Rabu, 02 Februari 2011

Cerpen MENEROBOS AWAN


 Hiro Nitsae

                        Melewati sebuah rentetan peristiwa agung yang ada dalam dunia, orang akan berdecak kagum memandang pesona alam yang telah nyata, sebagai bukti cinta bahwa keberadaannya di dunia dibarengi dengan berbagai awak yang setia menemaninya.
                        Rasanya hidup ini begitu indah. Bonar menatap pesona mentari yang lambat laun mulai menghilang ditelan malam. Tatapan itu penuh geliat akan harapan hidup. Harapan yang bertumpu pada suatu cahaya. Sebuah cahaya yang mampu melewati batas indra manusia.
                        Bonar menatap penuh tanya: mampukah ia bergelut dengan kenyaatan hidup dunia yang dipengaruhi dengan berbagai aspek kehidupan yang terkadang menyenangkan, tetapi terkadang pula dapat membingungkan orang karena sempat menjadi bahan opini masyarakat.
                        Bonar sebagai anak pertama dalam keluarga, selalu mendapat tempat tertentu dalam keluarganya. Orangtuanya adalah orang berkarier yang telah sukses dalam bidang  mereka masing-masing. Bonar senang dengan apa yang telah ia nikmati saat ini. Saat dimana kebutuhan hidupnya senantiasa terpenuhi. Ia selalu membanggakan orangtuanya yang bekerja dengan sebaik mungkin demi sebuah tujuan yang lebih baik.
      “Terimakasih papa dan mama karena telah membuat Bonar bahagia. Bonar sadar bahwa  yang diberikan pada Bonar dalam bentuk material senantiasa mencukupi kebutuhan Bonar, dan tidak berhenti disitu saja, sebab mama dan papa sudah memberi kebahagiaan yang tidak hanya ada secara sesaat, tapi telah diajarkan pada Bonar untuk bagaimana mencapai kebahagiaan yang baik dan benar. ” Ungkap Bonar dalam sela-sela kebersamaan mereka dalam ruang keluarga.
                        Sudah menjadi hal biasa kata-kata itu diucapkan Bonar sebagai bagian penghormatannya pada orangtuanya. Waktu terus berjalan. Dari yang telah dialami, sedang dialami, dan akan dialaminya nanti yang masih sebagai harapan. Keluarganya-pun ikut berkembang seiring dengan perubahan waktu.
                        Orangtuanya berusaha membuka sayap dalam perkembangan diri dan sekaligus demi kehidupan mereka. Ayahnya berniat membuka sebuah usaha yang mampu membuat dirinya berkualitas dan tentunya demi sebuah hubungan sosial yang setara, dengan menggandeng orang-orang marginal. Sementara ibunya, berada dalam tanda tanya. Hal ini ditandai dengan belum pastinya  tindakan apa yang akan diambil.
                  “ Apa yang sedang mama pikirkan saat ini?” Tanya Bonar.
                  “Mama ingin sekali  untuk berbicara padamu dan ayahmu, tapi rasanya sulit. Sepertinya
     ada batu kilangan yang menghiasi lingkaran leher mama yang sulit umtuk dikeluarkan, bahkan oleh siapapun.” Ungkap mama  Bonar.
                  “Mama, sesuatu tidak akan menjadi mungkin, kalau dari diri sendiri tidak ada
                  usaha untuk membuatnya menjadi mungkin.”
                  Ungkapan ini selalu menjadi batu loncatannya Bonar untuk membuat dirinya memiliki sebuah prinsip dalam hidup.
                  “Hidup haruslah memiliki prinsip, sekurang-kurangnya bagi diri. ” Gumam Bonar disaat ia telah menanjak pergi dari hadapan mamanya.
                  Bonar adalah seorang pribadi yang selalu berusaha mencari dan terus mencari apa yang baginya masih menjadi temaram di sekelilingnya, bahkan yang sedang meroda dalam  pikirannya. Dan temaramnya itu tidak dilihatnya dalam lingkup yang lebih luas. Justru didapatnya kali ini dalam relasi yang kuat dengan orangtuanya sendiri.
                  Temaram yang dilihatnya kali ini, terdapat pada diri ibunya.  Bonar tidak ingin tetap tinggal dalam temaram. Temaram yang tak berakhir, tak berujung.  Ketika semua berkumpul di meja makan, Bonar tiba-tiba membuka percakapan.

                  “Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran mama?”
                  Tanya Bonar sedikit memaksa. Mendengar pertanyaan itu, sang mama berusaha menghilangkan kegalauan yang ada dalam dirinya. Wajahnya dibuat rupawan bak pesona rembulan yang tersenyum melihat dua  insan manusia beradu pandang. Pesona rembulan inilah yang memancar pada diri Bonar sebagai salah satu jawaban dari mamanya. Ada lagi jawaban lain, melapisi jawaban pesona rembulan tadi. Jawaban atas temaramnya Bonar. 
   “Bonar, sebenarnya mama juga sudah memantapkan diri, untuk berbicara pada kalian semua, apapun konsekuensi lanjutnya. Itu terserah kalian. Tapi ini sudah menjadi putusan mama yang bulat.
   Mama ingin maju dan tampil untuk mencalonkan diri menjadi calon legislatif.” Suara yang mantap penuh keibuan keluar dari mulut sang ibu, menatap pasti Bonar dan suaminya. 
   “ Tapi… apakah mama sudah berpikir dengan baik dan telah  mempunyai rencana serta lain sebagainya secara matang? ” Tanya Bonar diikuti papanya dengan nada pesimis.
   “Politik itu sulit mama, kalau tidak bertindak dengan orientasi nilai yang baik. Banyak orang yang terjun ke dalam dunia politik, dengan iming-iming popularitas, kekuasaan, harta, dan menghalalkan segala cara,  tapi sebenarnya itu bukan menjadi tujuan  dari politik. Dan lagi, banyak orang sekarang dalam opini mereka selalu memperbincangkan kualitas dari kaum perempuan yang berusaha terjun dalam pencalonan menjadi anggota legislatif. Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul ke permukaan  : mampukah mereka? Apakah mereka mampu merealisasikan apa yang ada sebagai konsep?”
 Deretan kata-kata yang terangkai dalam  pertanyaan terus mengalir dari mulut Bonar yang
disandingkan  dalam persentuhan sepasang bibir miliknya.  Mamanya memaklumi setiap perkataan Bonar yang dikeluarkan dengan nadanya yang khas. Sebuah pemakluman yang keluar dari hati seorang wanita yang paham akan situasi bathin anaknya, yang memahami kekuatiran dan kegundahan seorang anak. Sesuatu yang sangat eksistensial bagi manusia pada umumnya.  
                  “Bonar… pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam lingkup  masyarakat, dan yang sekaligus  menjadi opini mereka tentang pencalonan seorang wanita, sudah terdengar sampai di telinga mama. Bahkan inilah yang mungkin dilihat olehmu dalam diri mama sangat temaran selama beberapa hari lalu. ”
“Mama tidak memahami politik dengan baik, tapi bukan berarti mama tidak tahu sama sekali tentang   politik, alias buta sama sekali.  Pastinya bahwa politik itu sesuatu yang kudus, mulia, karena tujuan dari politik itu sendiri salah satunya adalah demi kesejahteraan bersama setiap manusia. Dan karenanya mama berani untuk maju demi tujuan itu. Mama ingin membalikan opini masyarakat tersebut.  Juga karena yang dibangun di dalamnya dengan tendensi popularitas kekuasaan dan harta.”
            Dunia tidak dapat dielakan dari sisi gelapnya. Sejarah dunia mencatat begitu banyak kehidupan di dunia yang dilewati dalam masa-masa kegelapan. Begitu pula dengan awan. Memang awan itu tidak selamanya semuanya berwarna hitam. Dominasi yang ditampakan adalah yang berwarna putih, tapi didandani dengan berbagai warna lainnya, termasuk yang berwarna hitam. Dan untuk itu, dalam awan yang didandani warna hitam, mama mencoba untuk menerobosnya, membuatnya dapat dilihat, tentang realitas, tentang sebuah permainan yang sebenarnya agung, menggapainya, ada bersama mega putih dibelakangnya, dengan pancaran cahaya mentari sebagai raja siang yang tidakkan pernah redup di siang hari.*

                                                                        Anggota KMK “Karang Penfui.”
                                                                                    STSM-penfui.
                                           



Tidak ada komentar:

Posting Komentar