Amanche Franck Oe Ninu, Bernard Nailiu, Herman Bau Rua*
Lomba memantik api dari gesekan bambu
Sabtu sore, 3 April 2010. Mentari telah condong ke barat. Angin sepoi dingin menggoyangkan dedahan angsana di pelataran rumah kami. Kami masih menjaga sisa keheningan sore itu. Maklum sengsara jumat agung masih terasa aromanya di komunitas kami. Ada sekelompok anak muda di depan kapela kami Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui. Mereka adalah para Frater muda calon imam. Mereka berdiri berkelompok. Ada sorak-sorak kecil dalam kelompok itu. Ada apa gerangan? Para Frater ini memegang bambu, yang lain lagi memegang batu dan rumput kering. Bahkan ada yang memegang parang. Ah... ternyata ada kegiatan unik dan menarik menjelang upacara cahaya nanti malam. Lomba membuat api alami dari gesekan bambu kering. Satu......dua....tiga.... keheningan sore itu pecah dengan sorak gempita para peserta lomba gesek bambu. Sekitar tiga kelompok yang bertarung gesek sore itu. Masing-masing kelompok berangotakan tiga sampai lima orang. Gesek terus. Bambu ditekan. Sebilah bambu yang dirancang menyerupai pedang bermata dua digesek di atas bambu yang sudah dilubangi mirip lubang suling. Di dalam bambu itu ada rumput dan sabut kelapa kering.
Sekitar setengah jam, ketika mentari makin condong di barat, satu kelompok tiba-tiba bersorak gempita. Kegiatan gesek mereka telah memantik api alami dari belahan bambu kering. Kelompok Frater Zeferino Afat dan kawan-kawan berhasil memantik api dari bambu. Alami, asli, tradisonal, namun menggembirakan. Api itu terus disulut dan dibakar di sebatang lilin kecil dari para petugas koster. Api yang sudah beryala di tubuh lilin itu terus di bawah ke sakristi kemudian dijaga sampai menjelang datangnya malam paskah. Api kerja keras itu akan menyulut unggun paskah yang besar malam itu. Dan api itu akan terus dilanjutkan untuk menyalakan lilin paskah. Cahaya lilin paskah itu adalah lambang cahaya Kristus sendiri yang bangkit mulia jaya. Itulah sebagian tradisi kecil di Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui.
Malam Jaga Kamis Putih
Setiap paskah tiba, komunitas kami, sebagaimana komunitas Katolik lainnya merayakan paskah dengan gembira dan penuh iman. Selain tradisi gesek bambu tadi, kami merayakan paskah dengan kegiatan liturgi resmi. Perayaan pekan suci paskah dimulai dengan perayaan Minggu Palem. Perayaan minggu palem mengenangkan kisah Yesus yang masuk ke kota Yerusalem. Yesus diarak sebagai Raja. Umat menyambut-Nya dengan gembira.”Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemulian di tempat yang maha tinggi”(Lukas 19:38)
Setelah Minggu Palem, perayaan dilanjutkan dengan perayaan kamis putih. Perayaan ini mengingatkan kami pada malam perjamuan akhir Yesus dan murid-murid-Nya. Perjamuan cinta kasih ini menghadirkan teladan cinta dan pelayanan total dari Kristus Imam Agung. Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Pada perjamuan akhir itu Yesus memberikan warisan iman yang sampai hari ini masih dilanjutkan yakni ekaristi kudus. Hari ini disebut kamis putih, kamis cinta, kamis yang suci dan murni. Perayaan kamis putih dilanjutkan dengan adorasi (penyembahan dan penghormatan pada sakramen maha kudus). Malam itu adalah malam berjaga bersama Yesus sebelum sengsara dan wafat-Nya. Inilah kesempatan bagi kami untuk berdoa di depan sakramen maha kudus, di mana Yesus Sang Raja Cinta bertakhta. Malam itu beberapa di antara kami duduk menunggu jadwal doa. Kami mulai menjaga keheningan setelah perayaan tadi. Silentium magnum (Suasana hening yang dalam dan panjang) membantu kami untuk merenungkan rahasia sengsara dan wafat Yesus.
Tablo, Ibadat Agung, Dan Taize.
Setelah berjaga selama malam kamis putih, perayaan paskah berlanjut dengan jumat agung atau jumat sengsara. Seminari Tinggi kami biasanya menghadirkan jalan salib hidup yang lazim disebut tablo. Setiap tahunnya, jatah menanggung tablo dipercayakan pada para Frater filosofan tingkat II. Drama jalan salib hidup tahun ini berjudul Ziarah ke Golgota. Kisah drama ini bermula dari penangkapan Yesus di taman Getsemani dan pengadilan Yesus di depan Pilatus dan Herodes. Frater Florianus Hengky Rato adalah sutradara jalan salib hidup ini. Seperti sutradara kawakan Mel Gibson, dalam The Passion Of Christ, Frater berdarah Bajawa kelahiran Sumba ini mengarsiteki drama ini dengan apik dan menarik. Frater Gregorius Aprianus Koa, calon imam Keuskupan Atambua dipercayakan untuk menghadirkan figur Yesus. Joko, begitu ia disapa tampil tenang dan teguh pagi itu. Setiap peran Yesus dihadirkan dengan penuh ketenangan. Adegan pengadilan Yesus di depan Pilatus dan Herodes semakin tegang, ketika rakyat (Fr Nando Banu dkk) tampil provokatif untuk menyeret Yesus menuju Golgota. Pilatus (Fr Dius Taman) tampil berwibawa namun kemudian mencuci tangan pada persoalan Yesus. Fr Roy Tei Seran yang menjadi Herodes pada drama ini membiarkan Yesus dipermainkan massa rakyat. Para serdadu (Fr Diki, Fr Intan, Fr Laot, Fr Suri, Fr Jawan) tampil ganas dan sarkastis pagi itu. Jalan salib menuju Golgota pun dimulai, terik pagi itu tidak sedikitpun mengurangi semangat ratusan umat untuk merenungkan peristiwa salib. Arak-arakan jalan salib itu mengitari kompleks Seminari Mikhael menuju stadion mini Seminari ini. Adegan puncak drama ini terjadi dengan penyaliban dan pemakaman Yesus. Drama ini membantu permenungan tentang sengsara dan wafat Yesus Kristus.
Perayaan Jumat Agung berpuncak dan berpusat dengan ibadat agung untuk mengenangkan sengsara Tuhan. Ibadat sengsara ini terdiri dari upacara sabda, penyembahan salib, dan upacara komuni. Inti seluruh permenungan hari ini berpusat pada salib Kristus. Setelah ibadat agung di kapela, malam Jumat Agung itu kami isi dengan ibadat ala Taize. Ibadat ini menjadi kegiatan khas tahun ini di seminari kami. Ibadat taize berisi renungan, dan lagu-lagu meditatif. Tahun ini renungan dibawakan oleh Prefek kami, Romo Dr. Herman Punda Panda Pr. Beliau mengingatkan kami untuk berani memikul salib kami dalam hidup dan panggilan. Adoramus Te Domine...kami menyembah Dikau Ya Tuhan. Demikian cuplikan kalimat sebuah lagu Taize.
Sabtu Alleluia dan Alleluia Handel
Selama tiga hari sejak kamis hingga sabtu, kami juga menjalakan ibadat lamentasi. Ibadat ini berisi lagu ratap nabi Yeremia yang menangisi dosa dan kesalahan kota Yerusalem. Lamentasi mengajak setiap kaum beriman untuk berbalik kembali pada Tuhan. Pada sore hari, perayaan Sabtu Alleluia dimulai di depan kapela kami. Upacara cahaya menjadi awal upacara malam itu. Cahaya lilin paskah adalah simbol cahaya Kristus. Bagi kaum beriman Kristiani, Kristus adalah cahaya yang datang menyelamatkan mereka dari kegelapan dosa. Upacara Sabtu Alleluia terdiri dari upacara cahaya, upacara sabda, pembaharuan janji baptis, dan liturgi ekaristi. Gema kebangkitan Kristus semakin kuat terasa saat kegelapan pada bagian perjanjian lama diakhiri dengan sorak gempita kemuliaan Kristus. Janji baptis malam itu membaharui iman akan Yesus Kristus. Kami berjanji untuk terus beriman akan Kristus yang bangkit mulia.
Madah kebangkitan Kristus bertambah meriah malam itu dengan gempita lagu Alleluia Handel. Kelompok frater tingkat I yang dipimpin Fr Joanne Paulo Bria membawakan lagu populer itu dengan sempurna. Handel mengajak kami untuk terus bermadah memuliakan Kristus yang bangkit.
Pesan Paskah Untuk Umat Beriman Kristiani
Kisah paskah di Seminari Tinggi Sint Mikhael ini adalah sekelumit kekayan Paskah Kristiani. Di berbagai tempat, umat beriman Kristiani merayakan paskah dengan liturgi yang anggun dan meriah disertai tradisi-tradisi yang kaya dan khas. Paskah bagi kita bukanlah pengenangan hampa belaka. Paskah adalah kesempatan untuk menegaskan iman kita akan Kristus yang sengsara, wafat, dan bangkit. Paskah juga adalah kesempatan untuk bangkit menuju kesejatian hidup lahir batin. Semoga paskah 2010 ini menjadi titik awal bagi kaum beriman Kristiani untuk terus bangkit dalam hidup. Surrexit Christus Vere Alleluia. Kristus sungguh telah bangkit Alleluia. Selamat Pesta Paskah 2010.
*Trio Penulis adalah Frater Calon Imam & Pengurus Inti Kelompok Menulis di Koran Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui Kupang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar