Minggu, 13 Februari 2011

OPINI:

URGENSI JURNAL SASTRA DI NTT

Januario Gonzaga*

Siapapun yang pernah menulis Cerita Pendek (cerpen) dan Puisi di rubrik Budaya TIMEX, atau di rubrik Imajinasi Pos Kupang, tentu akan merasa senang cerpen atau puisinya dibaca masyarakat NTT. Namun bagaimana dengan mereka yang memiliki minat menulis karya sastra tetapi tidak dimuat oleh koran-koran lokal? Tentu saja ada perasaan sedih. Hanya sering, kalau soal yang kedua ini ditanyakan ke redaksi koran biasanya dibilang begini, ‘teruslah menulis. Biasanya awal menulis itu demikian, bahkan sampai berkali-kali baru tulisan itu dimuat’. Untuk pelipur lara dan mempertahankan niat menulis, nasihat redaksi seperti itu sangat penting. Namun ternyata, sampai berkali-kali tulisan tidak pernah diekspos. Penulis pemula sampai bertahun-tahun tidak pernah melihat tulisannya dipajang di halaman koran hari minggu. Akhirnya dia pun dengan segala kekecewaan menghentikan bakat paling luar biasa yang dimilikinya itu. Nah di sini terletak sebuah soal yang luput dari penglihatan kita, yakni media sastra.
Sastra Koran
Tentu saja koran dengan rubrik sastra bukanlah koran sastra. Pos Kupang, Timex, Jawa Pos, atau Kompas sekalipun, bukan koran sastra. Namun koran-koran itu pada hari minggu turut memuat karya sastra, berupa cerpen, puisi, essai, resensi, dll. Ini sebuah terobosan yang sangat bagus. Selain karena masyarakat memerlukan hiburan berupa bacaan ringan di hari minggu, juga demi ekspositas para sastrawan muda. Hanya saja soalnya, tulisan sastra seakan menjadi semacam hiburan yang setelah dibaca, korannya dipakai untuk membungkus gorengan atau dilupakan begitu saja. Mungkin eksistensi tulisan sastra koran dilanggengkan oleh media tertentu yang lebih besar misalnya harian Kompas dalam buku kumpulan cerpen dan puisi pilihan tahunan. Sementara untuk koran di NTT hanya dikumpulkan oleh jurnalisme NTT dalam sebuah blogspot.
Kondisi ini memberikan dampak paling riskan untuk penulis-penulis muda. Seluruh penulis yang berminat sastra harus berjuang mati-matian merebut ruang budaya TIMEX yang tak seberapa dan ruang imajinasi Pos Kupang yang juga tak seberapa. Tambahan pula, cerpen-cerpen dan puisi-puisi yang kelewat panjang mesti dipotong atau ditata sedemikian rupa oleh redaksi demi iklan yang mau tidak mau harus dibilang sebagai sumber kehidupan koran bersangkutan. Nah sampai di sini mutu karya sastra koran bisa tereduksi. Bobot sastranya berbenturan dengan kepentingan koran bersangkutan sehingga dipotong pun rasanya biasa saja.
Sudah saatnya pemerintah dan masyarakat merasa peduli pada pertumbuhan sastrawan muda NTT. Bapak Marsel Robot pernah menulis opini bahwa untuk menjadi sastrawan hebat, kita tidak perlu berhijrah ke Jakarta atau ke luar daerah seperti Gerson Poik atau sastrawan lainnya. Memang demi alasan pencitraan sah-sah saja. Namun soalnya, kalau di NTT hanya ada dua koran yang memiliki kolom sastra sebegini kecil space-nya, atau media online yang masih menjadi barang baru oleh sebagian penulis, tentu saja Jakarta menjadi lirikan yang rada-rada lugu. Maka itu terobosan urgen sekarang ialah buatkan sebuah jurnal atau majalah sastra bagi penulis sastra di NTT. Proposal ini ditujukan entah kepada pemerintah, entah kepada masyarakat pemerhati. Terhadap situasi NTT memang tawaran ini tidak memiliki nilai bisnis. Pemerintah atau masyarakat akan merasa ganjil mendirikan jurnal sastra di tengah masyarakat NTT yang budaya bacanya ulang-aling. Fakta menunjukkan bahwa masyarakat kita kerap masih membaca karya sastra sebagai hiburan atau untuk menghabiskan waktu saja. Akan tetapi sekalipun demikian kehadiran jurnal sastra akan perlahan-lahan membangkitkan minat masyarakat terhadap tulisan-tulisan sastra sebagai bacaan bermutu.
Budaya sebagai Idiologi Sastra NTT
Oleh karena itu idiologi sastra di NTT perlu diarahkan kepada idiologi budaya. Artinya, kearifan budaya lokal harus menjadi kendaraan yang menghantar pikiran para peminat sastra untuk menulis karyanya. Memang di satu sisi, idiologi ini rasa-rasanya akan menjual harga kreativitas sastrawan kepada koridor yang keumuman. Namun di sisi lain idiologi ini akan menjadi pintu masuk yang bisa menyentak hati pembaca untuk merasa betah membaca dirinya sendiri di dalam karya sastra tersebut.
Dalam Horizon edisi Januari, Jamal D. Rahman menulis catatan kebudayaan dengan judul Multikulturalisme dan Kemungkinan Sastra Indonesia. Catatan ini memberikan tempat bagi sastra guna memicu kedamaian di antara bentrok antar-kaum, antar-suku, antar-ras,dll. Kehadiran sastra menurut pemimpin redaksi Horizon ini, telah memberikan dimensi-dimensi kedalaman pada kebihnekaan dengan menggali dan mempertanyakan masalah-masalah tradisional dalam kebudayaan etnis kita.
Sekiranya sebuah jurnal sastra telah didirikan di NTT ini maka kemajemukan akan mendapat solusi alternatif, yakni lewat ulasan budaya para sastrawan muda. Dalam Opini yang ditulis oleh Yohanes Sehandi tentang Krisis Apresiasi dan Kritik Sastra dapat dilihat bagaimana kehendak publik untuk mencuatkan aksi damai-budaya melalui lokalitas tema karya sastra. Harapan kita semua akan tergapai apabila pemerintah atau pihak yang merasa peduli, berkorban untuk mendirikan sebuah wadah bersastra bagi para sastrawan NTT.
Kehadiran jurnal sastra akan menjembatani jurang antara penulis muda yang professional dan yang amatiran. Sebab pemandangan kurang memuaskan terjadi ketika para penulis professional memberikan kritik atas penulis amatiran justru melalui rubrik Opini. Padahal kalau kita melihat kompleksitas karya sastra, semestinya rubric khusus disediakan untuk tujuan kritik demikian. Pertentangan ini secara substansinya pun akan tereliminasi alih-alih ruang yang digunakan berebut-rebutan dengan iklan/advertorial. Maka itu, sangat masuk akal kalau kita berpikir menemukan solusi agar sesegera mungkin mendirikan wadah jurnal sastra di NTT.
Bertepatan dengan hari Pers tahun 2011, NTT menjadi isu mulut dan pena di mana-mana. Persoalan kewartawanan dan media mendapat sorotan beserta problem sosial budaya dan sosial ekonominya. Namun tidak berlebihan juga bila para jurnalis berunding memfasilitasi niat ini. Kami mengharapkan agar paling kurang budaya NTT bisa dilihat dalam frame yang berbeda. Sebab selama ini sering NTT hanya dikenal melalui tarian Ja’i, tenun motif dan sasando. Padahal NTT punya potensi seni dalam hal sastra yang juga tak kalah menarik.
*Mahasiswa Semester VIII pada Fakultas Filsafat Agama – UNWIRA Kupang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar