Cerpen Januario Gonzaga
BARU kemarin ini negeri ini tenang dari kesibukan panjangnya. Mimpi-mimpinya menggantikan kekuatannya untuk berdoa. Katanya doa itu terlalu tendeng-tendeng untuk dikabulkan dibanding bermimpi. "Bermimpilah anak-anakku sebab hari akan menjelang malam" Seorang ibu kos menyetujui anak-anaknya untuk ikut bermimpi. Aku pun harus menyiyakan saja. Walaupun impian itu tak pernah mendapat simpatikku. Mereka berjalan ke luar. Mama dan bapak, juga anak-anaknya. Ada 5 orang mencari kesejukan di pantai.
"Cari angin segar do.." Banyak memang tekanan di daratan dibandingkan di lautan. Apalagi kesejukan. Dunia luar laut tak terdapat kebebasan. Mengerangkeng sekali.
"Masakan orang birokrat mau cari dunia yang bebas?"
"Khan manusia juga mereka"
Setiap hati di hati ditawan. Juga mama kos yang gajinya akan membludak bila harga BBM benar-benar dinaikkan. Ada tambahan uang lauk pauk. Uang minyak. Uang transportasi. "Kita juga tambah uang"
"Tambah karena kenaikan harga, bukan ditambah oleh mama kos"
"Setidaknya dikurangi"
"Itulah mimpi yang dianjurkan mama kos tadi"
Aku berdiri lagi di tangga samping kamarku. Seperti biasa menikmati gambar-gambar calon pilgub yang kutempel di daun pintu. Aku memelototi lama pada kolom tempat tidurku. "Masih setengah jerigen" Harapanku hanyalah separuh sebulan ini aku bisa bertahan dengan jumlah liter yang kumiliki ini. "Negara ini begitu mengerti keadaan keluarga" Bunyi suara itu dari mulut rewelnya mama kos. Bahagianya belum juga habis. Sejak pagi, menuju laut hingga pulang. Bergirang karena gaji bertambah.
"Jangan-jangan mimpi mereka terkabul?"
"Mimpi apa?"
"Kenaikan gaji"
"Lho, mereka khan makmur-makmur aja"
"Akan berlipat lagi setelah uang minyak naik?"
Aku tetap menduga bahwa mereka haruslah merasa sebagai orang-orang malang. Logika mereka segundul dan mandul. Masak tiba-tiba berfoya-berfoya menyumpahi takdir yang pahit ini. Belum tentu soalnya pak presiden mau berduka dengan morat-maritnya kehidupan anak-anak kos.
"Mungkin uang tambahan tadi"
"Ah seharusnya kita yang lebih membutuhkan. Mereka punya uang di bank-bank. Punya proyek luar daerah. Punya kendaraan berlapis baja"
"Mungkin uang jalan tidak cukkup lagi"
"Apa itu yang dicari atau itu yang dicuri?"
"Perbedaanya sangat tipis dan kabur"
Aku langsung menutup mulut. Geramnya mama kos berjubelan kutukan. Kami tahan saja. Nilai jual SKS pun berkebelet imbas BBM. "Wah ini minyak memang kayak pengidap AIDS. Ke mana-mana pasti tertular"
"Bukan minyaknya tapi lihat wajah bapak-bapak negara. Mereka bersedih. Tak tega hatinya melihat anak-anak kos ditekan".
"Namun mama kos bersenang-senang saja"
"Diakan orang yang bermimpi di siang bolong"
Aku bisa yakin kalau orang-orang seperti mereka tak terusik dengan momok yang sebentar lagi mencakar kami. Mereka menyambut segayung air madu. Berisi. Manis sekali.
***
"Ingat biar orang kos, tapi kita ini anak-anak negara. Perlu setia dan patuh"
"Negara begitu sedih dengan kalutnya pikiran kita tentang jerigen-jerigen yang kosong itu.
Seorang pejabat berdasi berdiri di depan pintu. Kami tertegun saat mengintip air mukanya. Dag...dig...dug...jantung kami terasa sudah. Sebuah surat edaran disodorkan. Sebelum tiba giliranku membacanya, Lina sudah terpelanting di sisi Vina.
"SK KENAIKAN HARGA BBM" Kopnya demikian.
Aku bingung sendiri hubungan surat itu dengan Lina.
"Tolong Sany, Nana, Ita..."Kami berlari secepat mungkin menuju sebuah Rumah Sakit. Hari itu lah aku akan menjadi seorang anak durhaka. Aku tak percaya dengan apa itu negara. Terlalu menyakitkan buat orang-orang sekecil kami. Aku merangkak perlahan menuju kamar Lin. Aku mengibas debu di ujung meja belajarnya. Hanya sebuah kompor yang sudah dibalik. Kasihan memang lantainya tidak basah. Artinya???. Rice kukernya sudah dicual sebelum karat sebab arus listrik sudah dibrendel.
"Ini ulah mama kos!!" Kami seperti belum siap menerima kenyataan ini. Aku ingin menjadi anak kos yang kampungan. Lebih baik demikian. Di kampung tentu saja aku, Lina, dan yang lainnya tidak mungkin..."Lina sudah...." Kain hitam di tangan Vin itu membahasakan kata-kataku yang tersisa.
"Haruskah kita kembali ke kampung?"
"Sekolah kita belum seberapa. Pasti kita ditertawakan. Kita gagal"
"Ataukah kita melajang aja di jalanan malam? Di diskotek-diskotek. Di bar-bar. Menggaet para pejabat. Menjual tubuh-tubuh kita demi tambahan uang minyak?"
Aku langsung bangkit mencekal baju mama kos. Entahlah kenapa aku sangat berani. Namun harus terjadi.
"Masak korbannya orang-orang kecil? Di mana artinya kebersamaan. Kamikah yang harus menerjemahkan sendiri berat sama dipikul ringan sama dijinjing? Negara ini milik kalian yang berbahagia saja? Milik kalian yang tak goncang lagi dengan silsilah kemiskinan? Ah kalian semua munafik. Tolong realistis.
"Jantung-jantung orang kecil terlalu lemah. Mungkin kalian tidak karena kadar kolesterol telah mengokohkannya!"
Teman-teman lain tak berani bergumam. Mereka berkedip saat lepaskan tanganku dari baju mama kos. Aku terima konsekuensi itu. Aku tak berpikir singkat karena setega itu mama telah membunuh anaknya sendiri. Aku berpikir bahwa semestinya merekalah yang menangis saat mendengar berita itu. "Kasihan anak-anak. Keputusan raksasa ini akan merantai mereka" Mungkin itu hanya anganku. (*)
Pos Kupang edisi Minggu, 12 Oktober 2008
BARU kemarin ini negeri ini tenang dari kesibukan panjangnya. Mimpi-mimpinya menggantikan kekuatannya untuk berdoa. Katanya doa itu terlalu tendeng-tendeng untuk dikabulkan dibanding bermimpi. "Bermimpilah anak-anakku sebab hari akan menjelang malam" Seorang ibu kos menyetujui anak-anaknya untuk ikut bermimpi. Aku pun harus menyiyakan saja. Walaupun impian itu tak pernah mendapat simpatikku. Mereka berjalan ke luar. Mama dan bapak, juga anak-anaknya. Ada 5 orang mencari kesejukan di pantai.
"Cari angin segar do.." Banyak memang tekanan di daratan dibandingkan di lautan. Apalagi kesejukan. Dunia luar laut tak terdapat kebebasan. Mengerangkeng sekali.
"Masakan orang birokrat mau cari dunia yang bebas?"
"Khan manusia juga mereka"
Setiap hati di hati ditawan. Juga mama kos yang gajinya akan membludak bila harga BBM benar-benar dinaikkan. Ada tambahan uang lauk pauk. Uang minyak. Uang transportasi. "Kita juga tambah uang"
"Tambah karena kenaikan harga, bukan ditambah oleh mama kos"
"Setidaknya dikurangi"
"Itulah mimpi yang dianjurkan mama kos tadi"
Aku berdiri lagi di tangga samping kamarku. Seperti biasa menikmati gambar-gambar calon pilgub yang kutempel di daun pintu. Aku memelototi lama pada kolom tempat tidurku. "Masih setengah jerigen" Harapanku hanyalah separuh sebulan ini aku bisa bertahan dengan jumlah liter yang kumiliki ini. "Negara ini begitu mengerti keadaan keluarga" Bunyi suara itu dari mulut rewelnya mama kos. Bahagianya belum juga habis. Sejak pagi, menuju laut hingga pulang. Bergirang karena gaji bertambah.
"Jangan-jangan mimpi mereka terkabul?"
"Mimpi apa?"
"Kenaikan gaji"
"Lho, mereka khan makmur-makmur aja"
"Akan berlipat lagi setelah uang minyak naik?"
Aku tetap menduga bahwa mereka haruslah merasa sebagai orang-orang malang. Logika mereka segundul dan mandul. Masak tiba-tiba berfoya-berfoya menyumpahi takdir yang pahit ini. Belum tentu soalnya pak presiden mau berduka dengan morat-maritnya kehidupan anak-anak kos.
"Mungkin uang tambahan tadi"
"Ah seharusnya kita yang lebih membutuhkan. Mereka punya uang di bank-bank. Punya proyek luar daerah. Punya kendaraan berlapis baja"
"Mungkin uang jalan tidak cukkup lagi"
"Apa itu yang dicari atau itu yang dicuri?"
"Perbedaanya sangat tipis dan kabur"
Aku langsung menutup mulut. Geramnya mama kos berjubelan kutukan. Kami tahan saja. Nilai jual SKS pun berkebelet imbas BBM. "Wah ini minyak memang kayak pengidap AIDS. Ke mana-mana pasti tertular"
"Bukan minyaknya tapi lihat wajah bapak-bapak negara. Mereka bersedih. Tak tega hatinya melihat anak-anak kos ditekan".
"Namun mama kos bersenang-senang saja"
"Diakan orang yang bermimpi di siang bolong"
Aku bisa yakin kalau orang-orang seperti mereka tak terusik dengan momok yang sebentar lagi mencakar kami. Mereka menyambut segayung air madu. Berisi. Manis sekali.
***
"Ingat biar orang kos, tapi kita ini anak-anak negara. Perlu setia dan patuh"
"Negara begitu sedih dengan kalutnya pikiran kita tentang jerigen-jerigen yang kosong itu.
Seorang pejabat berdasi berdiri di depan pintu. Kami tertegun saat mengintip air mukanya. Dag...dig...dug...jantung kami terasa sudah. Sebuah surat edaran disodorkan. Sebelum tiba giliranku membacanya, Lina sudah terpelanting di sisi Vina.
"SK KENAIKAN HARGA BBM" Kopnya demikian.
Aku bingung sendiri hubungan surat itu dengan Lina.
"Tolong Sany, Nana, Ita..."Kami berlari secepat mungkin menuju sebuah Rumah Sakit. Hari itu lah aku akan menjadi seorang anak durhaka. Aku tak percaya dengan apa itu negara. Terlalu menyakitkan buat orang-orang sekecil kami. Aku merangkak perlahan menuju kamar Lin. Aku mengibas debu di ujung meja belajarnya. Hanya sebuah kompor yang sudah dibalik. Kasihan memang lantainya tidak basah. Artinya???. Rice kukernya sudah dicual sebelum karat sebab arus listrik sudah dibrendel.
"Ini ulah mama kos!!" Kami seperti belum siap menerima kenyataan ini. Aku ingin menjadi anak kos yang kampungan. Lebih baik demikian. Di kampung tentu saja aku, Lina, dan yang lainnya tidak mungkin..."Lina sudah...." Kain hitam di tangan Vin itu membahasakan kata-kataku yang tersisa.
"Haruskah kita kembali ke kampung?"
"Sekolah kita belum seberapa. Pasti kita ditertawakan. Kita gagal"
"Ataukah kita melajang aja di jalanan malam? Di diskotek-diskotek. Di bar-bar. Menggaet para pejabat. Menjual tubuh-tubuh kita demi tambahan uang minyak?"
Aku langsung bangkit mencekal baju mama kos. Entahlah kenapa aku sangat berani. Namun harus terjadi.
"Masak korbannya orang-orang kecil? Di mana artinya kebersamaan. Kamikah yang harus menerjemahkan sendiri berat sama dipikul ringan sama dijinjing? Negara ini milik kalian yang berbahagia saja? Milik kalian yang tak goncang lagi dengan silsilah kemiskinan? Ah kalian semua munafik. Tolong realistis.
"Jantung-jantung orang kecil terlalu lemah. Mungkin kalian tidak karena kadar kolesterol telah mengokohkannya!"
Teman-teman lain tak berani bergumam. Mereka berkedip saat lepaskan tanganku dari baju mama kos. Aku terima konsekuensi itu. Aku tak berpikir singkat karena setega itu mama telah membunuh anaknya sendiri. Aku berpikir bahwa semestinya merekalah yang menangis saat mendengar berita itu. "Kasihan anak-anak. Keputusan raksasa ini akan merantai mereka" Mungkin itu hanya anganku. (*)
Pos Kupang edisi Minggu, 12 Oktober 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar