buat masyarakat NTT bila menemukan  ada orang yang bisa berbicara dengan pohon , binatang ,  tanah bahkan alam semesta. Relasi yang harmonis dengan lingkungan membuat mereka seakan-akan menjadi partner dari alam semesta. Meminjam bahasa Lous Leahy para leluhur kita memiliki spiritualitas lingkungan hidup. Spiritualitas ekologis ini tercerah dalam rasa ketakjuban terhadap alam semesta atau menurut Rudolf Otto mereka telah mengalami  mysterium traemendeum et fascinanans - mengalami misteri agung penciptaan dan kehidupan. Untuk sampai pada situasi seperti itu di zaman ini memang sulit,  hidup kita yang hampir tidak berciri natural membuat kita semakin berpisah  dari alam semesta. Namun karena terlahir dari rahim yang sama kita pun wajib melanjutkan usaha para leluhur untuk menjaga keharmonisan dalam lingkungan kita. Kita berjuang untuk menjadikan bumi NTT tetap hijau walaupun telah disentuh kemajuan-kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknolgi. Kita berusaha agar NTT tidak menjadi nusa yang tandus ,nusa yang yang tak bersahabat dengan masyarakatnya.
Menggiatkan Valentin for the earth
                Aksi valentine for the earth ang digagas Pastor Nugroho dan anak-anak muda dari Youth center Kids di Semarang perlu juga dikembangkan di tanah kita. Cinta terhadap lingkungan diwujudkan dengan beragam aktifitas yang menunjang pelestarian lingkungan. Valentine for the earth ini dapat dilaksanakan dalam beberapa kegiatan seperti: reboisasi hutan, menjaga linkungan supaya tetap bersih dengan jalan tidak membuang sampah di sembarang tempat, penyediaan tempat sampah dan lain sebagainya Sedangkan dari pihak pemerintah perlu ada ketegasan soal IMB di kawasan jalur hijau maupun soal ketegasan sanksi yang yang diberikan kepada  para pelaku  penebangan liar. Selain itu sistem ladang berpindah pun perlu dihilangkan agar hutan-hutan yang masih ada tidak tetap terawat kelestarianya.
                Sebenarnya aksi-aksi pelestarian lingkungan secara sederhana  sudah sering dilakukan masyarakat kita, misalnya penghijauan yang sering dilakukan beberapa lembaga pemerintahan maupun sekolah-sekolah, Kupang  Grean and clean yang baru –baru diselanggarakan pemerintah kota pun adalah bagian dari upaya kita mewujudkan lingkungan yang lestari. Namun persoalanya aksi-aksi ini sering tidak berkelanjutan Karena sifatnya yang momental dan bersifat formal belaka misalnya karena dilombakan. akibatnya tidak jarang banyak tanaman yang ditanam itu mati dan tahun depan kita kembali menggelar program yang sama.
                Valentine for the earth yang dilaksanakan bukan hanya terbatas pada aksi momental saja, bukan pula demi mengisi kegiatan di hari valentine ini,  tapi wujud cinta kasih yang kita berikan buat lingkungan kita bersifat kontinui ,berkelanjutan. Sebagaimana cinta yang kita berikan pada orang yang kita cintai bersifat abadi demikian juga wujud cinta kita terhadap lingkungan  tidak bisa terbatas pada moment-moment tertentu saja tapi sepanjang kehidupan kita, karena itu aksi –aksi kepedulian kita terhadap lingkungan pun  harus berkelajutan.
                Berkaitan dengan itu saya tertarik dengan satu adagium yang disampaikan para pemateri saat mengikuti seminar bertajuk limgkungan hidup yang diselenggarakan fakultas filsafat Agama Unwira adagium itu berbunyi “ sepohon sehidup semati”. Secara langsung adagium ini bermaksud mengajak setiap orang untuk menanam pohon, andaikan saja kalau setiap warga kota kupang menanam   satu tanaman lalu dipelihara hingga bertumbuh dengan baik pasti kota Kupang sungguh hijau. Tentu maksudnya bukan hanya berhenti disitu tapi  yang mau ditekankan ialah mengajak setiap warga masyarakat agar perhatian  terhadap lingkungan harus menerus dilakukan ,tidak boleh berhenti Menanam tananam ataupun bentuk kegiatan pelestarian likungan lainnya bisa menjadi satu sumbangan tersendiri  bagi terwujudnya  lingkungan yang lebih baik.
Valentin for the Erth mengajak kita untuk tidak membangun cinta yang eksklusif hanya pada manusia saja tapi juga pada cipatan Tuhan lainnya. Dan lingkungan adalah ciptaan Tuhan pula yang perlu mendapat perhatian, tanggung jawab terhadap alam adalah tanggung jawab etis dan kita semua dari kodratnya terpanggil untuk memelihara lingkungan. Bukan hanya mental ekologis yang kita bangun tapi aksi –aksi nyata terhadap lingkungan. Aksi kita yang berkelanjutan cukup memberi nilai plus bagi keberadaan llingkungan yang lebih baik di masa kini dan terlebih untuk generasi mendatang. NTT yang kitainginkan  adalah Nusa yang hijau bukan  dan bukan Nusa yang tandus. 
Mahasiswa Fakultas filsafat Agama- Unwira, KMK-
 Karang   Penfui  Seminari  St. Mikhael


               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar