Rabu, 02 Februari 2011

Cerpen KOTA MULUNG




christo ngasi


Dunia ini  tak bernyawa lagi
            Jaman ini tak adil lagi
            Untukku,untukmu tapi tidak untuk Dia
            Hanya untuk aku saja
            Hai nasib ubahlah hidup ini
            Berpihaklah padaku Dewi Fortuna.

            Namaku Rio. Aku dibesarkan ditengah keramaian kota mulung. Banyak yang bertanya kenapa kota kok dinamakan mulung? Nama ini mau mencerminkan kehidupan kami sebagai seorang pemulung yang tinggal dalam satu kompleks. Namun bukan kompleks yang disiapkan oleh pemerintah sesuai janji mereka saat berkampanye tapi kompleks yang orang tua kami bangun untuk dapat berlindung dari panas dan hujan. Semua suka dan duka aku jalani di tempat ini. Meski ramai dengan sampah tapi kami sungguh merasa nyaman karena berada di rumah sendiri. Panas dan bisingnya kota tak lagi kami hiraukan. Demi sesuap nasi kami terus mencari apapun caranya yang ditempuh yang terpenting hasilnya kami dapat mengisi perut ini. Aku ingin berkata tentang hidup yang kujalani bukan untuk orang lain tahu tapi hanya sebatas mengingatkan bahwa kami juga hidup disini dan dikota ini.
Siang kala itu seakan merobek perut bumi, panas tak lagi dapat tertahan oleh kulit. Terlihat jelas oleh mata, semua orang pada berlindung dibawah bangunan tua dan rapuh yang sebentar lagi akan rubuh ditelan usia, terlihat juga ada yang berlindung dibawah pohon yang rindang dengan ranting tak berdaun.Terdengar suara dari seorang ayah yang menyelinap ditengah banyak orang yang saat itu sedang berlindung.”Mengapa seminggu ini dunia begitu kejam?” Itulah suara yang aku tangkap. Aku tak dapat berbuat apa-apa selain ikut merasakan panasnya kekejian sang Dewa Matahari. Nampak juga kebanyakan orang yang terus beraktifitas dikompleks pasar inpres yang kata orang adalah hasil pembangunan masa orde baru memang saja pasar ikan bercampur dengan sembako lebih menjijikan, lagi kumpulan hewan menikmati hasil hajatan orang.
Bisingnya kota dengan bunyi berbagai merk kendaraan membuat pedagang kaset bajakan mempromosikan kaset  milik band Peterpan yang berjudul kota mati. Aku melangkah tanpa alas kaki, panas menusuk sampai ke sum-sum tulangku. Rasa dahaga bercampur lapar tak lagi kuhiraukan. Aku terus berlangkah lebih cepat guna menikmati makan siang bersama sang ayah di rumah. Aku merasa nyaman dirumahku sekalipun rumahku terbuat dari bahan bekas seperti bambu, tripleks dan kardus, tapi aku merasa nyaman dan penuh kedamaian.
Mengapa kotaku ini begitu panas? Cuacanya terus berubah dalam setahun apakah ini suatu tanda zaman yang harus ditata ulang oleh manusia? Menurut ayahku yang adalah seorang pemulung berucap bahwa dunia tak bernyawa lagi. Aku bertanya dan kembali ayah berucap. “ Nak kamu lihat dunia ini begitu indah karena diciptakan dari ketiadaan namun dunia saat ini seakan kembali ke ketiadaan karena kerakusan dan keegoisan mereka yang berkuasa.”
 “ Trus egoisme itu apa si pak..?” Kembali aku bertanya.
“ Egoisme itu ingin menang sendiri dan tidak ingin orang lain menang dari dirinya.” Jawaban dengan keterbatasan pengertian.
Sungguh dunia tak bernyawa lagi. Jaman sudah tak adil lagi untuk ayah dan kamu. Untuk kita berdua, hidup ini hanyalah Dewi Fortuna yang tahu. Dengan ketidaktahuan, aku menganggukkan kepala pertanda setuju sekalipun tak aku mengerti.
            Hampir 17 tahun sudah ayahku tinggal dipinggiran kota dengan mata pencaharian sebagai seorang pemulung lagi copet jika kesempatan mendukung. Ibu dan adikku telah meninggal. Awalnya Ibuku meninggal karena menderita penyakit TBC, lalu menyusul adikku yang meninggal karena busung lapar. Kini aku dan ayahku bertaruh hidup dan pasar Inpreslah ladang kami.
            “Yah dimanakah kampung dan keluarga kita? Tanyaku.
“Ah…sudahlah jangan membahas yang tidak ada. Sebaiknya kamu makan.” Jawab ayah yang tak mengenah dengan maksud pertanyaanku.
            “Yah…besok ada pameran di pasar Inpres. Kita pasti dapat banyak uang.”
“Tapi besok ayah tidak bias, soalnya ayah mau pergi ke pasar senggol untuk membayar utang.”
            “Ya sudahlah Yah….biar aku sendiri saja besok.” Wajah kesal tergambar diraut wajahku karena ayah tak dapat menemaniku untuk memperoleh lebih banyak uang.
            Aku melihat begitu banyak pemulung yang wajah mereka baru kelihatan di pasar Inpres itu. Kelihatannya mereka mulai menguasai semua sampah. Merasa hasilku diambil oleh mereka, akupun mendekati dan mencari celah supaya dapat bentrok dengan mereka. Namun aku tak berdaya. Seorang yang paling besar dari antara mereka dating menghampiriku lalu mendorong aku hingga plastic minuman yang telah aku kumpulkan tercecer. Habislah harapanku untuk memiliki banyak uang. Kembali aku mengumpulkan hasil jeripayahku itu. Aku merasa mendapat kekuatan baru karena teman seprofesiku mulai berdatangan. Akupun mengambil sebuah botol minumam yang terbuang didepanku. Aku dekati pemulung yang tadi mendorongku dan tanpa banyak tanya, aku pukul kepalanya dengan botol hingga hancur dikepalanya dan seketika itu pula kepalanya berdarah. Namun tak sampai di situ. Saking emosinya aku terus mendorong dan memukulnya.
            “Tu lihat Rio”seorang temanku lari mendekatiku.
“Kamu kenapa Rio?” Tanya mereka.
            “Dia yang memukuli aku duluan.” Suara pembelaan keluar dari mulutku.
“Ayo lari…. Polisi  dating.” Kamipun berlari dan tak lupa mengambil hasil pungutan dari pemulung yang aku pukul tadi.
Hatiku senang karena hari ini aku mendapat begitu banyak uang dan ini sudah cukup untuk biaya hidup selama dua minggu. Bersama teman yang lainnya, kami pergi membeli makanan sekaligus mencopet lagi, karena bagi kami yang adalah seorang pemulung copet pada sore hari adalah satu rejeki karena situasi pada sore hari sangat mendukung niat kami itu.
            Malam hadir dengan cuaca yang sangat dingin padahal siang tadi begitu panas. Dengan selimut yang kusam, kututupi diriku sebagai penghangat. Aku menanti kedatangan ayah didepan warung milik mbo’ Nining. Akan tetapi ayah tak kunjung pulang. Kuberpikir pasti Ayah menginap dipasar senggol. Dengan lapar yang mendera perutku, kulahap semua makanan yang telah kubeli di warung. Akupun lelap dalam mimpi padahal baru jam 9.00 malam. Ini lain dari biasanya karena aku bersama ayah biasanya tidur pada jam 11.00 malam. Aku mendengar bunyi motor parkir di depan rumahku.
            “Rio…Rio…Rio” teriaknya begitu keras seakan memecahkan kesunyian malam.
“Bagaimana bung Jack” jawabku lemah karena masih mengantuk.
            “Ayahmu Rio…..!?!!
“Oh…Ayah lagi ke pasar senggol bang.”
            “Bukan itu Rio. Ayah kamu…” Ah…sudahlah. Ayo naik!
“Memangnya ada apa dengan Ayaku, bang?”
            “Jangan banyak Tanya. Ayo cepat.”
Perjalanan yang cukup jauh serasa hanya berlangkah ke rumah tetangga. Aku tak menyangka bahwa kemudian yang aku jumpai hanyalah sesosok tubuh yang tak bernyawa lagi.
            “Ayah…Ayah….Ayah…!!! teriakku melihat tubuhnya yang tergetetak kaku dipinggir tong sampah. Ayahku pergi tanpa satu pesan yang kudengar dari mulutnya. Ia pergi untuk selamanya. Dalam kesedihan, ku peluk dan cium ayah untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya dapat menahan emosi saat orang banyak berkata-kata tentang ayah.
            “Itu rasa…. Makanya jangan jadi pencopet.”
            “Makanya kerja supaya jangan pencuri. Cui…” semburang ludah mengena pada wajah ayah. Dengan perasaan sedih bercampur marah kepada mereka yang sedari tadi menghujat ayah, kuusap wajah ayah dengan tanganku.
Ayah bagaikan hewan yang diletakkan begitu saja, ditendang dan diludahi banyak orang. Mungkin ini adalah tanda batas langkah nafas hidupku.
Polisi berdatangan dan mengangkat tubuh ayahku yang tak bernyawa lagi. Aku berlari sembunyi dibelakang tong sampah. Terlihat olehku pemantik milik ayah yang terjatuh dari sakunya. Melihat itu, aku bergegas memungutnya sembari air mataku menetes mengingat ayah yang telah pergi. Ini adalah barang kesayangan ayah yang dapat aku simpan sebagai kenangan. Aku sandarkan tubuhku yang letih pada tiang Telkom sambil menatap lampu pertokoan yang gemerlapan dan aku pun berteriak dengan suara yang begitu keras ”ambillah nyawaku……” Air mata terus mengucur membasahi wajahku yang kusam mengiringi kesedihanku sambil berjalan pulang memikirkan nasibku di hari-hari yang akan datang. Aku pandang pemantik ayah dan menyalakannya sambari berjaji untuk bisa menjadi seorang yang dapat menerangi hidupku yang sepi dan sendiri. Semalam suntuk aku tak bisa tidur. Aku terus menangis dan memikirkan ayah yang telah tiada. Sekarang aku merasa sendiri tanpa ada yang menemani. Kuharus berjalan sendiri dan menentukan nasib hidup sendiri. Kuteringat kembali pada Ayah yang selalu menemaniku dalam tidur, yang merangkul dan memeluk dengan kasihnya. Namun kini itu semua hanyalah satu kenangan yang harus kuubah.
            Waktu terus berubah dan bayangan ayah masih tetap teringat. Kutak tahu harus berbuat apa. Ingin hatiku mengunjungi makam ayah, tapi tak tahu dimana ayah dikuburkan. Terpikir olehku mungkin bung Jack mengetahui dimana Ayahku dikuburkan.
            “Mat Sore bung Jack.” Sapaku.
“Hei Rio kamu  selama ini dimana saja.” Bung Jack menarik tanganku menuju pangkalan ojek. ”Rio, tidak terasa kamu sudah besar.”
            “Bung jack bisa bantu saya untuk mengunjungi makam Ayah?” Sejenak bung Jack terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.
“Tapi sudah sore…biar besok saja ya…”
            “Baiklah bung Jack, besok aku  akan kesini.”
Kuberlalu dari hadapan bung Jack. Hatiku kembali terpukul karena rumahku telah digusur guna perluasan Pasar. Aku ingin protes tapi apa hakku. Aku pun teringat akan pemantik milik Ayah. Lalu aku mencarinya di tengah puing-puing reruntuhan tapi tak kutemukan. Aku merasa putus asah karena tidak dapat bias menjaga dan menyimpan barang kenagan milik ayah itu. Tetapi aku lalu melirik dan melihat seorang pekerja yang sementara menggunakan pemantik itu untuk menyulut puntung rokoknya. Dengan cepat aku berlari dan merampas pemantik itu dari tangannya dan berlalu pergi dari.
Pagi datang menyapa bumi. Aku menemui bung Jack yang kemarin berjanji untuk mengantarkan aku mengunjungi makam ayah. Tetapi bukannya kesempatan itu yang aku dapat.aku justru dimintanya untuk ojek hingga sore hari. Ah… apa mau dikata. Karena kemauanku untuk mengunjungi kuburan ayah, apapun kulakukan.
Bersama bung Jack aku mengunjungi makam ayah. Saat itu hatiku begitu legah serasa ayah berada bersama aku lagi. Angin berhembus menerpa lilin bernyala yang aku pasang di dikuburan ayah, tetapi tak dapat memadamkan lilin itu. Aku berdoa buat Ayah. Inilah doa untuk yang pertama kalinya kuucapkan buat ayah, dan dalam doa itu aku berjanji untuk menjadi seorang anak yang baik. Bung Jack tak dapat berkata-kata. Ia hanya merasa sedih melihat apa yang aku buat di kuburan ayah itu. Waktu membatasi keberadaaku di kuburan itu. Aku berlangkah meninggalkan kuburan Ayah. Ditengah perjalanan pulang bung Jack menarik tanganku dan menyodorkan uang Rp.250.000. Aku tak mengerti apa maksudnya memberikan uang itu, namun bung Jack mengatakan bahwa ini adalah uang milik ayah yang pernah dipinjamnya. Dengan senang hati aku menerima. “Terima kasih.” Ungkapku. Aku berlalu dari hadapan bung Jack tak tahu lagi haruspergi kemana sekarang.
Aku pun melintasi kota tempat aku dibesarkan, terpampang sebuah papan yang bertulis “kota mulung.” Aku tak mampu memandang, aku lalu berlari dengan jeritan untuk diriku sendiri bahwa aku adalah sang pemulung. Aku tahu bahwa hari ini ada kapal yang hendak berlayar menuju pulau seberang. Dengan ketidaksiapan, aku ikut saja kemana tujuan kapal itu, untuk bertaruh hidup lagi ditanah orang, tetapi dengan satu niat yang baru dan pasti yakni bukan menjadi seorang pemulung dan pencopet lagi. Aku yakin jeritanku pasti terdengar oleh Dewi Fortuna bahwa kelak aku akan menjadi wajah baru, bukan lagi di kota yang mati melainkan dalam kota yang hidup.

                                                                                               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar