Rabu, 02 Februari 2011

PEREMPUAN TUA DI UJUNG MALAM

(Cerpen Johannes Tnomel)
Seorang perempuan tua terlihat  sedang berbaring dibawah atap sebuah bangunan tua yang tak terpakai lagi. Perawakannya yang lesuh ditambah tubuhnya yang kurus semakin jelas menunjukan siapa dia sebenar nya. Sekali-kali ia mengangkat kepala untuk melihat beberapa orang yang lalu lalang,  tapi tak ada orang yang memperhatikannya, semua berjalan lalu seakan tak ada orang teras gedung itu, lagi perempuan itu mencoba bangkit untuk melihat mangkuk kecilnya tapi kembali hal yang sama yang ia dapatkan, kosong, ia kembali berbaring.
Sorot cahaya menimpa dirinya, dari hanya wajahnya kini hampir sekujur tubuhnya, bersamaan dengan itu, derum mobilpun kian mendekat. Perempuan itu tetap berbaring. Ia memang mendengarkan bunyi mesin dan klakson mobil itu namun Ia tak mempedulikannya. Ia tetap berbaring.  Perempuan itu bukan sengaja melakukannya tapi lelah dan lapar membuatnya memilih tidur sebagai alternatif yang paling tepat untuk menghilangkan semuanya itu, hanya tidurlah yang bisa membuatnya terbang melewati realitas.
Satu sepakan mendarat telak ditubuhnya. Ia belum bangun, satu sepakan lagi,dia belum juga bangun, pemilik kaki itu semakin geram, kini dia melakukannnya dengan kasar, dua kali, tiga kali, empat,lima,enam, akhirnya perempuan itu terjaga, segera Ia membuka matanya dan Ia  mendapat sepasang mata tajam bagaikan elang sedang menatapnya. Setelah itu, umpatan, makian seperti yang Ia dengar pada malam sebelumnya terngiang kembali di telinganya. Sambil mengumpulkan tenaga yang tersisa perempua itu bangun dan meninggalkan bangunan tua itu, tak lupa mengambil mangkok kecil yang masih tetap kosong.
Angin malam berhembus pelan namun dinginnya terasa begitu menusuk ditubuh perempuan  yang Cuma berbalut kain lenan yang sudah sangat tipis. Dia harus tetap berjalan meskipun sebenarnya tubuhnya sudah sangat letih,  ketakutan terhadap si mata elang yang masih setia membuntuti dengan tatapannya itu membuat Ia tak berani berhenti. Setelah tiba Ia tiba pada di sebuah persimpangan,dengan agak ragu sembari dipenuhi  rasa takut  ia mencoba menoleh kebelakang, untuk mengetahui apakah si mata elang masih membuntutinya ataukah tidak.
 Perasaanya menjadi  legah si mata Elang sudah tak terlihat lagi bersama “kijangnya” yang selalu setia menemaninya, untuk mengusir “sampah-sampah” yang berkeliaran dengan alasan hanya akan membuat pemandangan kota menjadi kotor tanpa pernah berpikir bahwa sampah-sampah itu pun punya hak atas kehidupan. Perempuan itu memilih membelok kekanan, pengalaman sudah mengajarkan kepadanya tentang kehidupan disekelilingnya termasuk membedakan dimana tempat yang  nilai kemanusiaanya masih lebih dari nilai setannya.
 Ada beberapa “sampah” lain yang sedang duduk dengan  mata penuh  harap kepada semua orang yang lewat, sekedar untuk mendapatkan apa yang tersisa atau apa yang mungkin disisakan ataupun apa yang kebetulan jatuh. Ada sedikit perasaan iri melihat “sampah-sampah” lain seperti dirinya yang nasibnya lebih baik darinya. Setidaknya dari apa yang Ia alami hari ini. Sampai sore tadi sebenarnya mangkuknya sudah terisi dengan beberapa recehan,  cukup untuk makan malamnya , namun  diluar dugaan  ia menjadi korban persaingan rimba. Hasil jerih payahnya dirampas oleh rekan-rekannya yang mempunyai mental rakus,tidak pernah puas  dengan apa yang sudah didapat. Ia tak bisa berbuat apa-apa tatkalah setan-setan itu merampas jerih payahnya untuk kehidupannya malam ini. Perempuan itu kemudia berusaha mencari sedikit belas kasihan agar bisa tidur dengan tenang malam ini, namun nasib baik tidak berpihak padanya  lagi. Diusir secara menggenaskan dari  empat tempat yang yang disinggahinya, terakhir musuh bebuyutan para sampah si mata elang-lah yang mengusirnya. Namun ia sedikit bersyukur karena Ia tidak dijebloskan kedalam jeruji besi seperti yang pernah dialaminya.
“Ah.. kalian bernasib lebih baik dariku, penduduk kota ini masih mempunyai hati untuk kalian” peermpuan itu mendesah dalam hati. Ia kembali melanjutkan perjalanannya. Ia sadar ini bukan wilayahnya. Ia tidak ingin menambah penderitaannya malam ini, namun Ia tahu tekadnya untuk terus berjalan tidak sebanding dengan kekuatn yang ia miliki. Belum lagi pikirannya tentang perlakuan penduduk kota yang sangat menyiksanya, yang tidak menaruh belas kasihan sedikitpun padanya setidaknya untuk hari ini, bayangan Mata Elang kembali hadir di benaknya.
“ dasar kota setan!” umpatnya dalam hati. Anak-anak ,orang tua sama saja..setan..” 
“dunia ini kejam Maria, ada saatnya semua orang tidak akan tersenyum lagi padamu, semua orang akan mengangapmu sebagai yang paling sial, paling goblok , yang palin tidak berharga” kata-kata Ibu waktu dia masih dikampung dulu hadir kembali di benaknya.
“lalu apa yang bisa kulakukan supaya dunia tidak kejam dan memandang aku sebagai manusia”
 “ hanya satu nak, buatlah agar dunia mengakui bahwa kamu memang pantas dihargai”
“Dihargai.. ha..ha..., perempuam tua itu tiba –tiba tertawa” apalah yang dihargai kalau dunia memang tak bisa menghargai , kalau dunia hanya mementingkan keppentingaanya sendiri, kalau dunia hanya berbicara soal kejahahatan  ha..ha..,itu tidak mungkin” perempua itu kembali terdiam.
“Maria dunia akan menghargaimu kalau kau menghargai kehidupanmu sendiri”
Perempua itu terisak, tetes-tetes air mata mulai membasahi pipinya “hi..hi..hi yah akulah yang tak menghargai kehidupanku akulah yang membuat dunia tak menghargaiku”
“ Rinto sialan..kaulah yang membuatku menjadi seperti ini”,perempuan itu membanting muk kecilnya ke aspal. “yah Rinto kamulah yang membuat dunia tak menghargaiku , kenapa kau membawaku pada dunia hitam,lalu melepaskan aku disana,hingga aku tak bisa lagi melepaskan diriku dari ikatan nista itu. Kini aku sudah bebas tapi itu bukan keputusanku, bisnis-lah yang mengharuskan demikian,Aku tak bias lagi bersaing dengan darah-darah muda itu dan apa yang aku dapatkan dari masa-masa nista itu, kebenaran kata-kata ibuku;” dunia itu itu kejam dan takakan mengahergaimu kalu kamu tak menghargai kehidupan”
“ aku-lah yang tak menghargai kehidupanku. Kenapa aku tak mengikuti keinginan Ibu waktu itu untuk melanjutkan sekolah, mengapa aku malah cepat-cepat ingin menikah dengan Rinto yang menjanjikan setumpuk kekayaan dikota, padahal nol besar , justru dialah yang merenggut kekayaan dari tubuhku. Rinto sialan..Rinto brengsek..jahanan,perempuan itu meremas tanganya sendiri.
“ tapi aku juga salah, Maria sialan ..Maria jahanam, Maria bodoh” kali Ini rambutnya yang Ia jambaki.                
Thit…..sebuah sepeda motor berhenti mendadak di belakang perempuan itu.” Hey perempuan kalau mau mati jangan disini, cari saja di tempat lain, dasar orang gila”
Perempuan itu mendengar lagi umpatan yang sudah kental di telinganya , orang gila..oh itu masih lebih bagus masih ada yang lebih buruk, perempuan jalan , wanita pengemis, pelacur tua,dan masih banyak lagi istilah yang sering terdengar tentang dirinya.
“ hey minggir atau kutabrak!” lampu sorot sepeda motor itu kian terang membentuk garis bulat yang mengarah pada tubuh perempuan itu. Perempuan itu tersadar, rupanya Ia sudah berada di badan jalan, Ia langsung kembali ketepi. Motor itupun kembali melaju tapi tak lupa umpatan kembali terdengar “hey perempuan jalang kalau ingin mati jangan buat susah banyak orang”
“mati.. katanya aku mati . Kini wajh ayahnya yang muncul
“ bila dunia tak lagi menghargaimu itu sama saja kau sudah mati”
“Tapi aku masih hidup” katanya memrotes.
“ apa gunaya kau hidup tanpa penghargaan dari orang lain”
“ yah aku butuh penghargaan … tapi aku masih hidup”
“Kematian pantas untuk mereka yang tak menghargai kehidupan”
“Jadi apakah aku harus mati” perempuan itu bertanya pada dirinya sendiri. Sebersit senyum terbersit di bibirnya. Ia lalu mengambil sesuatu daru saku roknya . sepotong roti yang dipilihnya dari tempat sampah siang tadi.. Ia sudah memakanya setengah , tinggal setengahnya lagi. “ini akan menjadi  kekuatan”  katanya penuh girang sambil memasukannya kedalam mulut. Lalu perempuan itu meneruskan perjalanannya dengan gairah.
Di sebuah gereja tampak seorang perempuan sedang berlutut dihadapan salib yang sudah penuh dengan laba-laba. Sebatang lilin  yang ditaruh diatas dipan yang sudah lapuk cukup untuk menerang Gereja yang sudah tak terpakai ini lagi.Ia tampak begitu khusuk, mulutnya tampak komat-kamit mengucapkan sesuatu. Satu jam.. dua jam.. ia belum juga bangun.
“Am..amin “ terdengar suara keluar dari mulut perempuan,  langsung memecahkan kesunyian di bangunan itu. “aku sudah bertobat” permpuan tua itu kembali bersuara. Satu wajah lama kembali hadir didepannya,pak Piter Guru agamanya waktu masih dikampung dulu,yah ketika ia masih bosah dengan nama Maria  Forsiana yang disayang banyak orang karena kepintarannya.
“ tetapi Tuhan selalu membuka pintu  bagi orang yang bertobat, yang terpenting orang itu mau bertobat,  mengakui segala kesalahan  dan kembali menjadi manusi yang berbudi, orang yang demikian bagaikan anak yang hilang dan ditemukan kembali”
“yah akulah anak yang hilang itu” perempuan itu meyakinkan dirinya sendiri.
“ dan ingat orang yang bertobat adalah orang yang disayangi Tuhan , doanya dikabulakan, rejeki akan berlimpah sebaliknya orang yang tetap hidup dalam dosa akan mendapat siksaaan”
            “Doaku akan dikabulkan ,kini akau sudah menjadi orang saleh”  perempuam itu tertawa girang lalu keluar meninggalkan bangunan itu.” Ha..ha..ha..
             Perempuan tua terus berjalan menyusuri pertokoan amupun kompleks perumahan penduduk. Ia tak peduli dengan suara-sura di sektarnya , yamg mencomoh, menganggu atau bahkan yang memintanya untuk kembali ke pekerjaan lamanya. Tapi Ia bukan berlangkah dalam kelesuan  seperti tadi, kini Ia tampak sangat bergairah , langkahnya lebih pasti bahkan terlihat guratan semyum di bibirnya.
Tapi di gereja tua itu.. Lilin kecil tetap bernyala, makin lama makin pendek,  dan lilin mulai berbentuk cair.cairan lilin itu menyebar diatas diatas dipan. Nyala lilin mulai bersentuhan dengan dipan yang tempat alas lilin yang sudah sudah lapuk. Api yang tadinya hampir padam itu kini mulai menyala kembali, bahkan nyalanya semakin besar, dari papan berlanjut ke sekat kemudian merambat keseluruh ruangan.
Perempuan tua terus berlangkah, Ia kini sudah tiba pada ujung jembatan yang dikenal sebagai daerah batas kota . Perempuan itu tiba-tiba berhenti , kemudian merapatkan diri ke sisi jembatan., lalu mengarahakan pandangan ke kolong jembatan.  Walupun gelap Ia masih mengenali wajah-wajah yang terlelap Imun, arni, udik, sama seperti dia mereka pun adalah sampah-sampah masyarakat yang selalu dikejar.
“ tidurlah dengan tenang kawan-kawanku karena besok kalian akan mendapatkan kemenganan    besar atas penduduk kota ini”
Perempuan itu lalu mengarahkan pandanganya kembali kekota begitu didengarnya bunyi teriakan, dan kobaran api begitu jelas dilihatnya, asap hitam membumbung tinggi , jeritan tangis anak  anak-manusia begitu jelas terdengar bercampur dengan sirene dan teriakan minta tolong. “ Tuhan telah mengabulkan doaku, selamat tinggal kota jahanam, lihatlah Tuhan telah mengabulakan doaku”  guman perempuan tua lalu melanjutkan perjalanannya, entah kemana?





Tidak ada komentar:

Posting Komentar