Gembala Mimpi dari Harani
- Danny Bria -
Ini adalah kisahku, kisah yang dibalut renta, terbentang panjang dalam era 80-an. Kisah ini kubuat untukku, terpilin atas kisah usang seorang anak manusia yang dilahirkan di perkampungan yang sungguh udik. Kampungku bukan saja di pinggiran kota tapi memang sama sekali di luar, jauh dari kota. Harani, itulah nama kampungku.
Entah apa arti sebutan itu, aku tak tahu. Nama Harani sudah disandang kampungku sejak ia dijadikan sebuah perkampungan oleh orang-orang. Tentunya sudah sangat lama, jauh sebelum adanya aku di kampung ini. Mungkin aku generasi setengah abad setelahnya. Entahlah. Itu tak pasti. Tidak pula kutanyakan pada orang-orang sekampung usul muasal nama itu. Aku lebih menaruh perhatian pada yang sudah ada, yang telah disediakan Harani bagiku termasuk rumah kami, ama , ina , sapi-sapiku serta kegiatanku pada hari-hari yang datang, lewat, datang lagi, terus lewat lagi.
Aku menyulam hari-hariku dengan menggembalakan sapi-sapi di padang yang dipagari lebatnya hutan. Kami menyebut hutan itu dengan sebutan alas . Letak alas jauh lagi ke selatan dari permukiman kami. Di tengah-tengah alas itulah bentangan rumput memadang. Bila disapu mata, padang itu cukup luas. Ia berselip memanjang, memisahkan kumpulan pohon kenari di sisi yang satu dan sisi lainnya lagi. Tak heran bila garangnya muntahan penguasa siang tetap terasa menusuk. Dari sana kita bisa mendengar gaduh riuh tumpahan gelombang milik pantai Taberek .
Aku sendirian saat menggembalakan sapi-sapi. Tidak ada kawan sebagaimana yang diceritakan dalam novel-novel. Sungguh sepi. Saat matahari berdiri tegak di atas sana, menciptakan satu garis lurus di atas kepalaku, aku hanya mampu mengusirnya dengan alunan simfoni yang keluar dari suling bambu tua. Teriknya hampir-hampir menghanguskan. Bukankah itu hal biasa bagi seorang gembala sapi?
Aku anak kampung. Si penggembala sapi. Dulunya aku sekolah. Sekarang sudah tidak lagi. Jangan pernah tanyakan padaku soal jam. Aku tidak punya jam tangan maupun jam dinding di rumah. Yang kutahu ketika aku bangun dan memberi makan kepada sapi-sapiku sebelum menggiringnya ke padang, itulah yang namanya pagi hari. Saat matahari berada persis di atas kepalaku, itulah tengah hari. Aku juga tahu kalau saat itu panasnya belum seberapa dibanding ketika ia mengambil sedikit haluan lagi ke arah barat. Bila tiba waktunya aku harus mengumpulkan rerumputan serta kayu bakar sebagai hadiah buat ina di rumah, merangkulnya seperti menjaga sebongkah emas di atas punggung sapiku sambil menuntun mereka kembali ke kandang, itulah petang bagiku. Malam bagiku adalah saat gelap. Ketika aku telah selesai membantu ina mengambilkan air untuk masak sekaligus untuk mandi. Aku mengambil air di sumur yang letaknya di ujung kintal. Ama biasa tiba kemudian. Aku dan ama berbagi tugas. Aku menggembalakan sapi-sapi, sedangkan ama mengerjakan kebun kami yang letaknya lumayan jauh dari rumah, di kaki bukit. -Untuk sampai ke sana, ama harus mengambil jalan ke Utara beberapa kilo meter lagi.
Malam hari merupakan waktu yang kutunggu-tunggu, waktu aku, ina, dan ama berkumpul. Itu saat yang sangat membahagiakan. Ketika ina membagikan aka bilan dan fehuk dikin buat aku dan ama juga buat dia sendiri. Kami makan seadanya. Tidak seperti keluarga om Baba yang tiap minggunya berbelanja di kota menggunakan pik up mereka –itu satu-satunya mobil di kampung kami-. Tetapi kami bahagia. Kami bahagia karena kami menerima keadaan kami apa adanya, selalu bersyukur dengan apa yang kami peroleh dan miliki. Bila acara makan malam di rumahmu dilangsungkan dalam suasana hening maka di sini tidak. Makan malam justru merupakan kesempatan kami bercengkerama, bersenda gurau, saling membagikan pengalaman. Itu pula yang membuat apa saja yang jadi menu makan malam itu dilahap habis tanpa sisa. Acara makan malam kami berlangsung di lantai rumah yang dialasi kleni . Kami akan melanjutkan acara senda gurau kami setelah makan. Namun semuanya harus diakhiri karena aku harus meninggalkan ina dan ama sebentar; pergi belajar.
Jangan kaget bila aku berkata demikian. Meskipun aku hanya seorang anak kampung yang kolot namun aku pun belajar. Tempat belajarku tepat di tengah-tengah rumah para penduduk kampung. Di sanalah aku bisa berkumpul dengan kawan-kawanku. Ada Manek, Bo’u, Ikun, Ulu, Bere, Biak, Buik, Tahu dan Luruk Bui. Aku sendiri bernama Muti. Di antara kesembilannya, Maneklah yang paling akrab dengan aku. Itu karena ketika sekolah di SD dulu kami selalu bersama-sama menumpang di pik up milik om Baba. Kebetulan anak perempuan om Baba yang bernama Cing seangkatan kami. Aku dan Manek terus menumpang hingga tamat SD. Hanya saja setelah tamat, Cing masuk asrama dan melanjutkan ke SMP. Dengan sendirinya kegiatan antar jemput tidak lagi terjadi. Tidak mungkin kami juga masuk asrama. Selain butuh biaya yang bagi kami lumayan besar, aku harus membantu orang tuaku menggembalakan sapi. Lebih lagi Manek. Ia harus membantu ina-nya mengerjakan kebun mereka. Ama Manek sudah meninggal sejak manek berumur 3 tahun. Jadilah aku dan Manek hanya bisa puas dengan ijazah SD di tangan.
Kami belajar di sebuah rumah tua –lebih layak disebut gubuk- yang hanya diterangi badut . Kami punya pensil dan juga buku. Tapi itu dibagikan. Itulah fasilitas kami dan dia yang membagikan secara cuma-cuma, gratis.
Dia adalah pengajarku. Pengajar kami. Orangnya tinggi besar - ada yang pernah bilang padaku kalau nenek moyangnya raksasa- dengan jenggot putih yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Aku yakin dia dari negeri seberang meski tidak tahu secara pasti. Dia adalah pengajar kami. Tapi aku sendiri tidak terlalu tahu siapa dia. Dan memang ia sendiri tidak pernah peduli siapa dan dari mana ia. Yang kutahu, orang-orang di kampungku, kawan-kawanku, termasuk aku biasa menyapanya dengan sapaan na’i lulik. Sebutan itu biasa digunakan untuk menyebut para raja tinggi di kampungku. Dia bukan raja. Lakunya saja sangat bertolak belakang dari para raja. Tidak pernah ada raja ataupun anak raja, juga semua yang tergolong bangsawan yang bergaul dengan kami. Tapi dia selalu bergaul dengan kami. Selain mengajar aku dan kawan-kawanku, dia juga sering membagikan obat kepada para penduduk. Itulah yang kami senangi dari dia. Ia datang ke kampungku seminggu sekali. Jadi belajarnya juga seminggu sekali. Dari dialah aku berani bercita-cita, tidak takut memiliki impian. Entah bagaimana dengan teman-temanku, tapi aku punya cita-cita. Hanya gubuk tua, selembar buku, pensil, dan badut yang terangnya tak juga mampu mengalahkan cahaya bintang, namun tekad di hatiku tidak surut.
Mungkin kau punya fasilitas yang lebih mendukung, lebih elit, lebih mewah, pokoknya serba lebih dariku, tetapi kita tetap punya sesuatu yang sama. Itulah impian. Ya…aku punya impian.
Bisa saja impianmu setinggi langit, mengejar awan, ingin menduduki bulan, menggapai matahari, menapaki bintang-bintang, mewarnai pelangi, mengurai tetes-tetes hujan, atau bahkan bisa saja ber-revolusi bersama planet-planet.
Aku hanya mau jadi seseorang yang berarti di bawah langit. Aku ingin saat awan masih berkejaran, matahari bersinar di atasku, ketika bisa menyaksikan bulan yang selalu berubah bentuk di setiap malamnya, kala menghitung jumlah bintang yang tiada akhirnya, menikmati indahnya warna pelangi, masih dapat merasakan dinginnya air hujan, sampai menanti munculnya planet baru setelah genapnya tahun cahaya, saat itu pun aku ingin menjadi seseorang, seseorang yang berarti. Tak seberapa artinya aku tak masalah. Setidak-tidaknya aku dapat memberi arti bagi hidupku, bagi diriku. Bila aku berarti bagi diriku dan mereka yang kucintai –ama, ina, dan tentu sapi-sapi gembalaanku- itu pun sudah cukup. Entah kau menganggapnya apa tapi bagiku itulah impian. “Bukankah setiap orang dalam hidupnya selalu berusaha agar dirinya berarti?” Inipun aku kutip dari dia, sang Na’i Lulik. Aku adalah anak kampung. Aku si penggembala sapi. Tetapi aku terus hidup bersama impianku, impian untuk jadi seseorang yang berarti.
Hari berganti, minggu pun terkelupas dengan sendirinya. Tak terelakkan lagi bila bulan menjumlah jadi tahun. Dia pun tidak lagi datang. Kudengar kabar kalau dia sakit berat. Kegiatan belajar kami berhenti seketika. Impianku kini ibarat mimpi di saat tidur yang panjang. Tapi aku tak lengah. Aku mendekap impianku erat. Aku selalu berbisik di telinga sapi-sapiku kala menggiring mereka ke padang bahwa aku punya impian. Ketika mereka sedang asik-asiknya melahap rumput-rumput hijau, aku menitipkan pesan pada alam lewat siulan suling bambuku bahwa aku punya impian. Bila petang tiba, aku berdiri di tengah-tengah padang sambil bersuit mengumpulkan kembali kawanan sapiku jadi satu kelompok. Aku mau agar mereka tahu siapa tuannya. Mungkin itulah artiku bagi mereka. Aku akan memilih seekor untuk kutunggangi, memeluk kayu bakar buat ina di atasnya. Bersamanya aku berjalan di depan yang lain, selaku penunjuk arah ke mana mereka harus kembali. Ini pun artiku buat mereka. Aku membawa sapi-sapiku kembali, tetap menggiring mereka dengan syair-syairku bahwa aku punya impian. Mungkin saja mereka tidak mengerti dan takan mengerti yang dilakukan tuannya tetapi impian itu tetap ada, impian menjadi seseorang yang berarti. Impianku bukan hanya mimpi. Impianku menyata di setiap waktunya. Hari ini aku menyatakan impianku sambil mendekap impianku untuk esok yang akan kunyatakan saat ia jadi kini.
Aku anak kampung si penggembala sapi. Aku punya impian. Impian untuk jadi seseorang yang berarti. Aku selalu mewujudkan impianku. Aku selalu menjadi seseorang yang berarti di setiap waktu.. Aku jadi orang yang berarti bagi diriku. Aku mengartikan diri sebagai seseorang yang berarti karena aku memang berarti bagi ina, ama, dan sapi-sapiku. Aku masih menanti kesempatan untuk menjadi lebih, agar artiku lebih berarti.
Penfui, 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar