By. Johannes Tnomel
“Aku rasa kita masih membutuhkan satu dos obat nyamuk dan beberapa payung untuk mereka Romo!”
“Yah..Romo pikir juga demikian ,namun sejauh ini hanya ini yang sudah kita kumpulkan lagipula kita lebih memrioritaskan makanan dan obat-obatan”
“Aku sependapat dengan Tino,Romo! Sekarang sudah musim hujan bayak nyamuk berkeliaran dan seperti yang kita tahu bahwa nyamuk dapat menyebabkan berbagai macam penyakit”
“memang apa yang Tino usulkan itu baik tapi barang-barang inilah yang sudah kita dapatkan dan kesepakatan kita untuk mengantarnya hari ini, apakah kita masih perlu mengulur waktu sampai Itu terkumpul?”
“aku sependapat dengan Romo ,karena kupikir kalau kita harus menunggu sampai barang itu ada, hanya akan membuang-buang waktu, sekarang saja waktu sudah menunjukan tepat pukul enam, perjalanan kita nanti bisa memakan waktu tiga jam, belum lagi kita sudah sepakat untuk berekreasi bersama anak-anak panti”
“yah..aku sependapat dengan Ren”
“oke anak-anak kalau kalau semuanya sudah siap kita berangkat sekarang! Cepat naikan barang-barang keatas bus!”
Tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk menaikan barang yang sudah dikepak ini kedalam bus, kondektur Cuma mengatur selebihnya dikerjakan oleh anal-anak.
“Rin katakan pada Romo kita berangkat sekarang!”
“ Memangnya Romo kemana?”
“sudah kita tunggu saja ! nah itu Romo sudah datang..”
“oke anak-anak kita berangkat sekarang!”
Bus bergerak pelan keluar menuju jalan utama, selanjutnya berbelok kearah utara sesuai tempat tujuan “pantai asuhan kasih tak kunjung padam”asuhan suster-suster SSpS.
“linda ,kok hanya diam saja, tunjukan suara merdu kalian!”
“Romo nantang yah..!”
“hei teman-teman Romo menantang kita, Romo ingin mendengar suara kita yang baru-baru ini menyabet juara I dalam lomba antar kabupaten”
“Toni..tolong kuncinya..,seperti biasa lagu andalan “La villa Nella”. Perjalanan yang amat jauh itu ternyata tak memabawa kelelahan ,karena dihiasi dengan canda tawa.
Seperti lilin kecil yang bernyala diantara kegelapan begitulah yang dialami remaja-remaja ini. Kehadiran mereka membawa sejuta makna bagi para penghuni pantai asuhan. Mereka yang sering dikatakan sebagai kaum terpinggir menemukan kembali harga dirinya, karena perhatian dan kasih sayang yang mereka alami dari remaja-remaja ini. Menyanyi bersama ,shering ,makan bersama ,dan berbagai kegiatan lain dilaksanakan dengan penuh sukacita, tak ayal ketika hendak kembali deraain air mata mengiringi kepergian mereka.
“Romo sering-seringlah datang kemari bersama anak-anak, kami sangat bersyukur untuk semua yang telah kami alami hari ini semoga Tuhan membalas segala perbuatan baik ini” sepatah kata terakhir dari suster kapala panti akhirnya sudah segala rangkaian kegiatan.
“Ted aku rasa kita berhasil, bagaimana menurutmu”
“ya..tentulah Tom kamu tadi tak lihat bagaimana sedihnya mereka ketika kita pulang”
“karena itu Tom kupikir obat nyamuk usulmu tadi tak perlu lagi karena kehadiran kita lebih penting dari obat nyamuk, betul khan kawan-kawan”!
“Betul..”! serentak semua yang lain mengikuti “mungkin kita jadikan Tomi obat nyamuknya saja!” kalimat Desi serentak langsung disambut tawa oleh anak-anak lain.Tomi hanya bisa terseym menyaksikan teman-temannya yang menjadikannya sasaran olokan. Tapi itu tak berlangsung lama, lima belas menit kemudian tak terdengar lagi hingar bingar, semua tertidur lelap mungkin kecapaian akibat aktifitas yang padat hari ini. Hanya Romo yang tetap berjaga , pandangan matanya begitu tajam, terkesan hampa namun siapakah yang tahu bahwa Ia sedang bergulat dengan pikiran-Nya.
*****
Waktu menunjukan pukul 22.00 tepat ketika Romo hendak kembali ke pembaringan, namun niatnya diurungkan begitu matanya menangkap selembar amplop putih yang tergeletak diatas meja. Segera kertas itu diambil lalu dibacanya. Ia sadar bahwa ini sudah kali kelima Ia membacanya dan ia-pun tahu bahwa isinya takkan berubah, tetapi tetap saja itu dilakukannya.
“Ah..kenapa ini harus terjadi saat satu masalah besar datang” Ditangan-Nya masih terdapat selembar kertas yang masih jelas lipatannya. Perlahan kembali terbayang dalam pikirannya percakapan dengan pak Rejo kepala desa dikampung ini beberapa hari yang lalu;
“Kita tidak bisa menerima begitu saja pembangunan tempat hiburan itu disini, hal ini jelas-jelas akan berdampak pada masa depan desa ini terlebih bagi anak-anak disini”
“Romo..saya sangat menghargai anda dalam kapasitas Romo sebagai seorang rohaniwan yang telah memberikan banyak hal bagi masyaraka desa tapi Romo juga harus menghargai kami , bahwa kami juga mempunyai program yang bertujuan untuk memajukan desa ini , Kita tidak bisa menolak begitu saja investor yang sudah tulus ingin menanam modalnya disini, tentu Romo juga akan senang melihat desa ini bukan lagi desa terpencil yang tak tersentuh pembangunan tetapi desa yang telah berkembang menjadi desa yang dapat bersaing dengan desa-desa lain dalam kecamatan ini”
“ya..aku akan bangga dan tentu gembira melihat desa ini maju tapi bukan dengan cara seperti ini! Anda boleh gembira melihat desa ini nantinya akan berkembang dan memang berkembang karena investor itu tidak salah memilih tempat , letak desa ini memang sangat strategis karena tepat berada pada jalur tiga kota dan seperti ramalan anda desa ini akan bersaing dengan desa-desa lain,tapi tak terpikirkan oleh anda bahwa pada saat yang sama itu juga tingkah laku serta adat kebiasaan desa ini perlahan-lahan akan hilang terutama pada generasi muda? apakah tak terpikirkan oleh anda bahwa hal ini dapat membawa kemerosotan moral bagi anak-anak kita?”
“Bapak Romo! Minta maaf tapi pikiran anda sudah terlampau jauh sekali , yang kita pikirkan sekarang adalah bagaimana meminimalisir masalah-masalah dalam sandang, pangan, dan papan, kebetulan ada orang yang ingin membantu kita lewat usaha tempat hiburan, saya yakin proyek ini nantinya akan menyerap banyak tenaga kerja,apakah ini tidak bagus”!
“Pak Rejo ini bukan hanya soal makanan, atau perumahan tapi ini masalah moral. Anda jangan berpikir bahwa dengan kemampuan ekonomi yang tinggi semua masalah akan beres.Sebuah Negara yang makmur-pun bisa hancur kalau penduduknya mempunyai kelakuan yang bejat”
“Maaf Romo! saya rasa ini sudah semakin rumit. Bagi saya masalah sikap, watak atau perilaku tergantung dari masing-masing orang. Semua orang mempunyai suara hati yang dapat mengontrol dirinya masing-masing.Tambah lagi rasanya kita sudah cukup kuat dengan norma-norma yang ada. Apakah sebuah tempat hiburan bisa langsung menghancurkan fondasi adat serta kebiasaan sudah dibangun dari abad nenek moyang kita?”
“Bukan langsung tapi proses,batu sekeras apapun akan berlubang bila tetes-tetes air terus jatuh menimpanya. Sekali lagi saya minta hentikan rencana ini kita tak bisa membangun desa dengan cara seperti ini”
“Maaf Romo rasanya kita tidak bisa sependapat dalam hal ini, harap Romo bisa menghargai keputusan kami.. dan mungkin agak sedikit kasar Romo, tolong jangan melakukan tindakan provokatif untuk menentang rencana ini”
Ia masih memegang selembar kertas putih yang yang tak lain adalah SK mutasi atas dirinya “aku tetap harus tunduk pada Uskup,Tuhan bukalah pikiran mereka terhadap kebenaran yang Engkau ajarkan”
Maka datanglah hari itu Romo harus meninggalkan umatnya. Deraian air mata menghantar kepergianNya, terlebih anak –anak dan remaja yan telah dibinanya dalam kelompok sanggar. Yah.. mereka telah kehilangan sosok yang begitu berperan dalam dalam kehidupan mereka. Lewat Romo-lah anak-anak maupun remaja dalam desa itu dilatih untuk mengembangkan segala potensi yang ada pada mereka. Lebih dari itu Romo juga termasuk orang yang telah mengajar mereka menjadi orang yang berwatak Pancasila ,bersikap sosial dan peka terhadap penderitaan orang lain.
“tiada kata yang dapat kami ucapkan selain beribu-ribu terimah kasih kepada Romo atas segala karya yang telah Romo lakukan untuk kami” Itulah sederet kalimat yang disampaikan Linda mewakili teman-temannya. Deraian air mata tak dapat dibendung ,banjir air mata serentak terjadi begitu tiba pada acara terakhir yakni pemberian cendera mata.
Romo hanya tersenyum menyaksikan semuanya itu, tak ada setitik air mata-pun yang keluar dari bola matanya. Akhirnya tepat pukul 04.00, Romo-pun berangkat meninggalkan desa yang telah dihuninya selama 10 tahun. Ia selalu tersenyum sambil melambaikan tangannya menyambut lambaian-lambaian tangan perpisahan dari warga kampung, tapi dari raut wajahnya tersirat satu pertanyaan yang lebih mengandung harapan apakah penduduk desa terlebih kaum muda bisa bertahan menghadapi tantangan yang akan segera tiba ini?
Dan memang senyuman itu perlahan mulai menunjukan maknanya , senyum itu adalah sebuah kecemasan, kecemasan yang dilatarbelakangi oleh sikap tulus kepada penduduk desa. Sehari setelah kepergian Romo, warga desa beramai-ramai mengikuti upacara peletakan batu pertama. Memang masih ada beberapa Orang yang menentang pemabngunan tempat hiburan itu, tapi tetap saja tak digubris, apalagi setelah penduduk diberi janji mengenai kemakmuran yang akan dicapai lewat tempat hiburan itu, semakin banyak saja orang yang mendukungnya.
Dan pembangunan itupun berjalan mulus. Pihak investor memakai sebagaian besar penduduk sebagai tenaga buruh agar pekerjaan cepat rampung. Satu nilai yang diramalkan kepala desa telah dicapai, penganguran berkurang. Kepala desa semakin kuat dengan pendapatnya ,yakin tak lama lagi desanya akan berubah drastis,dan semua orang akan memandang dia sebagai yang berjasa terhadap pembangunan desa. Akhirnya sesudah enam bulan, sebuah bangunan bercorak glamour berdiri tegak didesa itu. Baru sehari saja peresmiannya suasana desa langsung berubah drastis. Suasana yang semula sunyi dengan alunan nada-nada alam kini telah tergantikan dengan music-musik jenis rock,metal dan lainnya yang tentu asing bagi pendduduk. Selanjutnya setiap malam desa ini selalu dipadati banyak orang. Kebanyakan adalah anak-anak desa itu namun banyak juga yang berasal dari desa tetangga, juga banyak yang berasal dari kota yang kebetulan melakukan perjalanan jauh dan singgah ditempat hiburan itu.
Enam bulan berlalu desa itu semakin terkenal, namun seiring dengan itu, hanya dalam kurun waktu empat bulan bangunan itu berdiri, telah terdaftar kurang lebih 30 kasus kriminal pada kantor desa maupun Kapolsek setempat. Mulai dari kasus pemerkosaan, hingga penyalagunaan narkotika dan obat-obat terlarang. Anak-anak dan remaja tak lagi terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan ataupun kegiatan social lainnnya, kelompok sanggar yang pernah dirintis Romo tak ada lagi jejaknya kini. Para orang tua semakin pusing memikirkan anak-anak mereka.
“pak Kades ini tak bisa dibiarkan, kita harus segera memblokir tempat hiburan itu !” Kata pak Ahmad mewakili beberapa warga Kampung yang tidak tahan lagi melihat kenakalan anak-anak mereka.
“tolong Pak Ahmad jangan menyinggung masalah itu lagi didepan saya, saya sedang sibuk dan tak mau dipusingkan dengan masalah sepele seperti itu?” lagi pula lebih baik bapak urus saja keluarga bapak buat apa campur tangan dengan urusan seperti ini?”
“ini bukan masalah sepele Pak ini menyangkut masa depan anak-anak kita dan sebagai warga desa sayapun saya-pun tidak ingin melihat Desa ini nantinya hancur , Bapak lihat sendiri hampir semua anak didesa ini sudah ketualaran budaya barat yang serba gemerlapan. Apa yang pernah dikatakan Romo rupanya betul . Bapak telah salah langkah!”
“hei kalau pak Ahmad ingin tetap menjadi warga dikampung ini cepat cabut kata-kata bapak!”
“apa..aku harus menarik ucapanku itu tidak mungkin Pak,akau mengatakan hal yang sebenarnya ,Bapak telah salah jalan dan satu-satunya cara agar situasi ini tidak terus berlanjut tempat hiburan itu harus segera ditutup” pak Ahamad langsung pergi meninggalkan Pak kades. Memang sudah dari awal Pak Ahmad sudah tak setuju dengan rencana pembangunan tempat hiburan itu. Bersama Romo dan beberapa warga yang lain mereka telah meramal bahwa akan terjadi hal-hal buruk terutama buat pemuda dan remaja bila pembangunan itu terjadi. Pengalalamn telah membuktikannya
Pak Kades ..sebenarnya Iapun menjadi Korban dari dari pembangunan tempat hiburan itu, anaknya Rinto jarang masuk rumah, tiap hari pangkalnya di tempat hiburan itu, entah sudah banyak barang yang ia Curi dari rumah untuk bersenang-senang ditempat hiburan itu. Pak kades ingin menyambung aspirasinya warganya agar tepat hiburan itu ditutup namun semuanya sudah terlambat Ia sudah menandatangani kontrak dengan durasi tanpa batas waktu dan Ia telah dibayar mahal untuk itu.
“Romo..,Wargaku.. maafkan aku” ucap Pak kades sambil memegang surat kontrak itu. “aku telah melakukan kesalahan, buat kalian semua, buat leluhur kita” pekatnya malam menjadi saksi jiwa yang menyesal , iwa yang tertekan oleh keputusan masa lalu.
“Belok kiri pak Bayu..!”
“Kita mau kemana Romo ?
“Ke desa Sitara!”
“ha..itu khan tempatr hiburan malam itu berada,Romo mau kesana?” Tanya pak bayu heran
“yah.. ada sedikit keperluan”
Pak Bayu lagi tak lagi bertannya Ia segera membanting stir kekiri lala bergerak menuju tempat yang dituju
“Sudah dua tahun aku meninggalkan tempat ini Tuhan semoga anak-anakku bisa menjadi pelita didalam kegelapan,yah..kegelapan seperti yang kudengan tentang desa ini. kata Romo dalam hati
Dari jauh tempat hiburan sudah kelihatan, lampunya yang terang benderang betul-betul memberikan kesan kemajuan buta desa yang dahulu tertinggal.
“Masuk pak!”
“masuk”? pak Bayu bertambah heran
“yah..ada yang harus kulakukan”
“pak Bayu mengikuti apa yang dikatakan Romo, Ia menjalan mobil memasuki tempat area tempat hiburan itu ,lalu berhenti pada tempat parkir yang tersedia.
“kita disini sebentar Pak”. Romo baru saja turun ketika dia melihat beberapa pemuda-pemudi yang sangat dikenalnya sedang bermesraan dalam keadaan mabuk dan berjalan menuju mereka. Romo tetap pada tempatnya sambil menunggu mereka mendekat untuk memastikan penglihatanya.Dan…Yah tidak salah mereka ,Tino,Rini,desi dan beberapa anak sanggarnya dahulu yang sangat dekat denganya. Mereka berlalu dari Romo dengan aroma alcohol yang sangat kental. Dan mereka sedikitpun tidak lagi mengenal Romo. Romo hanya diam menatap kepergian mereka entah kemana, yang pasti bukan untuk melakukan perbuatan yang baik.
“jalan Pak,kita kembali paroki”
“ tapi khan Romo belum masuk,baru juga turun”
sudah pak,urusannya sudah selesai..” anak-anakku ternyata kalian-pun kalah dihadapan arus demoralisasi ini, Tuhan semoga mereka engkau sadarkan anak-anakku sebelum mereka menjadi generasi yang hilang ditengah Zaman ini, kata Romo dalam hatinya. Dan taft tua itu-pun langsung bergerak meninggalkan tempat hiburan itu.
Pernah dimuat di majalah veritas edisi II TAHUN 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar