Rabu, 02 Februari 2011

Cerpen: MENUNGGU


Fr. Deo dan Fr. Adnan
 Remang senja makin karam. Saban hari yang lusuh telah pergi bersama sejuta aktifitas. Dan kini pekat mengganti segala. Mengganti lelah, mengganti sepi. Sebab, masih ada hari esok. Dengan gairah baru, boleh menempuh lagi tugas lain. Memang tak seberapa untuk hari ini. Tapi tak apalah. Tenaga pun butuh dibarui.
Seorang ibu tampak lusuh menjejakkan kakinya di halaman depan rumahnya. Walau belum senja umurnya namun keadaan dan situasi kampung kumuh itu memaksanya demikian. Bilang saja, kampung yang keadaannya jauh dari kota, penuh kekolotan, jaringan sinyal tak menjangkau, terisolasi karena banyak alasan menjadi alasan kuat untuk menjadikannya ketuaan. Semuanya sederhana. Katakan saja, sarana di desa yang belum memadai. Bukan saja ibu itu, namun penghuni lain di kampung itu pun terlihat tua sama halnya. Sayang, kampung kumuh di zaman postmodern ternyata bukanlah hal yang biasa.
Reringkik jengkrik perlahan terdengar memanjakan. Ibu itu terlihat sedih dari roman keriputnya seolah masa lalu terkuak. Entahlah apa yang dipikirkan. Bersamaan waktu yang mengulur memaksanya menikmati kelelahannya bersama hari. Bias-bias matanya terlihat polos. Polos pada sebuah keputusan. Pada buah-buah hatinya yang harus direlakan untuk pergi. Pergi mencari sebuah tujuan, sebuah kemapanan, sebuah cita-cita. Kini semuanya akan pergi meninggalkannya seorang diri hanya demi mengais ilmu. Kelak yang menjadi impiannya pula dicapai. Itulah sedikit alasan. Bagaimana mencintai. Mencintai anak-anaknya sampai harus merelakan mereka untuk pergi.
Senja makin mekar. Malam pun menguntit mengikuti. Ia masih sendiri di sebuah rumah mungil bangunan kusam sejak zaman penjajahan Belanda.  Dengan  tatapan kelam, ia seakan berterus terang untuk mengingat mereka satu persatu.
Roy. Ya, anak lelaki keduanya. Delapan tahun yang lalu hendak pergi. Dipikirnya inilah jalan terbaik yang ditempuh untuk sebuah tujuan, sebuah kemapanan, sebuah cita-cita.
“Bu, maaf ya. Mungkin ini terlalu membebankan keluarga kita. Tapi apa masih boleh saya sebagai laki-laki harus terus tinggal di rumah? Atau saya harus pergi dari rumah? Saya pikir jalan terbaik yang ditempuh untuk membantu keluarga kita hanya dengan keharusan saya pergi.......”
“Roy, apa maksudmu?” tanya ibunya mendecak kalut dengan raut wajah ingin memastikan apa yang sebenarnya Roy maksudkan.
“Ah, ibu. Saya kan sudah besar. Tidak baik kalau saya harus tetap nganggur di rumah saja. Bisakah ibu mengizinkan saya untuk pergi mencari kerja di tanah orang. Kan lebih baik. Daripada harus terus di sini. Ibu kan tahu kita tak punya apa-apa. Makanan susah, urusan biaya keluarga apa lagi. Bu, aku harap ibu mengerti. Aku tak memaksa. Terserah apa keputusan ibu. Aku terima” jelas Roy penuh harap. Mudah-mudahan ibunya mengerti dan mengabulkan permintaannya. Karena tak ada jalan lain selain jalan satu-satunya menjadi perantau. Ia bersepakat bukan memaksa. Tapi itulah tekadnya demi Bunda, dia dan keluarganya.
“Roy, kamu belum bisa jadi perantau. Karena kamu masih terlalu muda. Ingat Roy, Orang yang merantau itu karena tak punya tanah untuk tinggal apa lagi untuk hidup. Makanya mereka merantau. Tapi sayang, kita tidak seperti mereka. Kita punya tanah. Tanah yang bisa menghasilkan sesuatu yang berguna untuk keluarga kita. Kau tahu itu kan. Hanya sekarang bagaimana kita mengolahnya dengan baik.”
“Ibu.......”
“Roy, ibu tahu apa yang kau mau. Yang mungkin demi masa depan keluarga kita. Ibu hanya takut kau menderita di tanah rantau. Tapi Ibu tak melarangmu. Hanya saja kalau itu maumu ibu setuju. Asalkan ingat selalu keluarga kita kalau pergi. Menjadi perantau bukan barang biasa. Karena kau lihatkan tetangga-tetangga kita di sini yang pergi dan kembali tiada bedanya. Sama saja. Ini bukan berarti ibu memaksamu supaya pulang bisa bawa apa-apa. Tapi, ibu hanya berpesan, jaga dirimu baik-baik anakku.  Ini maumu jadi pergilah dengan kehendakmu dan kembali pun demikian.”
Roy tak mengira ibunya sebijak ini. Maklumlah orangtua. Yang tak kesampaian melihat anaknya pergi meninggalkannya. Tetesan keringat masa lalu dan keriput di wajahnya membuat mereka seolah dedaunan yang menguning di atas pohon. Ia telah menerima semua pada apa yang dinamakan mahkota kehidupan. Sejauh ia masih hidup petuah-petuahnya lahir sebagai sumber yang memberi gairah. Dan sejauh itu bagian dari kekuatan.
“Terima kasih ibu. Aku jamin apa yang ibu katakan. Aku janji !!!” tutup Roy lekas pergi dari ibunya. 
Pandangannya tak terelakan sedikit pun. Hanya untuk melihat anaknya terakhir kali. Perlahan-lahan figur kesayangan itu hilang ditelan kejauhan. Tetesan kristal berjatuhan membasahi pipi sang ibu. Tangisannya mengiringi kepergian anak kesayangannya. Pergi demi sebuah kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan yang masih bayang-bayang semu. Ia tak menyangkal rasa sayangnya kepada anak-anaknya itu.
Delapan tahun sudah. Tak ada kabar dari Roy semenjak kepergiannya. Tak ada selembar surat pun yang beralamatkan buat ibu tercinta. Namun, ia percaya bahwa anaknya Roy bukan anak sembarangan. Atau apalah yang lain. Roy hanya anak kampung yang tahu adat di mana pun ia berada. Biar jauh sekali pun.
Tak disangka, anaknya Ria pun demikian. Ia pun pergi ke kota. Alasan yang sama hanya demi sebuah cita-cita. Memang bukan sebuah keputusan yang gampang. Bagaimana mungkin buah hati dari rahimnya direlakan pergi hanya karena kebutuhan keluarga memaksa. Logis. Tapi itulah keluarganya. Tanpa apa-apa. Sama sekali hampa. Sebagai seorang ibu bagaimana pun satu hal yang pasti yaitu memperjuangkan masa depan anak-anaknya. Itulah alasan yang paling tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Ria pergi dari rumah tujuh tahun kemudian setelah kepergian kakaknya, Roy. Waktu yang sangat lama bagi seorang yang sangat disayangi. Setelah berada di Kupang, kota Karang tempat ia mengenyam pendidikan. Ia pun mendengar kabar tentang Roy, kakaknya. Syukurlah Roy masih mengabarkan keadaannya tanpa beban selain baik-baik saja.
Bagi Ria, harapannya selama ini ternyata tercapai. Dengan handphone yang dimilikinya- entah dari mana kakaknya tahu nomornya. Roy pun menginformasikan bahwa ia telah berkeluarga dan sekarang sudah memiliki satu anak. Ria begitu bahagia saat mendengar kabar yang demikian. Mumpung niat baik selalu mendatangkan harapan. Dan harapan selalu berpilihan. Tentang masa depan atau sebuah kesuksesan. Baik Ria maupun Roy masa depan dan kesuksesan itulah tujuan. Demi membuat bunda kembali tersenyum.
Sebuah liburan panjang tiba, sebagaimana biasa Roy selalu menelepon Ria, adiknya. Bercanda seadanya dan bercerita panjang lebar bagaimana nantinya bertemu bunda. Tentang masa lalu di kampung bersama Bunda yang agak lucu dan tentang semua yang pernah terjadi. Bagi Roy pulang ke kampung halaman adalah pilihan pertama dan terakhir. Tak ada lain. Sebab, yang ia impikan telah ia capai. Kepada Ria, adiknya ia selalu berpesan untuk pulang. Dan Ria dengan senang hati mengiyakan maksud hati kakaknya.
Ternyata liburan panjang tahun ini pun ceritanya agak lain. Bunda sendiri juga telah mengetahui kabar tentang Roy. Bunda senang bukan kepalang. Membayangkan anaknya, Roy yang sukses di negeri orang. Tapi, ibu yang tampak lusuh itu seolah menyembunyikan sesuatu di wajahnya. Ria tak pernah tahu kalau-kalau ibunya telah berfirasat akan terjadi sesuatu pada diri kakaknya.
“Kakak, kebetulan sekali. Ibu sekarang ada di Kupang. Kak bicara dengan bunda saja ya.....” pinta Ria dengan girang bisa mempertemukan kembali bunda dan Roy. Pertemuan yang meski tanpa tangan berjabat, peluk memeluk, saling bertatap. Syukurlah. Sembari menyerahkan handphone kepada Bunda yang sedari tadi menunggu gilirannya untuk berbicara dengan Roy, anaknya itu. Perlahan terdengar suara kerinduan dari kejauhan. Sang Bunda tersenyum kecil berbangga. Pembicaraan hangat yang hampir-hampir tanpa akhir. Pembicaraan tampak mengasyikan. Seolah mutiara dari Bunda ditemukan kembali. Selama beberapa jam Bunda Ria menghabiskan suara dan derainya hanya pada Roy. Ia menangis karena telah menemukan kembali anaknya yang lama termakan jarak. Sembari bercerita, sang Bunda meminta Roy agar kembali ke kampung halamannya di waktu liburan mendatang. Roy dengan senang hati membalas Bundanya dengan berjanji bahwa ia akan pulang.
****
Liburan di bulan desember pun tiba. Sebuah liburan yang ditunggu-tunggu oleh keluarga Roy. Yang sesuai rencana, Ria dan Bunda harus menunggu Roy di Kupang. Namun, sudah seminggu hujan masih mengguyur  dan tak mengenal kata berhenti. Keadaan di kampung justru lebih parah lagi. Kondisi inilah yang membuat Bunda dan Ria tidak bisa ke Kupang. Hujan tahunan yang memperparah jalan ke kota yang masih beraspalkan tanah. Mobil tak bisa ke kampung. Kondisi seperti ini biasa. Sejak zaman Indonesia merdeka.
Bunda dan Ria menunggu di kampung saja. Di saat makan malam Ria bertanya kepada bundanya kapan Roy, kakaknya akan datang. Berselang beberapa menit kemudian terdengar suara sebuah sepeda motor dari arah kejauhan yang sempat mengejutkan ibu dan anaknya itu.  Tiba-tiba sepeda motor itu berhenti di depan halaman rumah mereka. Siapa yang datang malam-malam begini, pikir Ria.
“Bu, siapa mereka?”
“Sepertinya motornya pegawai kecamatan.” Pinta ibu yakin. Deru mesin motor seperti ini hanya miliknya pegawai kecamatan.
“Kenapa mereka datangnya malam-malam begini?” tanya Ria ingin tahu. Kemudian bunyi pintu diketuk.
“Ria, buka pintunya. Mungkin ada tamu”
“Eh... Pak. Silahkan masuk!! Minta maaf kami sementara makan. Silahkan Pak langsung kita sama-sama makan saja.” ajak Ria setelah dilihatnya seorang pegawai Kecamatan pak Rony, namanya.
“Ah, maaf Ibu. Saya sedikit mengganggu” imbuh Pak Rony. Pak Rony melanjutkan “ada berita yang harus saya sampaikan . kami baru saja mendapat telpon dari keluarga yang berada di Kupang. Ah,......” Pak Rony tidak bisa melanjutkan.
“Memangnya ada berita apa Pak?” tanya Bunda penuh penasaran.
“Maaf Bu mungkin ini menyakitkan. Tapi, saya harus sampaikan bahwa anak Ibu, Roy telah meninggal dunia. Meninggal tadi pagi, jam 08.00.”
“Anak saya??? Roy??? Meninggal??? Tidak mungkin!!!” suara Bunda ingin memastikan. Namun suaranya perlahan meredah tak kedengaran. Sontak Bunda jatuh terpekur. Pingsan. Ria pun demikian. Pak Rony segera memanggil tetangga-tetangga di sebelah rumah. Mereka pun datang membantu. Tak lama kemudian, Ria yang lebih dahulu sadar dengan parahnya berteriak histeris. Sambil menangis, ia memanggil-manggil nama kakaknya itu. Bunda pun demikian. Kembali sadar. Lalu menangis. Malam itu adalah malam kelabu di kampung itu. semua keluarga berdatangan setelah mendengar berita tentang kematian Roy di negeri seberang, Bali. Tempat rantau Roy sejak delapan tahun lalu.
Tak ada yang perlu ditangisi lagi. Bagi Bunda apa yang telah terjadi dirasakan kini betul terjadi. Getaran hatinya telah lebih jauh membahasakan masa suram Roy, anaknya. Dan bagi Ria, bersama siapa lagi untuk membahagiakan Bunda? Buat Bunda Tersenyum. Jalan akhir yang ditempuh adalah menunggu kedatangan jenazah Roy tercinta. Ternyata, akhir bukan jejak akan berganti tapi menjejakkan kaki pada jejak yang sama. Menunggu adalah babak terakhir dari jejak itu. Sialan,.
Ia tak tahu harus memulai kisahnya dari mana dan berakhir di mana. Remang-remang makin memekar. Itukah ia sebagai seorang ibu? Yang mencintai sampai merelakan? Yang setia menunggu? Ia berdiri mengusap air matanya lalu pergi.

Saat ret-ret; ketika ia membisikkannya pada kami.
Sint Mikhael 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar