Cerpen: Januario Gonzaga
Kau pasti tahu kalau bercak darah dalam topi baretmu itu kucium dengan air mata yang dahsyat. Kau belum mau mati saat itu, begitu coretan darah topi baretmu kutafsir seirama dengan bunyi air mata jatuh dan suara tangisanku pada huruf demi hurufnya. Dari hurufmu yang memerah itu aku tahu kau tidak ingin maut menjemputmu tepat pada saat cinta kita ibarat sebutir air di pinggir timba. Kau berjuang melawan maut yang sebentar-sebentar menggetarkan hatimu di medan perang. Mungkin maut itu sudah lama sekali mengintipmu semenjak kau mengenakan pakaian loreng bersetrep merah satu dan masuk dalam laskar batalyon infanteri. Maut itu pulalah yang selalu kutakuti dan dengan berbagai cara kucoba mengharamkan cintaku padamu agar aku secepatnya beralih dari cinta yang sekuat tenaga kuperoleh. Hanya karena loreng cintaku tanpa alasan kusebut sebagai menakutkan.
“Entahlah akan jadi apa kau selalu merasa bosan hidup berumah tangga denganku”
Aku minta maaf kalau aku tidak pernah mengatakan kejujuran apa dalam hatiku bila-bila pertentangan datang. Aku tak ingin kau tahu alasan yang akan kau anggap konyol ini. Aku tidak ingin kau tahu bahwa aku tidak suka suamiku tentara. Melihat topi baretmu, sangkurmu yang selalu runcing, sepatumu yang selalu dismir, aku tak bisa tidak ingin sedini mungkin menyangkal cinta kita.
“Kenapa awalnya kau tak mau mengatakan yang terus terang sewaktu kita akan menikah”
Kau menduga kalau aku tak jatuh cinta padamu sejak awal ketika aku menunduk malu pada setiap tatapanmu. Kini, ketika aku kau tahu sudah bosan, kau menggugat cinta yang dulu bening. Dan aku tidak ingin mendebatkan kadar cintaku dulu lagi, sebab kau tidak akan lagi percaya ketika kau menelinga kalimatku ini,
“Aku tidak bisa mendampingimu sebagai istri. Aku harus memilih bosan sebagai alasanku saat ini”
“Aku tak ingin mendengar alasanmu selain itu. Tentulah cinta tidak bisa dipaksakan hidup seatap dengan benci”
Kau tak sudi mendengar kata-kataku yang alasan paling konyolnya adalah bosan. Dan itu lebih baik, sebab jika saja kuucapkan tentulah kau menertawaiku. Dan lelucon bagimu selalu bisa kaumenangkan dengan membuatku merasakan lagi cinta pertama kita. Itu sudah tidak mungkin. Aku sudah terlanjur mencintaimu dengan rasa takut yang tak ingin kujelaskan alasannya. Dan cukuplah ketika kau menghardikku,
“Kau tidak boleh memaksakan dirimu lagi untuk hidup bersamaku kalau begitu”
“Tidak. Aku memang tidak ingin menjadi bagian dari rasa cintaku padamu. Tapi aku mohon aku tetap berada di sampingmu”
“Bisakah kau mendampingiku tanpa mencintaiku?”
Untuk kata-kata yang selalu bernada tinggi, kau akan mengakhirinya dengan air mata. Kau memang laki-laki berloreng yang berhati melankolis. Kau tahu kenapa aku menyukai setiap kemarahan dari kata-katamu? Sebab kau selalu mengakhirinya dengan air mata. Ya, air mata. Diam-diam aku telah jatuh cinta pada air matamu tentaraku. Aku ingin kau menjadi seperti air mata yang begitu lembut memahami kerapuhan jiwaku. Air matamu lebih mampu membahasakan cintamu padaku yang hari-hari ini mulai kuanggap tak lebih dari sekadar sebuah hiasan senja yang akan dicoreti malam.
Topi baretmu masih basah oleh air mataku dan cairan ingus hidungku. Dan aku terus berlawan-lawan dalam hatiku sendiri, bilamana kau akan pergi dari rumah setiap paginya. Aku tak mau menempatkan rasa cinta pada setiap cumbuan yang kau berikan. Aku tidak ingin menempatkan rasa rindu pada bayanganmu yang menemani kesepianku sebagai seorang istri tentara. Aku tidak ingin memantik api cinta untuk membakar hatiku di saat kau mengenakan loreng, menutup kepalamu dengan topi baret, mengenakan sangkur di pinggangmu dan mengisi peluru pada senjata M16mu. Akhirnya kau pun tahu dari kata-kata yang kuucapkan
“Kau harus menjaga dirimu sebab kau masih berharga untuk banyak orang” Kalimat itu tentu saja membuatmu semakin yakin kalau aku menyalahi jalan yang benar. Aku kau benarkan untuk mendampingimu tanpa mencintaimu seperti gelora yang tumbuh kala remaja hingga kita menikah dulu. Tidak lagi sama, itu yang kau bayangkan saat ini. Dan semestinya begitu, sebab aku tak ingin memaksamu untuk tidak memahami lagi apa yang susah payah kubangun yang memang harus demikian riwayatnya.
Tulisan merah inilah yang kau buat untuk mengadiliku hari ini. Air mata ini seperti vonis paling berat yang akan bertahun-tahun harus kujalani ibarat membayar sebuah harga pada penjual yang tak bosan-bosannya menjajakan barang kesukaanku. Dan kali ini aku tidak meyakini kata-kata sendiri yang kuucapkan dulu,
“Aku yakin, sudah saatnya aku tak bakal sedih bila kehilanganmu”
“Aku tahu itu. Kau seharusnya tidak mendapatkan suami sepertiku. Aku terlalu berisiko untuk dicintai dengan cinta seorang wanita sepertimu”
“Terima kasih untuk pengertianmu. Dan aku yakin suatu ketika cintaku padamu akan dikalahkan oleh jarak yang kuciptakan dalam pikiran ini”
Tetapi kenapa semuanya jadi berubah hanya karena kiriman tulisanmu yang masih berbau amis darah ini. Di dalam topi itu aku tak mengira kau akan mengembalikan perasaan yang dengan susah payah kuhapus di antara kita bertahun-tahun. Topimu dan darah yang merangkai huruf itu membuatku lupa pada ranjang yang kita pakai terpisah di setiap malam, dengan sendok yang tak boleh tertukar, dengan cumbuan yang tak boleh membangkitkan hasrat.
“Cinta bisa mengalahkan ketakutan”
Air mataku timbul oleh percakapan paling runyam di dalam batinku membaca tulisan tinta darah pada topi baretmu itu.
“Mengapa kau mengirimku kenangan yang kausadari akan membunuhku ini. Ataukah kau tak tahu lagi kalau-kalau tulisanmu ini memaksaku masuk lagi ke rahim cintaku sendiri yang dengan susah payah kutinggalkan”
Kau benar untuk semua yang kau rasa tentang diriku. Aku masih mencintaimu di antara tabir-tabir ketakutan. Di antara malam-malam gelap yang dengan terpaksa kuhirup udaranya tanpa menyentuh tanganmu. Kau tahu itu bilamana melihatku meneteng buku-buku di tas dan pergi ke sekolah untuk mengajar di sana. Aku hanya ingin kita tidak menjadi miskin ketika kau telah tiada. Tapi kau melihat lain,
“Aku masih bisa membiayaimu untuk apa saja keperluanmu” kau membenarkan kata-katamu itu kini melalui air mataku yang tak habis-habisnya mencium topi baretmu.
Lalu muncul kesadaran dalam diriku. Aku harus mengetahui riwayat kematianmu. Mungkin dengan itu ada celah yang bisa memberiku alasan atas alasanku yang menurutku benar. Aku sebagaimana kau inginkan harus memiliki harapan pada jalan hidup yang sekalipun salah kulalui. Tapi bagaimana kedamaian itu kudapat jika aku telah memutuskan cinta dengan keinginanku sendiri tanpa meminta persetujuanmu.
* * *
Kami akan bertempur kala itu. Dia ada di barisan depan. Tentara kami mendapat serangan oleh karena kurang personil. Kami dikepung dan segala daya upaya harus kami kerahkan untuk menyelamatkan diri dan nama negara. Dan bagi dia, nama negara adalah segala-galanya. Kami mundur dan mencari bantuan darurat setelah yakin kami akan mati terbunuh beberapa langkah lagi. Sepasukan tentara kami tiba setelah pasukan barisan depan, termasuk suamimu dihantam peluru dan meriam. Mereka berlima mati seketika kecuali suamimu. Demi istrinya dia meminta obat penahan sakit.
“Tolong berikan obat itu sebanyak-banyaknya” entahlah untuk apa suamimu memintanya. Namun pertanyaan padanya sungguh tidak boleh karena itu tidak manusiawi. Suamimu berteriak sekencang dengan perut yang lubang ditembusi peluru. Aku memangkunya untuk berdiri sedang bau darah dari mulutnya mulai menguap.
“Aku belum ingin mati. Cepat berikan obat lagi. Tolong> Kenapa kalian diam saja” Dia meminta lagi obat itu hingga kami kehabisan.
“Aku sudah kuat” suamimu bangun dengan semangat yang semakin pucat. Lubang di punggungnya mengeluarkan darah kental. Dia tidak ingin menatap perutnya yang kali ini sudah menceraikeluar tali-talinya.
“Kawan, biarkan kami yang melanjutkan perjuanganmu” Dengan iba kata-kataku terlontar begitu saja.
“Tidak. Saya belum mati. Cepat isi peluru saya. Saya akan habiskan bajingan itu” Suaranya kali ini serak dan berat. Kami masih terlibat baku tembak dengan beberapa pasukan musuh sampai benar-benar mereka tewas. Demi dilihatnya kondisi semakin parah suamimu menyulut rokok dan mengambil topi baretnya. Dia tertawa dengan kesakitan yang mungkin mulai merambat ke saraf-saraf kepalanya. Dan kali ini guncangannya begitu dahsyat sehingga mulutnya mengelurkan busa yang diikuti darah kental berwarna hitam.
“Kawan, biarkan kami melanjutkan perjuanganmu” kata-kata itu kini dengan parau dia tanggapi. Disadarinya dia akan kehabisan darah dan itu berarti maut sebentar lagi menjemputnya, dia membalikkan topi baret itu hingga terlihat bagian yang putih buram. Dan mencucukan jari telunjuk ke dalam perutnya dengan keyakinan bahwa dia tidak apa-apa.
“Aku masih hidup. Aku masih akan hidup” dia berteriak bertubi tubi sambil terbahak-bahak oleh gumpalan darah yang mengguncang tenggorokannya. Dia menggelengkan sebentar kepala lalu mengangkat jarinya dengan darah yang menetes cepat. Air matanya baru kulihat jatuh. Dan aku pun langsung terhisak oleh tangis yang keras. Jarinya itu digerakkan perlahan dengan sisa tenaganya dan menuliskan sesuatu pada topi baret itu. Dan inilah pesan yang telah kau baca, pesan yang aku sendiri tak mengerti mengapa demikian ditulisnya.
* * *
Air mataku lebih deras dari yang lalu-lalu. Dadaku bergemuruh dengan rasa salah dan sayang yang tak tertahankan. Kupersilahkan sahabatmu itu pamit melalui tirai air mataku yang kukira akan selamanya begini kalau ceritanya tentangmu kuingat lagi dan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar