“HUJAN TERAKHIR UNTUKKU”
RESTY WEA*
Di pagi yang dingin, ketika embun mulai berjatuhan membasahi bumi, aku duduk termangu berteman sepi. Kini yang terdengar hanyalah detakan jarum jam yang terus berputar. Detik demi detiknya seakan mengejarku yang semakin terbelenggu akan kenyataan hidupku ini. Ya,sebuah takdir yang harus kujalani sendiri. Walaupun semuanya terasa begitu berat,kacau dan semakin menggerogoti batinku. Sesaat aku melupakan semuanya. Kini aku teringat potret masa laluku. Masa-masa kejayaan hatiku yang masih hangat dalam pikiranku.
Pagi itu hari pertama ku bersekolah. Mentari yang hangat seakan mau menyapaku yang masih berdiri bercermin mengenakan seragam putih abu-abu. Senyuman kecil dan pipi yang merah merona terlukis indah di wajahku. Ditambah lagi rasa bangga yang semakin meluap karena aku diterima disalah satu SMA ternama dikotaku. Setalah membuang waktu yang cukup lama untuk bercermin,aku pun bergegas mengambil ranselku dan mulai mengayunkan kaki kesekolah baruku.
Dari kejauhan kulihat gedung yang berdiri tinggi dan ratusan siswa/I yang menyemuti lapangan sekolah itu. Sekolah yang sanggat ku impikan. Tak pernah ku bayangkan,aku akan bersekolah disekolah itu. Kalau tidak karena beasiswa,aku pasti tidak akan bisa bersekolah disekolah itu. Wajar saja,karena ibuku adalah seorang penjahit sedangkan ayahku sudah lama meninggal. Kami hanya hidup berdua bersama anjing kesayanaganku,”Jupiter”namanya. Aku selalu berjanji pada diriku sendiri untuk dapat membahagiakan ibuku tercinta walau harus kukorbankan seluruh waktu dan tenagaku. Sekarang pun aku bersekolah demi dia. Agar aku bisa menjadi ‘orang’ sehingga aku dapat membuka mata mereka,orang-orang yang selalu meremehkan keluarga kami. Akan kubuat mereka semua terbelalak dan mencabut kata-kata mereka tentang aku dan ibuku. Kini aku mulai melintasi lorong sekolah untuk masuk ke kelas baruku.
Ketika kakiku tepat berada disamping pintu,meledaklah suara-suara seisi kelas yang mulai menghantam batinku. Ada yang mengolok-olokku dan ada juga yang tak henti-hentinya menertawakanku. Aku sediri bingung,adakah hal aneh pada diriku sehingga mereka menertawakanku? Apakah seragam yang kukenakan salah? Tidak!! Apakah ada suatu benda aneh menempel diwajahku? tidak!! Ataukah karena kacamata bulatku? Tidak!! Lalu apa??... Aku semakin bingung. Ditambah lagi rangkaian alunan suara yang tak ingin kudengar semakin menyakitkan telingaku. Sejenak terpikir oleh ku untuk meninggalkan kelas ini, tapi aku teringat akan ibuku. Tidak!! Aku harus tetap disini. Ini baru permulaan. Aku tidak mau menyerah sebelum berperang,apalagi dianggap sebagai sebagai pengecut. Ku tudukan kepalaku dan terus melangkahkan kakiku tanpa menghiraukan teriakan mereka. Mataku mulai melirik-lirik tempat duduk yang baik untukku. Kakiku tiba-tiba terhenti disebuah meja dan sepasang bangku,yang satunya kosong dan satunya lagi diduduki oleh seorang gadis cantik yang tersenyum manis ketika sadar aku melihat kearahnya.
“Hai…”
Itulah kata pertama yang kudengar darinya. “Hai…ehm..bolehkah kududuk disini?”
“Iya silahkan..,oh ya nama kamu siapa?”
“Aku putri” “oh,kalau aku chika,salam kenal ya”. Akhirnya batin ku sedikit lega karena masih ada orang yang mau berteman denganku.
Hari berganti hari kuhabiskan bersama chika. Aku sering bercerita tentang kehidupanku dan chika pun begitu. Kami sering bertukar pikiran baik disaat suka maupun duka. Semua beban dipundakku seakan sirna ketika ku berada didekatnya. Dia bagaikan malaikat untukku. Dan kami selalu mengartikan bahwa persahabatan kami adalah persahabatan yang sejati.
Siang yang cerah,namun tak secerah hatiku. Entah mengapa semenjak pagi tadi perasaanku tidak karuan. Aku menjadi ceroboh dan tidak konsen dengan pelajaran. Sempat kubertanya pada chika,tapi katanya,aku hanya sedang kelelahan dan butuh istirahat. Ketika aku berjalan melewati gang ke rumah ku,ku melihat kepungan asap hitam dari kejauhan. Arahnya seperti dari tempat yang kukenal. Aku segera berlari kearah sumber asap itu. Dan hal yamg kutakutkan ternyata benar. Asap itu dari rumah ku. Orang-orang yang berdesak-desakan dihalaman rumah tiba-tiba diam seketika ketika menyadari keberadaanku. Raut wajah yang menyimpan sejuta Tanya terpancar dari mereka. Seolah tak mau tahu akan apa yang kulihat,aku terus berlari menerobos pintu rumahku yang sudah terbakar api. Ruang demi ruang kulewati, tak juga ku temui sosok yang kucari. Namun kaki ini tiba-tiba terhenti di sebuah ruangan yang sudah dipenuhi api. Ku lihat sesosok yang tak kukenal karena tubuhnya yang sudah gosong dan tidak berbentuk lagi. Air mata terjatuh dipipiku,aku baru tersadar bahwa itu adalah ibuku yang sudah tidak bernyawa lagi. Aku tak mampu berkata-kata,aliran darahku serasa terhenti,jantungku tak sanggup berdetak lagi. Aku terjatuh,semuanya gelap.
Ketika kubuka mataku,kulihat seorang gadis sedang duduk disampingku dengan wajah yang resah.
“Put,kamu ngga apa-apakan. Ini di rumah sakit. Tadi,aku ditelepon oleh tetanggamu,jadi aku langsung ke sini. Aku juga sudah mendengar semuanya dari tetanggamu. Aku turut berdukacita.”
“Iya,makasih”.
Kini, aku tinggal bersama Chika karena aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ibuku sudah tak ada sedangkan anjingku menghilang ditelan bumi. Tapi,yang menjadi pikiran ku sekarang adalah perubahan sikap Chika. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya diluar rumah bersama pacar barunya. Aku maklumi karena itu adalah hal yang wajar. Tetapi yang tidak kupahami adalah perilaku Chika yang semakin ‘liar’ dan suka pergi ke diskotik. Aku seringkali menasehatinya,tetapi tidak membuahkan hasil apapun. Dia juga sering menggunakan kekerasan padaku. Puncaknya ketika ia diputuskan pacarnya. Semua rasa kekesalannya diluapkan padaku. Aku hanya mampu menerima tanpa melakukan perlawanan. Dan akhirnya pada malam harinya aku meninggalkan rumah itu tanpa keuntai kata dan sepucuk surat untuk Chika.
Angin dingin menembus pori-pori kulitku. Ku tersadar dari kisah masa laluku. Kulihat sekelilingku,begtu sepi dan hampa. Bagaimana tidak,aku sudah tinggal digubuk kecilku selama tiga bulan. Selama itu pula aku tidak masuk kesekolah dan aku hanya menjadi pengemis jalanan. Ditambah lagi penyakit leukemia yang sudah menyerangku sejak dulu. Sebenarnya aku sudah tahu tentang penyakit ini,tapi aku tidak dapat berobat karena aku tidak mempumyai biaya. Aku juga sudah berpasrah akan apa yang terjadi padaku nantinya. Karena sama saja aku hidup tapi batinku sudah mati. Semua impian dan cita-citaku sudah musnah. Aku tak punya siapa-siapa lagi.
Langit semakin gelap dan hujan mulai berjatuhan,seakan ingin menangisi kepedihan hatiku. Aku keluar dari gubuk kecilku itu dan berdiri membasahi tubuhku dengan tangisan langit ini. Tiba-tiba kurasakan hangat dalam hatiku. Aku teringat akan ibuku dan Jupiter,anjingku. Begitu hangat aku dipelukknya. Namun menghilang. Kini kurasakan hangatnya sosok lain,Chika. seoalah dia ada disini dan menarikan tarian hujan bersamaku. Aku terjatuh. Semuanya hilang. Kini yang kurasakan hanyalah detakan jantung yang semakin melemah dan nafas yang mulai terenggah-enggah. Ku tahu ini saatnya,saat terakhir ku menyentuh bumi ini. Dan ini adalah hujan terakhir yang pernah kurasakan. Hujan yang seakan mengatakan padaku bahwa “tidak ada yang abadi”. Baik itu keluarga ataupun persahabatan. Semuanya tak abadi untukku. Dan nyawaku ini juga tak abadi. Sekarang biarlah langit terus menangis membasahi aku yang tak bernafas lagi.
*RESTY WEA, nama lengkapnya Noviaty Restywaty Ina Wea, siswi kelas XII Bahasa, SMA Katolik Giovanni Kupang.Resty lahir di Soe 8 November 1993, buah kasih Anton Peka dan Maria Anggelina Ning Angraini. Resty menyukai sastra dan tulis menulis. Terima kasih Resty. Salam FILOKALIA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar