Minggu, 06 Februari 2011

PUISI-PUISI TONNY KOBESI



Selalu Mimpi

datang lagi malam terhimpit belukar rasa terawang
berlari aku sendiri ribuan angan dalam birama
kutangkap simpulan tak pernah dari noktah yang pasti
tak kusulam dalam rerangkai
sampai akhir

masih dengan malam
terus digulir menjemput pagi
pun tak beranjak pergi
dari angan-anganku seperti teman,
selalu menemaniku terkadang dengan tanya
… diam…
itu jawabanku hingga mata terpejam

saat fajar senyum membangun merindu
tak luput tak hilang
terselip mimpi dan cita

ribuan angan
selalu ada,

ini masa depan
ini hidup
selalu mimpi


Kutulis ini ketika angan tentang masa depanku selalu menjadi pertanyaan bagi seorang aku, bagaiman nanti aku. Hebron, 28-01-2011.
Mama

Layaknya seorang pejuang Semburan cahaya panas yang membakar, tak pernah engkau bayangkanHujan dingin dan kerasnya badai kehidupan, tak pernah muncul dalam benakmu

Bahkan ketika sakit dan penyakit menyerangmu Engkau berlagak bak seorang manusia yang baik, tak peduli Hanya demi kami buah hatimu

Tak pikir si bungsu yang sakit, panas dan menggigil Engkau rela pergi walau hatimu menangis memikirkan dia Buat kami dan dia, engkau rela melawan tangis hatimu
Demi hidup dan masa depan kami Engkau bahkan rela menjadikan dirimu sebagai hamba
Meski buat kami engkau adalah malaikat

Oh… mama
Aku sedih melihat perjuanganmu, tak kuat melihat pengorbananmu
Engkau tak layak mendapat realita ini
Tapi mengapa saat ini engkau harus merasakan hidup
sebagai seorang ayah?
Ataukah ini salah dari ayah kita
yang begitu cepat pergi?

Mama…
Aku menangis Aku ingin membantumu Aku ingin berada dalam posisi ayah menggantimu Aku tak mau mama menjadi seperti lelaki Terlalu dini ma…

Mama…
Ini aku si sulung berhujan airmata beban
selalu menangis memikirkanmu Terlalu berat bagiku untuk jalani ini

Ingatan dan serpihan kelabu tentang realita kita
Terlalu kuat untuk seorang aku yang lemah
Terkadang cerita realita ini mengikatku
Bahkan guratan beban tak lepas dari pundak pikiranku
Hingga mimpi masa depanku sulit utuk dipastikan
Namun yang ku tahu, kenyataan hidupku saat ini
Membuatku belajar untuk mengajari

Kutulis ini ketika realita hidupku harus memaksaku melihat perjuangan seorang ibu yang ditinggalkan oleh pribadi luar biasa yang sangat berarti dalam hidupku, ayah kami. Hebron, 15-01-2011

Sahabat

Aku disini dengan diriku bergelut
di tengah berjuta kisah dan cerita
Aku sepi, hampa, tak berdaya
Karena aku sendiri ketika engkau ada

Dengan dirimu engkau pun sama
denganku asing, terbuang
dalam kesendirian saat waktu menemukan kita
Aku masih dengan dirimu, begitu juga engkau

Berdiri dalam jarak berbeda Engkau menatapku
Mengumbar senyum Ada kerinduan untuk bersamamu
Ada Tanya yang ingin kujawab dari tatapanmu

Tahukah kamu
Adamu menghilangkan realita kesepian,
kehampaan dan ketakberdayaanku? Tak mampu kujelaskan
Hanya gerak bibir berucap terima kasih
Untukmu ini wakil hatiku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar