.....Cerpen Ishack Sonlay
Neno. Anak sekecil itu. Gigi susunya belum tanggal semua. cepat tempo ia jadi pesuruh. Ia tertatih di atas barisan pematang, dibungkus pekat hitam. Sorot cahaya senter dipelontarkan ke seluruh penjuru setiap ada desit bunyi semak dan patahan. Pupilnya membesar. Keringat mengucur. Detak jantung memompa lebih cepat, seperti irama kuda pacuan. Bayangan pepohonan dan rimba sisinya mendekatkan dia pada ngeri hantu tengah malam, yang magrib tadi santer dipergunjingkan seantero warga kampung. Di ujung pematang, dekat pancuran, diselempangkan sarungnya ke bahu, sekedip mata, jurus seribu langkah seperti sihir yang cepat menghantarnya di depan rumah. Pintu masih menganga. Aleus, ayah bocah itu, seperti patung bertopang, diam saja di sudut teras. “Ba, bapak desa bilang ini malam wartel tidak buka. Ada tamu dari Kabupaten!” Aleus tak bergeming. Di semburkan asap kretek daun lontarnya dalam hitungan satu napas. Seolah protes karena setelah diangkat jadi panitera, tak satupun tugas yang dipercayakan oleh kepala desa kepadanya. Buktinya banyak. Bahkan ada tamu dari Kabupaten saja ia tidak diundang ke balai desa. Padahal sebenarnya ia tahu perihal datangnya tamu- tamu itu. Tiga atau empat lelaki separuh baya. Dengan kijang tahun empat puluhan, yang diperlengkapi dua buah pengeras suara, masing- masing menghadap ke depan dan belakang mobil. Rupanya itu pegawai- pegawai dinas penerangan yang ingin menggelar layar lebar dibalai desa malam ini. Film hantu tengah malam. Setidaknya itu yang ia dengar dari beberapa warga di kali. “Lalu bapak desa bilang apa?” “Bilang, beritahu bapak, ini malam wartel tidak buka!” “Hanya itu?”, Aleus makin panas. Bocah itu hanya mengangguk. “Kalau begitu kau pergi ke om Laus. Bilang saja, bapak mau pinjam Hape(hand phone)!” Aleus memberi perintah baru. Neno tiba- tiba bermuram. Air mukanya kerut berlipat- lipat seperti kulit kerang. Usut punya usut, ternyata dia sudah sepakat dengan aswar, bahwa dia akan kembali lagi ke balai desa selepas memberi kabar tentang wartel kepada ayahnya. Rakyat desa turut berbondong- bondong mendekat ke balai desa, dari yang muda hingga yang tua- tua renta. Pemutaran film seperti ini biasanya digelar sebulan sekali. Dan tak ketinggalan jua Neno ikut bergirang. Betapa tidak? Hanya itulah satu- satunya sarana hiburan di kampung ini. Neno yang sudah terlanjur menitipkan sandalnya sebagai jaminan bagi aswar, sontak berkilah memotong perintah ayahnya. “Ba, jam begini om Laus masih ojek!” “Kau tau apa. Tadi bapak ketemu dia ada mandi di kali. Kau jangan cari alasan!” bantah Aleus kepada anaknya. Gundah segera hati anak itu. Manjanya masih terbawa- bawa. Tanpa banyak berkilah lagi, ia menuju dapur. Ditunjukkanlah beberapa gaya tangisan pada mamanya. Perempuan itu tak beralih sedikitpun perhatiannya dari tungku yang asapnya mengepul kebiru- biruan tak ada nyala api. Neno terus merengek sambil sesekali mencomot bahu emaknya. Sabar nian perempuan separuh baya itu. Sayang sekali, Neno tetap tidak mendapatkan perhatian. Mukanya memerah udang setengah matang, tatkala bunyi sandal lily kedengaran mendekati dapur. Aleus marah- marah di dapur, namun tak ia apa- apakan anak bungsunya itu. “Kau ini, bapak suruh ke om Laus saja tidak mau. Tidak ingat kau punya kaka Fanus ka? Di Jogja gunung Merapi ada meletus. Pergi pinjam hape itu dulu supaya kita cek kau punya kaka, jangan sampai ada apa- apa dengan dia. Hidup hanya urus nonton. Kau pikir bisa pergi nonton dibalai desa? Pokoknya tidak ada yang pergi nonton. Sekarang juga kau ke om Laus. Mengerti?” seru Aleus agak bergaya penjajah jepang, dengan seikat ranting asam panggang di genggamannya. Maka berurusanlah anak kecil itu lagi dengan pekat belantara dan bayangan hantu- hantu malam. Padahal belum sempat ia nonton film horror itu. Tak apa, sebab kali ini yang masalah bukan lagi karena takut, tapi karena om Laus. Ia harus berhadapan dengan om Laus yang tajir, tetapi otaknya seperti roti gosong. Kadang ia merasa lebih pintar dari om Laus yang saban hari memasang- masangnya dengan wati, adik si Aswar. Neno yang malunya tak terbendung, pernah dibuat menangis seluruh anggota kelasnya. Rupanya pasang- pasangan om Laus itu menjalar sampai telinga anak- anak kelas 1, sekolahnya. Selalu gemuruh mereka meneriakkan “Neti!”(singkatan dari Neno dan Wati) setiap lonceng selesai pelajaran berdering. Hitunglah seberapa besar gundah hati anak kecil itu karena ulah om Laus. “woi Neno, kenapa kau punya muka itu? Kau menangis ka?” ceplos om Laus menyambutnya di dekat kandang babi. Kala itu om Laus sedang memberi dedak padi untuk dua ekor babi paroannya. Anak itu tak menjawab. “Kau kenapa? Bapak usir kau dari rumah?”. Neno hanya menggeleng kepala berputar- putar beberapa kali seperti bola di mulut basket. “Lalu kau kenapa datang malam- malam begini?” lanjut om Laus. Neno baginya seperti seekor puyuh yang kehabisan napas dalam jerat. Om Laus tersenyum lebar. Neno tak sedikitpun terlihat gugup. Dijelaskanlah kepada on Laus maksud kedatangannya malam- malam, beserta embel- embel kepingin nonton film hantu tengah malam yang tidak diijinkan ayahnya. “hai kau ini, pasti wati sudah tunggu dibalai desa makanya kau menangis?” kerongkongannya gatal kalau tidak mengganggu anak kecil itu. Neno tak menyerigai. Dan dituntunlah anak itu dalam gelap menuju kamarnya. Tak layak huni kamar dua air itu. Atapnya sudah bocor. Dari luar kelihatan miring seperi kapal yang nyaris tenggelam di lahap laut. Memang bujang. Mengatasnamakan kesendirian untuk tetap romol. Sepeda motor diparkir begitu saja di salah satu sisi, sedangkan di sisi yang lain ada tempat tidur pegas dari besi. Entah diperoleh dari mana ranjang itu, yang jelas ini satu- satunya tempat tidur besi di seluruh kampung. Ditambah lagi dengan pemilik satu- satunya handphone di desa, yang semasa itu butuh berkilo- kilo asam kupas untuk membelinya. Tak ada pemuda lain yang lebih bergengsi dari om Laus. Lebih tampan ada. Tapi yang tajir, hanya dia. Sedemikian gengsinya sampai- sampai surat cinta tulisan tangan dari puluhan perempuan dibiarkan lusuh tak terbaca. Malah dibakarnya untuk menghangatkan badan kalau dingin ia bangun pagi. “layanan bebas kertas. Kalau sms, nona kan kubalas” om laus demikian bersiul- siul setiap kabut yang ia temui menuju pangkalan ojek. Neno di persilahkannya duduk diatas tempat tidur. “Kau senang nonton film hantu?” Tanya om Laus. Bocah itu mengangguk. Mungkin juga kasihan pemuda itu pada Neno, sehingga ia tak rela membiarkan matanya terus memerah bengkak. Ia menuju motor, perlahan dibukanya bagasi, dan dikeluarkannya sesuatu dari dalam. Nyala lampu 5 watt membuat Neno makin was- was. “Om ada film hantu, judulnya hantu- hantu motel tapi kau harus janji dulu”. “Janji apa?” “Jangan cerita di bapak kalau kau nonton film hantu e? film itu ada di dalam ini hape, tapi nanti tidak boleh beritau bapak”. Bocah itu hanya bernapas panjang. Belum seumur hidup ia belum sekalipun memegang hape. Mimpi baik kalu sampai ia melihat alat komunikasi itu. Tetapi malam itu ia ketiban untung, yakni nonton film hantu dari layar hape. Om Laus menyerahkan mentah- mentah hape itu kedalam gengamannya. Dipasung lagi kedua lubang telinga anak itu dengan headset sehingga anak itu seperti terperangkap dalam gua- gua hantu. Ia ditinggal sendirian dalam kamar. Alunan desah dan perbincangan kecil dalam video hantu itu memekak telinganya. Neno tak sedikitpun berkedip. Bahkan napas dan degup jantungnya tak ia kendalikan lagi. Mungkin, sedemikian ternganga ia di depan layar sehingga tidak mungkin ia mendengar ringkihan tawa om Laus di belakangnya. Anak itu seperti disihir. Sihir yang memadukan takut dan harapan. Menonton film hantu sambil tertawa dan cekikan. Ada yang tak wajar dalam diri Neno. Ia tak lagi berhenti tertawa cekikan. Dalam kurun enam menit saja film itu dilahapnya habis. Segera berpamitanlah ia dengan om Laus dan bergegas kembalike rumah. Om Laus menghantarnya sampai pagar beluntas sambil mengingatkan lagi tentang janjinya tadi. Anaka itu tertawa lagi, ditutupi tawa om Laus yang tentu lebih besar kumandangnya. Neno tak lagi takut hantu. Hantu baginya adalah sepasang manusia dengan tingkah aneh dalam motel. Hantu tak ada di dalam hutan, tidak juga di pekuburan. Hantu seperti kata orang- orang tua itu hanya cerita bohongan bagi anak- anak supaya mereka tidak keluyuran malam dan tidak bandel. Dan sekarang, sekalipun ayahnya akan menakutinya seribu kali tentang hantu, Neno tidak bakal takut lagi. Ia akan terus tertawa. Menertawakan hantu itu, dan juga menertawakan siapa saja yang bodoh menakuti anak- anak dengan dalil hantu. Melewati rimba gelap, anak itu kini tertawa terbahak- bahak. Menertawakan seluruh hantu penghuni rimba. Aleus mondar- mandir dengan lampu petromax di beranda rumah. Akan ia gantung anak itu andai benar dugaannya bahwa anak itu justru menonton ke balai desa. Anak itu seharusnya tak ia suruh pergi. Ranting asam dipanggangnya lagi. Aleus kaget mengelus- elus dada karena Neno tiba- tiba muncul bercarik- cari gurau dan tawa. Tawa karena film hantu- hantu motel yang menurut om Laus tidak boleh ketahuan ayahnya. Neno tak lagi menggubris penampilan ayahnya yang malam itu terlihat sanggar. “Om Laus bilang besok pagi dia datang ambil kembali hape, karena dia mau ojek pagi- pagi di kota!” kilah Neno seraya mempersembahkan bawaannya kepada Aleus. Aleus heran bukan main. Pergi dengan bermuram, pulang dengan cekikik. Heran karena Neno anaknya sudah seperti tuyul yang tak berhenti tertawa mengendap- endap. Amarah Aleus meluap- luap, tetapi tertahan saja di anak tekak. Iba juga mantan hansip honor itu karena lidah anaknya sudah menjulur kehabisan napas seperti seperti anjing selepas berburu puyuh. Disuruhnya anak itu pergi tidur. Tak karuan lagi Aleus, karena anak itu menurut saja. Tak lagi protes. Tak ada lagi rengek meminta dikabulkan niatnya untuk pergi ke balai desa. Aleus hanya bernapas panjang. Puncak ceritanya pas tengah malam. Kira- kira jam dua belas seperempat. Semua orang di perkampungan sudah lelap. Rombongan penonton dari balai desa sudah kembali ke rumahnya masing- masing hampir sejam lalu. Yang terdengar hanya suara jangkrik dan kokok jago. Aleus sudah memencet tombol stop, tanda pebincangan dengan Fanus, anak sulungnya sudah usai. Belum habis kepalanya dibuat migran karena sejumlah uang yang harus segera ia wesel kepada Fanus, tiba- tiba saja ada yang meledak- ledak dari arah kamar. Suara itu. Sangat ia kenal. Seperti tangisan Ratu pantai selatan yang mengais- ngais di atas tempat tidur. Rupanya Neno mengiggau. Napas anak itu tersengal- sengal, diikuti raut muka yang sebentar- sebentar tertawa ringkih, lalu diam lagi. Aleus hanya mengamati dari balik kain pintu. Seperti air dari talang, mengalir selalu ke pelimbahan. Dan, kagetlah Aleus karena igauan bocah itu sampai mengeluarkan kata- kata, yang bunyinya persis seperti judul salah satu video dalam hape om Laus. “Hantu..hantu..mo..ttteel..” sambil ngakak anak itu tak sadarkan diri. Hendak ia bangunkan anak itu, tapi tak kuat lengannya memapah. Darah Aleus memompa cepat. Malam yang panjang bagi Aleus. Ia harus berjaga bersama hantu- hantu motel si Neno. Ia harus berjaga bersama amarahnya yang kian membuncah. Maka kalian, hai orang tua- tua. Jika kamu juga punya anak semata wayang, atau dua, atau lebih, biar nona maupun lelaki, janganlah sembarang kalian menakut- nakuti mereka. Janganlah kalian dibilang bodoh karena hantu- hantu kalian yang sudah tak zaman lagi. Hantu kalian sudah pada ompong. Uzur. Seharusnya kamu tahu bahwa hantu- hantu sudah menjelama rohnya. Roh hantu- hantu sekarang sudah menjelma dalam teknologi mutakhir. Karena itu janganlah kalian salah ajar. Ajarlah sendiri anak- anakmu tentang hantu- hantu motel, agar ia kelak jangan terperangkap juga dalam ngeri itu. Dan satu lagi, Banyak om Laus yang berkeliaran, menjual hantu- hantu motel. [13: 15 ] 2 November 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar